Felicia Daryl adalah gadis yang kurang beruntung di lingkungannya, saat semua anak seusianya sudah menikah dan memiliki anak, dia masih saja setia dengan kesendiriannya. Hingga sebuah rencana besar di lakukan untuknya, orang tuanya akan menjodohkannya dengan pria yang tidak di kenal membuatnya memutar otak untuk bisa terhindar dari perjodohan itu.
Di tengah kegundahaannya, akhirnya ia di pertemukan dengan seorang dokter muda yang dengan tulus menolongnya. Sebuah ide gila pun muncul, Felicia merancanakan sebuah pernikahan dengan dokter muda itu.
Frans Aditya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak terduga
Pagi ini mentari bersinar begitu cerah, hingga sangat indah untuk memulai suatu pekerjaan. Tapi sungguh berbeda dengan keadaan di dalam kamar pengantin itu.
Felic mulai membuka matanya saat ia merasakan hangatnya cahaya matahari yang mulai masuk memalui celah-celah kamarnya.
Ia begitu terkejut ketika membuka mata dan mendapati kepalanya yang sudah menyusup sempurna di dada bidang pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu hingga ia bisa mencium aroma maskulin suaminya.
"Aaaaaa ....!" Felic berteriak membuat empunya tubuh terbangun, Felic segera mendorong tubuh itu bukannya memundurkan tubuhnya sendiri.
Bug
"Augh ......!" Dokter Frans terjatuh kelantai gara-gara ulah Felic. "Lo kenapa sih ....., sakit tahu!" keluh dokter Frans sambil bangun dari lantai.
"Siapa suruh meluk-meluk gue ....!" protes Felic.
"Lo kali yang nggak nyadar, lo sendiri yang meluk-meluk gue, gue mah tinggal nurutin apa mau lo!"
Setelah di pikir-pikir memang benar jika Felic lah yang duluan meluk dokter Frans, hal itu membuat Felic terdiam dengan bibir mengerucutnya.
"Ya udah gue mau mandi!" dokter Frans hendak menuju ke kamar mandi tapi Felic segera menahannya dengan berdiri di depannya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Tidak boleh, gue duluan yang mandi!"
"Gue harus buru-buru .....!"
Mereka harus bergantian kamar mandi karena bangun kesiangan.
“gue dulu …., lo kan cowok jadi
harus ngalah …!”
“Nggak ada aturan kayak gitu …,
lagian siapa yang buat peraturan kayak gitu, nggak bener amet!”
“Ini kamar mandi gue ya …., jadi
jangan nyerobot!”
“dasar lo … sekarang ini juga kamar mandi gue!"
"Plisss ...... ,gue dulu ya!" kali ini Felic memasang wajah memelas, dengan begitu dokter Frans pasti tidak akan berdebat lagi,
"Ya sudah, gue mandi di bawah aja!” dan cara itu benar-benar berhasil.
"nah gitu dong ngalah sama cewek!”
Akhirnya dokter Frans pun memilih
turun, ia menuju ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Ibu mertuanya sedang sibuk
memasak di sana.
“Pagi ibu mertua!”
‘Pagi Frans, mau ngapain?”
“mau mandi bu, di atas rebutan sama
Felic!”
“ya udah sana mandi lalu sarapan!”
‘Siap ibu!”
Dokter Frans begitu bahagia
mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari ibu mertuanya. Ibu mertuanya begitu
baik padanya.
Setelah selesai mandi, dokter Frans
segera bergegas kembali ke kamar, di kamar terlihat Felic sudah rapi bersiap
untuk berangkat.
“Fe …, lo mau ke mana? Rapi bener!”
“kerja dong …!”
“Apa tidak sebaiknya lo berhenti kerja aja? gue bisa ngidupin lo tanpa lo perlu kerja,
lo juga bisa fokus sama cita-cita lo!”
“Kita nikahnya nggak wajar ya …, jadi jangan ngatur gue!”
“emang kita kecelakaan apa? Menurut gue pernikahan kita wajar-wajar aja, Kita nikah karena kita berencana. Jadi sudah menjadi
kodrat gue sebagai suami, nafkahi lo ….!”
Mendengar ucapan dokter Frans yang terdengar serius membuat Felic tercengang, ia tidak menyangka orang seperti dokter Frans bisa bicara seperti itu, jika di lihat
dari penampilannya, dokter Frans memang keren tapi tidak dewasa, tapi saat
mendengarkan beberapa pembicaraannya ternyata kedewasaan seseorang tidak bisa
di ukur dari penampilan atau usia.
“Kenapa malah diam kayak gitu, gue salah ngomong?”
“Nggak …, ngomong lo keren abis!” mendengar ucapan Felic, dokter Frans segera mengacak-acak rambut Felic membuat Felic berdecak.
“lalu?”
“Gue nggak mungkin lah tiba-tiba langsung berhenti aja, nggak enak sama
orang-orang, nunggu satu atau dua bulan lagi ya!”
"Terserah lo deh, gue juga nggak bisa terlalu maksain kehendak gue sama lo!"
Dokter Frans mulai merapikan bajunya, mengenakan sepatu, matanya terfokus pada ponselnya yang berdering, ia segera melihat pesan itu. Pekerjaannya menuntutnya untuk selalu mengaktifkan ponselnya.
Setelah memastikan pesan itu, dokter Frans mempercepat kegiatannya, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang selalu ia slempangkan di bahu kirinya. Ia tidak pernah membawa peralatan rumah sakitnya ke rumah, kalaupun bawa, ia akan membawanya di mobil.
“Bisa nggak hari ini pulangnya lebih awal?’
“Ada apa?”
“Gue mau ngajak lo ke suatu tempat!”
“Ya ntar gue usahain deh!”
“Ya udah, entar kalau lo bisa, wa gue ya. Gue berangkat dulu. Bilang sama ibu maaf
karena nggak bisa ikut sarapan, ada operasi pagi soalnya!”
“Iya …, hati-hati ….!”
“Bye …, sampai jumpa nanti siang!”
Dokter Frans pun segera meninggalkan kamar melalui tangga yang berada di depan kamar
yang langsung terhubung dengan teras depan. Felic pun juga segera turun, tapi Felic
lewat tangga yang ada di dalam rumah, ia menghampiri ibunya yang sepertinya
sudah bersiap-siap membuat adonan.
“Bu Felic berangkat dulu ya!”
“loh .... suami kamu mana? Nggak sarapan?”
“Oh iya hampir saja lupa, tadi Frans pesen nggak bisa ikut sarapan karena harus
segera ke rumah sakit ada operasi pagi katanya!”
“oh gitu ya sayang sekali, padahal ibu sudah masak banyak loh ….!”
“ya udah bu, Fe berangkat dulu!”
Felic
pun memilih untuk segera berangkat karena ia juga sudah sangat terlambat,
semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak karena harus berbagi tempat tidur dengan
orang lain.
Sesampai di tempat kerja, ia langsung di cerca beberapa pertanyaan dari rekan kerjanya
karena tiba-tiba saja nikah, mereka mendapatkan informasi itu dari Ersya.
“Fe…, kamu nikah beneran? Kata Ersya kamu nikah ya? Sama siapa? Kenapa nggak
undang undang kita? Atau jangan-jangan kamu hamil duluan ya?”
“Bang
…, Felic harus jawab yang mana dulu nih?”
“terserah
pokoknya harus di jawab semuanya!”
“Iya
Felic nikah beneran, sama pria, kenapa Felic nggak undang kalian, soalnya
acaranya dadakan dan Felic nggak hamil duluan, kalian bisa liat perut Felic
masih kempes gini!”
“Berarti
masih ada resepsi dong? Nikahnya sama orang aya atau biasa aja?”
“bang
ilham nih ya tanyanya dari ujung sampek ujung ya …, mana Felic tahu bakal ada
resepsi atau enggak! Ya udah Felic kerja dulu!”
Felic
pun memilih menghindar, ia harus segera bekerja. Jika bisa pulang siang, ia
akan menghubungi dokter Frans yang katanya akan mengajaknya ke suatu tempat.
Ternyata
hari ini sedikit lebih sibuk, jadi dia tidak bisa pulang lebih awal. Dokter
Frans yang sudah selesai pekerjaannya semenjak terus menunggu pesan dari felic.
“Kenapa
dia tidak mengirimkan pesan ke gue? Apa pekerjaan sebagai OG se sibuk itu? Gua
aja yang dokter nggak sesibut itu!” gerutu dokter Frans.
Akhirnya
dokter Frans memilih untuk mampir dulu ke rumahnya, mengambil beberapa baju
ganti untuknya dan juga melihat keadaan rumahnya.
“Tuan
Frans …..!”
“Siang
bi Molly!”
Bi
Molly seperti sedang mencari-cari sesuatu di belakang dokter Frans, tapi apa
yang sedang ia cari sepertinya tidak dapat di temukan.
“Nyari
apa bi?”
“Nyonya
rumah ini mana?”
Dokter
Frans mengerutkan keningnya, ia tidak faham dengan apa yang di tanyakan oleh bi
Molly.
“Nyonya
rumah ini?” tanya bi Molly lagi, sekarang dokter Frans baru faham. Ia belum
terbiasa dengan panggilan itu.
“Ohhh
…, dia! Dia sedang kerja bi, rencananya sih mau Frans ajak ke sini tapi
sepertinya dia sibuk. Ya udah bi, Frans ke kamar dulu ya!” Walaupun kecewa tapi bi Molly tetap mempersilahkan tuannya untuk ke kamar.
Dokter
Frans pun segera meninggalkan bi Molly dan menuju ke kamarnya. Ia akan tidur
sebentar di kamarnya, karena semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena harus
berbagi tempat tidur.
Felic
yang sudah selesai dengan pekerjaan segera menyandarkan punggungnya di dinding,
ia suka sekali duduk berselonjor di lantai.
“Masih
jam dua, masih keburu nggak ya jalan sama si Frans?”
Felic
pun segera mengambil ponselnya, ia melakukan panggilan beberapa kali tapi tetap
sama, walaupun aktif tapi tetap tidak di angkat.
“sibuk
kali dia ya ….!”
Akhirnya Felic menyerah setelah panggilan ke sepuluh nya.
“mending
gue pulang aja lah …, mau tidur. Ngantuk banget!”
Felic
segera mengganti pakaiannya dan pulang. ia mengayuh sepeda bututnya hingga
sampai di rumah. Tapi saat memarkirkan sepedanya, ia melihat mobil yang pernah
di lihatnya beberapa kali terparkir di halaman rumahnya.
“Ada
tamu ya …, ini mobil siapa ya? Kayaknya gue kenal!”
Felic
pun agak ragu untuk masuk, ia hendak memilih naik memalui tangga yang ada di
depan rumah. Saat hendak menaiki tangga ekor matanya menangkap sesosok yang
pernah ia sangat kenal.
“Rangga!”
pekik Felic, ia mengurungkan niatnya untuk naik ke atas. Ia membalik tubuhnya
dan kembali menuju ke depan rumah.
Langkahnya
kembali ragu untuk, ia tidak yakin untuk menemui pria itu. Hatinya kembali
gundah setiap kali melihat pria itu.
Tok
tok tok
Felic
mengetuk pintu dan berdiri tepat di depan pintu itu, membuat semua orang yang
berada di dalamnya menoleh padanya.
“Ayah
…!”
“Fe
…, sini! Masuklah …!”
Tatapan
Felic hanya tertuju pada pria itu, pria yang bernama Rangga. Begitu juga dengan
pria yang ada di depannya itu, pria itu sampai berdiri melihat kedatangan
Felic.
Felic
segera mendekat ke arah ayahnya, dan berdiri di samping ayahnya.
“Nak
…, maaf acara nikahan kamu kemarin paman sama bibi tidak bisa hadir,
perkenalkan ini putra kami yang akan kami jodohkan denganmu, tapi ternyata
kalian tidak berjodoh. Abi perkenalkan dirimu!”
Mendengar
pernyataan dari paman beni membuat Felic benar-benar terkejut. Hatinya terasa
begitu sesak hingga ia sulit untuk bernafas.
“Abi?
Jadi maksudnya …!” ucap Felic dengan suara yang bergetar.
“Iya
ini putra kami, Rangga Abiyasa! Kami biasa memanggilnya Abi!”
Sekarang
kepala Felic semakin pusing, rasanya semua berputar-putar hingga membuat tubuh
Felic limbung, untung saja langsung sigap di tanggap oleh Rangga yang memang
berada di depannya.
“Fe
…, Felic …., kamu tidak pa pa kan?” tanya Rangga begitu khawatir.
Spesial Visual Rangga
bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️
sekalian biar para suami merasakan gimana susahnya ibu hamil,,,
ehh tp kasihan jg sihh, nanti gk bisa kerja malah tiduran aja, yg repot istri juga,.. tp kalo suaminya sultan mah duwit ngalir sendiri 🤭🤭🤭🤭🥺