Duke Arland.
Seorang Duke yang dingin dan kejam. Selama menikah, dia mengabaikan istrinya yang sangat menyayanginya, hingga sebuah kejadian dimana dirinya harus berpisah dengan istrinya, Violeta.
Setelah kepergian istrinya, dia bertekad akan mencari istrinya, namun hasilnya nihil.
......
Violeta istri yang sangat mencintai suaminya. Selama pernikahannya, ia tidak di anggap ada, hingga sebuah kenyataan yang membuatnya harus pergi dari kediaman Duke.
Kenyataan yang membuatnya hancur berkeping-keping. Violeta yang putus asa pun mencoba bunuh diri, sehingga jiwa asing menemani tubuhnya.
Lima tahun kemudian.
Keduanya di pertemukan kembali dengan kehidupan masing-masing. Dimana keduanya telah memiliki seorang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan dan Kegilaan
Felica memasukkan kembali obat itu dan terus tersenyum. Dia keluar dari kamarnya, berhenti di salah satu ruangan. Ruangan yang di gunakan untuk menyendiri, siapapun tidak boleh memasuki ruangan itu, bahkan Aronz pun di larang oleh Duke Arland. Padahal anak itu adalah anak kesayangannya.
Felica melihat kanan kiri, suasana sepi tidak ada pelayan, mungkin pelayan baru saja membersihkan ruangan itu. Ruangan yang sangat di jaga kebersihannya. Pagi dan malam, Duke Arland akan berteriak jika ada secuil debu di ruangan itu.
"Aku penasaran, apa isinya."
Felica memutar handle pintu itu, kebetulan pelayan tidak menguncinya,sebelum memasukinya, kedua matanya kembali mengawasi sekitarnya. Di rasa aman, ia memasuki ruangan itu.
Beberapa lilin menyala, berjejer rapi di atas nakas dan rak kecil. Suasananya begitu tenang,namun menyeramkan. Di lihatnya pun seperti ruangan biasa, hanya ada satu ranjang, lemari bercat putih dan sofa berwarna merah.
"Ini ruangan apa sih?"
Felica terus melangkah, sebuah gorden putih melambai-lambai seperti terbawa angin mencuri perhatiannya. Dengan keberanian penuh,dia menyikapi gorden berwarna putih itu. Kedua matanya terpana, lukisan wanita yang ia kenal berada di mana-mana, di dinding, dia tas rak kecil dan juga di atas nakas.
"Sial! ini bukan ruangan biasa, tapi ruangan yang menjadi kenangannya."
Felica menghampiri sebuah lukisan,Di lihat dari lukisannya masih belum selesai hanya tinggal mewarnai gaunnya yang setengah badan itu. Lukisan Violeta yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya, memakai penutup kepala dan memegang bunga mawar.
"Lukisan yang sangat menjengkelkan." Felica melirik ke arah meja itu,dia mengambil kuas bewarna hijau, menggoreskan di seluruh lukisan itu."Apa ini semua Duke yang menulis? aku baru mengetahuinya. Dia menyembunyikan bakatnya dengan ku, tapi dengan Violeta dia menunjukkannya."
"Violeta aku salut pada mu, seandainya kamu kembali. Aku akan menantang mu untuk berduel dengan ku, merebut hati Duke. Meskipun kamu memiliki anak sekali pun, Duke tidak akan melepaskan ku karena aku memiliki Aronz."
Felica menarik lukisan itu, hingga terjatuh ke lantai. Menginjak-nginjak lukisan itu dengan kakinya di iringi umpatan di mulutnya itu.
Kedua matanya beralih lukisan di atas nakas di dinding yang menghiasi ruangan itu. Kedua tangannya langsung membuang lukisan itu satu per satu ke lantai. "Mulai saat ini, tidak akan ada lukisan mu."
Setelah lukisan itu tergeletak di lantai, dia melangkah mengambil lilin di atas nakas, lalu .enjatuhkan lilin itu ke atas lukisan yang tergeletak di lantai marmer itu.
"Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum ada yang bisa menemukan ku."
Felica mengintip di balik pintu kokoh itu, masih aman. Ia pun keluar dengan wajah santai dan akan membersihkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, semua pelayan kalang kabut meneriaki kediaman khusus Duke terbakar..Ada yang menangis sambil berdiri di depan ruangan itu dan ada juga beberapa pelayan membawa air, yang di khawatirkan nyawa mereka. Ruangan itu sangat di jaga oleh Duke, entah apa yang terjadi jika Duke pulang dan mengetahui semuanya.
Di tempat lain.
Seorang pria gagah berjalan tak menentu arah. Sedari tadi pagi, dia dan kesatrianya mengelilingi kota hanya mencari sosok anak kecil yang di gilai sang majikan.
"Baginda, apa kita tidak pulang saja?"
"Heh! kamu menggerutu, aku yakin dia akan kesini."
Hanya orang yang tidak waras yang mengatakan anak kecil akan keluar larut malam.
"Baginda ini sudah malam, nona tidak akan kesini. Nyonya Violeta tidak akan mengijinkan nona keluar."
"Ah, benar juga. Wanita ku tidak akan datang."
Kesatria Gio tersenyum terpaksa, mencari di tokonya. Menunggu sampai lumutan di depan toko, tidak betah berkeliling kemudian kembali ke toko gaun milik Violeta. Sudah berapa kali dia datang dan pergi dari toko itu, untung pelayannya ramah, seandainya pelayan itu garang seperti Kaisar Fictor sudah di pastikan mereka di tendang.
"Baiklah, besok kita langsung ke kediamannya."
Astagah!!!
Kesatria Gio mengelus dadanya dan hembuskan nafas lelahnya. Biarkan saja menjadi hari esok, majikannya sudah menjadi gila dan sangat gila.
akoh mampir Thor