Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Rian tiba di kediaman mertuanya pada sore hari yang agak mendung.
Ia berdiri di depan pagar cukup lama sebelum memberanikan diri menekan bel. Napasnya berat. Di tangannya ia menggenggam amplop cokelat yang berisi surat cerai yang kemarin ia tandatangani di bawah tekanan ibunya dan adiknya. Ia tidak datang untuk meminta rujuk. Ia sudah terlalu lelah, terlalu bersalah, dan terlalu sadar bahwa segalanya sudah terlambat.
Ceklek...
Pintu terbuka. Maya, yang menyambutnya. Wajah wanita paruh baya itu dingin, tapi tetap sopan.
“Rian. Ada perlu apa?”
“Saya ingin bertemu Mia, ma” jawab Rian pelan.
Maya menatapnya sebentar, lalu mempersilakan masuk. Di ruang tamu, Mia sudah duduk menunggu. Ia mengenakan baju rumah yang sederhana, rambutnya diikat, dan wajahnya. Kayla tidak terlihat, kemungkinan sedang bermain di dalam.
Rian berdiri di tengah ruangan, merasa canggung. Ia mengulurkan amplop itu kepada Mia.
“Ini, surat cerainya. Sudah aku tanda tangani.” ucap Rian dengan wajah sendu.
Mia menerima amplop tersebut tanpa banyak ekspresi. Ia membuka isinya, memeriksa tanda tangan Rian, lalu mengangguk pelan.
“Terima kasih sudah menandatangani.” katanya singkat.
Rian mengharapkan setidaknya ada pertanyaan, ada kemarahan, atau bahkan air mata. Tapi tidak ada. Hanya ketenangan yang membuat dadanya semakin sesak.
“Mia… aku—”
“Tidak usah,” potong Mia lembut tapi tegas. Ia mengangkat wajah, menatap suaminya langsung. “Kamu sudah memilih. Kamu menandatanganinya karena takut adikmu masuk penjara. Bukan karena kamu ingin melepaskanku dengan rela. Aku sudah mengerti posisiku selama ini.”
Rian menunduk. Ia tidak bisa membantah. “Aku minta maaf. Untuk semuanya.”
Mia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Maaf tidak mengubah apa pun, Rian. Aku sudah jual rumah itu. Aku sudah mulai bekerja lagi. Aku sudah memutuskan untuk berdiri sendiri bersama Kayla. Kamu bebas sekarang. Bebas membela ibumu, adikmu, siapa pun. Aku tidak akan menghalanginya lagi.” ucapnya penuh rasa kecewa.
Wahyu yang sejak tadi berdiri di ambang pintu hanya mengamati dalam diam. Ia tidak ikut campur, tapi tatapannya jelas melindungi putrinya.
Rian ingin bilang banyak hal. Ingin bilang bahwa ia menyesal, bahwa ia seharusnya membela Mia sejak awal, bahwa ia takut kehilangan. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Yang bisa ia lakukan hanya mengangguk pelan.
“Aku… akan urus sisanya. Soal hak asuh, soal apa pun yang perlu dibicarakan,” katanya akhirnya.
Mia mengangguk. “Nanti lewat jalur resmi saja. Sekarang, aku minta kamu pulang.”
Rian berdiri diam beberapa detik, menatap wajah istri yang dulu ia cintai. Lalu ia berbalik, berjalan keluar rumah mertuanya tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, pintu tertutup pelan.
Mia meletakkan surat cerai itu di atas meja. Tangannya sedikit gemetar, tapi matanya kering. Ia sudah menangis cukup lama di malam-malam sebelumnya. Hari ini, ia memilih untuk tidak lagi meratapinya.
Di luar, Rian menaiki ojek yang sudah menunggu. Di dalam hatinya, ia tahu betul ia baru saja menyerahkan bukan hanya surat, melainkan seluruh sisa rumah tangganya.
Dan Mia, di dalam rumah orang tuanya, akhirnya bisa menarik napas lega. Babak itu telah ditutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, pagi masih terasa dingin. Mia turun bersama dua orang laki-laki tinggi tegap, yang merupakan pemilik baru rumah tersebut.
Surat resmi dari notaris, salinan sertifikat, serta bukti bahwa rumah itu sepenuhnya atas nama pemilik baru sudah digenggam erat. Tidak ada lagi ruang untuk kompromi.
Ceklek...
Begitu pintu rumah terbuka, Rukmini langsung berdiri dengan wajah penuh amarah. Lukman dan Sonya ikut muncul di belakangnya, sementara Janu menangis di gendongan ibunya.
“INI RUMAHKU! KALIAN TIDAK BERHAK MENGUSIR KAMI!” sentak Rukmini keras, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah Mia. Suaranya nyaring hingga terdengar sampai ke jalan. “Kami keluarga Rian! Kami berhak tinggal di sini! Kau tidak bisa mengusir mertua dan adik iparmu seenaknya!”
Mia berdiri tegak di ambang pintu, tatapannya dingin dan tidak goyah. Ia tidak lagi takut, tidak lagi merasa perlu mengalah.
“Kalian memang tidak tahu malu,” jawab Mia datar, suaranya jelas terdengar oleh semua orang di situ. “Sudah menumpang berbulan-bulan, makan dari uang kami, memakai kamar anak saya, menyuruh-nyuruh, bahkan memukul saya di rumah saya sendiri. Sekarang masih berani bilang ini rumah kalian? Sudah menumpang malah tidak tahu diri.”
Rukmini semakin histeris. “Kau wanita durhaka! Mengusir mertua! Rian pasti tidak akan tinggal diam!”
Laki-laki yang bersama Mia tidak terpancing. Ia mengangkat dokumen di tangannya. “Secara hukum, rumah ini sudah sah menjadi milik saya. Sertifikat atas nama saya. Proses jual-beli sudah berjalan, dan saya akan mengambil alih segera. Kalian punya waktu sampai siang ini untuk mengemasi barang-barang kalian. Kalau tidak, satpam akan membantu mengeluarkan kalian.”
Lukman maju dengan wajah merah. “Kak Mia, jangan keterlaluan! Kami tidak punya tempat tinggal!” seru Lukman.
“Itu bukan urusan saya lagi,” potong Mia tegas. “Saya sudah terlalu lama menanggung kalian. Sekarang sudah waktunya kalian keluar"
Suasana semakin kacau. Rukmini menangis sambil berteriak, Sonya panik menenangkan Janu, sementara para pekerja mulai masuk untuk membantu mengangkat barang-barang milik mereka ke luar. Satpam berdiri siaga, memastikan tidak ada kekerasan lebih lanjut.
Mia hanya mengawasi dari kejauhan, lengan disilangkan. Di hatinya tidak ada rasa kasihan sedikitpun, hanya kelegaan yang dingin. Rumah yang dulu penuh tekanan akhirnya akan kosong dari orang-orang yang menyakitinya.
Beberapa jam kemudian, Rukmini, Lukman, Sonya, dan Janu berdiri di luar pagar dengan koper dan tas-tas bertumpuk. Rukmini masih sempat berteriak sumpah serapah, tapi Mia tidak lagi menoleh.
Pintu rumah ditutup.
Mia dan yang lain mulai pergi meninggalkan rumah itu sambil mengendarai mobilnya.
Para tetangga yang melihat mereka mulai mencemooh. "Aku jadi Mia juga akan melakukan hal yang sama. Ngapain menampung orang tidak tahu diri seperti mereka"
"Iya. Sudah di tolong tapi tidak tahu terima kasih"
Lukman yang mendengarnya menoleh, menatap tajam mereka semua.
"Pergi kalian! Tidak usah ikut campur urusan kami" bentaknya dengan wajah penuh amarah.
"Tidak usah di usir, kami juga mau pergi" ucap mereka. Kemudian berlalu meninggalkan Lukman dan yang lain.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈