Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.
Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.
Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.
Diusahakan update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 25 - Kukutuk Kau Menjadi...
Bahkan di level terendah kehidupan sekali pun, Tuhan pasti menempatkan orang yang tulus padamu.
🌷Happy Reading🌷
Sepeninggal Kevin, Angel duduk termenung di tempatnya. Pulpen di tangan kirinya dia ketuk-ketukkan ke atas meja, sementara pikirannya menerawang entah kemana. Angel dilanda dilema. Di satu sisi dia sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan tempat Kevin bekerja agar software yang dia rancangkan bisa segera diaplikasikan. Namun di sisi lain dia merasa bekerja sama dengan Kevin akan sedikit banyak menguras emosi melihat bagaimana karakter pria tersebut.
Brak. Pintu ruangan dibuka dengan cukup keras sehingga menimbulkan suara debuman. Tuan John Baldwin yang merupakan ayah Angel memasuki ruangan dengan wajah murka.
"Kau..." tunjuk pria itu tepat di wajah Angel.
Angel sedikit menundukkan kepala melihat kemarahan yang tersirat di wajah ayahnya. "A-ada apa, Pa?" tanya Angel gugup tanpa berani menatap langsung ayahnya.
"Ada apa kau bilang?" Tuan John berdecak sebal. "Sudah kubilang idemu tentang software desain itu sungguh kampungan. Dan kini kau malah bekerja sama dengan perusahaan lain? Berani sekali kau tidak minta izin dariku hah." Pria itu berkata-kata dengan nada suara tinggi sampai urat lehernya terlihat. Tak sedikit pun hatinya merasa goyah bahkan saat melihat Angel yang terdiam menunduk tanpa berani menatapnya.
"A-aku sudah minta izin dari kakek ya. Dan kakek sudah setuju."
"Kau ini benar-benar wanita yang picik ya. Karena kau tahu kalau aku tidak mendukungmu kau jadi minta dukungan dari ayahku." Tuan John tersenyum remeh.
Angel terhenyak. Hatinya terluka mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Pria itu berkata seolah-olah Angel bukanlah anaknya dan bukan pula cucu dari tuan Xavier.
"Papa, aku..."
"Ssst... Aku tidak butuh penjelasan darimu." John menempelkan jari telunjuk di bibirnya tanda untuk menyuruh Angel diam. "Tapi satu hal yang perlu kau ingat, aku tidak akan tinggal diam kalau sampai rencanamu ini merugikan perusahaan. Walaupun ayahku memberi kau dukungan, jangan bermimpi untuk aku mendukungmu!"
Tuan John menggebrak meja hingga membuat Nancy terperanjat kaget di kursinya. Sementara Angel hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Hatinya selalu terasa sakit saat bicara dengan pria ini. Pria yang seharusnya menjadi pria pertama yang akan selalu melindunginya. Pria yang seharusnya menjadi pria yang pertama yang mencintainya. Bukankah begitu defenisi seorang ayah di mata orang-orang? Mengapa ayah Angel justru sangat berbeda. Sungguh berbanding terbalik.
"Yang penting aku sudah memperingatkanmu." Tuan John sekali lagi menghempaskan pintu membuat suara yang kembali memekakkan telinga.
Nancy mengelus-ngelus dada. Dia merasa seperti baru saja mendapatkan shock therapy. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Kalau saja ruangan itu tidak kedap suara, maka kejadian tadi akan sangat menarik perhatian para pegawai kantor.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Nancy khawatir. Dilihatnya Angel masih saja mematung dengan posisi yang sama.
Angel menoleh kepada Nancy. Dia angkat jempolnya sambil menarik sudut bibirnya ke atas. "I am okay."
Nancy menggeleng prihatin. "You are not okay. Kau tidak perlu berbohong. Kau pasti terkejut kan tiba-tiba tuan John datang dan marah-marah begitu?"
Angel tertawa hambar. "Untuk apa terkejut? Bukan hal yang pertama kalinya papa marah-marah padaku. Kau tenang saja. Aku sudah biasa sampai akhirnya aku kebal."
Nancy menelan salivanya. Dia tidak bisa membayangkan kalau berada di posisi Angel. Nancy mendekat lalu menepuk-nepuk pelan bahu Angel. "Kupikir kau lebih kuat dari yang kubayangkan. Aku ada di sini kalau kau butuh seseorang untuk berbagi."
Angel tersenyum tulus. Kakek, ketiga sahabatnya dan kini ada Nancy yang tampak begitu tulus padanya. Paling tidak Angel masih memiliki beberapa orang yang benar-benar peduli padanya.
"Terima kasih, Cycy."
Nancy langsung saja menyun. "Namaku Nancy dan bukan Cycy," protesnya.
Angel tergelak. "Cyycyy." Dia ulang menyebutkan nama Nancy sesuka hatinya.
Nancy menghembuskan napas kasar. "Susah memang bicara dengan wanita keras kepala dan suka buat kesal sepertimu."
"Eittsss." Angel menggoyang-goyangkan jari telunjuk di hadapan Nancy. "Apa kau lupa kalau aku ini adalah atasanmu di perusahaan?"
Angel mengangkat dagunya. Seolah ingin menunjukkan kekuasaan yang dia miliki di hadapan Nancy.
Nancy langsung berdiri tegak. Wajahnya yang tadi tampak sebal kini sirna sudah. Dengan senyuman terpaksa menghiasi wajahnya, Nancy menunduk sembilan puluh derajat persis seperti salam memberi hormat di drama-drama Korea.
"Mohon maaf kanjeng Bos. Saya khilaf. Mohon ampuni hambamu ini." Nancy memohon maaf dengan kedua tangan yang terkatup di dada.
"Hahaha. Wajahmu lucu sekali. Lihat gaya bicaramu juga. Sudah seperti dayang-dayang di kerajaan saja."
Nancy tersenyum dalam hati melihat Angel yang kini sudah bisa kembali tertawa lepas. "Dasar Bos durjana!" rutuk Nancy pura-pura kesal.
"Durjana itu apa ya? Sejenis makanan ringan?" tanya Angel asal.
"Bukan. Sejenis orang utan. Satu spesies."
Mata Angel membulat sempurna. "Apa kau bilang? Asisten durhaka! Kukutuk kau menjadi..." Loading. Angel bingung harus mengutuk Nancy menjadi apa di era yang serba modern seperti sekarang ini.
"Dikutuk jadi apa hayoo? Kutuk jadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang-orang saja ya."
Angel tampak berpikir. "Jadi apa ya?" Angel menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Kan situ yang mau mengutuk, masa aku yang harus bantu mikir sih?"
"Kau diam saja. Aku sedang berpikir ini."
Tiba-tiba muncul sebuah lampu dengan cahaya berwarna kuning di dalam benak Angel. "Aku tahu sekarang," ujarnya riang.
"Kukutuk kau menjadi member girl band!"
"Apa?"
"Ya. Kau mau menjadi manfaat untuk orang-orang kan? Kau bisa menghibur orang dengan cara seperti itu. Zaman sekarang kan orang-orang pada butuh hiburan biar tidak stress." Angel menjelaskan apa yang ada di dalam benaknya. Seolah-olah idenya itu benar-benar brilian dan layak untuk diacungi jempol.
Nancy hanya bisa menatap Angel dengan wajah bengongnya. "Ya ya. Kalau ada orang yang stress di dunia ini, maka kau adalah salah satunya."
"Kok jadi aku?"
"Ya karena kutukan sungguh luar biasa dan BERMANFAAT untuk orang yang stress sepertimu," jawab Nancy sarat akan sarkasme.
"Mulutmu itu sepertinya sudah layak diberi bon cabai level sepuluh biar sama pedasnya."
"Eyy pedas? Memangnya kau sudah pernah mencicipi?"
Nancy mengeluarkan lidahnya lalu membiarkan benda tak bertulang itu menyusuri bibir bagian atas dan bawahnya secara bergantian. Pose yang cukup menantang dan menggoda iman. Tapi sayangnya Angel justru merasa jijik melihatnya. Apa lagi saat bibir Nancy semakin mendekat ke wajahnya lalu matanya yang sebelah berkedip.
Angel mendorong pelan kepala Nancy. "Aku ini masih normal, tahu! Ah lama-lama di ruangan yang sama denganmu aku bisa menjadi gila."
Angel mengomel lalu beranjak dari posisinya. "Angel, aku padamu selalu!" Masih bisa Angel dengar kata-kata Nancy sebelum dia berlalu dari ruangan itu.
--- TBC ---
udah tah kek?
salken from me..