"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 END
Layaknya anak kecil yang tengah merengek kepada ibu mereka untuk dibelikan mainan merupakan ekspresi Fallen yang tengah merujuk istrinya.
"Aku, gak, mau, tau!" kesal Fio.
"Sayang, maafin Aku, lain kali gak gitu lagi," ucap Fallen yang sudah berkali-kali.
"Stop! Itu gak mempan, lain kali gak gitu lagi? Cowok itu yah, omongannya gak boleh dipercaya," balas Fio.
"Duh sayang, jangan gitu dong, Kakak tau kalau Kakak salah."
"Kakak emang salah, intinya cowok ladang permasalahan, titik!" ucap Fio kemudian baring di ranjang.
Ia benar-benar lelah mengurus bayi besar itu, daripada ia tua sebelum waktunya, lebih baik ia tidur.
Fio susah untuk tidur, ia terus kepikiran dengan Fallen, bisa saja Pria itu masih menutupi sesuatu bukan?
Ia pun bangkit dari ranjang dan menatap tajam Fallen, "Katakan sejujurnya, apa yang Kakak sembunyiin dari Aku," ucap Fio.
Kali ini Fallen pasrah, ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu semuanya, "Aku mantan pemimpin mafia, hal terbesar yang Aku tutupin dari Kamu adalah, Aku sendiri yang membunuh Ayah," ucap Fallen sambil memejamkan matanya.
Tubuh Fio bergetar hebat, tangannya menutup mulut seolah tidak percaya apa yang dikatakan oleh Fallen.
Ia menggelengkan kepala berkali-kali, berharap ini semua mimpi buruk yang hanya terjadi dalam sekilas.
"Jangan katakan itu benar," lirih Fio.
"Ini benar, Fio. Kakak seorang pembunuh. Dengan alasan agar dapat memiliki-mu, Kamu tahu bukan? Bahwa Ayah tidak merestui ku jika Aku menikah dengan-mu, maka waktu itu terbesitlah niat untuk membunuh Ayah, dan itu terjadi."
"Tidak, Aku akan pergi! Dasar pembunuh, Aku tidak mau tinggal dengan pembunuh, lebih baik Aku menyusul Ayah dan Ibu!" teriak Fio histeris.
Fallen langsung memeluk Istrinya dan mengucapkan puluhan kata maaf kepada Fio, kali ini ia menangis, ia tidak ingin orang yang dicintainya pergi meninggalkannya.
Inilah hal yang paling Fallen takutkan ketika ia mengatakan fakta yang sebenarnya, tapi ini harus, daripada Fio mengetahuinya dari orang lain, justru itu lebih menyakitkan.
"Maafin Kakak, tolong, jangan berkata seperti itu, Kamu adalah kelemahanku, jika Kau pergi maka separuh jiwaku ikut pergi dan membuatku perlahan mati dan menyusul-mu," ucap Fallen.
Akhirnya Fio tenang, tapi, bukan berarti rasa kecewa dan sakit hatinya hilang begitu saja, rasanya percuma jika ia menangis dan berteriak kencang, semuanya sudah lama terjadi, ia tidak ingin terlarut dalam kesedihan.
"Tinggalkan Aku, Aku ingin sendiri, Aku butuh waktu untuk menenangkan diri," ucap Fio.
Rasanya Fallen enggan untuk beranjak dari ranjang, tapi ia harus mengalah kali ini, demi kebaikan hubungan mereka.
Setelah pintu tertutup rapat, air mata yang Fio tahan mengalir begitu deras, "Jangan menangis Fio! Semuanya adalah takdir, mungkin Tuhan merindukan Ayah dan Ibu, hiks," ucap Fio berusaha menguatkan dirinya. Tak bertahan lama, Fio tertidur di ranjang dengan air mata yang membekas di pipi.
Sedangkan di luar kamar, Fallen tengah menyandarkan punggungnya di tembok sambil memegang kepalanya frustasi, "Argh! Sialan, Kau memang sialan!" teriak Fallen.
Fahrul yang baru saja selesai berpakaian begitu terkejut mendengar teriakan Kakaknya, begitu pula dengan Dertox dan anggota lainnya.
Segera Dertox menghampiri Tuannya, saat ia berada di depan Fallen, Dertox tidak menyangka jika tuannya menangis.
"Tuan, ada apa? Mengapa anda menangis?" tanya Dertox.
"Tinggalkan Aku sendiri sialan!" bentak Fallen.
Tapi, Dertox tetap berada di tempatnya, ia tidak akan pergi sebelum keadaan Tuannya baik-baik saja.
"Kau tidak mendengarku? Ingin ku bunuh hah?" tanya Fallen dengan suara yang lebih tinggi.
Seluruh penghuni rumah terkejut mendengar bentakan dari Fallen, kecuali Fio yang tengah tertidur karena lelah.
"Tuan, luapkan semuanya, begitu Anda meluapkannya maka anda akan merasa tenang," ucap Dertox.
Fallen memejamkan matanya kemudia menghela nafas kasar, "Istriku sudah tahu semuanya, dan ia berkata lebih baik ia menyusul Ayah dan Ibu, daripada harus tinggal bersama diriku, seorang pembunuh," ucap Fallen datar, namun Dertox sangat tahu jika tuannya sedang terpuruk dalam kesedihan.
"Tuan, saya yakin, Fio tidak segila itu, ia cuman emosi Tuan, jadi ia tidak sempat berpikir untuk mengeluarkan perkataannya, dan itu murni karena ia hanya kecewa," balas Dertox.
"Benarkah?" tanya Fallen yang mulai sedikit tenang.
"Benar, Tuan. Di sini peran anda harus memberi kepercayaan kepada Fio, dan membuatnya tenang dan nyaman di sisi anda, begitu hal tersebut terus berlangsung, maka Fio memaafkan anda seiring berjalannya waktu," jawab Dertox.
"Terimakasih, Dertox."
"Sama-sama, Tuan."
Setelah merasa semuanya membaik, Fallen pergi ke ruangannya dan memikirkan kejadian tadi.
Sambil memejamkan mata, Fallen berpikir bahwa jika ia tidak membunuh Ayahnya maka semuanya tidak akan seperti ini.
Memang ini salahnya, tapi ia harus apa? Ini sudah terjadi. Karena lelah memikirkan semuanya, tanpa sadar Fallen tertidur di ruang kerjanya.
Ke esokan harinya, Fio terbangun dan mendapati sebuah tangan kekar yang memeluk tubuhnya erat, sebuah dengkuran halus terdengar di telinganya, begitupun nafas yang menghampari kulit lehernya.
Fio terbayang atas kejadian semalam, dan ia sudah memaafkan suaminya, pernah ia berkata, sebesar apapun kesalahan suaminya ia tetap akan bersama suaminya karena ia telah jatuh ke dalam jurus pesona Fallen.
Merasa bergerak, Fallen terbangun dari tidurnya. Pasti kalian bertanya mengapa Fallen dapat seranjang dengan Fio? Sedangkan Fallen ketiduran di ruang kerjanya.
Nah, ternyata, larut malam Fallen terbangun, sadar ia di mana, Fallen segera pergi ke kamar untuk tidur di samping sang istri.
"Maaf, sayang. Jika Kau tidak memaafkanku dan sangat menyesal menikah denganku, maka Aku tidak dapat memaafkan diriku sendiri, dan lebih baik Aku meninggalkan dunia ini," ucap Fallen.
Fio yang mendengar perkataan konyol suaminya langsung mencubit keras perut Fallen.
"Kamu ngawur yah kalau ngomong, jadi mau tinggalin Aku gitu? Terus Aku ber-status janda? Tentunya Aku gak mau," balas Fio dengan nada kesal.
"Jadi, Kau memaafkanku?" tanya Fallen dan Fio mengangguk.
Dengan senang, Fallen terus menyium wajah Fio satu persatu, setiap inci wajah Fio tidak ia lewatkan.
"Terimakasih sayang, Aku sangat bersyukur dapat menjadi pendamping-mu, walau segala penderitaan disebabkan olehku, yah semua penyebab penderitaan adalah diriku," ucap Fallen.
"Yah, betul sekali, semua permasalah Kamu penyebabnya. Dan juga, mengapa Aku bisa jatuh cinta? Karena Kamu penyebabnya! You're Cause Mr Hiltero!" balas Fio.
"Yeah, i'm the cause!"
~TAMAT~
kalau pribadi yimak .membawa like