Yuri, gadis polos yang menjadi korban kedengkian sepupunya, harus kehilangan kekasih bahkan pergi meninggalkan keluarga dalam keadaan hamil. Lima tahun kemudia, Yuri kembali bersama anak laki-lakinya yang cerdas. Yuri kini telah berubah, dia kembali untuk menemukan ayah dari anaknya serta mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Yuri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
Rasa memiliki terkadang membuat seseorang menjadi sangat posesif. Apa lagi jika merasa sesuatu tersebut dalam kondisi bahaya atau tidak aman. Setidaknya begitu yang dirasakan Kei. Ada perubahan sifat yang tidak disadari laki-laki tersebut.
Saat ini, pikiran Kei dipenuhi cara untuk menjaga Lucas dan Yuri. Apa lagi setelah Satomi masih berani mengganggu calon istri pengusaha muda tersebut. Sudah tentu, salah satu ide yang terlintas adalah meminta Yuri berhenti bekerja. Namun, itu pasti akan ditolak. Dalam perjanjian juga jelas, Yuri masih tetap bisa pergi bekerja meski sudah menikah.
Ingin rasanya Kei memaksa Yuri, tetapi laki-laki itu takut jika wanitanya akan marah atau bahkan lari darinya. Jika itu terjadi, tentu Kei akan berada dalam posisi yang sulit. Semua orang sudah terlanjur tahu hubungannya dengan Lucas dan Yuri.
Merasa menemui jalan buntu, Kei memanggil Shin lalu mengomel tanpa sebab yang jelas. Sang asisten pribadi itu pun terbengong untuk beberapa saat. Dengan khusuk didengarnya setiap kata yang meluncur dari mulut sang bos.
Orang yang jatuh cinta itu selalu saja jadi setengah gila. Otak genius pun bisa seketika menjadi bodoh tak terkira. Tuan Muda, akhirnya kau bisa merasakan saat hatimu diperbudak oleh cinta. Batin Shin, kepalanya menunduk untuk menyembuhkan senyum kecil di bibirnya.
"Tuan Muda, sebentar lagi Anda dan Nona Yuri akan segera menikah. Saya rasa tidak masalah jika Tuan Muda meminta Nona Yuri dan Lucas untuk segera pindah rumah. Jika mereka tinggal bersama Anda, saya rasa Anda akan lebih tenang dan keselamatan mereka juga lebih terjamin," usul Shin.
Dahi Kei berkerut-kerut mendengar kata-kata asistennya. Sejenak kemudian mata laki-laki itu memicing tajam, menatap Shin dengan aneh. Tentu saja hal itu membuat lelaki berkaca mata yang selalu setia pada Kei itu merasa takut.
"Hahaha ..." tawa Kei tetiba pecah. Kini, ganti Shin yang dahinya berkerut-kerut. Heran dengan tingkah sang tuan muda.
"Idemu sangat bagus, Shin. Aku suka. Baiklah, selesaikan semua urusan di perusahaan hari ini. Aku akan pergi ke sekolah anakku. Permata, aku harus membujuk Lucas, baru aku bisa menekan Yuri untuk pindah," kata Kei.
Shin masih mencerna kalimat yang dilontarkan Kei hingga dia belum sempat bereaksi. Selain itu, dia juga terkejut dengan reaksi bosnya. Selama bertahun-tahun setia mengikuti Kei, baru kali ini Shin melihat Tuan Muda Yamamoto itu tertawa lepas.
Kei yang sudah terlanjur berbunga-bunga hatinya karena menemukan solusi, tak mau menunggu kesediaan sang asisten mengerjakan beban tugas yang bertambah. Laki-laki itu langsung menyambar jas dan kunci mobil kemudian beranjak meninggalkan Shin.
"Semoga Anda tetap waras saat menangani proyek perusahaan Tuan Muda. Jika tidak, sepupu Anda pasti akan memanfaatkan celah ini untuk menyerang," gumam Shin tanpa diketahui Kei.
...****************...
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Keberuntungan benar-benar sedang berpihak pada Kei. Ketika dalam perjalanan menuju sekolah Lucas, dia menerima pesan dari Yuri. Pesan itu berisi permintaan agar Kei menjemput anaknya. Hari ini Yuri ada lembur. Selain itu, wanita itu juga mengatakan ingin membicarakan sesuatu.
Kei tentu merasa senang bisa menjemput putranya ke sekolah. Adapun hal yang ingin dibicarakan Yuri, laki-laki itu menebak pasti berkaitan dengan berita yang tersebar di media massa. Kei talah menyiapkan diri untuk berdebat dengan Yuri tentang hal tersebut.
"Lucas, Ayah di sini," panggil Kei begitu melihat sang anak ke luar dari kelas.
"Ayah ...." Anak itu berlari menuju pelukan Kei. Mimik wajah bocah itu terlihat bahagia. "Mengapa Ayah di sini? Mama di mana?"
"Hari ini kau pulang bersama Ayah. Mama masih ada pesanan kue, jadi tidak bisa menjemput," terang Kei.
"Em ..." Lucas mengangguk. Dia mengerti kesibukan sang mama dan memaklumi saat Kei yang datang.
"Apa kau tidak ingin melihat rumah Ayah?" pancing Kei.
"Iya, tentu saja, Lucas ingin tahu."
Semua rumahmu terpampang di internet. Aku sudah melihatnya bahkan tahu alamatnya. Batin Lucas berceloteh.
"Kalau begitu, kita pulang ke rumah Ayah," ajak Kei. Ada senyum kemenangan yang terlalu dini mengembang di bibir laki-laki itu.
Lucas terlihat berpikir. Setelah beberapa lama, akhirnya anak itu memberi jawaban, "Mama akan marah. Aku belum minta izin."
Lucas pura-pura memasang wajah sedih. Namun, dalam lubuk hatinya, anak itu memang ingin melihat secara langsung rumah ayah kandungnya itu.
"Tenang saja, Ayah akan menghubungi Mama. Nanti sepulang kerja, Mama akan datang ke rumah Ayah. Kita akan makan malam bersama." Kei mencoba meyakinkan anaknya. "Kau ingin makan apa? Ayah akan meminta koki membuatkan makanan kesukaanmu."
"Benarkah? Aku bisa meminta makanan apapun?" Lucas mulai antusias setelah mendengar tentang makanan.
"Tentu saja, Ayah memiliki koki yang hebat."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke rumah ayah," ajak Lucas. Anak kecil itu tampak tidak sabar.
ceritanya bagus, tidak bertele-tele...dan seru...👏👏👏
keren bet Thor 👏🙏👏🙏👏