Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laci
Aris tidak membuang waktu untuk menebak-nebak di TKP. Dia memasukkan gembok besi berlogo dinas pekerjaan umum tersebut ke dalam kantong barang bukti.
"Januar, bawa Herman ke markas untuk pengamanan dan pemeriksaan alibi lebih lanjut. Aku akan memeriksa kantor tempatnya bekerja sendirian," perintah Aris.
Aris memacu Toyota Corolla DX miliknya menuju pusat administrasi Kota Marunda. Gedung Dinas Pekerjaan Umum adalah bangunan bergaya kolonial berlantai dua. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14.30. Udara kota terasa gerah, sangat kontras dengan hawa mencekam yang terus membayangi kasus ini.
Aris masuk ke dalam lobi utama, jaket kulit cokelatnya yang sedikit kotor langsung menarik perhatian beberapa pegawai yang lalu lalang. Dia segera menuju ke ruangan bagian logistik dan pemeliharaan aset, tempat di mana gembok dinas seperti yang ditemukannya di pekarangan belakang biasanya disimpan dan dicatat.
Di dalam ruangan yang dipenuhi cetak biru proyek dan lemari arsip, seorang kepala logistik bernama Pak subroto (50 tahun) sedang memeriksa berkas.
"Ada yang bisa saya bantu, Detektif?" tanya Pak Subroto, mengenali lencana polisi yang ditunjukkan Aris. Aris meletakkan gembok besi itu di atas meja.
"Saya butuh data distribusi gembok jenis ini. Siapa saja pegawai yang memegang kunci atau memiliki akses untuk mengambil gembok dengan nomor seri khusus ini dalam tiga hari terakhir?"
Pak Subroto memakai kacamata bacanya, lalu mengamati nomor seri yang terukir di bagian bawah gembok. Dia membuka sebuah buku besar laporan inventaris yang tebal.
"Ini gembok inventaris khusus untuk area gudang peralatan berat di sektor barat, Detektif," ujar Pak Subroto sambil menyusuri catatan dengan jarinya.
"Hanya ada dua orang yang memegang kunci aksesnya. Yang pertama adalah Herman... dan yang kedua adalah pimpinan proyek mereka, Ir. Anwar."
Pak Subroto mendongak, melihat Aris dengan cemas. "Tapi, Ir. Anwar seharusnya sedang tidak ada di kota. Herman melaporkan bahwa Ir. Anwar yang menyuruhnya pergi ke dinas luar kota sejak dua hari lalu untuk menggantikannya memantau proyek pesisir."
Jika Ir. Anwar yang mengirim Herman pergi ke pesisir, yang ternyata dijadikan Herman sebagai kesempatan menyelinap ke Lereng Kelam, maka Anwar memiliki motif kuat untuk mengosongkan rumah nomor 42. Anwar tahu kapan rumah itu sepi dari sang suami.
Namun, apakah Anwar bekerja sendirian, atau dia memiliki hubungan terselubung dengan teror dukun Ki Raksamaloka dari Lereng Kelam?
Aris tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Pak Subroto lengah. Dengan dalih ingin memastikan berkas proyek penugasan Herman, Aris menuju ruangan tertutup di lantai dua—ruang kerja Ir. Anwar.
Suasana di koridor lantai atas terasa sepi karena sebagian besar pegawai sedang beristirahat siang. Ruangan itu rapi, berbau minyak wangi mahal, dengan sebuah meja kerja besar dari kayu jati yang mendominasi tengah ruangan.
Aris menutup pintu dan langsung bergerak menuju meja tersebut. Mata detektifnya dengan cepat memindai tumpukan cetak biru jembatan dan dokumen kedinasan di atas meja. Tidak ada yang aneh di permukaan.
Dia mulai membuka laci meja satu per satu. Laci pertama dan kedua hanya berisi alat tulis, nota dinas, dan beberapa stempel proyek. Saat mencoba menarik laci paling bawah di sisi kanan, laci itu terkunci. Aris meraba saku jaket kulitnya, mengeluarkan pisau lipat miliknya.
Dengan keahlian yang terasah selama bertahun-tahun di kepolisian, dia memasukkan bilah pisau itu ke celah kunci laci, mengotak-atik mekanismenya dengan sabar selama beberapa detik.
Begitu laci ditarik terbuka, fokus Aris langsung tertuju pada sebuah objek yang terasa sangat asing di lingkungan kantor pemerintahan modern tahun 1989 ini.
Di balik tumpukan map laporan anggaran, tersembunyi kotak beludru hitam kecil. Aris membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya sebuah botol kaca obat kecil bersumbat gabus.
Saat Aris mengarahkannya ke cahaya lampu meja, botol itu berisi sisa bubuk ungu pekat yang persis sama dengan yang ditemukan di bawah kuku mendiang Ratna.
Di samping botol tersebut, selembar surat berkop resmi keluarga Hadiningrat dari tahun 1959 yang sudah menguning, berisi memo rahasia pembagian kompensasi bawah tangan untuk proyek pembukaan lahan teh lama di lereng Gunung Kelam.
Bukti ini tak terbantahkan. Ir. Anwar bukan sekadar atasan Herman di kantor dinas; dia adalah orang yang menyusup ke rumah nomor 42, meracuni Ratna dan Dani dengan ekstrak kecubung hitam, dan tampaknya memiliki keterkaitan erat dengan konspirasi lama yang melibatkan nama Hadiningrat.
Gagang pintu ruangan bergerak dari luar. Seseorang sedang membuka pintu ruang kerja Ir. Anwar yang sengaja dikunci Aris dari dalam.