Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Semakin Menipis
Sejak hari itu, hubungan Laras dan Sandi berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat namun tetap lembut dan penuh rasa hormat. Tidak ada yang terburu buru, tidak ada yang dipaksakan. Mereka hanya membiarkan waktu dan perasaan mereka menuntun langkah kaki secara alami.
Suatu sore setelah selesai kuliah, langit terlihat sangat indah dengan warna jingga yang memerah di ufuk barat. Mereka berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi pepohonan menuju halte bus yang tidak jauh dari kampus.
Angin sore berhembus sejuk, membuat dedaunan berguguran di sekitar mereka. Sandi berjalan di sisi luar, melindungi Laras dari kendaraan yang lewat di pinggir jalan tanpa perlu berkata apa apa. Laras menyadari kebaikan kecil itu dan tersenyum dalam hati.
"Sandi," panggil Laras pelan saat mereka berhenti sejenak menunggu lampu lalu lintas berubah warna.
"Iya, ada yang mau lu ceritakan?" tanya Sandi sambil menoleh menatapnya lembut.
"Gue senang banget lu ada di hidup gue sekarang. Dulu gue pikir gue tidak akan pernah bisa merasa tenang di samping siapa pun selain... di samping orang yang dulu pernah ada di hati gue. Tapi lu mengajarkan gue bahwa rasa aman itu bukan tentang siapa yang dulu pernah bersama kita, tapi tentang siapa yang membuat kita merasa nyaman menjadi diri sendiri saat bersama mereka," ucap Laras jujur, matanya menatap lurus ke mata Sandi.
Sandi tersenyum tulus, lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arah Laras, seakan memberi waktu bagi gadis itu untuk mundur jika dia belum siap. Saat Laras tidak mundur dan justru menyambut uluran tangan itu, jari jari mereka saling bertaut dengan lembut.
"Lu tidak perlu terburu buru Laras. Gue ada di sini, tidak akan ke mana mana. Kalau suatu hari nanti lu merasa ragu, lu cukup lepaskan tangan gue dan gue akan mengerti. Tapi selama lu memegang tangan gue, gue janji akan menjaga hati lu sebaik gue menjaga diri gue sendiri. Lu berharga, dan gue akan selalu memperlakukan lu dengan cara yang lu pantas dapatkan," ucap Sandi dengan suara yang tulus dan menenangkan.
Laras merasa dadanya terasa hangat. Dia tidak merasa tertekan, tidak merasa terbebani. Dia merasa diterima sepenuhnya. Mereka berjalan terus dengan tangan yang saling bergenggaman, menikmati sisa waktu sore yang indah itu. Laras menyadari bahwa dia tidak lagi membandingkan Sandi dengan siapa pun. Sandi adalah Sandi . Dia orang yang akan hadir tidak untuk menggantikan masa lalu, tapi untuk membangun masa depan bersamanya.
Hari hari berikutnya terasa lebih berwarna. Sandi sering mengantar jemput Laras saat hari hujan, mereka belajar bersama di perpustakaan kampus, dan kadang menghabiskan waktu akhir pekan berjalan jalan santai sambil bercerita tentang impian masing masing.
Sandi mendukung tulisan tulisan Laras dengan tulus, bahkan dia yang selalu mendorong Laras untuk berani mengirimkan karyanya ke penerbit yang lebih besar.
"Suara tulisan lu harus dibaca oleh lebih banyak orang, Laras. Dunia berhak mendengar cerita indah yang ada di kepala lu," katanya suatu hari saat Laras ragu untuk mengirimkan naskah cerpennya.
Laras tersenyum lebar, dan kali ini senyumnya murni untuk masa depan yang sedang dia jalani saat ini. Dia belajar bahwa jatuh cinta untuk kedua kalinya bukan berarti cinta yang pertama tidak berarti. Itu hanya berarti hati kita cukup besar untuk menghargai masa lalu sekaligus menyambut masa depan yang indah.