Kyra Andini resmi menjadi Nona di keluarga Wiratama. Namun, gelar itu tak seindah harapannya. Nyatanya pria yang menjadikannya halal, justru membenci kehadirannya.
Setiap hari perlakuan Kaisang Adipta Wiratama tak pernah baik, selalu dingin dan menganggap Kyra hanya patung pajangan saja.
Karena suatu malam terjadi kesalahan, menjadikan Kyra mengandung anak Kai. Meski begitu, Kai masih tetap berlaku kasar. Bahkan, tanpa sepengetahuan istrinya, Kai berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor.
Bagaimanakah kelanjutan kisah rumah tangga Kai dan Kyra? Tetap bertahan, atau bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimulainya Kehancuran
Pekerja di rumah Kai dibuat takut dan bingung dengan sikap pria itu yang keseringan marah-marah tidak jelas. Meski para pelayan dan pengawal tak ada yang membuat kesalahan apapun, seolah Kai sangat senang untuk berteriak marah pada mereka.
Bi Mur yang sudah hampir puluhan tahun mengabdi pada keluarga Wiratama pun tak luput mendapat luapan emosi, walau dia tak melakukan kesalahan apapun.
Kai beranjak ke halaman belakang dengan mulut tak henti memaki. Baru 5 hari Kyra pergi dari rumah, tetapi berhasil membuat Kai berantakan.
Dia menghubungi beberapa anak buahnya, namun dari mereka juga belum mendapat hasil. "An****!" Pria itu menaruh ponsel dengan gerakan kasar. "Aku seperti menunggu bom waktu yang sebentar lagi akan meledak dan menghancurkan aku." Kai menyandarkan tubuh sandaran kursi.
"Kyra! Aku tidak menyangka kamu bisa pergi dariku. Apa cintamu sudah tidak bisa membuatmu menunggu?"
"Kaina! Yah, pasti gara-gara anak memalukan itu Kyra nekat pergi. Huh!" Kai mendengus.
Ponsel yang teronggok di atas meja kembali menggelepar, Kai malas untuk menjawab bila telepon itu dari Lidia. Tapi, papinya yang menghubungi.
"Halo, Pi?"
"Kai ...." Bagus menyebut nama putranya dengan gigi bergemeletuk.
Kai mengerutkan dahi. "Ada apa, Pi?"
"Kamu tanya ada apa?! Kamu lihat berita pagi ini!"
"Ini hari libur, Pi. Kai tidak mau mengurusi berita," balas Kai.
"Anak kurang ajar! Tidak tahu diri! Bedebah!" Bagus memaki lewat sambungan telepon, pria itu sulit mengontrol emosi. Dan, suaranya terdengar berat.
'Mati, Kai! Apa Papi pasti sudah tahu tentang Kyra.'
"Pi, aku bisa jelaskan," ujarnya tetapi dipotong oleh Bagus.
"Jelaskan apa, hah?! Di foto itu sangat jelas kalau itu kamu!"
Deg! Foto? Foto apa?!
"Sesakit apa kalau Kyra tahu foto itu, Kai. Apa yang ada diotakmu sampai punya skandal dengan sekretaris murahan itu! Seleramu benar-benar rendahan. Apa kurangnya Kyra sampai kamu tega mengkhianatinya!"
Skakmat! Kai membatu.
"Kamu tahu, 1 jam berita itu tersebar perusahaan kita mengalami penurunan saham. Para pemilik saham meminta rapat dadakan sekarang juga. Papi tidak mau tahu, kamu bereskan kekacauan yang kamu buat!"
Telepon sudah diakhiri, Kai bergeming dengan memutar otak untuk mencerna kalimat papinya. Entah foto apa yang dimaksud oleh Bagus. Selama ini selalu aman pergi kemanapun bersama Lidia meski ada gosip yang menerka kedekatan mereka, namun dia bisa menyangkal. Ah, kemungkinan cuma foto tidak bermutu seperti biasanya.
Dia mengaktifkan layar untuk mencari berita hari ini. Dan ... betapa terkejutnya Kai saat foto tak senonohnya bersama Lidia terpampang di mana-mana. "Bangsat!"
Di dalam foto terlihat jelas dia sedang menggagahi Lidia di sebuah kamar hotel. Bahkan, di artikel itu ada video yang tercantum meski dengan durasi pendek. "Bedebah! Siapa yang memposting ini!?"
Dia menghubungi Lidia. "****** sialan! Bagaimana video kita bisa viral!" tanpa basa-basi Kai memarahi Lidia.
"Kai, tenang, Kai. Ada apa?" Lidia bertanya dengan suara serak, seperti orang baru bangun tidur.
"Update berita terbaru dan kau akan tahu!" Sambungan diakhiri dengan Kai beranjak untuk segera bersiap menghadiri rapat dadakan.
Di tempat Lidia, wanita itu mengecek berita terkini. Oh my God! Dia menganga lebar dengan bola mata hampir lompat dari tangkainya. "Bagaimana bisa viral?! Mampus!"
•
Di dalam aula khusus untuk ruang rapat direksi, semua sudah hadir dengan wajah-wajah menahan amarah. Mereka ingin menuntut pertanggung jawaban dari ulah Kaisang Adipta Wiratama selalu CEO di perusahaan Wiratama, di tempat mereka berinvestasi yang kini mengalami penurunan saham.
Bagus sudah masuk lebih dulu, selang 5 menit kemudian Kaisang baru menampakan batang hidungnya di susul Lidia di belakangnya.
"Tuan Kai, apa Anda bisa klarifikasi tentang foto dan video yang beredar? Dari berita itu, mempengaruhi penurunan saham."
"Tuan, kami tidak mau rugi atas skandal yang Anda dan sekretaris Anda buat."
"Ini urusan pribadi Anda, harusnya tidak tersebar ke rana publik. Jelas mempengaruhi saham."
Baru saja Kai mendudukkan diri, tetapi sudah di lontar banyak pertanyaan.
"Papi tidak mau tahu. Kamu harus bereskan kekacauan yang kamu buat!" bisik Bagus penuh penekanan di samping Kai.
"Saya minta maaf untuk berita yang menggemparkan ini. Saya janji akan menangani secepatnya. Untuk saham kalian, saya upayakan untuk menstabilkan seperti sebelumnya. Kalian bisa percaya pada saya," ucap Kai dengan sedikit takut. Wajah-wajah yang ada di sana sama sekali tidak menunjukan keramahan, membuat Kai menciut.
"Kalau saham tidak membaik, sebaiknya kita lakukan pemungutan suara untuk mengganti CEO baru."
"Iya, setuju."
"Skandal memalukan!"
"Tidak menyangka."
"Kita akan tunggu sampai satu minggu."
•
Plak! Kepala Kai menoleh ke samping saat tangan Bagus mencetak gurat merah di pipinya.
"Anak kurang ajar! Memalukan. Ini benar-benar memalukan, Kai." Bagus menatap nyalang. Kemarahannya karena fakta Kai tidak pernah memperlakukan Kyra dengan baik belum mereda, kini ada lagi yang membuatnya murka.
Pantas saja Kyra kukuh ingin bercerai.
"Ma-maaf, Pi," ucap Kai dengan nada rendah.
"Maaf?! Seenak itu kamu bilang maaf?"
"Sekarang, apa istrimu tahu tentang ini?"
"I-istriku?" Kai tergagap.