Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Gosip mempersatukan bangsa.
Lydia memandang ponsel tersebut, kemudian bertanya. "Nyonya Crane sedang siaran langsung?"
"Iya." Nara mengangguk cepat, "Tapi kalau ini mengganggu. Aku bisa mematikannya sekarang."
"Tidak perlu!"
Suara Lydia begitu cepat, membuat jari Nara hampir tergelincir. Beruntungnya tidak jadi dimatikan.
Nara menatapnya bingung.
Lydia menarik napas panjang, dan menatap rumahnya sendiri sebelum berkata. "Biarkan tetap menyala."
"Kau yakin?"
"Aku yakin!" Lydia kemudian menatap ponsel di tangan Nara. "Aku tidak tahu apa yang mereka katakan setelah ini. Kalau nanti ceritanya berubah, dan aku dianggap datang hanya untuk membuat keributan, setidaknya ada orang yang melihat apa yang sebenarnya terjadi."
Ia menunjuk ke arah rumah.
"Kalau Nyonya Crane tidak keberatan, arahkan kameranya ke sini."
Nara langsung mengerti.
"Baik."
Ia bergerak ke sisi halaman agar tidak menghalangi, kemudian mengarahkan kamera kepada Lydia dan pintu rumah.
Setelah mendapat izin secara langsung, Nara tidak lagi merasa perlu berpura-pura ingin pergi.
Ia berdiri di samping, sambil makan keripik kentang dengan tenang.
Pintu rumah terbuka.
Ethan Hale keluar dengan wajah tidak senang, begitu melihat Lydia. Ekspresinya berubah.
"Lydia? Kenapa kamu tiba-tiba pulang?"
"Karena aku istrimu."
Ethan mengerutkan keningnya, "Aku tahu kamu istriku."
"Bagus, setidaknya ada satu hal yang masih kamu ingat."
Ethan menghela napas, dan mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Aku sudah bilang kepadamu, aku sedang ada urusan."
"Urusan dengan Vivian Monet?"
Pertanyaannya begitu tiba-tiba, membuat Ethan terdiam.
Beberapa detik kemudian, Vivian Monet muncul dari dalam rumah. Wajahnya tampak lembut dan sedikit gugup. Wanita itu berdiri di dekat Ethan, tetapi tidak langsung berbicara.
"Aku bisa menjelaskan," katanya pelan.
Lydia mengalihkan pandangan kepadanya. "Tidak perlu, aku ingin mendengar penjelasan dari suamiku terlebih dahulu."
Vivian menggigit bibir sebelum berkata, "Aku benar-benar tidak tahu kalau Ethan masih memiliki hubungan suami-istri denganmu."
Nara yang sedang mengunyah hampir tersedak.
Lydia pun menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya bertanya. "Apa maksudmu?"
Vivian Monet menggeleng. "Ethan mengatakan dia sekarang sudah lajang, dia bilang pernikahannya sudah lama bermasalah. Dan hanya belum diselesaikan secara resmi karena urusan keluarga. Aku sungguh tidak bermaksud menjadi orang ketiga."
Lydia menoleh kepada Ethan.
"Kamu mengatakan itu kepadanya?"
"Lydia, jangan membuat masalah ini semakin besar."
"Kalau begitu jelaskan!"
Ethan mengusap keningnya. "Aku sudah bilang kita akan membicarakan semuanya nanti."
"Tidak! Kita membicarakannya sekarang."
Nada Lydia tidak tinggi, tetapi justru terdengar lebih dingin daripada teriakan.
"Dia bilang, Kamu mengaku hubungan pernikahan kita bermasalah, dan sudah lajang. Benar?"
Ethan diam.
Lydia tertawa kecil. "Kamu bahkan tidak perlu menjawab, diam seperti itu sudah cukup."
Vivian buru-buru menyela, "Nona Lydia. Aku sungguh tidak tahu, kalau kamu masih menjadi istrinya. Aku tidak akan pernah—"
"Jadi, karena dia mengatakan sesuatu kepadamu. Kamu langsung percaya?"
Lydia Ardent tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Kau bekerja di industri hiburan, kau tahu siapa keluarga Ardent. Kau tahu siapa Ethan Hale, dan kau tahu betul bahwa namanya selama ini dikaitkan denganku. Kalau kau memilih mempercayai perkataan Ethan tanpa pernah mencari tahu sedikitpun, itu urusanmu. Tapi jangan sekarang berdiri di depanku, dan berpura-pura tidak tahu apa-apa."
Vivian Monet terdiam.
Ethan yang sejak tadi menahan diri akhirnya berkata, "Cukup! Hubungan kita memang sudah lama tidak berjalan dengan baik, apa yang salah dari itu?"
"Apa yang salah?"
Lydia menatapnya, seolah baru mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Yang salah adalah, kamu mengubah masalah dalam pernikahan kita menjadi alasan untuk mengaku kepada perempuan lain. Bahwa kamu tidak lagi memiliki seorang istri. Kalau memang kamu merasa pernikahan ini sudah tidak bisa dipertahankan, kamu bisa mengajukan perceraian. Aku tidak pernah mengikatmu dan memaksamu tetap tinggal bersamaku."
Ethan Hale mengeraskan rahangnya, "Kamu pikir semuanya sesederhana itu?"
"Tidak, justru karena aku tahu semuanya tidak sederhana. Aku masih bertahan sampai sekarang."
Nada Lydia tetap terkendali, tetapi setiap perkataannya terdengar semakin tajam.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan dari keluarga mana kamu berasal, aku juga tidak pernah menganggap kamu rendah hanya karena keluargamu tidak sebesar keluarga Ardent. Ketika kita menikah, aku menganggapmu sebagai suamiku, dan memberimu kesempatan untuk membangun hidupmu sendiri. Kamu mendapatkan posisi di cabang Ardent Group, karena aku percaya bahwa kamu mampu menjalankannya. Bukan karena aku ingin menjadikanmu seseorang yang harus bergantung padaku seumur hidup."
Ethan Hale tidak menjawab.
"Kalau ternyata selama ini kamu merasa pernikahan kita hanya menjadi beban," lanjut Lydia. "Seharusnya kamu mengatakan hal itu kepadaku, bukan membawa perempuan lain ke rumah kita, dan berbohong kepadanya bahwa kamu sudah lajang."
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Ethan akhirnya menghembuskan napas kasar, lalu berkata dengan nada yang mulai meninggi. "Aku sudah cukup bersabar denganmu, jangan membuatku terlihat seperti orang yang tidak punya pilihan."
Lydia tertawa kecil.
"Orang yang tidak punya pilihan?"
Ia melangkah mendekat, dan tanpa memberi Ethan kesempatan untuk bersiap. Lydia langsung menampar wajahnya.
Plak!
Suara tamparan itu terdengar jelas di halaman.
Ethan memalingkan wajah akibat pukulan tersebut. Vivian langsung mundur, sementara Nara yang sedang mengambil keripik dari bungkusnya berhenti sejenak.
"B*jingan."
Lydia menurunkan tangannya dengan tenang. "Kamu menggunakan keluargaku untuk mendapatkan posisi, menggunakan namaku untuk membuka jalan di Ardent Group. Lalu ketika hidupmu sudah nyaman, kamu membawa perempuan lain ke rumah kita. Setelah itu kamu masih mengatakan bahwa kamu tidak punya pilihan?"
Ethan menyentuh pipinya yang memerah, rasa marah terlihat jelas di wajahnya. Tetapi sebelum sempat menjawab, pandangannya tanpa sengaja jatuh kepada Nara Aeris.
Baru saat itu, ia benar-benar memperhatikan ponsel di tangan Nara. Yang mengarah kepada mereka bertiga.
Postur itu jelas untuk merekam mereka.
"Tunggu... " Ethan menatap Nara. "Kau sedang merekam?"
Nara mengangguk santai. "Iya."
Wajah Ethan seketika berubah. "Sejak kapan?"
"Sejak sebelum saya sampai di sini."
Jawaban itu membuat Ethan kehilangan kesabarannya. "Kau merekam semua ini sejak tadi?"
Nara tidak mundur sedikit pun, ia hanya menatap Ethan dengan tenang. Sambil memegang bungkus keripik yang tinggal beberapa keping. "Saya tidak menyembunyikannya, Lydia juga tahu."
Ethan menoleh kepada Lydia, dengan wajah penuh kemarahan. "Kamu membiarkannya?"
"Aku yang memintanya."
"Ini masalah rumah tangga kita, Lydia!"
"Kalau begitu, seharusnya kamu memikirkan itu sebelum membawa perempuan lain ke rumah kita."
Ethan mengatupkan rahangnya, ia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tiba-tiba terdengar suara kecil dari sampingnya.
"Si... siaran langsung?"
Suara Vivian terdengar pelan, tetapi kepanikannya langsung terlihat dari wajah yang mendadak pucat. Matanya berpindah dari Ethan ke ponsel Nara, seolah berharap dirinya salah mendengar. Karena dia pernah melakukan siaran langsung, dan cukup familiar dengan suara hadiah dari siaran langsung.
Nara baru menyadari, bahwa sejak tadi ia belum menjelaskan satu hal penting. Dia mengangkat ponselnya sedikit, lalu menjawab dengan nada tenang. "Iya, saya sedang siaran langsung dari awal."
Vivian langsung kehilangan kata-kata.
"Jadi..." Bibirnya bergerak pelan, tetapi suaranya hampir tidak terdengar. "Semua yang kita katakan tadi..."
"Didengar penonton," jawab Nara jujur.
Wajah Vivian semakin pucat. Ia tanpa sadar mundur beberapa langkah, sementara komentar di layar ponsel Nara terus bergerak cepat. Jumlah penonton yang semula tidak terlalu banyak, kini meningkat setelah pertengkaran mereka berlangsung cukup lama.
Jelas gosip adalah salah satu cara untuk mempersatukan bangsa.
Ethan menyadari hal itu, langsung menatap Nara dengan wajah buruk.
"Kau sengaja melakukan ini?"
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor