Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Kosong
Selama satu minggu Adista merasa kosong, selama satu minggu Adista tidak memiliki semangat, dan selama satu minggu juga Adista tidak melihat Langit berada di kelas. Adista menghela napasnya, sekedar melihat Langit duduk di bangkunya saja Adista sudah merasa tenang dan bahagia.
“Adis.”
Adista menoleh mendapati Elang yang sudah duduk di samping Adista. Memperhatikan wajah Elang membuat Adista mengingat Langit, apakah lebam Langit juga sudah sembuh seperti Elang?
“Kamu menghindar dari aku,” ucap Elang. “Apa karena aku suka kamu, jadinya kamu menghindar?”
Adista diam, setelah dia putus dengan Langit. Adista mencoba menghindar dari Elang dan mencoba untuk menolak semua yang Elang tawarkan. Adista tahu, dia sudah salah.
“Sebenarnya aku udah punya pacar,” kata Adista menatap lurus lapangan basket. “Langit, orang yang mukulin kamu. Dia pacar aku.”
Elang terkejut, dia tidak mengatakan apapun.
“Maaf kalo Langit udah bikin kamu kayak gini,” ucap Adista sambil menunjuk luka lebam di wajah Elang. “Maaf juga aku gak kasih tahu kamu duluan, aku salah.”
Adista diam sambil menundukkan kepalanya bersiap untuk menerima semua ucapan yang mungkin bikin Adista sakit hati. Lama Adista menunggu, tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut Elang hingga Adista mendongakkan kepalanya dan menatap Elang, Elang hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Adista yang masih tetap menatap kepergian Elang.
Adista mendesah, menatap kembali lapangan basket yang kosong. Hanya satu yang Adista inginkan saat ini, Langit kembali kepadanya.
“Tapi ... gak mungkin,” ucap Adista sambil terkekeh.
“Woy!” Adista menoleh menatap Mikko jengah. “Yang lagi galau gak boleh duduk sendirian di bawah pohon.”
“Lo apaan sih,” ucap Adista dengan nada jengkel. Mikko hanya terkekeh, menghampiri Adista dan duduk di sebelahnya.
“Urusan lo sama si Rajawali udah selesai?” tanya Mikko.
Adista mengernyit, dan mencibir Mikko. “Elang, bukan Rajawali,” jengkel Adista. “Semuanya udah selesai.”
“Bagus deh kalo gitu,” ucap Mikko dan berdiri dari duduknya. “Eh Dis, lo gak mau tahu kabar Langit gimana?” tanya Mikko.
Adista menatap Mikko dengan mata memicing, cowok itu hanya tersenyum pongah membuat Adista bertambah kesal.
“Dia baik Dis, cuman agak kacau aja. Lo tahu lah penyebabnya apa,” ucap Mikko dan berlalu pergi meninggalkan Adista.
‘Lo tahu lah penyebabnya apa’, penyebabnya adalah dirinya. Adista Felisia.
* * *
Langit hanya berdiam diri di kamarnya, setelah Langit memberi tahu Vivin dan Alfian kalau dia di skors selama satu minggu. Vivin memberikan ultimatum kalau Langit tidak boleh keluar dari rumah sebelum Langit menyesali perbuatannya. Langit bahkan tidak memberikan alasan dia berkelahi di sekolah.
“Kayak Rapunzel aja lo diam di kamar,” ejek Lala, Langit mencibir. “Mau gue ajak Genta main kesini?”
“Gak perlu, Genta Adeknya Elang, gue gak suka dia.”
“Ya udah,” Lala mengangkat kedua bahunya kemudian berlalu pergi dari kamar Langit. “Lo juga gak mau tahu kabar Kak Adis gimana?”
Langit diam, sudah satu minggu ini dia mati-matian untuk tidak menelepon Adista dan mengatakan kalau dia rindu Adista, dan selama satu minggu ini, dia menyuruh semua keluarganya untuk tidak menyebut nama Adista, dan sekarang Lala menyebut nama Adista membuat Langit kembali teringat.
Adistanya yang dulu, Adista pacarnya.
Lala : Gue mau bilang aja, Kak Adis masih sebut lo pacar waktu dia ngomong sama
Abangnya Genta.
Langit : Gak usah buat gue melayang terus lo jatuhin dengan lanjutan, ‘tapi
bohong’.
Lala : Ya udah kalo lo gak percaya, gue sih tahu dari Genta sumber terpercaya.
Langit diam menatap ponselnya, dia hanya menatap rentetan kata-kata Adista masih sebut lo pacar. Tapi dengan cepat dia menggeleng, tidak mungkin. Karena Adista tidak pernah mengatakan itu kepada orang lain, dan Langit tahu itu hanya akal-akalan Lala saja.
“Hai Repunzel. Pangeran udah datang menghampiri Rapunzel,” ucap Mikko sambil terkekeh.
“Apaan sih lo.”
“Gue ada berita baru,”ucap Mikko menyuruh Langit mendekat menggunakan telunjuknya. “Ini tentang Adista.”
“Sumpah, gue bosen dengar tentang Adista. Dari Lala dan sekarang lo.”
“Ya udah sih kalo gak mau tahu,” ucap Mikko hendak menghidupkan PS dan ditahan oleh Langit membuat Mikko tersenyum. “Semuanya udah selesai.”
Langit mengernyit. “Selesai? Apanya yang selesai?”
“Tentang Elang, Adis udah menyelesaikan semuanya,” ucap Mikko bangga. “Dan sekarang lo harus ngajak Adista balikan.”
Langit menggeleng, duduk di kursi meja belajarnya. “Gue gak bisa.”
“Gak bisa? Tinggal ngomong aja, emang susah?”
“Susah banget, lo tahu Adista itu kayak gimana. Gue gak mau kalo kita pacaran, cuman gue yang ngerasain pacaran.”
“Lang, percaya deh sama gue. Adista udah sadar, dia udah gak sama lagi kayak dulu. Ya ... meskipun masih suka Oppa. Tapi gak parah kayak dulu,” ucap Mikko meyakinkan Langit.
Langit diam, entah ada apa dengan Dinda dan Mikko. Mereka berdua selalu datang ke rumah Langit, menceritakan tentang Adista, dan menyuruh agar Langit mengajak Adista balikan. Entah mereka bohong atau tidak, Langit merasa pusing mendengar cerita mereka tentang Adista terus-menerus.
“Regan belum ngelakuin apa-apa, kan?” tanya Mikko.
“Belum,” ucap Langit sambil menggeleng. “Gak usah khawatir Miky, gue baik-baik aja,” kata Langit sambil terkekeh.
“Bukan gitu Lang, lo ingat kata Regan?” tanya Mikko lagi, Langit mengangguk. Tentu saja Langit ingat, karena kata-kata Regan itu selalu saja menghantui Langit. “Gue takut itu terjadi entah gue, lo, Adista, Lala. Gue takutnya orang terdekat lo yang jadi sasaran Lang.”
Mikko benar, Langit tidak sampai berpikir jauh seperti itu. Langit kira Regan hanya mengancam saja karena sampai saat ini Langit belum mendengar kabar apapun mengenai Regan yang akan membalas dendam.
Ponsel Langit berbunyi tanda pesan masuk, Langit segera mengambil ponselnya dan tercekat saat pesan yang baru saja dia terima.
Langit harus waspada sekarang.
Regan : Sudah akan dimulai, Langit. Kita tunggu saja.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞