NovelToon NovelToon
MENGHAPUS JEJAK

MENGHAPUS JEJAK

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta Murni / PSK / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:164.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

S 2. Novel "Jejak Luka"

Alangka baiknya membaca Novel tersebut di atas, sebelum membaca Novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.

"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"

Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗


Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ban 12. MJ

...~•Happy Reading•~...

Bagas merasa heran, sebab selama mereka berkantor di kantor yang baru, semua kasus TQ ditangani oleh pengacara yang ditempatkan Mathias di kantor lama. Bagas hanya memantau kelanjutan semua proses kasus TQ dan melapor perkembangannya kepada Mathias.

"Iya. Kau yang akan tangani ini, sebab akan ada banyak penyelidikan dan tidak boleh bocor sampai kasusnya disidangkan." Mathias menjawab dan menetapkan dengan tegas dan serius.

Bagas makin penasaran dengan kasus TQ yang disodorkan Mathias padanya. Sesuatu yang belum pernah dia alami selama bekerja bersama Mathias.

"Boleh tahu kasus apa, Pak. Apakah berurusan dengan orang-orang di atas sana?" Bagas penasaran. Dia berpikir, mungkin ada terlibat para petinggi atau pejabat. Sehingga boss nya sangat berhati-hati dalam memilih pengacara untuk menangani kasus.

"Nanti sudah di tangani baru kita tahu, kasusnya hanya sederhana atau ruwet. Yang pasti kasus ini menyangkut rudapaksa." Mathias berkata cepat untuk menjawab rasa penasaran Bagas.

"Kasus rudapaksa?" Bagas bertanya dengan wajah terkejut, sebab mereka belum pernah tangani kasus seperti itu.

"Iya. Kau ngga usah ikut meeting, tapi print semua foto yang saya email ini. Tolong dokumentasi dan pelajari semua bukti awal ini. Selama saya di Semarang, kau yang menemui client untuk lengkapi bukti dan keterangan awal." Mathias berkata sambil berdiri untuk keluar ruangan.

"Pak, manusia yang lakukan ini?" Bagas terkejut melihat foto Enni yang diemail oleh Mathias.

"Kau yang selidiki dan buktikan. Mungkin dia hewan." Mathias berjalan keluar ruangan disusul oleh Bagas.

...~▪︎▪︎▪︎~...

Setelah meeting, Bagas kembali masuk ke ruang kerja Mathias untuk menunjukan semua yang sudah dikerjakan. Dia juga penasaran dan mau menanyakan tentang calon client kasus TQ yang akan ditangani.

"Pak, ini sudah dikerjakan." Bagas meletakan semua hasil print foto Enni di atas meja kerja Mathias. Mathias melihat dan meneliti foto satu persatu dengan teliti.

"Jika saya yang tangani kasus ini, saya bisa bertemu dengan client ini di mana? Tidak ada dokumen pendukung dan data dirinya." Bagas bertanya setelah mereka telah duduk di sofa.

"Tadi karna mau meeting, saya belum sempat kasih tahu tentang clientnya." Mathias jadi tersenyum sendiri, sebab ia hanya memberikan foto Enni tanpa data pendukung.

"Dia sedang dirawat di rumah sakit Sopaefams. Nanti kau buat janji dengan dr Kiran sebelum bertemu dengan client." Mathias mulai menjelaskan sambil terus memperhatikan hasil print foto Enni yang ada di tangannya.

"Kau harus berhati-hati saat mendekatinya, sebab dia korban kekerasan fisik dan juga seksual. Jadi dia agak sensitif untuk berkomunikasi apalagi berdekatan dengan laki-laki." Mathias mengingatkan Bagas sebelum lupa.

"Kau bisa berkonsultasi dulu dengan dr Kiran, agar lebih mudah menangani kasusnya. Saya serahkan semua padamu, sebab saya sedang konsen dengan kasus di Semarang." Mathias berkata lagi dengan serius sambil menyerahkan kembali foto-foto Enni kepada Bagas.

"Siap, Pak. Nanti saya hubungi dr Kiran sebelum ke rumah sakit, agar tahu schedulenya." Bagas mulai memahami kasus yang akan ditangani dan mengapa itu menjadi kasus TQ. 'Mungkin semua berhubungan dengan dr Kiran dan pasien yang dirawatnya.' Pikir Bagas dalam hati.

...~▪︎▪︎▪︎~...

Dua hari kemudian Bagas menuju RS Sopaefams, setelah membuat janji dengan Kirana. Mereka akan bertemu sebelum Kirana tugas jaga malam di UGD. Jadi mereka akan menggunakan waktu sebelum Kirana bertugas.

"Selamat sore dr Kiran." Sapa Bagas saat melihat Kirana sudah menunggunya di lobby rumah sakit dengan jas dokter sambil memasukan tangan ke dalam saku jasnya.

"Selamat sore, Pak Bagas. Trima kasih sudah mau bantu saya." Balas Kirana ramah sambil menyalami Bagas yang sudah mengulurkan tangan ke arahnya dengan hangat.

"Sama-sama, dok." Balas Bagas, lalu berjalan mengikuti Kirana. Bagas menahan senyum melihat para perawat yang tersenyum penuh arti ke arah Kirana yang berjalan cuek di sampingnya. Seakan tidak melihat rekan-rekannya yang sedang ngeledek dan mau mengganggunya.

Bagas jadi ikutan cuek, sebab mengerti arti tatapan para perawat. 'Dia dan dr Kiran mungkin seusia, atau dr Kiran lebih muda darinya.' Bagas membatin sambil tersenyum dalam hati melihat tingkah para perawat dan dokter di lobby.

"Dr Kiran, nanti bantu saya sebelum saya bicara dengan client, ya. Agar saya bisa berkomunikasi dengan baik." Ucap Bagas saat mereka telah berada di lorong menuju kamar mawar.

"Siap, Pak. Nanti kalau perlu sesuatu, hubungi saya saja. Pasiennya bernama Enni, sudah lebih baik dan tenang. Sebab sebelum ini, Pak Mathias sudah berbicara dengannya. Jadi Pak Bagas sudah bisa langsung minta keterangan." Ucap Kirana sebelum mereka masuk ke kamar perawatan Enni.

"Selamat sore, Enni. Sudah minum?" Sapa Kirana saat melihat Enni sedang duduk di pinggir tempat tidur dan melihatnya dengan senang.

"Selamat sore, dokter. Iya, sudah." Ucap Enni cepat, lalu segera memasukan kakinya yang lagi menggantung di pinggir tempat tidur ke dalam selimut, saat melihat ada pria yang ikut masuk di belakang dr Kirana.

"Ngga pa'pa, Enni. Ini pengacara yang diutus Pak Mathias untuk membantumu." Kirana berkata cepat, saat melihat reaksi Enni yang mulai kaku dan agak tegang.

"Hai... Saya Bagas... Kau bisa makan dengan baik?" Bagas berjalan mendekati Enni dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Enni. Ia tidak mau menanggapi sikap kaku Enni. Bagas coba menciptakan atmosfir keakraban antara dirinya dan Enni.

Sapaan Bagas membuat Kirana tersenyum dalam hati. Seharusnya itu yang dia tanyakan atau perawat. Malah Bagas bertanya dengan santai, seakan sudah mengenal Enni sebelumnya. Hal itu membuat Enni melihat Bagas dengan suasana hati yang lebih tenang.

Enni perlahan mengulurkan tangannya menyambut tangan Bagas dengan hati-hati. "H ... Bisa, Pak..." Jawab Enni kikuk, mau menjawab sapaan Bagas, dengan hai. Tapi itu membuat Bagas tersenyum dalam hati, bisa membuat Enni agak bingung sehingga tidak fokus pada rasa traumanya kepada pria.

"Alhamdulillah... Berarti sudah bisa beri keterangan, ya." Bagas berkata setelah melepaskan tangan Enni lalu melihat ke arah Kirana dan juga Enni bergantian untuk mengetahui kesiapan Enni. Kirana dan Enni mengangguk mengiyakan.

Bagas mengambil kursi, lalu letakan dekat ranjang Enni. Kemudian duduk dan meletakan tas kerja di dekat kakinya. Bagas mengeluarkan semua perangkat untuk wawancara. Dia sengaja mengabaikan semua yang dialami Enni, agar mereka bisa melangkah ke arah investigasi.

Bagas tidak mau berkomentar tentang semua luka Enni yang mulai kering dan memudar di wajahnya. Walau hatinya sangat penasaran dengan perkembangan semua luka yang diderita Enni. Dia fokus pada semua perangkat yang akan digunakan, agar Enni juga ikut fokus pada kejadian yang dia alami.

"Saya mau minta keterangan, jadi harap kerja samanya. Semua yang akan dikatakan harus sesuai dan benar. Jika ragu-ragu, katakan anda tidak yakin dengan jawaban itu." Bagas berkata dengan serius, sambil melihat Enni yang sudah duduk tegak di atas tempat tidur. Melihat keseriusan Bagas, Enni mengangguk kuat. Hal itu membuat Kirana merasa lega.

...~▪︎▪︎▪︎~...

...~●○¤○●~...

1
siapa saja
ini ceritanya bagus banget, penulisan bagus, emosinya tersampaikan, dan pesan atau moral dalam cerita juga bisa didapat.... sukses selalu author🙏
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Amin 🙏

Waaah.. 👍🏻❤️ Makasih dukungannya Kak. Smg selalu sehat & bahagia di mana pun berada 🙏😍🤗
total 1 replies
Sheety Saqdiyah
terimakasih banyak² buat author, yg telah menyajikan cerita yg bukan hanya sekedar menghibur saja, tp jg memberikan pesan² kehidupan yg luar biasa.. /Good//Good//Good//Good//Good/
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Waaaah . 🤭👍🏻❤️ Makasih dukungannya Kak. smg sehat & bahagia sllu. 🙏😍🤗
total 1 replies
Betty
bagus jg menguras air mata & emosi.
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: wuaaaah 🤭👍🏻❤️
Makasih dukungannya Kak ..🙏😍🤗
total 1 replies
sukensri hardiati
/Pray//Ok//Good//Heart//Rose//Gift/
sukensri hardiati
alhamdulillah.....makasiiih...../Heart/
sukensri hardiati
/Sob//Sob//Heart/
sukensri hardiati
baru nemu ini setelah selesai baca kualitas mantan...
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Oh iya Kak. makasih dujungannya.🙏❤️😍🤗

itu novel lanjut dari "Jejak Luka" 🙏
total 1 replies
Agus Tina
Baguus sekali ceritanya ....serasa benar2 ikut dlm persidangan Enni
Gendhis
saking lama nya di sekap oleh berry, untuk di jadikan budak pemuas nafsu,
Gendhis
yuhhhhh🙈🙈🙈🙈 berfungsi lagi gak tuh joni nyaa 🤣🤣🤣
☠ႦαRAkudA
lanjuuut
☠ႦαRAkudA
berdoa lah, Krn usaha tanpa doa bagai sayur tanpa garam
☠ႦαRAkudA
semoga hari pembalasan buat si durjana segera tiba
☠ႦαRAkudA
cerdas sekali kau dokter..
☠ႦαRAkudA
bener2sadis yg nyiksa ya...sereem
☠ႦαRAkudA
kabur yg jauuuuh en, yang gak mungkin ditemukan oleh orang2 tak berhati itu
Bambut That
woiiiii.... keren thor... makasih banyak banyak ya thor... kisah nya buat ku meleleh
Bambut That
bisa meleleh dibuatnya
Bambut That
Emily jadian sama Bram saja
Bambut That
cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!