JANGAN BOOM LIKE! Kasih jeda 2 atau 3 menit.
Kehidupan keluarga kecil Puspa sangatlah damai tanpa adanya pertengkaran walaupun mereka orang sederhana, Puspa punya keinginan besar untuk merubah nasib keluarganya. Namun, tak ada yang tau mengenai takdir manusia termasuk Puspa sendiri.
Sosok pahlawan yang tak lain adalah Bapak Puspa menjadi perantara dimulainya kehidupannya yang tak lagi damai, ia menghancurkan keluarga kecil Puspa, ia terpikat pada seorang janda bahkan Ibu dan Adik Puspa meninggal.
Puspa bertemu dengan sosok laki-laki cuek dan dingin bernama Arga, namun lagi-lagi kisah hidupnya tidak sehalus dan semulus kertas HVS. Akankah Puspa mampu mencapai kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah
"Kamu yakin?" Bapak Puspa menggenggam erat pergelangan tangan Puspa yang mulai melangkah keluar rumah
"Yakin, Pak. Puspa tidak mau merepotkan Bapak dan Istri baru Bapak. Puspa juga tidak sudi tinggal satu atap dengan wanita jal*ng itu. Lebih baik Puspa kerja dan nge-mess"
Genggaman itu perlahan mulai longgar bersamaan dengan air mata yang menetes dari sudut mata Bapak Puspa
"Bapak akan menyuruh Rina menggugurkan kandungannya, asal kamu tidak meninggalkan Bapak" Puspa melotot tidak suka dengan usul Bapaknya.
"Bapak yakin membunuh darah daging sendiri? dia tidak bersalah. Yang bersalah adalah kalian berdua!. Kalian telah menyakiti Ibu dan Adikku, dan sekarang Bapak mau menyakiti janin yang bahkan belum tumbuh organ? Cukup, Pak!. Biarkan anak kalian itu hidup, toh Puspa akan pergi dari sini.. Jadi Bapak tidak perlu khawatir Puspa akan menyakiti anak kalian. Walau Puspa terluka parah, dia tetap adik Puspa yang tidak berdosa." Puspa menitikkan air mata sembari mengatur nafasnya yang sesak
"Tapi-"
"Jika di undang, Puspa akan hadir di resepsi pernikahan kalian, dan jika Bapak bersedia, silahkan datang di acara wisuda Puspa beberapa bulan lagi. Kalau Bapak tidak bersedia, tidak mengapa. Puspa akan pulang 1 tahun 1 kali Pak."
"Tapi rumah ini..."
"Lebih baiknya wanita itu tidak tinggal disini Pak, Puspa sudah pegang kunci cadangan. Bapak jangan mengira Puspa mengusir Bapak.. Tidak tentu tidak. Tapi Bapak sendiri yang melangkah untuk meninggalkan rumah ini. Puspa tidak mau rumah keluarga Puspa di huni wanita rendah sepertinya. Sudahlah Puspa berangkat." Puspa menyeka air matanya.
"Maaf bukan maksudku lancang seperti ini.. Tapiiii aku terluka"
"Maaf" Lirih Bapak Puspa menatap punggung Puspa yang masuk ke angkot.
***
"Ayo Bi Ina tunjukkan kamarmu. Dan ya... Bi Ina bawakan bawaanmu ya"
"Tidak perlu Bi.. Puspa bisa sendiri kok"
"Jangan sungkan begitu.. Ayo.. Besok kamu sudah mulai bekerja.. Malam ini kamu istirahatlah dulu"
"Baik, Bi Ina"
🍀🍀🍀
Puspa membongkar isi kopernya.. Ia mulai melipat pakainnya lagi dengan rapi dan memasukkannya ke lemari.
Ia mengambil bingkai foto keluarga mereka. Senyum terlukis di wajah ayu nya. Ia mengusap foto wajah Ibu dan Adiknya
"Sama sekali tidak Puspa sangka, Nasib keluarga kita akan berantakan seperti ini. Wanita sepertinya yang biasanya lumrah di Novel maupun Film atau kehidupan orang lain, Tapi kali ini keluarga kitalah yang mengalaminya. Kita terpisah... Canda tawa hanya sebatas halu. Genggaman dan ciuman dari kalian juga sebatas halu. Kalian apa kabar? Kalian tenang kan disana?" Perlahan namun pasti.. Bibir yang melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman, perlahan memudar dan bergetar..
Tangannya gemetar saat mengingat semuanya.
"Hiksssss Ibu.... Apakah Puspa bisa kuat.... Hikss" Puspa memeluk foto itu dan menumpahkan air matanya... Membayangkan jika ia sedang memeluk Ibu dan Adiknya. Agak lama ia menangis hingga sebuah deheman menghentikan acara melow itu.
"Ehem" Puspa terkejut...Refleks ia meghapus air matanya dan menoleh ke arah pintu kamar.
"Eeee Tuan Muda?" Puspa berdiri dan sedikit membungkuk sebagai rasa hormat. Arga berdiri bersender di pintu.
"Jangan mengeluarkan suara jelekmu itu yang sama sekali tidak berfaedah. Ini sudah malam... Kau juga bukan kuntilanak yang aktif pada tengah malam kan. Berisik tau. Cihhhh wanita memang cengeng sekali" Arga meninggalkan Puspa yang masih sesenggukan
"Kunti? Dasar majikan iblis!" Umpat Puspa pelan
"Tapi kunti dan iblis 1 spesies bukan? Entahlah... Orang kaya terkadang memang otaknya agak miring" Puspa mengatur nafas dan kembali menyunggingkan bibirnya
"Kalau aku menangis, Ibu dan Joni pasti sedih juga.. Aku harus happy" Puspa tersenyum lagi.
"Tapiiiii ini kan kamar pembantu? Tuan Muda kok ada disini ya? Jangan jangan latihan untuk jadi babu ya. Wkkwkwkwk" Puspa terkekeh sendiri.
Arga yang ternyata masih belum benar-benar pergi dari situ mengintip di balik tembok ujung pintu. Ia heran setelah menangis gadis cengeng itu malah tertawa lepas.
"Apa aku mempekerjakan gadis sinting?"
kau tega menyakiti kami pengagum sosok Arga,,,,😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
tega menyakiti perasaan sahabatnya sendiri,,,
...............hati Bapak Puspa sering beregup
Thor, itu ☝️☝️
Seperti ABG yang sedang..................
...............hati Bapak Puspa sering berdegup
bukan beregup