NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: KERAJAAN MATARAM BARU

Setelah Raja Sima Ngusada, Raja dari Kerajaan Mataram Baru di Klaten, pergi meninggalkan ruangan setelah mengantar Bima Samudra secara pribadi ke tempat istirahatnya yang paling megah di dalam istana, akhirnya keheningan yang sesungguhnya baru terasa.

Kamar itu bukan kamar biasa. Kamar itu adalah Kamar Tamu Kehormatan Utama yang biasanya hanya dipakai untuk menyambut utusan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Dindingnya terbuat dari kayu jati Jepara ukir yang sangat halus, lantainya dari marmer putih yang dingin namun bersih, di sudut ruangan ada kolam ikan kecil dengan air mancur yang gemericiknya menenangkan, dan di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang ukir yang sangat besar, cukup untuk lima orang tidur bersama, lengkap dengan kelambu sutra putih dan selimut tebal dari bulu angsa.

Aroma kemenyan Jawa yang lembut dan aroma bunga melati segar memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang masuk langsung merasa tenang.

Bima Samudra bersama kedua wanita kepercayaannya, Amelia dan Intania, akhirnya bisa beristirahat dengan tenang setelah seharian penuh bertarung hidup dan mati di Lembah Kematian Gunung Merapi.

Mereka bertiga sebelumnya telah membersihkan diri di pemandian pribadi yang ada di dalam kamar itu. Pemandian itu memiliki bak mandi dari batu alam yang dialiri air hangat dari sumber mata air panas alami. Amelia dan Intania bergantian membersihkan diri di balik tirai bambu, sementara Bima menunggu di luar dengan menjaga pintu, sesuai dengan prinsip kesatria yang diajarkan oleh gurunya, Ratu Ayu Kirana dari Gunung Lawu.

Setelah selesai, mereka bertiga mengenakan pakaian tidur yang sudah disediakan oleh pelayan istana. Pakaian tidur dari bahan katun halus berwarna putih gading.

Lalu mereka berbaring di atas ranjang besar yang empuk dan hangat itu. Dengan posisi Amelia di sisi kiri Bima dan Intan di sisi kanan Bima, Bima merasa begitu nyaman dan damai. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan berkelana sendirian di hutan Gunung Lawu, dikelilingi oleh bahaya, ia merasa dikelilingi oleh kehangatan keluarga.

Keheningan malam di dalam istana Kerajaan Mataram Baru begitu tenang dan syahdu. Hanya terdengar suara jangkrik dari taman istana, suara angin malam yang masuk dari jendela kayu yang terbuka, dan suara gemericik air mancur kecil di sudut kamar. Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang di atas langit Klaten, cahayanya masuk ke dalam kamar dan membuat suasana menjadi semakin romantis.

Tak lama kemudian, Intania yang belum bisa tidur karena masih teringat jelas kejadian mengerikan di siang tadi, ribuan Iblis Ekstratoritorial yang mengaum, darah yang berceceran, dan Bima yang bertarung sendirian seperti dewa, mulai merasa cemas.

Jantungnya masih berdebar kencang. Tangannya yang mungil secara refleks memeluk lengan Bima dengan manja dan erat, mencari rasa aman.

Bima yang merasakan pelukan itu, langsung membalasnya dengan lembut. Ia menghadap ke arah Intan, lalu dengan tangan kanannya ia mengelus kepala Intan dengan sangat lembut, seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya yang ketakutan.

"Tidak apa-apa, Intan, semuanya sudah selesai. Iblis-iblis itu sudah musnah. Kita semua selamat," bisik Bima dengan suara yang sangat lembut dan dalam, penuh dengan ketenangan.

Merasakan pelukan hangat dan perlindungan yang begitu tulus dari Bima, Intan pun perlahan membuka mata indahnya yang sedikit berkaca-kaca karena masih trauma, lalu tersenyum dengan penuh rasa aman.

"Bima, terima kasih banyak sudah melindungi kami hari ini. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku dan Kak Amelia sudah tidak ada lagi di dunia ini," bisik Intan dengan suara pelan dan tulus, hampir seperti bisikan angin.

Bima pun tersenyum hangat dan dengan penuh kasih sayang, ia mengecup kening Intan dengan lembut. Kecupan itu bukan kecupan yang penuh nafsu, melainkan kecupan yang penuh ketulusan, penghargaan, dan perlindungan seorang kesatria kepada putri yang ia lindungi.

"Terima kasih kembali, Intan, karena kamu dan Kak Amelia sudah percaya pada ku. Kepercayaan kalian lah yang membuat ku bisa bertarung dengan sekuat tenaga tadi," jawab Bima dengan suara yang membuat Intan semakin merasa aman.

Merasakan ketulusan dan kehangatan itu, Intan pun perlahan memejamkan kembali matanya dengan damai. Napasnya yang tadinya terengah-engah karena cemas, kini mulai teratur. Malam itu, di dalam pelukan Bima, tidak ada lagi rasa takut akan iblis atau perang. Yang ada hanya rasa hangat, aman, dan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya seumur hidupnya.

Di sisi lain, Amelia yang berada di sisi kiri Bima, yang tadinya berpura-pura sudah tertidur pulas karena malu melihat kemesraan adiknya dengan Bima, akhirnya tidak tahan lagi untuk diam.

Ia membuka matanya perlahan dan menatap mereka berdua dengan senyum jail yang manis.

"Wah, ternyata adikku yang manja dan galak ini tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk pahlawannya ya. Pantas saja tadi di medan perang berani sekali maju ke depan, ternyata ada yang menjaga," goda Amelia dengan suara yang pelan namun cukup untuk membuat Intan kaget.

Sontak Intan yang mendengar godaan kakaknya itu jadi sangat malu. Wajahnya yang putih langsung memerah seperti buah naga merah. Ia langsung menarik selimut tebal itu untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu.

"Kak Amelia...! Jangan menggoda ku ah...! Aku hanya masih takut, tidak bisa tidur," jawab Intan dari balik selimut dengan suara yang teredam, membuat Bima dan Amelia tertawa kecil.

Bima hanya tertawa renyah melihat tingkah lucu kakak beradik itu yang sangat berbeda karakternya. Amelia yang tenang, dewasa, dan bijaksana, dan Intania yang manja, usil, dan berapi-api. Namun keduanya sama-sama memiliki hati yang sangat baik.

Bima lalu dengan lembut menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua dengan lebih rapat agar tidak masuk angin terkena angin malam dari Gunung Merapi yang dingin.

"Kalian berdua, jangan bertengkar terus. Istirahatlah. Besok pagi kita masih harus menghadiri jamuan besar kerajaan. Kalian harus terlihat cantik di depan para raja dan ratu dari seluruh Jawa Tengah," kata Bima dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.

Di luar jendela kamar, bulan purnama bersinar terang di atas langit Klaten, cahayanya keperakan menyinari seluruh Taman Istana Mataram Baru yang penuh dengan bunga.

Malam itu, Bima tidak melakukan hal yang aneh-aneh sama sekali. Ia tidak memanfaatkan situasi. Ia hanya memeluk kedua wanita itu dengan penuh kasih sayang sebagai seorang sahabat, seorang kakak, dan seorang pelindung sejati. Mereka bertiga tertidur dengan lelap dalam kehangatan, kelelahan setelah pertempuran besar yang menguras tenaga dan emosi.

Bima menjaga mereka dengan tulus, seperti seorang kaisar muda yang menjaga dua ratu kecilnya di dalam istana yang megah, dengan hati yang bersih dan niat yang lurus, sesuai pesan dari Gurunya, Ratu Ayu Kirana, yang selalu berpesan, "Bima, kekuatan besar harus disertai dengan hati yang besar. Jangan pernah gunakan kekuatan mu untuk menyakiti wanita."

Perlahan, keheningan malam yang indah dan syahdu menghiasi seluruh Istana Kerajaan Mataram Baru. Suara gamelan yang lembut dari pendopo utama masih terdengar samar-samar, mengiringi tidur para prajurit yang kelelahan.

Saat Bima memejamkan matanya perlahan, ia bisa merasakan dengan jelas detak jantung Intan dan Amelia yang berdetak dengan tenang dan damai di kiri dan kanannya. Detak jantung mereka seirama dengan detak jantungnya. Sebuah koneksi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dalam hatinya yang paling dalam, Bima bergumam dengan penuh rasa syukur,

"Terima kasih, Gusti Allah, terima kasih, Eyang Jagat Buana, terima kasih, Guru Ayu Kirana, untuk hari yang luar biasa ini. Hari yang penuh darah dan air mata, tapi diakhiri dengan kehangatan. Aku yang dulu hanyalah seorang pemuda tersesat di Gunung Lawu, kini telah menemukan rumah baru, teman baru, dan mungkin, keluarga baru di Tanah Jawa ini. Aku berjanji, aku akan melindungi mereka berdua sampai titik darah penghabisan."

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan meninggalkan Padepokan Puncak Lawu dan berpisah dengan ketujuh kakak seperguruannya yang sangat ia rindukan, Bima Samudra tertidur dengan senyum yang sangat lelap, damai, dan tulus di wajah tampannya.

Di dalam Alam Jiwanya yang luas dan indah, ketiga ratu pelayannya, Sari sang Ratu Lebah Emas, Anjani Langit sang Ratu Naga Langit, dan Sekar Lestari sang Ratu Phoenix Sejati, serta Kencana sang Ular Kobra Emas dan Ayu Lestari sang Roh Pedang Pembalik Langit, yang sedang duduk bersama di tepi air terjun di dalam Alam Jiwa, juga ikut tersenyum bahagia melihat ketulusan dan kebesaran hati tuan mereka dari kejauhan melalui cermin jiwa.

Mereka berbisik satu sama lain,

"Tuan Muda kita memang berbeda. Kekuatannya seperti dewa, tapi hatinya selembut kapas," kata Sari.

Malam kemenangan yang panjang dan penuh sejarah di Kerajaan Mataram Baru itu pun berlalu dengan penuh kehangatan, cinta yang tulus, dan janji-janji baru untuk masa depan.

Di luar istana, seluruh rakyat Klaten dan Boyolali menyalakan lampion kemenangan, merayakan bahwa mimpi buruk Iblis Ekstratoritorial telah berakhir berkat seorang pemuda bernama Bima Samudra.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!