DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18-LANGKAH ANGIN
jendral iblis itu mencoba memberontak..
"lepaskan, lepaskan aku. Dasar manusia hina, apa kau tak tau kalau aku ini salah satu jendral iblis di lembah hantu" teriaknya.
Kirana tak bergeming, ia tetap diam. Namun bayangan hitam menguatkan cengkraman.
Krak...
Cras....
"aaaa ....."
satu lengan dan satu kaki iblis langsung hancur berkeping keping.
Darah hitam mencipta kemana mana, namun tak sampai mengenai Kirana karena bayangan hitam keburu melindunginya.
Tak hanya sampai di situ, muncul bayangan hitam lain yang menerjang langsung perut jendral iblis itu hingga berguling guling di atas lumpur.
Baru saja bayangan itu berhenti terguling, bayangan dari benteng mulai menggeliat.
Sebuah tangan hitam tiba tiba menjulur dari sana dan menangkap leher iblis itu.
Tubuh iblis terangkat, bahkan kakinya sudah tak menapak tanah lagi.
Ia mencoba memberontak, namun dengan hanya satu tangan dan satu kaki tersisa. Iblis itu tak dapat berbuat banyak.
"Gadis manusia, kau akan menanggung akibatnya karena telah berani memperlakukan hal seperti ini kepada jendral ini"marahnya.
Kirana melirik tajam.
"jendral...?"
"hanya dengan kekuatanmu, kau tak ada bedanya dengan para hantu sampah ini. Bahkan kau ratusan kali lebih lemah dari babi yang pernah ku lawan"
setelah mengatakan itu, Kirana kembali berbalik.
Pikirannya masih di penuhi oleh Raka. Saat Kirana berbalik, sebuah kilatan muncul di dekat jendral iblis.
Kirana yang menyadari kalau tekniknya di serang ia berbalik.
Namun terlambat, bola api seukuran mobil sudah mengarah kepadanya.
Dan kini bola api itu hanya berjarak kurang dari 10 kaki lagi.
bom.....
Api membumbung tinggi, bahkan sampai menyebabkan bentuk jamur di permukaan.
Hutan yang sudah tak ada pergerakan, kini bergetar cukup kencang.
Raka yang masih menelusuri rawa tiba tiba berhenti melangkah, tatapannya tertuju ke awan jamur di kejauhan.
"Kirana" gumannya.
Ia berlari, bahkan langsung menerobos akar akar tanpa membersihkannya lagi.
Tak peduli ada duri yang menusuk atau lengan yang sesekali terbentur.
Kini semua itu tak terasa, pikirannya hanya fokus ke satu sosok di depan.
Setelah ledakan usai, perlahan air dan lumpur berjatuhan seperti hujan.
Menghilangkan efek ledakan yang membuat pandangan mata terganggu.
Setelah semuanya jelas, kawah selebar 300 meter dengan dalam lebih dari 40 meter terlihat.
Di tengah kawah, ada satu bola hitam.
Krak.....
Retakan menjalar perlahan, sebelum menampilkan isinya.
setelah pecah sepenuhnya, terlihat Kirana dengan satu tangan yang seakan tak memiliki tulang lagi.
Melambai ke sana kemari.
Darah pun kemana mana membasahi baju yang sebagian sudah robek.
Sedangkan di atas gerbang, ada 3 sosok berdiri dengan salah satunya tak memiliki satu kaki dan tangan.
"kakak, terima kasih" ungkap sosok iblis yang mengaku jendral sebelumnya.
"tak usah berterima kasih kepada kami, berterima kasihlah kepada raja. Kami sendiri belum mampu mengeluarkan kekuatan sedahsyat itu" ungkap 2 lainnya.
Setelah itu, sosok jendral iblis kembali menatap ke arah Kirana dengan penuh niat membunuh.
"kakak apa boleh aku yang mengeksekusinya."
"lakukan saja, tapi cepat. Raka tak suka menunggu terlalu lama"
"baik kak" setelah mengatakan itu.
sosok jendral iblis mengeluarkan sebuah pedang.
Kakinya mengayun,.
Bus....
jendral iblis itu menghilang, hanya menyisakan ledakan suara yang memekakkan telinga saja.
Kirana yang menahan kakinya dengan satu lutut mendongak, menatap kelebatan hitam yang mengarah ke arahnya.
Kirana mencoba berdiri, namun ia terjatuh lagi.
"gadis manusia, tamatlah riwayat mu"
dalam sekejap jendral iblis itu sudah berada di depannya.
Slas....
Bug....
sebuah tangan dan kepala terjatuh seketika di kawah itu.
"adik ke tiga...."
wajah senang dua sosok iblis yang baru datang tadi langsung berubah, kini tatapannya menatap pria yang berdiri di depan Kirana dengan pedang panjang di tangan.
Darah hitam menetes dari pedang itu.
Kirana yang tadi sudah memejamkan matanya, sedikit membukanya.
"Raka..."
Raka menoleh...
"maaf aku terlambat lagi."
"sekarang istirahat lah biar aku yang mengurus dua bajingan ini".
Kirana langsung memegang tangan Raka saat melihat pupil mata Raka sudah mulai berputar.
"jangan keluarkan kekuatan itu lagi, kau ingat janji kita kan. Jika kau nekat aku juga akan melepaskan segel dari Mbah"
seketika pupil mata Raka berhenti berputar.
"baiklah, kau pulihkan dirimu dulu. Aku tak akan menggunakan kekuatan itu sekarang."
Kirana menatap dua iblis yang tengah berdiri, di atas gerbang.
Ia sedikit mengangguk...
"baiklah, tapi kau harus tetap waspada. Mesalah sebenarnya bukan ada di dua iblis itu"
Raka mengelus kepala Kirana.
"tenanglah, aku tau hal itu." ungkap Raka.
Kirana yang awalnya berwajah serius langsung cemberut, ia pun menepis tangan Raka.
"jangan sok dewasa"
dua iblis yang sedari tadi hanya diam, langsung menatap dengan niat membunuh yang sangat pekat.
Bahkan hawa dinginnya sampai terasa di tempat Raka berdiri.
Raka sedikit bergidik..
namun ia sama sekali tak menampilkan raut ketakutan, malahan Raka menyipitkan matanya.
"entah berapa ribu nyawa yang telah di habisi oleh dua iblis ini" batin Raka.
Bukan takut, tapi darahnya mendidih membayangkan korban korban dua iblis di depannya ini.
"bocah, tindakanmu telah terlalu melebihi batas. Dengan beraninya kau membunuh adik ke 3 kami"
"tak hanya dia, tapi kalian akan menjadi yang selanjutnya"
suara Raka kini menjadi dingin, jauh berbeda dengan suaranya saat berbicara dengan Kirana tadi.
Raka melangkah perlahan, satu per satu belati keluar sendiri dari tas belatinya.
Belati belati itu terus berputar-putar di belakang tubuh Raka.
"manusia, perkataan mu besar juga. Adik ke 2"
ucap sosok iblis yang paling tinggi dengan 3 tanduk di kepalanya.
Sosok bertanduk dua yang di panggil adik ke 2 mengangguk.
Ia sudah siap dengan dua pedang melengkung sempurna di kedua tangannya.
"serahkan bocah ingusan ini kepadaku kak"
wus...
Tubuh sosok itu melesat seperti roket, mengarah langsung ke tempat Raka berdiri.
sedangkan Raka, mendongak.
"langkah angin" ucapnya.
Setelah ucapan itu, bergerak.
Namun berbanding terbalik dengan iblis tadi, langkah Raka terasa sangat hening dan ringan.
Bahkan tanah kecil tak berubah sama sekali saat di lewati, seakan ia tak pernah memijak tanah itu.
Walau begitu gerakannya tak lambat, bahkan terkesan sangat cepat.
Ting....
Percikan api terlihat di udara, dua pedang beradu sepersekian detik sebelum keduanya mundur.
Namun tak hanya sampai di situ, keduanya kembali bergerak.
Sedangkan iblis yang di sebut kakak pertama mengerutkan kening.
"gerakan ini... Jika terus begini adik ke 2 akan sulit menang"