Zahra gadis malang yang terpaksa menikah dengan kepala sekolahnya yang kejam karena perintah orang yang sangat di hormati.
Semua angan-angan Zahra untuk menikah dengan pria pujaannya pun Sirna.
Bagaimanakah perjalanan cinta Zahra, akankah dia bisa mencintai pria dingin dan kejam yang bernama Faiz????
yuukkk baca novelku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25
Di dalam mobil Zahra hanya diam, sedangkan Faiz fokus mengendarai mobil, sesekali dia melirik istrinya.
"Ra...kamu capek ya...???" Tanya Faiz memulai pembicaraan.
"nggak..." jawab Zahra singkat.
"Habis ini kamu mau kemana Ra...?" Faiz
"Pulang..."Zahra
"Kalau aku ajakin kamu jalan mau gak...???" Faiz.
Zahra menoleh pada Faiz, ada rasa tidak enak menolak ajakannya.
"Kemana???" Zahra
"kamu mau kemana...???" Faiz
"nggak tau..." Zahra bingung.
"Ya udah kita jalan sebentar ya..." Faiz.
Faiz pun melajukan mobilnya lebih cepat, Faiz membawa Zahra ke sebuah pantai yang berpasir putih, langit kemerahan di ufuk barat, menanti sang surya tenggelam.
Zahra turun dari mobil, dia menikmati indahnya pemandanga petang. Angin berhembus menyejukkan hati.
Zahra melangkah menyisiri pantai dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Zahra melewati sebuah batu besar. Zahra duduk di atas batu itu dan tersenyum.
Flash back On.......
Pada musim liburan sekolah, Keluarga Adrian mengajak mang Uddin dan keluarga untuk liburan ke pantai.
Adrian memang biasa membawa keluarga mang Uddin untuk bertamasya. Jika mang Uddin dan Siti tidak dapat ikut Adrian pasti membawa Zahra bersama mereka.
Zahra yang berumur 7 tahun, asyik bermain pasir. Zahra membentuk pasir menjadi rumah atau istana pasir.
Faiz yang melihat Zahra Asyik bermain sendiri, dia tergoda untuk mengusili gadis kecil itu.
Faiz mendekati Zahra, lalu berpura-pura tak melihat istana yang telah di bentuk Zahra. Walau istana buatannya tidak bagus tapi fia tampak sangat marah..
"Mas Faiz jahat..." bentak Zahra kecil dengan suara yang melengking memekakkan telinga yang mendengarnya.
"Eh...ada apa Ra...???" Faiz pura-pura tidak tahu.
"Lihat istanaku hancur gara-gara mas..." Rengek Zahra. Walaupun Zahra hanyalah seorang gadis kecil dia tidak cengeng.
"Ya ampun Ra maafin mas ya..." Faiz meminta maaf.
Zahra tak terima, permintaan maaf dari Faiz.
Zahra memukul-mukul Faiz dengan ranting kayu yang di pegangnya.
"Mas Faiz jahat..." pekiknya sambil terua melibaskan ranting itu pada Faiz.
Faiz pun berlari-lari kecil menghindari pukulan dari Zahra. Zahra terus mengejar Faiz hingga dia lelah.
Zahra kecil yang lelah mengejar-ngejar Faiz, terduduk lemas di batu besar di samping istana pasir yang di bikinnya tadi.
Faiz menghampiri Zahra.
"Maafkan mas ya Ra...sebagai gantinya Mas bikinkan Istana yang indah buat kamu..." ujar Faiz lalu membentuk pasir-pasir itu menjadi istana pasir yang indah jauh berbeda dengan istana pasir yang di bikin oleh Zahra.
"Mas Faiz hebat..." Zahra bertepuk tangan riang dengan mata yang berbinar.
Faiz ikut duduk di batu itu, dia mengelus rambut Zahra.
"Itu istana buat kamu..." ucap Faiz.
"Makasih mas...kalau udah besar mas maukan bikinkan Istana yang asli buat Ara...??" tanya Zahra yang masih polos.
"Tenang saja Ra...mas akan bikin Istana yang megah buat kamu..." jawab Faiz dengan senyumannya.
Flash back Off...
Degh....
Jantung Zahra tiba-tiba berdegup kencang saat mengingat kata-kata yang di lontarkan Faiz saat dia masih kecil.
"Apakah mas Faiz mencintaiku sejak aku kecil???" gumam Zahra di dalam hati.
Faiz kini telah dusuk di samping Zahra, dia menatap lurus ke depan melihat cahaya merah yang mennati surya tenggelam.
Zahra menoleh pada Faiz, dia memandangi wajah Faiz, saat ini wajah yang selalu mengisi hari-hari tampak lembut dan teduh.
Sorotan mata yang tajam dan raut wajah yang penuh amarah itu sirna. hingga Zahra terpesona dengan ketampanan suaminya.
Faiz melingkarkan tangannya ke pundak Zahra.
"Ra...maafkan mas ya...Selama ini mas selalu menyakiti Kamu..." lirih Faiz. yang terdengar jelas di telinga Zahra.
Faiz menoleh pada Zahra hingga tatapan mereka beradu, mereka saling pandang menyelami mata yang afa di hadapan mereka.
Ada sesuatu yang dapat di rasakan oleh Zahra dari mata Faiz. Entah apa itu namun membuat Zahra merasa nyaman dan terlindungi.
Sedangkan Faiz mencari-cari sebuah cinta di mata Zahra, namun tatapan Zahra hanya kosong dan bingung.
Zahra memang belum mencintai Faiz, Zahra hanya menganggap Faiz sebagai seorang suami yang terpaksa di nikahinya.
"Ra...kamu ingat...janji mas disini???" tanya Faiz pada Zahra.
Faiz sengaja membawa Zahra ke tempat ini, untuk mengingatkan Zahra tentang kenangan masa lalunya.
Degh...
Zahra yang dari tadi mengingat janji Faiz hanya bisa terdiam sambil memegangi dadanya yang terasa berdetak tak karuan.
"Janji apa mas...???" Zahra pura-pura tidak mengingatnya.
Faiz menangkupkan tangannya di wajah Zahra.
"Mas yakin suatu hari kamu akan mengingat janji mas sama kamu..." lirih Faiz lalu menarik tangan Zahra untuk melangkah menyisiri pantai.
Zahra masih bingung dengan sikap Faiz, Dia merasa suaminya itu telah banyak berubah.
Saat ini Zahra merasa nyaman berada di sisi Faiz. Hingga senyuman yang selama ini terpaksa di berikannya pada Faiz kini di terukir indah dengan tulus.
Tanpa di sadarinya Zahra melepaskan genggaman tangan Faiz, lalu dia menggandeng lengan Faiz, dia bergelayut manja pada pria yang selama ini selalu mengisi hari-harinya semenjak dia diangkat ibu Siti sebagai anak.
Setelah mereka lelah menyisiri pantai, Faiz mengajak Zahra masuk ke sebuah cafe yang menghadap pada matahari yang mulai tenggelam.
Mereka melepas lelah dengan memesan es kelapa muda dan di temani dengan semangkuk mie rebus.
Zahra menikmati perjalanannya bersama suaminya.
"Terima kasih mas..." hanya itu yang terlontar di bibir manis Zahra setelah mereka puas menikmati keindahan pantai di penghujung petang.
Mereka telah berada di mobil, Faiz pun mengemudikan Mobil dengan kecepatan sedang. Zahra yang terkihat lelah dia pun memejamkan matanya hingga dia pun tertidur.
Sampai di rumah, Zahra masih ter lelap, Faiz memasukkan mobilnya ke garasi. Faiz tak tega mengganggu tidur istrinya, dia menggendong Zahra menuju kamarnya.
Saat Faiz menaiki anak tangga Rahayu yang melihat putranya menggendong menantunya merasa heran.
"Kalian dari man Fa???" tanya Rahayu.
"Tadi kami jalan-jalan sebentar ma...karena kecapekan Ara malah tidur di mobil..." jelas Faiz.
"kenapa kamu gak bangunin Ara??"
"Kasihan ma...Lagian Faiz kuat kok gendong istri Faiz..."
" ya udah hati-hati ya nak..."
" iya ma..."
Faiz berlalu menaiki satu per satu anak tangga, karena dia yang rajin berolahraga membuatnya kuat mengangkat tubuh mungil istrinya.
Sesampai di kanar Faiz membaringkan tubuh istrinya di atas Ranjang, lalu dia nenutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Faiz memandang wajah istrinya yang tidur pulas, dia pun mengecup kening istrinya.
"Mas janji akan bikin kamu bahagia Ra... maafkan mas yang selalu membuat Ara terluka...mas mencintai Ara..." ucap Faiz di telinga Zahra.
Lalu Faiz pun berlalu meninggalkan Zahra di ranjang, Dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Bersambung....
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
terimakasih pembaca setiaku...