Ditinggalkan oleh Ayahnya sejak masih dalam kandungan membuat Kayna Givana hidup dengan mandiri. Ia dibesarkan oleh Ibunya seorang diri. Namun ada seseorang dalam keluarganya yang membuat Kayna harus terjebak dalam suatu pekerjaan.
Kejadian itu juga yang membuat Kayna akhirnya bertemu dengan Arnatta Delion, laki-laki yang ia temui dan kenali sebagai seorang pelayan di sebuah kafe tempatnya bekerja, namun dibalik kesederhanaan Arnatta ada rahasia besar di dalamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ayah Rian
Tepat di depan beberapa orang yang sangat Natta kenali. Kini ia berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Kepalanya menunduk, dengan sesekali menghela napaa cukup dalam. Berada disituasi yang tidak memungkinkan untuknya saat ini membuat Natta sedikit gugup, namun ia mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
Bayangkan saja. Di depannya kini telah duduk Ayah Rian Aditama beserta manager juga asisten barunya yang tidak lain ialah mama Mita, mama dari Kayna juga wanita yang telah memberi tumpangan untuknya berteduh saat ini. Lucu bukan? ternyata mama Mita menjabat sebagai asisten ayahnya sendiri. Diawal pertemuannya dengan mama Mita di kantor ayahnya. Natta mengira beliau hanya pegawai biasa. Namun kini dugaan Natta salah besar. Yakin ayahnya akan menggunakan kesempatan ini untuk mencari celah atau mencuri informasi tentangnya jika tahu kedekatan Natta dan keluarga asistennya.
"Pak Rian, semuanya perkenalkan ini anak saya Kayna," ujar mama Mita tanpa malu memperkenalkan anaknya yang juga bekerja di kafe tersebut.
"Cantik dan mandiri," puji pak Rian menatap Kayna sekilas. Lalu melirik ke arah Natta yang masih terdiam di tempatnya.
"Dan dia teman Kayna, kebetulan untuk saat ini kita sat-"
"Apa ada yang bisa dibantu pak?" sela Natta membuat Kayna mendelik tajam ke arah Natta.
"Nat," lirih Kayna menekan kata-katanya.
Hanya melirik sekilas ke arah Kayna. Natta kembali berucap. "Kalau tidak ada saya permisi ke belakang dulu," lanjutnya berniat untuk pergi.
Namun baru beberapa langkah namanya sudah kembali dipanggil.
"Nak Natta!" panggil ayah Rian membuat mata Natta terpejam untuk beberapa detik.
"Iya pak," balasnya berbalik tubuh.
"Kamu mirip sekali dengan anak saya tidak sopannya," ujar beliau membuat Natta tersenyum canggung.
Sementara Kayna yang berada di sebelah Natta langsung membungkuk sebagai tanda perminta maafan.
"Maaf pak, teman saya ini baru bekerja di sini. Masih sangat butuh bimbingan dan belajar," ujar Kayna tampak tidak enak hati. Tangannya menarik Natta untuk segera pergi.
Namun bagi Natta, apa yang dikatakan oleh Kayna barusan justru sebagai tanda pembelaan. Sudut bibirnya tidak bisa berhenti untuk terus melengkung membentuk senyum. Meski kini gadis yang berada di hadapannya sudah menatap tajam ke arahnya.
"Ngapain senyum-senyum naj*s banget," hardik Kayna tidak merubah wajah bahagia Natta saat ini.
"Natta, bisa nggak sih sopan sedikit sama pengunjung? kamu nggak tahu kan siapa bapak-bapak yang tadi?" tanya Kayna tidak mendapat respon dari Natta.
"Beliau itu bos dari mama di kantor. Beliau juga yang udah banyak bantu kak bos," jelas Kayna seketika membuat Natta menatap Kayna serius.
"Bantu apa memangnya bapak tua itu?" tanya Natta semakin membuat Kayna geram.
"Mulut kamu itu perlu di sekolahin," kesal Kayna mendapat kekehan dari Natta.
"Iya, barengan sama mulut kamu juga," balas Natta sangat lirih sampai tidak bisa didengar oleh Kayna.
"Kalau kak bos lagi jelasin tuh didengerin bukannya malah kabur," kesal Kayna menatap Natta yang selalu bersikap masa bodoh seperti tidak melakukan kesalahan.
"Awas ya sekali lagi kamu bikin ulah," ancam Kayna berlalu.
"Kay tunggu Kay!" tangan Natta mencekal pergelangan tangan Kayna. Berharap gadis itu mendengarkan ucapannya.
"Tadi Dio bilang apa?" tanya Natta membuat Kayna menghela napas dalam.
Tanpa menunggu lama lagi Kayna menjelaskan apa yang tadi dikatakan oleh Dio. Jika memang benar kafe miliknya itu sudah banyak dibantu oleh keluarga Rian Aditama. Bisa berdiri sampai saat ini itu karena pak Rian sangat berjasa mau mengajarkan Dio cara berbisnis di usia muda. Jalan pikir Ayah Dio sangat berbeda dengan pak Rian Aditama yang menginginkan anaknya untuk bisa belajar bisnis di usia muda.
"S**l," umpat Natta frustasi.
"Makanya nggak usah belagu mentang-mentang ini kafe punya temen kamu. Jangan sampai dibilang nggak sopan lagi seperti anaknya pak Rian Aditama," sindir Kayna berlalu pergi.
"Tapi Kay, kalau aku yang dimaksud gimana?" teriak Natta membuat Kayna menggeleng.
"Mimpi aja!" balas Kayna malah membuat Natta terkekeh.
Selesai mengajak pegawainya makan di kafe kecil milik Dio. Pak Rian kini bersiap untuk pulang, beliau sudah berada di mobil bersama dengan sopir pribadinya, namun tatapannya masih mengamati kafe kecil yang saat ini sebagai penunjang kelangsungan hidup anaknya.
"Anak nakal," gumam beliau mengingat bagaimana Natta menolak keras permintaannya.
"Bu Mita!" panggil pak Rian saat melihat mama Mita yang sedang menunggu taksi bersama dengan anaknya.
"Sebentar ya sayang," pamit mama Mita kepada Kayna.
"Iya pak, apa masih ada yang perlu saya bantu?" tanya mama Mita sopan.
"Apa anda dekat dengan anak tadi?" tanya pak Rian membuat kening mama Mita berkerut.
"Apa yang bapak maksud tadi Natta?" tanya mama Mita diangguki oleh pak Rian.
"Sampaikan ke dia, saya tertarik dengan keberaniannya," ujar pak Rian disertai kekehan.
semngaaaaaat
terimakasih mbak Ri
atw belajar dr Mas Ray