• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Momen di Bawah Pohon Beringin
Suasana di bawah pohon beringin itu sangat sunyi, hanya ditemani oleh suara jangkrik sore dan gesekan daun-daun yang tertiup angin sepoi-sepoi. Eca duduk di ujung bangku kayu, menjaga jarak aman sekitar tiga puluh sentimeter dari posisi duduk Angkasa. Angkasa menyandarkan punggung tegapnya secara santai pada sandaran bangku, menatap lurus ke arah langit senja yang berwarna keemasan.
"Alesya," memanggil nama asli Eca dengan suara baritonnya yang sangat rendah, lembut, dan terdengar begitu serak-serak basah di keheningan sore itu.
Eca menoleh perlahan, jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya. "Kenapa?"
"Kenapa lo milih buat nyamar jadi cewek cupu kayak gini di SMA Taruna Bangsa?" tanya Angkasa langsung pada intinya, tanpa ada nada intimidasi, murni hanya ketertarikan yang sangat mendalam yang terpancar dari sorot mata elangnya yang kini menatap lekat ke arah mata Eca. "Foto di kartu pelajar lama lo... lo keliatan jauh lebih hidup dan bahagia di SMA Wijaya dulu. Apa yang sebenarnya lo lariin sampai terpaksa masang topeng bodoh ini tiap hari?"
Mendengar pertanyaan itu, senyuman di wajah Eca mendadak lenyap seketika. Tubuhnya menegang kaku, dan sepasang matanya berkedip panik di balik lensa kacamata tebalnya. Trauma masa lalu tentang perundungan hebat, makian, dan pengucilan yang dia alami di sekolah lamanya mendadak berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak, membuat dadanya terasa sesak dan air mata murni mulai menggenang di sudut pelupis matanya.
Eca menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas tali tas ransel di pangkuannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Gue... gue cuma mau sekolah dengan tenang, Angkasa. Gue nggak mau apa yang terjadi di SMA Wijaya dulu terulang lagi di sini. Gue capek dibilang pembawa sial... capek dikucilin satu sekolah..." bisik Eca dengan suara yang bergetar hebat, menahan tangisnya agar tidak pecah di depan cowok ini.
Melihat bahu kecil Eca yang berguncang pelan dan mendengar nada keputusasaan yang amat nyata dari vokal asisten pribadinya, kilatan posesif yang biasa membayang di wajah Angkasa mendadak mencair sepenuhnya. Ada rasa sesak yang aneh menghantam dada Angkasa saat melihat air mata mulai menetes membasahi pipi cewek di sebelahnya.
Secara perlahan dan sengaja lembut, Angkasa mengikis sisa jarak di antara mereka. Dia mengulurkan tangannya yang hangat, meraih pergelangan tangan Eca yang meremas tas, lalu menarik tubuh mungil cewek itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Jemari tangan Angkasa yang hangat bergerak naik dengan sangat lembut, menyentuh ujung bingkai kacamata tebal Eca. Dengan gerakan yang sangat telaten dan hati-hati, Angkasa menarik kacamata itu lepas dari hidung Eca, meletakkannya di atas bangku kayu, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menghapus setitik air mata yang jatuh di pipi mulus Eca.
Begitu kacamata itu lepas, sepasang mata asli Eca yang indah, bulat, dan basah oleh sisa air mata kini terpampang nyata di bawah siraman cahaya senja jingga yang hangat. Angkasa tertegun memandangi kecantikan murni yang terpancar dari wajah asli Eca tanpa penghalang apa pun. Wajah asli yang hanya boleh dilihat oleh dirinya sendiri di dunia ini.
Angkasa memajukan wajah tampannya secara perlahan, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka berdua saling bersentuhan dengan sangat lembut, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat bulu kuduk Eca merinding parah. Eca menahan napasnya rapat-rapat, kedua tangannya otomatis bertumpu pada dada bidang Angkasa, merasakan debaran gila yang berdentum brutal dari dalam rongga dada cowok itu.
"Dengar, Alesya," bisik Angkasa tepat di depan bibir Eca, suaranya terdengar sangat dalam, hangat, dan dipenuhi oleh rasa protektif yang luar biasa besar. Hembusan napas hangatnya yang beraroma segar menyapu permukaan kulit wajah Eca yang sensitif. "Gue nggak peduli seburuk apa masa lalu lo di SMA Wijaya dulu. Dan gue nggak peduli seberapa banyak orang yang mau ngehancurin hidup lo. Mulai detik ini, selama lo berdiri di belakang punggung gue sebagai milik gue... nggak akan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa nyentuh atau bikin lo nangis lagi. Termasuk Reno, Fanya, atau siapa pun dari masa lalu lo."
Angkasa bergerak turun, mengecup lembut puncak kepala Eca dengan gerakan yang sangat lama dan sarat akan penekanan posesif yang mutlak, seolah sedang menyegel sebuah janji suci di antara mereka di bawah langit senja yang mulai menggelap.
Rona merah padam langsung meledak hebat di sekujur wajah Eca, menjalar cepat sampai ke telinga dan lehernya. Dia bener-bener salting brutal tingkat dewa sampai bingung harus bernapas lewat mana, otaknya sudah benar-benar lumpuh total tidak bisa memikirkan kalimat bantahan apa pun saking intimnya diperlakukan seperti itu oleh sang penguasa sekolah yang kini resmi bertindak sebagai pelindung sejatinya.
Momen romantis di bawah langit senja panti asuhan benar-benar mengubah dinamika hubungan Eca dan Angkasa secara mendalam! Angkasa berjanji akan melindungi Eca dari semua ancaman masa lalunya, membuat Eca semakin sulit untuk lepas dari jeratan posesif sang Ketua OSIS.