NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 6. CAPITAL HARBOUR

 "Kau kenapa?"

  Suara bariton khas milik suaminya itu membuatnya sedikit tersentak kaget.

 "Tidak apa-apa."

 Pria tampan itu mendekati istrinya.Ia tahu istrinya tidak jujur.

 " Jangan coba-coba berbohong,sayang.Raut wajahmu mengatakan semuanya.Apa yang kau pikirkan?"

 Alessia meneguk ludahnya kasar.Seakan lidahnya kelu.Ia tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya.

 "Kau istriku.Ingat kan?.Apapun yang menyangkut citra dua keluarga,kau harus memberi tahuku!.

 "Tidak apa-apa,aku bisa mengatasinya sendiri." Ujar Alessia lalu berlalu pergi.

................

 Empat hari setelah kejadian itu.Susana tampak hening,tidak ada lagi ancaman/kiriman aneh dari seseorang.Namun justru itulah yang membuat Alessia tak tenang.Pasti pelaku sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar.Ini terlalu tenang bukan?.Bahkan uncle Dan bilang orang tuanya belum memberikan apapun kepada pelaku.

................

  Kantor utama Vellano Group—Luxury Conglomerate masih dipenuhi kesibukan meskipun sebagian besar karyawan telah mulai meninggalkan gedung. Di lantai paling atas, suasana justru terasa jauh lebih tenang. Dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota yang mulai diselimuti kegelapan, sementara cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit berkilauan di kejauhan.

Di dalam ruang kerjanya, Vellano duduk di balik meja besar berlapis kayu gelap. Tatapannya tertuju serius pada layar laptop di hadapannya. Beberapa dokumen perusahaan terbuka di sana, lengkap dengan laporan keuangan dan berkas proyek yang harus ia periksa sebelum malam berakhir.

Tangannya sesekali menggeser halaman dokumen menggunakan touchpad. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan konsentrasi penuh.

Tiba-tiba—

Drrrrt... drrrrt...

Suara ponselnya bergetar di atas meja.

Vellano menghentikan gerakannya. Ia melirik layar ponsel yang menyala.Nomor tidak dikenal.Keningnya sedikit berkerut.

Biasanya ia tidak pernah mengangkat panggilan dari nomor asing. Namun entah mengapa, kali ini ada sesuatu yang membuatnya mengambil ponsel tersebut.

"Hallo?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.Hanya terdengar suara napas seseorang dari seberang.

Vellano langsung menegakkan tubuh.

"Siapa?"

Suara seorang pria akhirnya terdengar. Datar, berat, dan sengaja dibuat sulit dikenali.

"Tuan Vellano. Kurasa kau perlu mengetahui sesuatu tentang istrimu."

Tatapan Vellano berubah tajam.

"Jangan bicara sembarangan."

Pria itu tertawa kecil.

"Aku tidak menelepon untuk bercanda."

Beberapa detik kemudian, sebuah kalimat yang sama sekali tidak pernah Vellano bayangkan terdengar dari sambungan telepon itu.

"Beberapa tahun lalu, di Kamboja... istrimu terlibat dalam sebuah kecelakaan. Seseorang tertabrak oleh kendaraan yang dikendarainya."

Vellano terdiam.

Untuk sesaat, pikirannya seperti berhenti bekerja.

"Kau bohong."

"Benarkah?"

Suara di seberang terdengar semakin tenang.

"Kalau kau yakin aku berbohong, kau bisa datang sendiri dan membuktikannya."

Vellano mengepalkan tangannya di atas meja.

Pria itu kemudian menambahkan bahwa kejadian tersebut tidak berhenti sebagai kecelakaan biasa. Ada sesuatu yang sengaja ditutupi, sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah sampai ke telinganya.

"Kalau informasi ini sampai ke media," lanjut pria itu, "nama keluarga kalian akan menjadi berita utama."

Vellano tidak menjawab.

Kemarahannya bercampur dengan kebingungan. Selama ini ia mengenal istrinya sebagai seseorang yang selalu ia percayai. Namun kini, dalam hitungan menit, sebuah rahasia dari masa lalu mulai meruntuhkan keyakinannya.

"Kenapa kau melakukan ini?"

"Karena aku ingin bertemu denganmu."

"Di mana?"

Pria itu menyebutkan sebuah lokasi.

Pelabuhan.

"Datang sendirian. Jangan bawa siapa pun."

Sambungan telepon langsung terputus.

Vellano masih memegang ponselnya dalam diam.Tatapannya perlahan beralih ke layar laptop yang kini tidak lagi menarik perhatiannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, satu pertanyaan memenuhi pikirannya.

Apa sebenarnya yang disembunyikan istrinya selama ini?.

Pantas saja kemarin itu istrinya tampak panik setelah menerima panggilan dari ponsel.

Vellano segera meraih ponselnya dan menghubungi Maxime, asistennya yang selama ini selalu dapat diandalkan dalam situasi apa pun.

"Maxime, siapkan sejumlah uang tunai. Jangan terlalu banyak, tapi pastikan cukup," perintahnya.

Maxime sempat terdiam sebelum bertanya, "Untuk apa, Tuan?"

"Belum tahu. Tapi aku ingin berjaga-jaga."

Vellano kemudian menceritakan seluruh isi panggilan dari nomor asing tersebut—tentang kejadian di Kamboja, tuduhan terhadap istrinya, serta permintaan untuk bertemu di sebuah area pelabuhan.

Ekspresi Maxime berubah serius.

"Menurut Anda, ini pemerasan?"

"Aku belum tahu," jawab Vellano dingin. "Dan justru itu yang membuatku tidak bisa mengabaikannya."

Ia mengambil jasnya dari sandaran kursi, lalu memasukkan ponsel ke saku.

"Maxime, kau ikut denganku."

Asistennya langsung mengangguk.

"Baik, Tuan."

Beberapa menit kemudian, keduanya meninggalkan kantor. Di dalam benak Vellano, satu hal terus berputar: siapa orang di balik panggilan itu, dan seberapa besar rahasia yang sebenarnya sedang disembunyikan dari dirinya?.

................

Satu jam kemudian, mobil yang membawa Vellano dan Maxime akhirnya tiba di Capital Harbour.

Pelabuhan itu tampak jauh lebih sepi dibandingkan biasanya. Deretan kontainer menjulang tinggi di kedua sisi area, menciptakan lorong-lorong sempit yang diterangi lampu industri berwarna pucat. Suara mesin kapal terdengar samar dari kejauhan, bercampur dengan suara angin malam yang berembus cukup kencang.

Vellano turun dari mobil dengan langkah tenang. Tatapannya menyapu seluruh area di sekitarnya.

"Apakah kau melihat seseorang?" tanya Maxime pelan.

Vellano menggeleng.

"Belum."

Mereka berjalan beberapa langkah menuju area kontainer sesuai lokasi yang diberikan oleh penelepon misterius tersebut. Namun belum sempat Vellano mengatakan apa pun, terdengar suara langkah kaki dari balik deretan kontainer.

Tap... tap... tap...

Seseorang muncul dari balik bayangan.

Maxime langsung menegang.

Vellano pun berhenti melangkah.

Sosok pria itu semakin mendekat hingga wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu pelabuhan.

Mata Vellano seketika menyipit.

"William?"

Pria itu tersenyum tipis.

William Brow.

Seorang pengusaha yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu rekan bisnis Vellano. Ia dikenal sebagai pria arogan, licik, dan sangat serakah. Dalam dunia bisnis, William memiliki reputasi sebagai seseorang yang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya.

Namun malam itu, Vellano tidak menyangka akan melihatnya di tempat seperti ini.

"Kau?" suara Vellano terdengar dingin.

William memasukkan kedua tangannya ke saku mantel, lalu tertawa kecil.

"Kau terlihat terkejut."

Maxime maju setengah langkah.

"Jadi kaulah yang menelepon Tuan Vellano?"

William tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia justru menatap Vellano dengan tatapan penuh keyakinan.

"Aku memang ingin bertemu denganmu."

Vellano menatapnya tajam.

"Kalau ini soal uang, katakan berapa jumlahnya."

William tertawa.

"Uang?"

Ia menggeleng pelan.

"Aku tidak membutuhkan uangmu, Vellano. Kau seharusnya tahu, aku punya lebih dari cukup."

Suasana mendadak terasa jauh lebih berat.

Vellano menyipitkan mata.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Senyum William perlahan menghilang. Tatapannya berubah menjadi sesuatu yang membuat Vellano merasa tidak nyaman.

"Aku menginginkan sesuatu yang jauh lebih berharga."

William berhenti sejenak sebelum mengucapkan nama itu dengan jelas.

"Alessia."

Vellano membeku.

Maxime pun terlihat terkejut.

William melanjutkan dengan suara tenang, seolah permintaannya merupakan sesuatu yang sangat wajar.

"Aku tidak menginginkan uangmu."

Ia menatap lurus ke arah Vellano.

"Yang kuinginkan adalah istrimu."

Rahang Vellano mengeras.

"Alessia adalah istriku."

William tersenyum tipis.

"Aku tahu."

Dan saat itulah Vellano menyadari bahwa pertemuan ini tidak pernah benar-benar tentang uang. William sejak awal memang mengincar sesuatu yang jauh lebih pribadi—Alessia.

William mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari balik mantelnya, lalu melemparkannya ke arah Vellano.

"Di dalamnya ada bukti."

Vellano menangkap amplop itu dan menatapnya dengan curiga.

"Bukti tentang apa?"

William hanya tersenyum sinis.

"Tentang kecelakaan di Kamboja beberapa tahun lalu. Tentang bagaimana Alessia menabrak seseorang dan kemudian pergi dari tempat kejadian."

Vellano terdiam. Tangannya perlahan mengepal di sekitar amplop tersebut.

"Kalau kau berani membukanya, kau akan tahu semuanya."

William melangkah mendekat.

"Aku bisa menyerahkan bukti itu kepada media kapan saja. Bayangkan apa yang terjadi ketika berita tentang istrimu tersebar. Reputasi Alessia akan hancur."

Vellano menatapnya dingin.

"Jadi ini ancaman?"

"Anggap saja peringatan."

Meski pernikahan Vellano dan Alessia pada awalnya hanyalah sebuah pernikahan kontrak, mendengar ancaman itu membuat sesuatu dalam dirinya terusik.

Ia sendiri tidak memahami alasannya.

Namun nalurinya berkata satu hal dengan jelas.

Ia harus melindungi Alessia.

Suasana di antara mereka mendadak berubah ketika suara raungan mesin motor terdengar dari kejauhan.

Vrrrroooom!

Suara motor balap semakin mendekat, memecah kesunyian Capital Harbour. William spontan menoleh, sementara Maxime tampak waspada. Vellano mengernyitkan dahi ketika sebuah motor berhenti tidak jauh dari mereka.

Sosok pengendara itu turun dengan tenang.

Rambut panjangnya tergerai setelah ia melepaskan helm.

Vellano membeku.

"Alessia?"

Wanita itu membuka sarung tangannya dan berjalan mendekat seolah tidak terjadi apa-apa.

"Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Vellano.

Alessia berhenti beberapa langkah di depannya.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian?"

"Kau tahu tempat ini berbahaya! Kenapa kau ikut campur dan datang ke sini?!"

Nada suara Vellano terdengar lebih keras dari biasanya. Bukan sekadar kemarahan—ada kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.

Alessia hanya menatapnya, lalu mengalihkan pandangan kepada William.

Tanpa berkata banyak, ia mengambil beberapa lembar dokumen dari dalam tasnya.

Kemudian—

Brak!

Alessia melemparkan seluruh dokumen itu tepat ke arah William.

Kertas-kertas beterbangan sebelum jatuh berserakan di lantai.

William membungkuk mengambil salah satunya.

Wajahnya seketika berubah.

Vellano pun terdiam.

Dokumen itu berisi bukti yang selama ini tidak pernah mereka lihat—bukti yang dapat membalikkan seluruh cerita tentang kejadian di Kamboja.

Alessia menatap William dengan tenang.

"Kalau kau ingin bermain dengan masa lalu, William..."

Ia tersenyum tipis.

"...pastikan kau tahu seluruh kebenarannya."

Suasana menjadi tegang dan semakin memanas saat Alessia melempar sebuah flashdisk.....

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

KIRA-KIRA APA ISI FLASHDISK ITU YA?

Oke sekian dulu ya,semoga kalian suka sama cerita author.

Terimakasih yang sudah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak ya.

Semoga kalian sehat selalu,salam damai 🥰

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 1 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!