NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: BEKAS LUKA

Sinar rembulan malam menembus kaca jendela kamar utama di kediaman Ranti di kawasan Dharmawangsa. Suasana begitu hening, hanya diselingi deru halus pendingin udara dan detak jarum jam dinding yang konstan.

Ranti duduk di tepi tempat tidur berukuran king size yang membentang luas. Ia mengenakan pajamas sutra berwarna biru malam yang lembut. Rambut bob-nya terurai bebas membingkai wajahnya yang pucat. Di atas pangkuannya, terbaring sebuah cermin rias mungil berbingkai perak.

Mata Ranti menatap lekat pada bayangan dirinya di cermin. Ia menyusuri garis lehernya, lalu menyingkap sedikit bagian bawah bajunya, memperlihatkan tato bunga peony anggun yang membingkai bekas luka caesar melahirkan Bima.

Tato itu memang indah, sebuah karya seni yang dipuji semua orang sebagai simbol kebangkitan. Namun malam ini, di dalam keheningan kamar yang sepi, Ranti sadar akan sebuah kenyataan yang teramat dingin:

Tato ini bisa menutupi bekas luka di kulitku... tapi tidak ada tinta atau pujian apa pun di dunia ini yang sanggup menghapus cacat trauma di dalam jiwaku.

Ranti memejamkan mata rapat-rapat. Gelombang kelelahan batin yang amat dalam merayap dari dasar dadanya.

Pernikahannya dengan Sony yang hancur lebur bukan sekadar meninggalkan status janda atau berkas perceraian di lemari kantor. Pernikahan lima tahun yang dipenuhi manipulasi, tuduhan palsu, selingkuh dengan adik angkat yang ia sayangi, hingga paksaan mengalah menyerahkan hak asuh formal Bima... telah menjelma menjadi cacat seumur hidup.

Sebuah trauma psikologis yang membekas seperti parut permanen. Setiap kali ada kehangatan yang mendekat—bahkan kehangatan setulus dan seindah Farhan—dinding pertahanan jiwa Ranti refleks membeku, dipenuhi rasa takut yang membakar bahwa kebahagiaan itu hanyalah ilusi lain sebelum pengkhianatan baru menghantamnya kembali.

Keesokan Sore – Taman Belakang Kediaman Ranti

Langit sore Jakarta disiram pendar warna jingga keemasan yang syahdu. Angin sejuk berhembus pelan mempermainkan dahan-dahan pohon kamboja di sudut taman belakang.

Farhan duduk di kursi kayu teras, mengenakan kemeja kasual berwarna krem yang lengannya digulung santai. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hitam yang mulai mendingin terabaikan. Pandangan mata di balik kacamata tipisnya tertuju pada Ranti yang berdiri di dekat kolam ikan, memandangi pantulan air tanpa bersuara sedikit pun sejak setengah jam lalu.

Farhan yang amat peka dan bijaksana menyadari ada beban emosional yang amat berat yang sedang mengunci jiwa Ranti beberapa hari belakangan. Pria itu berdiri perlahan, melangkah mendekati Ranti dengan gerakan yang teramat halus agar tidak mengejutkannya.

"Ranti..." panggil Farhan dengan suara baritonnya yang tenang, lembut, dan menenangkan.

Ranti tertegun pelan, tidak membalikkan badan, namun sudut matanya bergetar. "Farhan..."

Farhan berdiri di samping Ranti, ikut memandangi riak air kolam. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa saat sebelum Farhan akhirnya membuka suara dengan kejujuran yang dalam.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Ran?" tanya Farhan pelan. "Sejak kemarin, tatapan matamu terasa sangat jauh... seolah kamu sedang berdiri di balik dinding tebal yang tidak bisa kusentuh."

Ranti meremas kedua telapak tangannya sendiri di depan tubuhnya. Ia menghembuskan napas panjang—napas yang berat dan sarat akan kepedihan yang tertahan.

"Farhan..." panggil Ranti, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh. "Boleh aku jujur padamu?"

"Tentu saja, Ran. Aku selalu ada di sini untuk mendengarkanmu," sahut Farhan seraya memutar tubuhnya menghadap Ranti.

Ranti membalikkan badannya perlahan, mendongak menatap lurus ke dalam pendar mata Farhan yang teduh. Air mata yang hangat mulai berkaca-kaca di sudut mata Ranti.

"Aku takut, Farhan..." bisik Ranti, sebuah pengakuan jujur dari kedalaman jiwanya yang paling kelam.

Farhan menatap Ranti dengan pendar empati yang dalam. "Takut akan apa, Ranti?"

"Takut padamu... takut pada perasaan ini... dan takut pada masa depan," rintih Ranti dengan air mata yang mulai menetes melintasi pipinya yang halus.

Ranti menggelengkan kepalanya pelan, suaranya bergetar hebat.

"Dalam kehidupan ini... kisah percintaanku sudah hancur lebur tanpa sisa, Farhan," tutur Ranti dengan kejujuran yang menusuk dada. "Aku pernah percaya penuh pada seorang pria yang kusebut suami, menyerahkan masa mudaku, menjaga egonya, hingga menganggap wanita lain sebagai adikku sendiri... Dan apa balasannya? Pengkhianatan, fitnah keji, dan hilangnya hak asuh anakku di hari-hari kerja."

Ranti meraba dadanya yang terasa begitu sesak.

"Pernikahan itu merusak caraku memandang cinta, Farhan. Trauma ini... ini seperti cacat seumur hidup yang membekas di dalam jiwaku. Tidak bisa hilang."

Farhan mendengarkan setiap patah kata Ranti dengan ketenangan seorang pria sejati, meski dadanya merasa teriris melihat kepedihan wanita yang dicintainya sejak kecil itu. Farhan tidak menyela, ia membiarkan Ranti menumpahkan seluruh kepahitannya.

"Setiap kali kamu tersenyum padaku..." lanjut Ranti dengan napas tersengal, "...setiap kali kamu dan Tante Rida memperlakukanku dengan sangat manis dan tulus... ada bagian dari diriku yang ketakutan setengah mati. Ada suara di dalam kepalaku yang berbisik: 'Jangan percaya. Nanti kalau kamu menyerahkan hatimu lagi, kamu akan dihancurkan lebih parah dari sebelumnya.'"

Ranti menundukkan kepalanya, tangisnya pecah secara halus di dalam keheningan taman sore itu.

"Aku tidak bisa, Farhan... Aku tidak tahu apakah aku akan pernah sanggup untuk mencintai seseorang lagi dengan utuh. Hatiku sudah terlalu cacat oleh pengkhianatan itu."

Suasana taman menjadi teramat hening. Angin sore berhembus pelan mempermainkan helai rambut bob Ranti.

Farhan tidak panik, tidak marah, dan sama sekali tidak merasa tersinggung oleh ketakutan Ranti. Sebagai seorang pria dewasa yang berwawasan luas dan memiliki kematangan emosional yang tinggi, Farhan paham betul bahwa trauma akibat manipulasi dan pengkhianatan pernikahan tidak bisa disembuhkan sekadar dengan kata-kata manis atau paksaan cinta baru.

Farhan melangkah satu titik lebih dekat. Ia tidak memeluk Ranti secara paksa, melainkan mengulurkan tangannya secara perlahan, menyapu air mata di pipi Ranti dengan ujung jarinya yang hangat dan lembut.

"Ranti... tatap aku," panggil Farhan dengan suara bariton yang teramat dalam dan penuh kelembutan.

Ranti perlahan mengangkat wajahnya, menyambut tatapan mata Farhan di balik kacamata tipisnya. Pendar mata Farhan tidak memancarkan kekecewaan, melainkan ketulusan dan kesetiaan yang tak bertepi.

"Terima kasih..." buka Farhan pelan, "...terima kasih sudah sangat jujur padaku tentang ketakutan dan traumamu."

Ranti tertegun mendengarnya.

"Aku tidak pernah meminta atau menuntutmu untuk menyembuhkan trauma itu dalam sekejap, Ranti," tutur Farhan dengan intonasi yang begitu menenangkan jiwa. "Aku juga tidak pernah menuntutmu untuk membalas perasaanku atau terburu-buru membuka hatimu jika kamu belum siap."

Farhan menautkan jemarinya di atas tangan Ranti yang dingin, memberikan genggaman yang stabil dan penuh kepastian.

"Trauma itu memang membekas, Ran. Seperti bekas luka di perutmu... itu adalah bagian dari sejarah hidupmu yang telah membuatmu menjadi wanita yang sangat kuat dan bijaksana hari ini," lanjut Farhan dengan pendar mata yang sangat jujur. "Kamu tidak perlu malu atau merasa bersalah karena memiliki bekas luka itu."

Farhan tersenyum tipis—sebuah senyuman paling tulus yang memancarkan pendar cinta yang disimpan selama puluhan tahun sejak mereka masih kecil di Menteng.

"Jika bagimu kisah percintaanmu di masa lalu telah hancur lebur..." tegas Farhan dengan nada bariton yang mantap, "...maka dengarkan aku: Aku hadir di sini bukan untuk merangkai kembali puing-puing masa lalumu yang hancur itu. Aku hadir di sini sebagai Farhan... pria yang akan tetap berada di sampingmu, menjagamu, dan menghormati setiap proses penyembuhan jiwamu tanpa syarat."

Ranti menatap Farhan dengan pendar mata yang bergetar haru. Rasa hangat yang amat tulus merayap dari genggaman tangan Farhan, menjangkau sudut-sudut hatinya yang dingin dan ketakutan.

"Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku tidak pernah bisa sembuh dari trauma ini, Farhan?" bisik Ranti lirih.

Farhan menatap mata Ranti tanpa kedip, menyunggingkan senyuman hangat yang meruntuhkan sisa-sisa tembok ketakutan di jiwa Ranti.

"Maka aku akan tetap berada di sini," jawab Farhan dengan kepastian yang utuh. "Sebagai teman masa kecilmu, sebagai pelindungmu, sebagai pria yang akan selalu menyambutmu dan Bima di setiap akhir pekan. Kamu tidak perlu berubah menjadi orang lain untuk pantas dicintai, Ranti. Bagiku, dengan segala bekas luka dan kelebihanmu... kamu sudah lebih dari cukup."

Kata-kata Farhan bagaikan minyak hangat yang menyiram parut luka di jiwa Ranti. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam ketakutan atas pengkhianatan Sony, Ranti merasakan sebuah kedamaian yang sejati.

Farhan tidak hadir untuk menuntut cinta atau kepemilikan; Farhan hadir sebagai ruang aman di mana Ranti diperbolehkan menjadi dirinya sendiri—utuh dengan segala bekas luka traumanya tanpa takut akan dihakimi atau dikhianati lagi.

Ranti menghembuskan napas panjang, sebuah senyuman tipis dan tulus perlahan mekar dari bibirnya yang anggun di tengah sisa-sisa air mata di pipinya.

"Terima kasih, Farhan..." bisik Ranti tulus, membalas genggaman tangan Farhan dengan hangat. "Terima kasih karena tidak pernah memaksa hatiku yang terluka ini."

"Sama-sama, Ranti," sahut Farhan dengan pendar mata yang dipenuhi harapan dan kesetiaan abadi.

Malam Hari – Kediaman Ranti

Malam makin larut ketika Farhan pamit pulang usai menyantap makan malam sederhana bersama Ranti.

Ranti berdiri di balik jendela kaca kamar utamanya, memandangi mobil sedan milik Farhan yang melaju perlahan meninggalkan pelataran rumahnya. Angin malam berhembus lembut mempermainkan tirai sutra.

Ranti meraba dadanya yang kini terasa jauh lebih lapang dan tenteram. Cacat trauma itu mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya dari ingatannya. Bayang-bayang pengkhianatan Sony dan hilangnya pengasuhan Bima di hari kerja akan tetap menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

Namun malam ini, Ranti menyadari sebuah kebenaran baru: bahwa bekas luka tidak lagi mendikte masa depannya.

Ia adalah Ranti Anindita—seorang pimpinan korporasi yang sukses, seorang ibu yang penuh cinta dan pengorbanan bagi Bima di setiap akhir pekan, dan seorang wanita merdeka yang kini berjalan berdampingan dengan seorang pria sejati yang menerima seluruh bekas lukanya dengan penuh rasa hormat dan cinta abadi.

Ranti mematikan lampu kamar utamanya, melangkah menuju tempat tidur dengan napas yang teratur dan damai. Di balik kegelapan malam Jakarta, jiwa Ranti telah menemukan tempat pulihnya yang sejati—siap menyongsong esok hari dengan kejayaan, keberanian, dan kedamaian yang tak akan pernah bisa dirampas oleh siapa pun lagi.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!