NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Dua anak manusia yang sedang terlibat pembicaraan menarik, merasa nyaman berada di warung mie ayam bakso milik Bang Ali. Sampai makanan mereka habispun belum ingin beranjak. Masih mengobrolkan entah apa saja. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Suasana diluar warung juga sudah berganti agak gelap. Langit malam sebentar lagi terlihat, setelah senja beranjak.

“Pulang, yuk!” ajak Tara karena merasa sudah nongkrong lama di warung orang. Aneesha mengangguk kemudian membereskan barang-barangnya. Sedangkan Tara segera membayar makanan mereka.

“Jadi kapan, Nih?” Bang Ali kepada Tara dan Aneesha.

“Apanya, Bang?” Aneesha mengernyit.

“Undangannya lah.” Bang Ali menjelaskan, dengan nada candaan.

“Ya, ampun, Bang. Masih itu yang dibahas.”

“Aku cuma bercanda tadi Bang.” Tara terkekeh sambil menepuk bahu bang Ali.

“Beneran juga nggak pa-pa koq. Kalian tuh serasi.” Ucap Bang Ali menggoda.

“Aku maunya sama Bang Ali aja.” Aneesha menatap Bang Ali dengan wajah yang dibuat manis.

“Kamu mau perang sama Aku, Sha?” seorang wanita yang berdiri disamping Bang Ali melirik Aneesha.

“Ampun, Mbak Nur. Mana berani Aku sama Mbak Nur.” Aneesha menghampiri wanita yang ternyata istri Bang Ali itu sambil merangkulnya. Mereka tertawa, keakraban diantara penjual dan pembeli ini menarik perhatian orang-orang yang sedang menikmati mieayam. Beberapa diantara mereka ikut tertawa.

Guyonan bersama penjual mieayam tadi ternyata cukup membuat Aneesha dan Tara kembali tertawa saat membahasnya dalam perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan mereka masih memperbincangkan keseriusan bang Ali yang menanggapi candaan Tara.

“Harusnya Kamu nggak usah kembaliin hadiah dari Pak Reza, Sha.” Ucap Tara saat Ia tak sengaja membahas kembali soal hadiah yang dikembalikan Aneesha.

“Kenapa memangnya?”

“Biar gampang kalau kita mau pergi, nggak perlu pinjam mobil Papaku atau Ayahmu seperti sekarang ini.” jawab Tara diakhiri dengan tawa untuk mencairkan suasana. Aneesha hanya mencebik, kemudian memutar bola matanya.

Tara mengantarkan Aneesha sampai kerumah. Fares sedang berdiri di teras rumah saat Tara memarkirkan mobilnya di halaman milik pria paruh baya dengan rambut panjang itu.

“Langsung pulang, atau mau mampir dulu Kak?” tanya Aneesha saat Ia melepas seatbealthnya.

“Nggak perlu kujawab kan? Lihat Ayahmu nunggu Kita kayaknya.” Wajah Tara sedikit pias, Ia segera mematikan mesin mobil, melepas seatbealt kemudian keluar dari mobil.

Aneesha berjalan duluan menghampiri Ayahnya. Tidak ada ekspresi kemarahan di wajah Fares, tapi Aneesha cukup takut karena Ayahnya itu hanya diam saat Ia mencium punggung tangannya. Tarapun segera menyalami Fares.

“Dari mana saja?” tanya Fares datar.

“Makan mieayam, Yah.” jawab Aneesha lirih, saling lirik dengan Tara yang berdiri diam disampingnya.

“Kita perlu bicara, Tara!” Fares berjalan melewati Tara dan Aneesha.

“Yah…. “ Panggil Aneesha.

“Kamu masuk, Bunda sudah menunggumu. Minta tolong Siti bawa teh untuk Ayah dan Tara ke galeri. Siti saja, nggak perlu Kamu yang buat.” Ucap Fares, sambil tersenyum tapi terlihat mengerikan untuk Aneesha.

Tara dan Aneesha saling pandang, lalu Tara tersenyum memberi kode dengan gerakan kepalanya agar Aneesha segera masuk kerumah. Sedangkan dirinya akan mengikuti Fares yang sudah berjalan menuju sebuah bangunan yang terpisah dari rumah utama, tapi berdekatan.

Aneesha menatap punggung Tara, pria itu berlari kecil menyusul langkah Fares. Walau penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Fares, Aneesha memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Mungkin nanti Ia akan mencari tahu apa yang mereka bicarakan.

Di sebuah ruangan yang penuh dengan foto dan lukisan. Ada yang ditempel di dinding, di gantung, ada juga yang diletakkan pada penyangga kayu. Ruangan ini tampak seperti sebuah rumah, dengan dua kama juga sebuah kamar mandi diujung ruangan. Dinding bagian depannya semua terbuat dari kaca bening dengan gorden berwarna emas. Mungkin sebelum direnovasi, ruangan ini memang sebuah rumah.

Fares duduk di sofa panjang yang menghadap dinding, sedangkan tara duduk di single sofa yang letaknya bersebelahan dengan sofa yang diduduki oleh Fares. Sebuah meja yang tidak terlalu besar terletak didepan sofa. Dua cangkir teh sudah tersedia di meja itu, Siti yang mengantar sesuai perintah Fares.

“Tara!” panggil Fares. Ia menatap pria muda yang duduk dengan badan tegak didepannya.

“Ya, Pak.” langsung menjawab, tanpa ragu-ragu.

“Aku akan bertanya padamu, tolong jawab dengan jujur. Karena aku hanya akan bertanya sekali dan tidak akan kuulangi lagi.” Ucap Fares dengan raut wajah serius.

“Insyaalloh, Pak.” Tara saling menautkan jemarinya, menyembunyikan kecemasan dalam hatinya.

“Apa yang Kau rasakan pada putriku? Kau anggap Aneesha apa?”

Deg

Mata Tara membelalak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Fares. Diorama jantungnya mulai berdetak melambat, bahkan seperti akan berhenti.

“Maksud Bapak apa, ya?” Tara mencoba bertanya, sebelum Ia salah paham dengan asumsi yang Dia buat sendiri.

“Aku tahu sejak Aneesha lulus kuliah dan kembali ke kota ini, Kalian sering pergi bersama. Tadinya Aku tidak curiga karena Kalian berempat dengan Bima dan Lion. Tapi akhir-akhir ini kalian sering pergi hanya berdua. Tadi siang Kau bahkan dengan sengaja meminta Jenar membawa pulang motor Aneesha.” Fares mencecar Tara dengan fakta yang tidak bisa disangkal oleh pria muda itu. Karena semuanya benar.

“Kau pikir Aku tidak tahu? Kau pikir aku juga tidak tahu kalau kalian sering telponan sampai tengah malam?” Fares menjeda perkataannya, Ia mengambil cangkir berisi teh lalu menyesapnya.

“Maafkan Saya, Pak.” Tara menundukkan kepala, tidak berani menatap pria didepannya yang sedang menikmati teh.

“Aneesha sudah dewasa Tara, sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Janjimu padaku telah lunas, Kau tidak perlu lagi menjaganya seperti yang kuminta padamu saat kalian masih kecil.” Fares meletakkan cangkir tehnya ke meja, lalu menyandarkan punggung pada sofa.

“Tapi, Pak-”

Fares memangkas kalimat Tara,“Sikapmu pada putriku yang kulihat akhir-akhir ini membuatku menyesal telah memintamu menjadi teman Aneesha, yang tidak punya banyak teman sejak kecil.”

“Tapi Pak, Saya tidak pernah menyesal menjadi teman Aneesha. Yang Saya lakukan dari dulu sampai sekarang tulus, Pak. Mungkin dulu karena janji Saya Pada Anda, tapi sekarang tidak.” Tara memberanikan diri menatap Fares, meyakinkan bahwa ucapannya serius.

“Kenapa Tara? Kenapa Kau tetap memberi perhatian lebih pada Aneesha?”

“Karena Dia…. ehm…. Saya hanya ingin memastikan Dia baik-baik saja dan tidak terluka.” Jawab Tara, pandangannya berubah sendu.

“Dia bersamaku, Tara. Aneesha ada dalam lindunganku. Sikapmu ini malah membuatku berpikir justru Kau yang akan melukainya.” Fares menegakkan badan, dan menunjukkan jarinya tepat ke wajah Tara.

“Maafkan Saya, Pak. Asal Bapak tahu, menyakiti Aneesha adalah satu hal yang tidak akan pernah Saya lakukan. Seumur hidup Saya menjaganya, Pak. Walaupun Saya bukan Anda atau pak Reza yang bisa memberikan apapun yang Aneesha mau.” Tara menekankan setiap perkataannya.

Fares tersenyum masam, menatap wajah Tara yang tidak ada kepura-puraan disana, “Apa Kau menyukainya Tara? Apa rasamu pada Aneesha telah berubah?”

“Maafkan Saya, Pak. Seharusnya Saya bisa menahan perasaan Saya.” Tara memainkan jemarinya yang saling terpaut diatas paha.

Fares memiringkan kepala, menatap Tara sambil tersenyum masam, “Katakan dengan jelas Tara!”

Hening…..

Tara menggerakkan bola matanya kesegala arah. Memikirkan kalimat apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Fares. Suasana dalam ruangan itu menjadi sepi.

“Kalau Kau tidak mengatakannya seka-”

“Saya menyukai Aneesha, Pak.” Tara memberanikan diri memangkas kalimat Fares. Pria muda itu kembali menunduk.

“Mengatakan itu saja Kau perlu berpikir 8 menit 43 detik. Pria macam apa Kau? Aku tidak akan menyerahkan putriku kepada pria yang kurang tegas.” Ucap Fares sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Tara hanya diam, nyalinya sebagai penyandang sabuk pelatih di perguruan silat itu menciut didepan Fares. Keberaniannya seolah hilang ditiup angin.

Fares menyandarkan kembali punggung. Menatap foto besar dalam bingkai berwarna gold yang tertempel didinding, tepat didepan sofa. Foto sepasang pengantin, bersama seoarng anak perempuan berusia sekitar 4-5 tahun. Disamping kiri dan kanan foto itu ada dua buah foto lain yang diletakkan mengapit foto besar itu.

“Kamu tahu mengapa Aku harus menanyakan ini padamu, Tar?”

“Tentu karena Anda mengkhawatirkan Aneesha.”

Fares menghela nafas, “Karena Aneesha, Dia bukan anak kandungku. Tapi Dia yang mengajariku mencintai adik-adiknya. Karena Dia juga, Aku belajar bagaimana menyayangi Riani.”

“Kamu tahu, kan? Dia anak yang paling kusayangi, dibanding kedua adiknya. Dia juga, satu-satunya anak yang tidak bisa kunikahkan dengan tanganku sendiri.” Fares menahan getir dalam hati, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia menatap lekat foto anak kecil yang duduk ditengah sepasang pengantin. Yang tak lain adalah Aneesha, anak sambung yang telah mengisi hatinya dengan cinta.

Tara mengikuti arah pandang Fares, dalam foto sepasang pengantin terlihat bahagia. Dan anak kecil yang duduk ditengah itu, tidak menampakkan ekspresi apapun. Wajah orientalnya terlihat lucu, Dia memang menggemaskan sejak kecil

“Aku tidak bisa melarang siapapun menyukai Aneesha, walaupun Aku tidak yakin ada yang bisa mengambil hatinya. Karena hatinya telah terisi oleh cinta dan kasih sayang dariku. Hanya modal perhatian atau kata-kata manis saja tidak akan bisa mengambil hatinya.” Fares memandang remeh Tara. Kemudian mengambil cangkir berisi teh, dan meminumnya.

“Pak-”

“Aku mengijinkanmu menyayanginya. Tapi restuku hanya akan kuberikan kepada seorang yang bisa mengambil hati Aneesha, tanpa menyingkirkan keberadaanku dari sana.” ucap Fares, kali ini dengan tersenyum tulus.

“Ingat, Tara! Sekali Kau menyakitinya, jangan harap Aku berbaik hati lagi padamu.”

“Insyaalloh, Pak.” Tara menatap Fares, kepercayaan diri yang tadi hilang, kini kembali. Ia mengambil cangkir berisi teh yang mulai dingin lalu meminumnya.

“Buktikan saja!”

Pembicaraan mereka selesai tepat ketika terdengar adzan maghrib dari toa masjid yang tak jauh dari rumah Fares. Tara tidak menolak ajakan Fares untuk sholat berjama’ah di masjid komplek. Keduanya nampak biasa, tidak menampakkan bahwa mereka baru saja terlibat dalam perang dingin.

Aneesha sudah membersihkan diri dan melaksanakan sholat maghrib, Kini Ia sedang menuruni anak tangga. Rasa penasaran yang melanda pikirannya membuat Aneesha ingin segera mencari tahu. Ia melihat keadaan rumahnya sepi, kedua adiknya mungkin berada di kamar. Siti dan Pak Salim juga sudah pulang, karena jam kerja mereka hanya sampai jam menjelang maghrib.

Aneesha menyapu pandangan ke segala penjuru, tidak menemukan siapapun disana. Akhirnya Ia memutuskan untuk menemui Ibunya di kamar. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari sebuah kamar. Aneesha membuka pintu kamar iru dengan pelan, nyaris tanpa suara. Setelah dirinya masuk, Ia lalu menutup kembali pintu itu dengan hati-hati.

Ia melihat Ibunya sedang duduk bersimpuh di atas syajadah, dengan kedua tangan yang menyangga sebuah musyaf. Bibirnya melafalkan apa yang sedang Ia baca, pelan Aneesha mendekatinya.

Tanpa mengatakan apapun, Aneesha duduk disamping Ibunya. Kemudian merebahkan kepala dipangkuan hangat wanita yang telah melahirkannya itu. Seperti yang biasa Ia lakukan saat kecil. Riani tidak menghentikan bacaannya, hanya tangan kirinya membelai kepala anak gadisnya itu.

Aneesha memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut tangan Ibunya, dan suara alunan ayat suci yang menentramkan hati. Membuatnya terhanyut merasakan syukur yang tak terhingga.

“Sodhaqallohul adzim….” Riani menyelesaikan membaca Alqur’an. Kegiatan yang biasa Ia lakukan setelah sholat maghrib. Tanpa beranjak, Ia meletakkan mushafnya ke nakas. Matanya yang teduh menatap putrinya di pangkuan. Ia tersenyum sambil membelai kepala anak gadisnya itu.

“Buguru ini sedang ingin dimanja rupanya?” Mata Aneesha masih terpejam, merasa nyaman berada dipangkuan Ibunya.

“Ayah kemana, Nda?” bertanya tanpa merubah posisinya.

“Belum pulang dari masjid, kenapa?”

“Tadi Ayah bicara lama sama Kak Tara. Neesha takut Ayah memarahinya karena pergi dengan ku tadi.” Aneesha masih tetap memejamkan mata, dan enggan merubah posisinya yang berbaring miring.

Riani diam, hanya terus membelai kepala anak sulungnya yang tertutup jilbab instant warna hitam itu.

Ceklek

Suara pintu dibuka dari luar, pria yang sedang dibicarakan datang tanpa ekspresi apapun di wajahnya,“Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikum salam…..” jawab Riani dan Aneesha bersamaan.

Aneesha segera membuka mata, dan mengangkat kepalanya dari pangkuan Riani. Ketika mengetahui Ayahnya yang datang.

“Kak Tara mana, Yah?” Aneesha langsung bertanya bahkan Fares belum menutup pintu kamarnya.

“Sudah pulang.” Fares menjawab singkat, membuat Aneesha mengerutkan kening.

“Apa yang Kalian bicarakan? Apa Ayah memarahinya?” Kini Aneesha telah berdiri, dan menghampiri Fares yang sedang berjalan ke sofa yang berada di sudut kamar. Sedangkan Riani segera melepas dan melipat mukenanya.

“Kamu tidak perlu tahu.” Fares duduk bersandar di sofa.

“Kami hanya pergi makan mie ayam, koq. Beneran Neesha nggak bohong.” Aneesha mencoba menjelaskan kepada Fares.

Fares menghela nafas, “Kenapa Kamu mengkhawatirkannya? Kamu sudah tidak menganggap Aku ini Ayahmu?”

“Ayah….. bukan seperti itu. Aku ha-”

“Jangan terlalu dekat dengan laki-laki manapun, sebelum Kamu benar-benar tahu Dia tidak akan menyakitimu.” Fares menekan setiap kalimatnya. Membuat Aneesha menunduk takut akan kemarahan Ayahnya.

Fares berdiri, membelai lembut kepala Aneesha. Kemudian Ia beranjak keluar kamar. Riani menghampiri Aneesha yang sepertinya sedang terpukul.

“Ayahmu hanya ingin melindungi Kamu, Sayang.” Riani duduk disebelah Aneesha, memegang kedua tangannya.

“Neesha tahu, Nda. Tapi bukankah itu keterlaluan?”

“Itu karena Ayahmu sangat menyayangimu, Nak.” Riani merangkul bahu Aneesha sejenak, kemudian melepasnya.

Tangan Riani berpindah menangkup pipi Aneesha, “Katakan pada Bunda, apa Kau menyukai Tara?”

“Neesha nggak tau, Nda. Suka yang seperti apa?” Riani tertawa dengan perkataan Aneesha.

“Kamu ini bagaimana. Hanya Kamu yang paham akan perasaanmu sendiri.”

“Neesha nggak yakin, Nda. Neesha merasa nyaman aja kalau ngobrol sama Kak Tara. Kak Tara nggak pernah marah, walau kadang aku menyebalkan. Tapi Aku nggak tahu itu termasuk rasa suka yang dimaksud Bunda atau tidak.” Aneesha mencurahkan semua isi hatinya pada Riani.

“ha ha ha…. “Riani mencubit kedua pipi Aneesha gemas dengan kepolosan putrinya itu.

“Ayahmu benar, Kamu memang tidak boleh terlalu dekat dengan laki-laki dulu. Kamu terlalu polos, Sha.”

“Kenapa Bunda jadi ikut-ikutan Ayah, sih?”

Riani tersenyum, “Aneesha, kelak Kamu akan tahu kenapa Ayahmu melakukan ini. Kenapa Dia over protektif terhadapmu.”

.

.

.

Bersambung……..

Makasih untuk yang telah membaca kisah Aneesha, jangan lupa like. komen dan bintang lima.

salam sehat

1
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
Chalimah Kuchiki
dipasar lama dulu aku sering beli es podeng makan sambil ngemper di depan toko kosmetik
Chalimah Kuchiki
aku sih yes karo sama reyfan 🤭
Chalimah Kuchiki
mas tama ya tau bgt aku lah.... dia idamanku juga, perjuangan mendapatkan pocut dan icad
Chalimah Kuchiki
aku fans berat pak hara ❤️☝️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!