NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembar Informasi dan Skenario Senyap

Keesokan paginya, udara di lantai tiga gedung utama SMA Elit Gava terasa sangat sejuk. Sisa-sisa embun fajar yang menempel di pucuk daun belum sepenuhnya menguap diterpa angin. Koridor khusus anak-anak kelas elit ini masih tampak sangat lengang dari aktivitas murid yang berlalu-lalang.

Sinar matahari pagi yang keemasan menerobos masuk dengan bebas melalui celah-celah jendela kaca besar yang bersih. Kilau cahayanya menyinari deretan loker besi abu-abu yang catnya masih mulus dan mengkilap tanpa noda sedikit pun.

Di depan loker nomor satu yang terletak di sudut paling strategis, Elian Gava Alaric berdiri dengan tegak. Penampilannya pagi ini terlihat sangat stylish dan memikat mata.

Ia mengenakan setelan jas seragam model blazer khas SMA Gava yang disetrika teramat rapi tanpa tekukan. Sebuah jam tangan mewah dengan tali kulit melingkar di pergelangan tangannya. Rambut hitam legamnya yang berpotongan comma hair ditata dengan sangat kasual namun tetap rapi. Aroma parfum amberwood miliknya yang mewah dan hangat menguar kuat, menguasai udara di sekitar selasar lantai tiga tersebut.

Brak!

Sebuah bunyi benturan pelan mendadak memecah keheningan koridor pagi itu. Devan Raditya datang dengan langkah santai sambil menaruh sebuah map cokelat tebal ke atas loker tepat di sebelah Elian berdiri.

Penampilan Devan pagi ini terlihat sedikit santai. Dasinya dilonggarkan beberapa sentimeter ke bawah, kancing kerah kemeja paling atasnya sengaja dibuka, dan rambut cokelat acaknya bergoyang tipis ditiup angin koridor. Wajah tampannya dihiasi oleh cengiran usil yang lebar.

"Nih, info singkat yang lo minta semalam tentang cewek pembawa bekal itu," ucap Devan sambil menepuk map cokelat tersebut dengan gaya jenaka.

Elian tidak langsung menjawab kegusaran sahabatnya. Ia mengambil map cokelat tersebut dengan gerakan tangan yang tenang dan anggun.

"Terima kasih, Dev," jawab Elian pendek dengan nada suara beratnya yang selalu terdengar tenang dan berwibawa.

"Sama-sama, Bos! Tapi jujur ya, gue kaget banget waktu lo nge-chat gue malam-malam cuma buat nanya identitas siswi kelas sepuluh," balas Devan sambil menyandarkan punggungnya pada loker besi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi penasaran yang kentara.

"Gue cari tahu secara santai biar gak bikin heboh anak-anak OSIS lain. Namanya Lyra Anya Cassandra. Dia anak reguler kelas Sepuluh-Empat. Statusnya di sini siswi penerima beasiswa penuh jalur prestasi akademik, El. Dan dia tinggal berdua aja sama Neneknya yang punya toko kue tradisional di distrik komersial barat," lanjut Devan menjelaskan isi berkas dengan nada berbisik agar tidak terdengar murid lain.

Elian membuka tali pengikat map cokelat tersebut perlahan. Jari-jemarinya yang panjang membalik lembar kertas laporan di dalamnya. Matanya yang tajam tertuju pada selembar pasfoto berlatar merah.

Di dalam foto itu, Lyra tampak sedang tersenyum tipis dengan rambut hitam panjang yang terikat rapi menjadi kuncir kuda. Kacamata bulat bertengger di hidungnya, memberikan kesan gadis yang teramat polos, tulus, dan berdedikasi tinggi pada pendidikannya.

"Sepuluh-Empat..." gumam Elian dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai desiran angin pagi.

Melihat senyuman polos gadis itu di dalam foto, rasa hangat dari kotak bekal nasi goreng mentega kemarin siang seolah kembali mengalir di dalam dadanya. Elian yang biasanya selalu menatap dunia dengan pandangan dingin dan bosan, mendadak merasakan secercah ketertarikan yang murni dan tulus untuk pertama kalinya.

"Hehehe, lo beneran naksir ya sama dia?" goda Devan sambil menyenggol bahu tegap Elian dengan sikunya, tertawa renyah melihat ekspresi sahabatnya yang mendadak melunak.

"Gue gak pernah liat lo merhatiin berkas murid sampai segitunya, El. Biasanya lo cuma peduli sama nilai saham bokap lo atau ujian akselerasi dari nyokap lo. Ada apa nih? Pangeran SMA Gava akhirnya luluh sama nasi goreng mentega?" tanya Devan lagi dengan nada meledek yang akrab.

Elian menjauhkan tubuhnya sedikit dari Devan, lalu menutup map cokelat itu dengan pelan. Wajah rupawannya yang pucat tampak merona tipis, membuat Devan semakin melebarkan cengirannya.

"Jangan konyol, Devan. Aku cuma merasa berutang budi karena dia sudah membagi makan siangnya denganku kemarin," sanggah Elian dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin untuk menyembunyikan rasa gengsinya sebagai anak donatur terbesar di sekolah ini.

"Kemarin di taman... dia mengira aku sedang sedih dan kesepian. Dia memberikan bekalnya dengan sangat tulus tanpa tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya ingin mengembalikan kotak bekalnya dengan cara yang benar," jelas Elian lagi, membela diri agar tidak terus-menerus digoda oleh sahabatnya.

Devan manggut-manggut mendengar penjelasan Elian, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih bersimpati. "Oh, jadi begitu ceritanya. Bagus deh kalau gitu. Gak salah sih lo mau berbuat baik sama dia, Lyra emang keliatan anak yang tulus banget dari mukanya."

"Lalu, di mana kotak bekal hijaunya sekarang?" tanya Elian mengalihkan pembicaraan, melirik tas ransel Devan.

"Ada di dalem tas gue nih, tenang aja udah gue bawa," sahut Devan sambil merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak plastik berwarna hijau pudar yang sudah dicuci bersih oleh staf rumahnya atas perintah Elian semalam.

"Nih, kotaknya udah bersih dan wangi. Sekarang rencana lo gimana? Mau langsung lo samperin ke kelasnya buat lo kasih sendiri?" tanya Devan penasaran, alis tebalnya bertaut rapat menanti jawaban.

Elian melihat kotak plastik hijau pudar di tangan Devan, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Jangan. Kalau aku yang datang langsung ke kelas Sepuluh-Empat, itu hanya akan memicu kegaduhan yang tidak perlu. Anak-anak perempuan di sekolah ini sangat berisik dan suka bergosip. Aku tidak ingin kedamaian hidup Lyra terganggu karena keberadaanku," jawab Elian dengan nada suara yang teramat protektif dan tulus.

"Wah, perhatian banget lo, El. Gak mau dia jadi pusat perhatian ya?" puji Devan sambil menepuk bahu tegap Elian dengan pelan, merasa kagum dengan kebaikan hati tersembunyi yang dimiliki oleh sahabatnya yang biasanya cuek itu. "Terus kalau bukan lo yang ngasih, siapa yang mau naruh ini di mejanya?"

"Tolong minta bantuan salah satu siswi atau ketua kelas Sepuluh-Empat untuk menaruh kotak ini di atas meja Lyra secara diam-diam saat kelas sedang sepi," perintah Elian sambil menyerahkan kotak itu kembali kepada Devan.

"Katakan pada mereka untuk tidak menyebutkan namaku sama sekali jika Lyra bertanya. Biarkan dia mengira kalau kotak ini kembali dengan sendirinya melalui bantuan orang lain," tambah Elian dengan senyuman tipis yang sangat menawan dan tulus terukir di wajah tampannya.

Devan menatap kotak di tangannya, lalu tersenyum lebar menyetujui rencana manis sahabatnya. "Oke, siap Bos! Skenario rahasia pahlawan tanpa nama dimulai. Gue bakal suruh anak kelas sebelah yang kebetulan kenal sama ketua kelas Sepuluh-Empat buat naruh ini pas jam istirahat pertama nanti. Dijamin aman dan gak bakal bikin Lyra curiga kalau ini dari lo!" sahut Devan bersemangat sebelum akhirnya berpamitan untuk menuju ke kelasnya sendiri.

Elian memandangi punggung Devan yang mulai menjauh menyurusi koridor dengan perasaan yang jauh lebih lega. Ia kembali menyandang tas ransel kulit mahalnya di satu bahu tegapnya, lalu melangkah menuju kelasnya sendiri dengan ritme berjalan yang tenang dan berwibawa, membiarkan aroma parfum amberwood-nya tertinggal samar di sepanjang selasar pagi itu.

Sementara itu, beberapa jam kemudian di lantai dua gedung bagian barat SMA Gava, suasana kelas Sepuluh-Empat mulai terasa ramai setelah bel tanda istirahat pertama berbunyi dengan dengung yang nyaring.

Di pojok paling belakang dekat jendela kaca yang besar, Lyra Anya Cassandra sedang duduk menyendiri di kursinya yang terbuat dari kayu jati. Rambut hitam panjangnya yang halus hari ini diikat dengan gaya kuncir kuda yang sederhana, menampilkan leher putih bersihnya yang tertutup kerah seragam abu-abu yang kaku.

Kacamata bulat berbingkai tipis bertengger manis di atas hidung bangirnya, memberikan kesan gadis yang teramat tertutup, kuper, dan tidak ingin menonjolkan diri dari pergaulan sosial murid-murid kaya lainnya.

Lyra nampak sedang fokus membaca buku pelajaran sejarah yang tebal demi mempertahankan nilai akademiknya agar beasiswa penuhnya tidak dicabut oleh pihak sekolah. Bagi Lyra, kedamaian di pojokan kelas ini adalah segalanya yang ia butuhkan untuk fokus menuntut ilmu demi masa depannya bersama Nenek tercinta.

Saat beberapa murid perempuan di barisan depan mulai berhamburan keluar kelas menuju kantin sambil mengobrol seru tentang kosmetik mahal, Lyra sempat menutup bukunya sejenak. Ia merasa matanya sedikit lelah setelah berjam-jam membaca tulisan kecil di buku sejarah. Gadis manis itu kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar kelas sebentar untuk pergi ke toilet di ujung koridor demi mencuci mukanya agar kembali segar.

Namun, selang beberapa menit kemudian saat Lyra kembali melangkah masuk ke dalam kelas Sepuluh-Empat, langkah kaki mungilnya mendadak terkunci rapat tepat di depan meja belajarnya sendiri. Kedua mata cokelat jernih milik Lyra membelalak sempurna dibalik lensa kacamata bulatnya karena terkejut bercampur bingung.

Di atas meja kayu miliknya yang semula kosong tanpa benda apa pun, kini sudah terletak sebuah kotak bekal plastik berukuran sedang berwarna hijau pudar dengan sangat rapi. Itu adalah kotak bekal plastik miliknya sendiri yang kemarin siang ia tinggalkan di atas bangku taman belakang sekolah untuk pemuda asing yang tampak kesepian itu.

"Loh? Kok... kotak bekal ini bisa ada di sini?" gumam Lyra dengan nada suara yang teramat bingung namun ada secercah rasa lega yang terselip di dalamnya.

Ia langsung mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan kelas yang mulai sepi, menatap satu per satu wajah teman sekelasnya yang masih tersisa di dalam ruangan dengan perasaan waswas. Namun, semua murid di dalam kelas tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ada yang bermain ponsel, mendengarkan musik lewat earphone, atau memakan camilan mereka sendiri tanpa ada yang memperhatikan meja pojok belakang tersebut. Tidak ada satu pun orang yang tampak mencurigakan atau memberikan isyarat tentang keberadaan kotak hijau itu.

Bagi seorang Lyra Anya Cassandra, pemuda tampan misterius yang ia temui di bawah pohon beringin tua kemarin siang tetaplah sesosok orang asing yang baik hati. Meskipun pemuda itu kemarin sempat menolak makanannya dengan ketus, fakta bahwa kotak bekal murahan ini bisa kembali ke mejanya hari ini membuktikan bahwa pemuda asing itu adalah orang yang bertanggung jawab dan menghargai niat baiknya.

Lyra mengira pemuda asing itu mungkin merasa canggung untuk mengembalikannya langsung, lalu menitipkan kotak plastik murahannya pada salah satu pengurus kelas atau murid lain yang kebetulan lewat di kelas Sepuluh-Empat tanpa mau memperpanjang urusan dengan anak beasiswa sepertinya.

"Syukurlah kalau dikembalikan dengan selamat, setidaknya aku tidak perlu membeli kotak baru yang bisa mengurangi uang belanja Nenek," tanya Lyra pelan pada dirinya sendiri sambil mengulas seulas senyuman manisnya yang teramat tulus di wajah bersihnya.

Ia segera mengambil kotak bekal plastik hijau yang kini tercium sangat bersih dan wangi itu dengan jemari kurusnya, lalu memasukkannya dengan sangat hati-hati ke dalam tas ransel kainnya yang mulai pudar warnanya di bawah kolong meja belajarnya.

Gadis yatim piatu yang teramat polos dan malang itu kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kayu dengan perasaan yang jauh lebih tenang, damai, dan tanpa beban sedikit pun. Ia mengembuskan napas panjang penuh kelegaan, merasa sangat bersyukur karena ketidaksengajaan kemarin siang di taman tidak berujung pada masalah besar yang bisa merusak ketenangannya dalam belajar.

Lyra kembali membuka buku sejarahnya yang tebal dengan semangat baru, melanjutkan membaca baris demi baris materi pelajaran dengan fokus yang penuh, mengira bahwa kehidupannya di SMA Gava akan tetap berjalan dengan sangat damai, aman, dan tanpa drama seperti seminggu kemarin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!