Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Berdiri
Suara derit halus dari roda kursi roda yang berputar di atas lantai koridor rumah sakit terdengar monoton. Kayla duduk membisu di atasnya, kedua lengannya mendekap erat Arsen yang terbungkus rapat oleh kain flanel hangat dalam pangkuannya.
Perawat yang mendorong kursi roda itu menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar 302. "Sudah sampai, Bu Kayla. Mari saya bantu kembali ke ranjang."
Kayla hanya mengangguk pelan. Dengan bantuan perawat, dia menggeser tubuhnya yang kaku. Setiap gerakan kecil memicu rasa nyeri yang tajam di perut bawahnya, seolah mengingatkan bahwa kulit dan dagingnya baru saja disayat dua hari lalu. Dia meringis kecil, menahan napas sampai tubuhnya berhasil bersandar nyaman di atas kasur VIP yang empuk.
Setelah perawat meletakkan Arsen kembali ke boks bayi dan pamit keluar, keheningan instan langsung menguasai kamar luas itu.
Kayla menatap langit-langit kamar. Nama "Devan Xavier" seperti tertulis di sana, berputar-putar di kepalanya tanpa henti. Seluruh biaya operasinya, sewa kamar VIP untuk satu minggu ke depan, hingga perawatan intensif Arsen, semuanya sudah lunas. Dibayar oleh pria asing yang bahkan tidak dia kenal
Rasa syukur yang sempat membuncah di dada Kayla perlahan menguap, digantikan oleh gelombang kecemasan baru yang jauh lebih mencekik.
Satu minggu. Devan Xavier hanya membayarnya untuk satu minggu. Setelah waktu itu habis dan dia dipaksa keluar dari rumah sakit ini, dia harus ke mana? Di mana dia harus merebahkan tubuhnya dan Arsen? Dia tidak punya sepeser pun uang, tidak punya pakaian ganti, dan tidak punya satu pun tempat untuk pulang.
Kayla memiringkan tubuhnya perlahan, menghadap ke arah boks bayi. Arsen sedang tertidur pulas, sesekali mulut kecilnya bergerak-gerak seperti sedang bermimpi menyusu.
Kayla mengulurkan tangan, menyentuh ujung kaki Arsen yang terbungkus kaus kaki rajut. Sentuhan kecil itu perlahan mengubah sesuatu di dalam diri Kayla.
Selama tiga tahun terakhir, otaknya selalu dipaksa berpikir sebagai seorang istri. Bagaimana membuat Adrian senang, bagaimana menyusun menu makan malam agar Ibu Sandra tidak mengamuk, atau bagaimana menghemat uang belanja agar Tiara bisa membeli tas baru. Dia selalu menaruh dirinya di posisi paling bawah.
Namun hari ini, saat menatap makhluk mungil di depannya, identitas sebagai seorang istri itu mendadak mati. Kini, yang tersisa hanyalah insting seorang ibu.
Otak akuntansinya yang telah lama mati suri di dapur mansion Wijaya, mendadak berputar otomatis. Kayla mulai menghitung angka di luar kepala. Harga sewa kontrakan satu petak di pinggiran kota, harga satu kaleng susu formula khusus bayi prematur, popok isi empat puluh, hingga biaya imunisasi dasar bulan pertama.
Semua kebutuhan itu membutuhkan nominal angka yang nyata. Dan saat ini, angka di dompet Kayla adalah nol besar.
Rasa takut itu datang lagi, tapi kali ini tipenya berbeda. Dia tidak lagi takut pada makian Adrian atau tatapan merendahkan dari Valerie.
Ketakutan terbesarnya saat ini adalah membayangkan dirinya tidak mampu membelikan sebotol susu saat Arsen menangis kelaparan nanti. Kenyataan hidup yang mandiri ternyata jauh lebih menakutkan daripada badai semalam.
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka setelah ketukan dua kali yang teratur. dr. Raditya masuk dengan senyuman tenangnya yang khas, membawa papan klip rekam medis. Aroma mint yang segar dari tubuhnya langsung menepis hawa pengap di sekitar ranjang Kayla.
"Selamat pagi, Bu Kayla. Bagaimana tidurnya semalam? Jahitannya masih sangat nyeri?" tanya Raditya, memeriksa selang infus Kayla dengan gerakan terampil.
"Sedikit linu, Dok. Tapi masih bisa saya tahan," jawab Kayla parau. Dia memaksakan senyum tipis, mencoba terlihat baik-baik saja di depan dokter yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.
Raditya beralih mendekati boks Arsen, memeriksa denyut jantung bayi itu menggunakan stetoskop kecilnya. Setelah mencatat beberapa angka di berkas, Raditya kembali menatap Kayla.
Dokter muda itu memperhatikan bagaimana jemari Kayla yang kurus terus meremas ujung selimut, dan bagaimana matanya yang kosong menatap sudut lantai.
Sambil menggulung kabel stetoskopnya, Raditya bertanya dengan nada santai, seperti obrolan ringan di warung kopi. "Ibu Kayla, kalau boleh tahu... sebelum menikah dan fokus mengurus kandungan, dulu Ibu kerja di bidang apa?"
Kayla tertegun. Pertanyaan itu terasa begitu asing di telinganya. Sudah bertahun-tahun tidak ada satu pun orang yang menanyakan tentang kapasitas dirinya, selain urusan mencuci dan menyetrika.
"Saya... belum sempat bekerja, Dok," jawab Kayla jujur, suaranya agak tercekat. Dia menunduk, menatap punggung tangannya yang memar bekas tusukan jarum infus. "Begitu lulus kuliah, saya langsung menikah dengan Mas Adrian."
"Oh, ya? Kuliah jurusan apa kalau boleh tahu?" Raditya menyahut, menatap Kayla dengan ketertarikan yang murni profesional.
"Akuntansi, Dok. Di Universitas Negeri," Kayla menjeda kalimatnya sebentar. Ada segaris kilat kebanggaan yang sempat melintas di matanya, sebelum akhirnya kembali meredup. "Saya lulusan terbaik di angkatan saya tiga tahun lalu."
Raditya menaikkan kedua alisnya, tampak sedikit terkesan. "Lulusan terbaik akuntansi? Itu bukan pencapaian yang mudah. Kenapa tidak dilanjutkan ke dunia profesional?"
Kayla tersenyum kecut, sebuah senyuman penuh penyesalan yang teramat getir. "Dulu... mantan suami saya bilang, dia butuh dukungan penuh dari rumah agar perusahaannya bisa berkembang. Jadi saya lepas semua beasiswa dan tawaran kerja demi membantu dia merapikan pembukuan perusahaannya dari meja dapur."
Kayla tidak menceritakan bagian di mana Adrian mengklaim semua hasil kerjanya sebagai "coretan gak berguna" semalam. Dia menolak untuk terlihat menyedihkan lagi.
Raditya mengangguk-angguk paham. Dia tidak memberikan komentar negatif tentang Adrian. Dokter itu hanya menepuk pundak kursi roda di dekat ranjang Kayla, lalu berkata dengan suara yang mantap. "Otak yang cerdas itu seperti pisau, Bu Kayla. Walaupun lama disimpan di dalam laci yang gelap, dia tidak akan pernah berubah jadi tumpul. Dia hanya butuh diasah sebentar untuk bisa memotong lagi."
Raditya tersenyum, lalu melangkah menuju pintu. "Sekarang, tugas Ibu adalah memulihkan fisik dulu. Jangan biarkan otak jenius Ibu dipakai untuk memikirkan hal-hal yang belum terjadi."
Setelah Raditya pergi, kamar kembali sunyi. Namun, kalimat dokter itu entah kenapa meninggalkan getaran aneh di dada Kayla. Pisau yang disimpan di dalam laci gelap.
Kayla menoleh ke arah meja nakas, meraih ponsel jadulnya yang layarnya retak seribu. Layar itu berkedip-kedip tidak stabil saat dia menggeser tombol kunci.
Kali ini, Kayla tidak membuka aplikasi Instagram untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan Adrian dan Valerie. Dia juga tidak memeriksa apakah ada pesan masuk dari nomor suaminya. Dia benar-benar menutup lembaran itu.
Jari Kayla yang kurus mengetik beberapa kata di kolom pencarian Google: Lowongan kerja akuntan remote / freelance.
Dia tahu fisiknya masih rapuh. Dia tahu dia bahkan belum bisa berjalan tegak tanpa memegangi perutnya yang nyeri akibat operasi sesar.
Mengharapkan dirinya langsung bekerja kantoran dalam waktu dekat adalah hal yang mustahil. Tapi diam, pasrah, dan menunggu keajaiban dari Devan Xavier jatuh dari langit adalah tindakan yang jauh lebih bodoh. Dia butuh kepastian angka untuk Arsen.
Kayla menggulir barisan lowongan kerja itu satu per satu dengan sabar, mencatat beberapa alamat email perusahaan yang sekiranya bisa menerima pekerja lepas dari rumah.
Saat dia sedang membersihkan kotak masuk Gmail-nya yang penuh dengan notifikasi sampah agar ruang penyimpanan ponselnya tidak penuh, jemari Kayla tidak sengaja menyenggol bilah pencarian arsip lama.
Karena layar ponselnya yang eror dan sedikit melompat, barisan email dari tiga tahun lalu mendadak naik ke permukaan.
Mata Kayla terpaku pada sebuah email di baris paling bawah. Status email itu masih berwarna biru tebal, tanda bahwa email tersebut belum pernah dibuka atau sengaja diabaikan selama tiga tahun penuh.
Pengirimnya adalah Pratama & Co Financial Consulting, salah satu firma finansial multinasional terbesar. Tanggal pengirimannya tepat satu minggu sebelum hari pernikahannya dengan Adrian.
Dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang, Kayla menyentuh email tersebut.
Isi email itu singkat, padat, dan sangat formal:
Yth. Kayla Anindita, Berdasarkan hasil evaluasi dan penilaian akhir dari seluruh tahapan seleksi, kami dengan bangga mengumumkan bahwa Anda dinyatakan DITERIMA sebagai Financial Analyst di Pratama & Co untuk penempatan divisi korporat utama. Kami mengharapkan kehadiran Anda di kantor pusat pada...
Kayla tidak melanjutkan membaca baris berikutnya. Dia membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, sementara ponsel di tangan kanannya bergetar hebat.
Itu adalah pekerjaan impiannya. Pekerjaan yang dulu dia tangisi semalaman di kamar kosnya yang sempit sebelum akhirnya dia hapus draf balasannya karena Adrian berlutut memohon agar Kayla tidak pergi ke Jakarta dan tetap tinggal di kota untuk menikah dengannya.
Air mata Kayla kembali luruh, menetes tepat di atas retakan kaca ponselnya, membiaskan tulisan Financial Analyst menjadi kabur.
Tiga tahun hidupnya dihancurkan, harga dirinya diinjak-injak sampai habis, dan dia dibuang seperti sampah di pinggir jalan hanya untuk membela seorang pria yang menganggap seluruh kemampuan otaknya tidak berguna.
Padahal, dunia luar pernah mengapresiasi kapasitas dirinya setinggi ini.
Kayla mendekap ponsel retak itu di dadanya, menatap kosong ke arah dinding putih kamar rawat. Di dalam keheningan yang menyiksa itu, sebuah pertanyaan yang teramat perih dan dipenuhi penyesalan perlahan lahir di benaknya:
Kalau dulu aku memilih jalan yang berbeda... apakah hidupku akan sehancur ini?