Ayo penggemar drama romantis, segera merapat ke karya yang satu ini, dijamin bikin baper.
Tiara terpaksa harus menggantikan Bella kakak angkatnya untuk menikahi Tuan Eden yang buta karena mengalami kecelakaan.
Karena hutang budinya pada keluarga Wijayanto, Tiara harus mengubur mimpinya dan menerima pernikahan itu.
Tentu bukan jalan yang mudah untuk menjadi istri Eden yang baru saja mengalami kebutaan.
Tapi Tiara bukanlah gadis lemah, dibalik kelembutannya dia memiliki hati yang tegar.
Tapi apakah hatinya bisa tegar, ketika muncul Bram pria yang dicintainya, tapi harus dia tinggalkan, karena harus menjadi pengganti Bella.
Apa yang terjadi ketika Eden bersedia menjalani operasi mata dan bisa melihat kembali?
Apa yang harus dilakukan Tiara? menghindari Eden atau jujur pada Eden, kalau selama ini dia yang sudah menikah dengan Eden menggantikan Bella?
Buat yang penasaran, langsung lanjut baca ya, buat yang suka jangan lupa tekan favorit dan like. Jika berkenan tinggalkan komentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta hak
Tiara semakin takut ketika tangan Eden yang mencengkram tangannya menarik dia masuk kamar dengan langkah lebar.
Tiara mengikuti Eden dengan tertatih-tatih.
"Sakit tuan!", ujar Tiara berusaha melepaskan cengkraman tangan Eden pada pergelangan tangannya.
"Waktu berbohong kau tidak takut!", ujar Eden sama sekali tidak perduli dengan protes Tiara dan terus menarik Tiara masuk ke kamar mereka.
Tiara kali ini semakin yakin kalau Eden bisa melihat, ketika Eden dengan mudahnya membuka pintu kamarnya, bahkan menuju sampai tempat tidur dan menghempaskan Tiara ke atas tempat tidur.
"Kau..kau tidak buta tuan?", ujar Tiara.
"Kau tidak usah tahu urusan ku buta atau tidak!", ujar Eden marah dan mendekati Tiara yang masih terlentang di atas tempat tidur.
Tiara yang ketakutan, seketika yang terpikirkan di kepalanya adalah melarikan diri. Kalau Eden bisa melihat, berarti Eden bisa mengenalinya, kalau dia bukan Bella.
"Sepertinya Tuan Eden paling benci dibohongi, sebaiknya aku pergi saja dari sini, yang lainnya urusan nanti. Kalau dia bisa melihat, berarti dia tahu aku Bella palsu. Aku akan diapakan dia kalau ketahuan. Aku takut, sepertinya tuan Eden kejam!", pikir Tiara dalam hati semakin tidak tenang.
Karena ketakutan akhirnya Tiara melakukan apa yang pertama terpikirkan di otaknya dengan reflek. Tiara segera bangun dari tempat tidur dan hendak keluar dari kamar Eden secepatnya.
Tapi sayang baru saja dia berdiri, Eden kembali mendorongnya jatuh ke tempat tidur lagi, kali ini malah Eden ikut menekan tubuh Tiara agar tidak bisa bangun lagi dengan menahan kedua lengan Tiara, dengan membungkukkan tubuhnya dia atas Tiara.
Tiara yang mengira Eden sudah bisa melihat, menghindari tatapan mata Eden. Tiara berusaha memberontak agar lengannya bisa terlepas dari cengkraman tangan Eden yang kuat.
"Lepaskan aku!", teriak Tiara.
"Tidak! sebelum kau berkata jujur, aku tidak akan melepaskan mu!", ujar Eden.
"Kalau kau sudah tahu aku berbohong, untuk apa bertanya pada ku lagi?", tanya Tiara meringis , menahan sakit cengkraman tangan Eden yang kencang.
"Sakit tuan, kau lepaskan aku dulu. Aku akan memberitahu tuan yang sebenarnya!", ujar Tiara memohon.
...********...
Eden akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dan melipat kedua tangannya ke dada sambil menatap ke arah Tiara.
"Beritahu aku! jangan berbohong lagi!", ujar Eden.
"Ah ..aku harus jawab apa? aku sungguh bingung! sebaiknya aku coba kabur lagi!", pikir Tiara dalam hati.
Kali ini Tiara segera merangkak ke atas kasur, menjauhi Eden dengan cepat. Setelah itu Tiara turun dari samping dan langsung berlari ke arah pintu.
"Sial! Perempuan ini pintar menipu! Kali ini jangan harap aku akan berbelas kasih lagi!", geram Eden marah.
Tiara yang berlari, tapi karena rasa takut dan gemetar malah merasa tidak sampai-sampai ke pintu.
"Duh kenapa kamarnya begitu besar!", desah Tiara ketakutan.
Betul saja belum sampai ke pintu, Tiara kalah lagi. Kali ini Eden menangkap Tiara dengan kedua tangannya, seperti harimau yang menerkam mangsa.
Tiara sekejap saja sudah berada dalam pelukan Eden yang ketat, Eden memeluk Tiara dari belakang dengan kedua tangannya. Bahkan kedua tangan Tiara juga terkunci dalam pelukan itu.
Tiara benar-benar sudah kehabisan akal kali ini,
"Tuan Eden lepaskan aku, kalaupun tuan mau menceraikan aku, kali ini aku akan bersedia tuan", ujar Tiara menyerah karena dia mengira Eden sudah bisa melihat.
"Maafkan aku ayah, aku sudah melakukan sebisa ku, tapi aku sudah tidak bisa membantu lagi, tuan Eden sudah bisa melihat dan mengenaliku!", pikir Tiara dalam hati pasrah.
...********...
"Kamu salah Bella! Pertama kali aku sudah memberi kesempatan pada mu! Tapi kau tidak mau mengambil kesempatan itu. Kau coba-coba bermain dengan ku!
Sekarang dengan seenaknya kau minta cerai dengan ku! Aku sudah memperingati mu hari itu, sampai kau tidak mengambil kesempatan yang kuberikan, Saat kau meminta aku sudah tidak akan memberikan pada mu lagi!", ujar Eden mengingatkan perkataannya.
"Apa yang kau ingin kan tuan?", tanya Tiara.
"Kau akan terus jadi milik ku! Tidak seorang pun yang boleh mengambil diri mu dari aku, baik itu kakak mu maupun orang tua mu sekalipun! Kau selamanya akan menjadi milik ku, kecuali sampai suatu hari aku sudah bosan main-main dengan mu.
Itu yang harus kamu terima sejak kau sudah mencoba main-main dengan ku!", ujar Eden dengan kejam dan tersenyum sinis.
"Karena aku paling tidak suka dipermainkan orang!"
...********...
Mendengar perkataan Eden, Tiara langsung terdiam dan tidak berusaha memberontak lagi dalam pelukan Eden, dia tahu percuma saja, dia sudah salah dari pertama sejak memutuskan menggantikan Bella.
"Inilah akibatnya terlalu banyak melakukan kebohongan", keluh Tiara sedih dalam hati.
"Dan hari ini aku akan mengambil apa yang sudah menjadi hak ku!", ujar Eden yang sempat membuat Tiara bingung.
Eden langsung menggendong Tiara yang masih terdiam bingung, dan melemparkannya kembali ke tempat tidur.
Tiara baru sadar apa yang mau dilakukan Eden ketika Eden ikut naik ke atas tempat tidur.
"Tuan! jangan!", pinta Tiara dengan suara gemetar.
"Mengapa? kau kan istriku? itu sudah menjadi hak ku!", ujar Eden yang semakin merasa senang kalau berhasil membuat Tiara takut.
"Setidaknya tunggu saat kita saling mencintai!', ujar Tiara yang asal memberikan alasan, yang penting bagi Tiara, Eden tidak meminta haknya sekarang.
...********...
"Ha.. ha.. ha.. Sampai kapan pun kau jangan mengharapkan cinta ku! Jangan mimpi! anggap saja hubungan kita ini seperti bisnis, aku karena diancam ayah ku, kamu demi menyelamatkan usaha ayah mu. Jadi sampai kapan pun kau jangan pernah mengharapkan cinta ku! cinta bagi ku tidak penting!", ujar Eden dengan arogan.
"Aku tidak perlu persetujuan mu! Aku hanya mengambil apa yang menjadi hak ku!", ujar Eden
Tiara benar-benar sudah kehabisan akal,
"Ah.. habislah aku kali ini! Aku sudah tidak bisa menghindar lagi.
Baru kali ini aku bertemu dengan orang tidak berperasaan seperti dia. Kau pikir aku mengharapkan cinta mu? Aku juga tidak mengharapkannya! Jangan-jangan orang seperti mu sudah tidak mempunyai cinta, rasa cinta di hati mu sudah lama mati!"
Bahkan ketika Eden mendekatinya, Tiara hanya memejamkan mata dan sama sekali tidak bergerak.
Sedangkan Eden menikmati permainannya, ketika tangannya mulai menyentuh kancing baju Tiara dan merasa tubuh Tiara yang gemetar karena takut, Eden malah merasa senang sudah bisa mempermainkan Tiara dan membuat takut Tiara.
"Coba mempermainkan aku dan membohongi aku! Rasakan akibatnya sekarang! itulah hukuman buat orang yang sudah melanggar perintahku!", ujar Eden dalam hati membenarkan tindakannya.
Tok...tok....tok...
Tiara merasa begitu bersyukur ketika mendengar suara pintu kamar Eden diketuk.
Bersambung........
pebinor dispesialkan, jijikan aku lihat wanita dengan pola pikir kayak gini
tiara istri menjijikan, mutaran, munafik, lebih rendah dari binatang,
dan tidak bermoral nya author membela semua kelakuan tiara
namanya ganti EDAN🤭✌