Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.
Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.
Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.
Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.
Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.
"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"
follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Dewasa
*
*
"Boleh duduk disini nggak? meja yang lain udah penuh." Dygta bediri di depan meja dimana Evan tengah menikmati sarapan paginya.
Pemuda itu mendongak, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling area dimana semua meja kayu memang sudah di tempati peserta kemah lainnya.
"Duduk aja. Bebas kok." jawabnya, ketus.
"Makasih." Dygta dengan senyum manisnya.
Gadis itu mulai menikmati makanannya sesuap demi sesuap. Mengunyahnya dengan riang dan penuh senyuman seolah dia baru saja mendapatkan lotre.
"Kamu lihat Vivian, nggak?" tanya Dygta, menjeda acara makannya.
Evan hanya menggendikkan bahu.
Dygta mengulum senyum, dia tahu pemuda tampan itu sedang marah kepadanya, sama seperti waktu-waktu yang lalu setiap kali dia mengungkapkan perasaannya, yang kemudian ditolak olehnya.
Evan akan mengabaikannya selama berhari-hari. Tidak menyapa, tak mau diajak bicara, tapi dia tak pernah berbuat buruk. Dia hanya merajuk beberapa hari, kemudian kembali pada keadaan seperti biasa setelah kemarahannya reda.
"Masih marah ya?" ucap Dygta kemudian.
Evan memutar bola mata seraya menyesap coklat hangat di genggamannya.
Dygta tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu menyuapkan makanan terakhirnya.
"Maaf Evan." ucap Dygta lagi setelah meneguk habis susu pisang favoritnya. Lalu dia mengusap mulut dengan punggung tangannya.
Evan masih tak mau bicara. Dia masih mengabaikannya.
"Ini yang aku nggak suka dari cowok seumuran." Dygta akhirnya buka suara.
"Yang sering aku lihat dari cowok seumuran kayak kamu gini biasanya suka ngambek nggak karuan kalau lagi ada masalah. Nggak bersikap dewasa kalau ada sesuatu yang nggak sesuai kemauan. Makannya aku nggak suka sama cowok seumuran aku."
Evan menghentikan kegiatannya.
"Aku lebih suka cowok dewasa karena mereka bisa membuat aku nyaman dan merasa dilindungi. Mereka juga bisa menyikapi masalah tanpa ngambek kayak kamu."
Evan mengerutkan dahi.
"Kamu baik. Tapi sayang kamu kayak anak kecil." ucap Dygta, lalu bangkit dan pergi meninggalkan pemuda itu yang tertegun sendirian.
*
*
Kegiatan menjelang siang itu dimulai dengam beberapa permainan yang cukup menguras tenaga. Para pembina dan pengelola perkemahan membawa anak-anak ini memainkan permainan tradisional yang jarang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan mungkin ada diantara mereka ini yang tak tahu sama sekali tentang permainan tradisional.
Seperti Dygta, yang juga hampir melupakan masa kecilnya sebelum kehidupannya yang sekarang. Ketika dia masih tinggal di Bandung bersama nenek dan kakeknya. Hidup di sebuah pemukiman padat penduduk dengan banyak teman sebaya seperti dirinya.
Setiap hari setelah pulang sekolah, dia bersama teman-temanya sering bermain di halaman rumah. Memaikan permainan tradisional semacam ini, yang dia lihat sedang diperagakan oleh pembina sebagai pengisi waktu kemah mereka hari itu.
Gadis itu tersenyum mengenang masa kecilnya dulu. Tiba-tiba dia merasa rindu kakek neneknya yang masih berada di Bandung. Rindu merengek kepada perempuan tua itu ketika dia menginginkan sesuatu. Atau rindu merajuk ketika dia membujuknya untuk ikut bersama Arfan saat pria itu menjemputnya untuk dibawa ke Jakarta setiap akhir pekan.
Dan tiba-tiba juga dia merasa rindu ...
Om Arfan? batinnya.
Dygta menggelengkan kepala.
Haih, ...semakin gila saja perasaan ini ya Tuhan! gadis itu bermonolog.
Dering suara ponsel menjeda lamunannya. Dygta merogoh saku jaketnya untuk mengambil alat komunikasi tersebut.
Terlihat Sofia yang kembali meghubunginya lewat panggilan video.
"Kakak!" wajah Dimitri terpampang dilayar begitu dia menggeser tombol hijau.
"Apa sih de?" Dygta menyahut.
"Mama nyuruh telefon."
"Terus apa?"
"Nggak apa-apa. Cuma nyuruh guru aja."
"Hmm ... bilang sama mama jangan sering-sering nelfon, nggak enak sama yang lain."
"Mama! kakak bilang jangan nelfon-nelfon terus, malu sama pacarnya." Dimitri terdengar berteriak.
"Apa?" Sofia muncul dari belakang bocah itu.
"Didim bohong! aku nggak bilang gitu." sergah Dygta.
"Tadi kakak bilang malu." lanjut Dimitri.
"Tapi aku nggak bilang pacar."
Dimitri tertawa terbahak-bahak.
"Dim... "
"Maaf ma. Cuma bercanda." Dimitri yang kemudian menyerahkan ponsel kepada ibunya.
"Didim bohong ma." Dygta membela diri.
"Iya, mama tahu. kamu sudah makan?" tanya Sofia.
"Udah barusan."
"Terus, kegiatan hari ini apa?"
"itu... " Dygta memindahkan kamera ponselnya sehingga menangkap kegiatan di depannya. Beberapa anak sedang mencoba permainan yang baru saja di peragakan.
"Oh, ..."
"Ma, udah dulu ya. Aku ada kegiatan juga sebentar lagi."
"Ya sudah. Hati-hati, oke? jangan pergi kemanapun sendirian. Jangan...
"Pergi ke tempat asing, jangan melakukan hal yang berbahaya... "
Sofia terdengar tertawa dari seberang sana.
"Mama sama cerewetnya kayak om Arfan." Dygta menggerutu.
"Apa? memangnya om Arfan sudah menelfon kamu?"
"Udah, tadi pagi." Dygta mengangguk.
"Benarkah?"
"Hmm ... cuma nanya keadaan sih."
Sofia mengerutkan dahi. "Rajinnya?"
"Udah ya ma, aku tutup telfonnya?"
"Ya sudah, oke." kemudian percakapan pun berakhir.
*
*
Evan datang menghampiri setelah hampir setengah hari menghindarinya. Pemuda itu berdiri tepat di depan Dygta yang tengah asyik menyimak seorang temannya yang lain bermain gitar.
"Dygta?" Evan memanggil.
"Ya?" gadis itu menoleh.
"Mau ikut lagi ke suatu tempat?" tawar Evan.
"Kemana? tempat yang semalam? memangnya jam segini masih ada kunang-kunang?"
"Nggak. Tempat lainnya."
Dygta berpikir.
"Ayolah, ... tempatnya bagus. Kamu pasti suka."
"Kamu udah nggak marah?" tanya Dygta setelah berpikir.
Evan menghirup napas dalam, lalu menggelengkan kepala.
"Tumben? biasanya sampai berhari-hari?" Dygta mengulum senyum.
Evan kemudian menggendikkan bahu.
"Mau ajak aku kemana sekarang?" tanya Dygta, yang bangkit mengikuti pemuda di depannya.
"Kamu tahu, selain lihat kunang-kunang di malam hari, ada tempat luar biasa lainnya di gunung ini." Evan berhenti sebentar untuk mensejajarkan langkahnya dengan Dygta.
"Apa?"
"Ada pokoknya. kita harus jalan sebentar untuk sampai kesana."
"Jauh nggak?"
"Nggak. Kita akan naik sedikit dari tempat semalam."
"Kamu kayaknya suka bertualang?"
"Ya, ...itu bikin kamu tahu banyak hal."
"Kayaknya hidup kamu menyenangkan?" Dygta dengan nada iri.
"Lumayan." Evan terkekeh.
"Eh, kita cuma pergi berdua?" Dygta menoleh ke belakang saat mereka sudah berjalan cukup jauh namun tak ada seorang pun yang mengikuti.
"Kamu percaya aku nggak?" Evan berhenti berjalan.
"Maksudnya?"
"Kamu percaya aku nggak kalau misalnya kita perginya cuma berdua?"
"Kenapa kita cuma berdua."
"Karena selain aku, nggak ada orang lain yang tahu tempat ini. Dan aku nggak mau ada orang lain selain kamu yang datang kesana."
"Kenapa?"
"Karena tempat ini spesial. Kayak kamu." Evan tersenyum.
"Evan, ... kamu sudah tahu kalau aku hanya...
"Hanya menganggap aku teman, aku tahu. Its oke. Tapi kamu spesial buat aku." Evan memotong kalimatnya.
"Tapi...
"Aku nggak akan berharap lagi setelah ini. Tapi aku mau punya kenangan yang indah walaupun kita nggak bisa bersama. Se nggaknya sebelum aku pergi." pemuda itu kembali melangkahkan kakinya mengikuti jalan setapak yang mulai menanjak.
"Memangnya kamu mau pergi kemana?" Dygta menyusul.
"Kuliah lah ... Nanti setelah lulus disini. Kemana memangnya?"
"Ish, ... kirain ..." gadis itu meninju bahu Evan.
Mereka berdua tertawa bersama. Melewati beberapa area menjauh dari keramaian. Berbicara banyak hal tentang apapun yan sudah dilewati selama hampir tiga tahun bersekolah di tempat yang sama.
*
*
*
Satria memperhatikan gerak-gerik istrinya yang tak seperti biasanya. Perempuan itu lebih banyak diam pagi ini, padahal biasanya dia akan sangat cerewet mengatur segala hal. Sofia bahkan diam saja ketika dua anak kembarnya membuat sedikit kekacauan di meja makan.
"Kamu baik-baik saja?" Satria bertanya.
"Hah? Apa?" dia tergagap.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" pria itu bertanya lagi.
"Tidak ada. Hanya sedang ingat Dygta."
"Dia hanya camping, ingat? kamu sendiri yang menyuruh aku untuk melonggarkan sedikit pengawasan kepadanya. Tapi baru satu hari dia pergi kamu malah terus memikirkannya."
"Bukan masalah perginya yang aku pikirkan." Sofia menuangkan kopi pada cangkir suaminya.
"Apa?"
Perempuan itu diam sebentar menatap wajah tegas Satria.
"Apa kamu tidak berlebihan memberikan tanggung jawab kepada Arfan?" akhirnya dia bicara lagi.
"Maksud kamu?"
"Kalian terlalu mencampuri urusan pribadi Dygta, terutama Arfan." Sofia duduk di samping suaminya.
"Bukan mencampuri urusan pribadi. Aku hanya menjaga dia dari hal buruk. Kamu tahu, pergaulan anak jaman sekarang seperti apa? tidak perlu aku jelaskan karena kamu pasti mengerti."
"Aku tahu. Tapi, bukankan berlebihan kalau kita harus selalu tahu apa yang Dygta lakukan?"
"Kamu selalu bilang begitu."
Sofia menggelengkan kepala. "Terlebih lagi, aku merasa sikap Arfan berlebihan kepada Dygta."
"Apanya yang berlebihan? dia hanya menjalankan tugas sesuai dengan perintahku."
"Entahlah, .. tapi kenapa aku merasa ada yang janggal disini." dia menyesap orange jus miliknya.
"Maksud kamu?" Satria mengerutkan dahi.
"Pagi ini Arfan menelfon Dygta hanya untuk menanyakan bagaimana keadaannya."
"Darimana kamu tahu?"
"Barusaja aku telefon Dygta, dan dia bilang aku sama cerewetnya dengan Arfan."
Satria terkekeh pelan.
"Kamu memang berlebihan. Itu kan memang hal yang aku perintahkan kepadanya."
"Benarkah?"
"Ya, ...
"Tapi tetap saja aku merasa ini sudah terlalu jauh."
"Tenang saja, setelah Dygta kuliah nanti, aku tidak akan menjaganya sekitar ini. Dia kan bebas melakukan apapun yang dia mau. Selama itu masih hal baik tentunya."
"Hmm ..."
"Aku hanya khawatir." gumam Sofia.
"Apa yang kamu khawatitkan?" Satria benar-benar mengalihkan perhatiannya sekarang.
"Pikiranku jelek sekarang ini."
"Apa?"
"Dygta sudah dewasa, ...
"Memang?" Satria mencondongkan tubuhnya kepada Sofia.
"Arfan pria dewasa." lanjut perempuan itu.
"Ya lalu?"
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu diantara mereka karena terlalu sering berinteraksi?"
Satria mengerutkan dahi. Namun kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya terdongak ke atas.
"Kamu berlebihan." katanya.
"Hmmm ..."
"Dia tidak akan berani, ..." tawa Satria berhenti.
Sofia menempelkan punggungnya pada sandaran kursi. Memikirkan kembali ucapannya, dan dia merasa ngeri sendiri dengan pikirannya beberapa hari ini. Setelah beberapa kali melihat gelagat tak biasa pada putrinya akhir-akhir ini.
"Aku sendiri yang akan menghajarnya jika saja dia berani ..." lanjut Satria.
*
*
*
Bersambung...
omegat, ... apa yang akan terjadi setelah ini? Hmm... bikin penasaran deh ah, ...
like
koment
hadiah
oke?!