Lais Labib Adley seorang tuan muda yang kaya raya namun memiliki kekurangan. Ia dipaksa menikah oleh orang tuanya demi kelangsungan keluarga mereka. Namun siapa sangka setelah berkali-kali menikah, ia tak kunjung punya keturunan dan semua pernikahannya berkahir dengan penghianatan yang dilakukan oleh para istrinya.
Aruna, gadis belia berusia 18 tahun, masih duduk di bangku SMA namun harus bekerja keras menghidupi keluarga tirinya semenjak ayahnya meninggal dan harta keluarga disita untuk membayar hutang. Kepahitan hidup tidak membuat Aruna menjadi gadis lemah nan cengeng namun justru menjadikannya gadis kuat, ceria dan penuh semangat hidup.
Kedua insan itu dipertemukan dalam peristiwa yang tak terduga saat Aruna harus melarikan diri dari kejaran para rentenir yang menagih hutang ayahnya. Dengan kebaikan hatinya Lais menampung Aruna di rumah mewahnya dan membantu biaya sekolah gadis itu. Sebagai gantinya Aruna membantu pekerjaan rumah di mansion Lais.
Bagaimana kisah mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Kecilku Kesepian.
Keesokan harinya, di kantor Lais.
Revan menatap heran ke arah bos yang sekaligus sahabatnya itu yang sejak tadi duduk di kursi kebesarannya sambil terus tersenyum.
Kesambet kali nih orang... nggak biasanya moodnya sebaik ini.
"Tuan!" panggil Revan. Namun yang dipanggil tidak mendengar.
"Tuan!" kali ini suara Revan sedikit lebih keras dari panggilan pertamanya. Tetapi hasilnya sama, Lais masih berada di dunianya sendiri tanpa menghiraukan Revan.
Revan menarik nafas dalam dalam, rasa penasaran dan kesal bercampur aduk dibenaknya. Ia berdiri dan mendekat ke meja Lais.
"LAIS!!!!"
Lais tersentak. Ia kaget mendengar bentakan Revan.
"Mau dipecat, hah?" semprot Lais tidak senang. Wajah ceria dan senyumnya langsung sirna.
"Pecat.. pecat saja. Atau kalau perlu aku mengundurkan diri. Sudah seharian kemarin harus kerja sendiri, hari ini malah dicuekin." gerutu Revan seperti seorang cewek yang sedang ngambek.
Lais melirik Revan yang sedang kembali duduk ke sofa dengan muka ditekuk dan wajah cemberut. Ia lalu mengambil kertas kosong dan meremasnya. Ia melemparkan kertas itu ke arah Revan.
"Mukamu jelek kalau cemberut." seloroh Lais sambil melempar Revan.
"Biarin." Revan menghindari lemparan Lais, mukanya masih menunjukkan kekesalan. Sesungguhnya rasa penasaran lah yang membuatnya kesal.
"Ok.. Ok. Ada apa?" akhirnya Lais mengalah.
Revan menatap tajam sahabatnya itu.
"Aku mau bertanya, tapi bukan sebagai bawahanmu. Aku bertanya sebagai sahabatmu." kata Revan.
Lais membuat gerakan dengan tangan mengijinkan Revan bertanya.
"Kamu kenapa? Apa yang sudah terjadi? Kemana kemarin seharian tidak ngantor? Kesibukan apa yang kau lakukan tanpa melibatkan aku? Dan hari ini, kenapa kau dari tadi senyum senyum terus?" berondong Revan.
Mendengar pertanyaan beruntun Revan, Lais kembali mengingat apa yang ia lakukan bersama Aruna. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Bibirnya kembali menyungingkan senyum.
"Lais!" bentak Revan karena Lais kembali mengacuhkan dirinya.
"Pertanyaanmu banyak. Aku bingung menjawabnya." kata Lais datar. Ia lalu memeriksa file yang ada di mejanya.
Revan bangkit dan berjalan ke meja Lais. Ia mengambil file yang sedang diperiksa Lais.
"Jawab dulu pertanyaanku!" kata Revan dengan suara ditekan.
Lais memandangnya. Ia lalu tertawa. Baginya sangat lucu melihat Revan kesal seperti sekarang ini.
Merasa dirinya ditertawakan, Revan melempar file yang ia pegang ke hadapan Lais dan ia berjalan hendak keluar namun panggilan Lais menghentikan langkahnya.
"Revan! Kau mau kemana? Tidak mau mendengar jawabanku?"
Revan memutar tubuhnya. Matanya nyala menatap Lais. Lais berdiri dan berjalan ke sofa. Ia duduk di sana, dan dengan tangan menyuruh Revan untuk duduk juga di sofa itu.
"Kemarin aku tidak ke kantor karena harus ke dokter Sammy." jawab Lais setelah Revan duduk dengan sempurna di sofa.
Wajah Revan yang kesal memudar berganti wajah yang penuh kekhawatiran.
"Apa ada hal yang serius denganmu?" tanyanya.
Lais menggeleng lalu mengangguk.
"Maksud nya?" Revan semakin penasaran
"Aku dan Aruna.. " Lais ragu mengatakannya.
"Kamu dan Aruna kenapa? Bertengkar?" tanya Revan tidak sabar.
Lais menggeleng, "Kami... "
Lais menggantung ucapannya membuat Revan semakin tidak sabar.
"Kalian kenapa? Berdebat? Marahan? Aruna ngambek?"
"Tidak. Kami.. " Lais membuat gerakan tangan. Ia menyatukan ujung ujung jarinya.
"Kalian berciuman?"
Lais menggeleng lalu dengan pelan mengangguk. "Lebih dari itu." gumamnya pelan namun masih bisa didengar Revan.
Mata Revan seketika melebar. Ia seakan tak percaya mendengar jawaban Lais.
"Lebih dari berciuman. Maksudmu kamu dan Aruna sudah melakukannya?"
Lais mengangguk. "Makanya aku perlu ke Sammy. Jadi kemarin aku..."
Belum selesai Lais menjawab, Revan menyambar tangannya.
"Selamat, Tuan!" kata Revan senang. Ia benar benar tulus memberi selamat pada Lais. Matanya berkaca-kaca saking bahagianya. Bagi Revan, kesembuhan Lais adalah kebahagiaan terbesarnya.
Lais menarik tangan Revan. Mereka lalu berpelukan.
"Selamat, Man. Syukurlah, kau akhirnya sembuh juga setelah sekian banyak usaha dan sekian lama." gumam Revan.
"Terima kasih, Van. Selama ini kau selalu mendukungku. Kau sabar dengan keadaanku." balas Lais.
"Itulah gunanya teman, Lais."
"Kau lebih dari sekedar teman bagiku Van. Kau saudaraku." kata Lais lalu melepaskan pelukannya.
"Jadi...?" tanya Revan.
"Jadi apa?" Lais memasang wajah datarnya lagi.
"Ayolah. Kamu tidak seharian di dokter Sammy kan? Jadi apa yang kamu lakukan kemarin? Kenapa setelah dari dokter Sammy tidak ke kantor?" cerca Revan.
Lais tersenyum tipis dan misterius.
"Jangan bilang kau seharian kemarin bersama Aruna...?" Revan berkata sambil menatap menyelidik.
"Menurutmu?" jawab Lais sambil berdiri. Ia berjalan ke kursinya dan mengambil tas kerjanya.
"Hei kau mau kemana? Berkasnya belum kau periksa semua." protes Revan saat melihat Lais akan pergi.
"Itu tugasmu. Kau kubayar untuk itu kan? Aku mau pulang. Istri kecilku pasti kesepian di rumah." Kata Lais sambil terus berjalan meninggalkan Revan yang mengomel tidak jelas.
"Ck..Dikira situ doank yang punya istri. Aku juga punya."
...🍃🍃🍃...
Happy Reading. Semoga menghibur..... jangan lupa jejaknya
sepertinya jodoh lais adalah aruna👍🏻👌🏻
semoga semenarik cerita anggi dan langit. karya2mu kusuka thor.