(Ngakaklah sebelum ngakak dilarang)
Buku lanjutan Bukan Kontrak Pernikahan (silahkan baca buku pertama lebih dulu)
Kehidupan Skala dan Bianca berlanjut, setelah terungkapnya dementor yang menyebabkan kecelakaan kedua orang tua Skala. Keduanya masih mencari kebenaran di balik meninggalnya Kiran, ibunda Bianca.
Kekonyolan dan keromantisan duo Amazon berlanjut disini.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 : Rapat Dadakan
Seketek
[ Tam, kayaknya kita harus cariin kakek istri ]
Pesan yang dikirimkan Skala membuat Tama memijat pelipisnya. Curhatan Skala memenuhi layar aplikasi berbalas pesan miliknya pagi itu.
Seketek
[ Kakek tidak bisa tidur sebelum meminum teh lavender, aku harus menelpon kepala pelayan malam-malam untuk datang membawakan apa yang kakek minta, belum lagi dia harus mandi tepat jam lima tiga puluh dengan air bersuhu tiga puluh dua derajat celcius, sekarang semua pelayan rumah kakek pindah ke rumahku ]
^^^Tamia^^^
^^^[ Apa semua itu besok akan terjadi di rumahku? ]^^^
Seketek
[ Sudah pasti ]
^^^Tamia^^^
^^^[ Mari kita bertemu segera! ]^^^
***
Saat jam istirahat kantor, Bianca terlihat berjalan cepat masuk ke dalam sebuah coffee shop, tingkahnya sukses membuat Skala sampai berdiri dari kursinya dan menggerutu.
"Ca ..." Skala kesal, lebih tepatnya cemas.
"Tenang! dia tidak apa-apa." Bianca mengusap perutnya, tersenyum simpul ke sang suami lalu duduk di meja yang sama dimana kakak iparnya juga sudah menunggu kedatangannya.
Tujuan ke empat cucu Prawira berkumpul di sana adalah untuk melakukan rapat dadakan, yang isinya tak lain untuk membahas keberlangsungan kehidupan rumah tangga mereka. Bagaimana tidak? baru dua hari tinggal bersama Skala, Prawira sudah membawa perubahan yang besar di dalam rumahnya dan Bianca.
Sepuluh pelayan Prawira pindahkan dari rumahnya ke rumah sang cucu, halaman rumah sudah tidak muat dengan semua mobil yang pria tua itu bawa, bahkan beberapa alat gym mulai memenuhi sudut ruangan di rumah Skala.
"Jadi apa nanti saat kakek tinggal di rumahku semua barang-barangnya juga akan dipindahkan dari rumahmu ke rumahku?" tanya Tama penasaran.
"Tentu saja! untuk apa para pelayan itu diutusnya datang?" Skala terlihat bersungut kesal, sementara Tama terlibat adegan saling pandang dengan Felisya, cemas.
"Tapi, apa kalian berdua tidak berpikir? lihatlah apa yang sudah kakek berikan! kakek memberi kalian semua fasilitas mewah dan hidup nyaman sejak kalian kecil—terutama kamu ... " Bianca menoleh ke sang suami, menatapnya dengan sedikit ragu.
" ... bukankah kakek yang mendidik dan membesarkanmu selama ini? sekarang kakek hanya meminta untuk tinggal bersama kita, bukankah terlalu kejam kita malah melakukan pertemuan seperti ini seolah tidak ingin menerima kehadirannya?"
Lagu sedih mengalun di coffee shop itu bersamaan dengan selesainya Bianca berbicara, hal itu membuat Skala dan Tama langsung terbawa perasaan, ditambah ucapan Bianca yang mendapat seratus persen dukungan dari Felisya.
"Betul yang dikatakan Bianca, kita terlalu kejam jika memikirkan menolak kakek tinggal bersama."
Tama dan Skala hanya terdiam. Keduanya saling pandang dan mulai menyalahkan satu sama lain.
"Kamu sih!"
"Lha ... kan kamu yang mengajak kita bertemu." Skala menyalahkan kakak sepupunya. Di dalam hati, mereka berdua sangat merasa bersalah ke Prawira.
Bianca menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mencibir, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran suami dan kakak iparnya, gadis itu lebih tertarik membuka buku menu untuk memilih makanan dan minuman seolah enggan berdebat lagi. Namun, tak selang beberapa menit mulut Bianca mulai berceloteh lagi.
"Lebih baik kita jujur ke kakek, tak jadi masalah tinggal bersama kita asal mau mengikuti aturan kita masing-masing, karena bagaimanapun juga kita masih butuh warisan dari kakek."
Felisya melotot, untung ia belum menyesap es latte dari gelasnya. Ucapan Bianca membuat istri Tama itu langsung mengambil tisu untuk menutup mulutnya. Ibarat tadi menjadi seorang malaikat, Bianca langsung terjun bebas menjadi sosok setan di mata Felisya.
"Apa aku salah?" tanya direktur Neil Fashion itu ke semua orang yang berada di satu meja dengannya, Bianca pun menoleh ke arah sang suami yang duduk tepat di sebelahnya.
"Apa aku salah Ska?" ulangnya lagi.
Skala yang gemas langsung melingkarkan lengannya ke leher sang istri, menarik Bianca sampai kepala gadis itu berada tepat di atas dagunya. Laki-laki itu berpura-pura memakan kepala sang istri karena terlalu gemas.
"Dasar gadis nakal!" gumamnya.
Bianca terkekeh geli, ia pun kembali berujar setelah sang suami melepaskan kungkungannya. "Aku bersikap realistis tau."
"Dari pada kita seolah ingin mengusir kakek, lebih baik kita carikan kakek istri, bagaimana?" usul Felisya kemudian.
"Siapa yang ingin menikah dengan tua bangka Feli?" Skala terlihat gemas juga dengan ucapan mantan kekasihnya.
"Yah siapa saja lah yang penting punya gua."
"Astaga Fel, sejak kapan kamu menjadi vulgar seperti itu?" Tama mengelus dadanya mendengar ucapan sang istri, ia kemudian menatap ke arah Bianca yang duduk di depan Felisya.
Kamu pasti kan yang membuat otak polos istriku menjadi se-kotor bantar gebang.
Seolah bisa membaca pikiran Tama, Bianca pun berseloroh, "Jangan kira aku akan mengajari Felisya hal-hal yang menguntungkan dirimu saja ya Tamia, aku tahu kamu pasti sudah merasakan gaya menunggang kuda."
Tama menepuk jidatnya, memandang Skala yang sedari tadi berusaha menyembunyikan tawa dari bibirnya.
"Cekek aku Ska! Cekek! Kelakar Tama.
_
Reader kepo'er : jadi apa kakek Prawira bakal dapat jodoh tor?
Otor : Mungkin, itu Reader mesumable banyak yang mau, setidaknya akan ku pakai nama mereka sebagai NIP Next Istrinya Prawira, kau kira PNS aja yang ber NIP hahahaha #devillaugh
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
...RATE BINTANG 5...
...❤...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tindih yg kuat....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
malah Suami Aku yg gitu...
klo Aku orang'y malas bahas masalalu,..
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bayu : mataku ternoda
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu cerita kamuuuuuu dodol🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣