Sebuah pengorbanan yang begitu besar dari seorang istri kepada suami, sebagai bentuk pengabdian nya untuk mendapat ridha dari Allah. akan kah cinta itu hadir ?.
Author mengemas cerita ini dalam satu wadah, Dengan cerita yang berbeda beda di setiap Halaman yang author tulis.
Jangan bigung ketika membaca karna author mengemas semua kisah dalam satu karya agar tidak berantakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atlantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Halaman - 27 ]
Setelah membantu ku untuk masuk ke dalam mobil Syava berbisik di sebelah kanan ku.
...“ Cie..... yang lagi di khawatirin dokter Arfan “...
^^^Sontak membuat ku untuk mencubit tangan nya.^^^
Bukan nya merasa sakit karna di cubit Syava ,alah tertawa riang, Lantas kami berlalu menuju Villa dokter Arfan
🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤
^^^10 menit telah berlalu.^^^
Kini aku dan Syava serta dokter Arfan sampai di Villa dokter Arfan yang begitu megah.
Villa ini tidak jauh dengan kebun teh, Suasana nya begitu nyaman dan sejuk.
Dokter Arfan yang sedari tadi sudah turun duluan berlari dengan cepat untuk membuka kan pintu mobil, dan Syava yang sedari tadi sudah turun bergegas membantu ku untuk berjalan.
Sementara dokter Arfan hanya mengikuti ku dan Syava dari belakang.
Syava membersihkan luka ku di siku dan lutut ku di kamar mandi milik dokter Arfan. Syava yang seolah olah memberikan arahan untuk langkah pertama harus mencuci tangan dan siku serta lutut ku dengan dengan sabun dan air, kemudian bilas bbersih dengan air dingin semata mata untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada luka.
^^^“ Mba Syava, Pertama Bersihkan dulu lukanya dengan sabun “^^^
teriakan dokter Arfan dari luar pintu kamar.
...“ Iya Dok “ Sahut Syava....
“ Engga perlu di kasih tau, Aku juga sudah tau “
^^^Bisiknya dengan pelan agar tidak di dengar oleh dokter Arfan.^^^
...“ Nay, Calon suami mu itu terlalu menghawatirkan kamu sekali, Padahal hanya luka biasa “...
Ucap Syava yang tertawa.
^^^“ Syav... Auwww pelan pelan. Ini darahnya keluar terus “^^^
Teriak ku kesakitan. Sementara laki laki itu masih setia berdiri menunggu dari luar .
“ Mba Syava, untuk menghentikan darah yang mengalir, tekan lukanya menggunakan perban atau sapu tangan yang bersih, selama beberapa menit agar menyerap darah yang terus keluar “
^^^teriakan itu lagi lagi dari dokter Arfan.^^^
Mendengar itu lagi lagi Syava tertawa.
“ hahaha..... Saya juga tau dok “ Bisiknya pelan.
...“ Mba Syava kok diem ? “...
tanya dokter Arfan yang semakin hawatir .
...“ Baik dok “...
Jawab Syava yang menahan tawa.
“ Va, jangan tertawa terus “
^^^ucap ku dengan kesal.^^^
Syava yang langsung menekan luka di siku dan lutut ku menggunakan sapu tangan milik dokter Arfan. Sebelum memasuki kamar dokter Arfan sudah menyiap semua kebutuhan untuk mengobati luka ku.
...“ Setelah selesai membersihkan luka, Oleskan sedikit krim antibiotik yang ada di dalam kotak P3k “...
^^^teriak dokter Arfan dari luar.^^^
...“ Iya dok “...
Jawab Syava.
“ Calon mu itu, Apa tenggorokannya tidak sakit Nay ? ”
^^^ledek Syava sambil tertawa.^^^
Syava dengan perlahan mengoleskan krim pada setiap luka dan langsung menutup lukanya dengan plaster.
...“ Nah.. sekarang selesai, Nay “...
Kata Syava.
Kemudian Syava membereskan serta memasukan kembali obat yang tadi digunakan dan juga sapu tangan kedalam kotak P3k yang di berikan dokter Arfan. Lalu aku keluar dari kamar mandi di bantu oleh Syava yang membantu ku untuk memapah tubuh ku.
Saat aku keluar dari kamar mandi, Terlihat jelas dokter Arfan yang berdiri dari depan pintu kamar. Yang kini telah masuk untuk melihat keadaan ku. Syava hendak tertawa namun aku memberikan isyarat dengan mencubit lengan nya agar tidak tertawa.
...“ Gimana Mba Nay, Masih sakit ? ”...
tanya dokter Arfan.
“ Alhamdulillah , sudah sedikit berkurang. Makasih ya dok “
^^^ucap ku dengan senyuman diakhir.^^^
...“ Ehem .... Permisi buk “...
“ Yang tadi mengobati lukanya siapa ya ? terus bilang makasihnya sama siapa ? “
Celetuk Syava.
“ Makasih ya Syava. Beruntung banget punya sahabat kaya kamu, ibu bidan berhati peri, kalau nanti aku sakit bisa sama kamu “
^^^bujuk ku sambil tertawa.^^^
...“ Malah kamu lebih beruntung dari aku “...
Ucapan Syava membuat ku bigung.
“ Beruntung gimana ? ” tanya ku dengan heran .
Syava yang kesal kini sudah menepuk jidat nya.
“ Coba sekarang kamu lihat. Yang berdiri di depan kamu ini siapa ? ” tanya Syava.
...“ Dokter Arfan “...
jawab ku yang masih belum mengerti.
hanya tingal... meluluh kan hati mana ayu...
Semogga kau bisa mengatasi mama ayu nay..
Tancap donk vino. PDkt... LG..