NovelToon NovelToon
Kembali Nya Sang Ratu Antagonis

Kembali Nya Sang Ratu Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelie Valaska

Menampar si muka dua, menginjak si pria berengsek, cara belas dendam yang berbeda dengan biasanya. Mau liat bagimana sang ratu menyiksa pria berengsek dan si muka dua sampai ketakutan tapi tidak bisa kabur?
Namun kenapa kali ini, dia tidak bersembunyi atau menghindar? Kenapa dia malah terus mengikuti ku?

perhatian!!!
"Ratu" tanda kaya gini artinya itu percakapan bisa
'Ratu' tanda ini tanda nya si tokoh lagi berpikir dalam hati atau bicara di dalam hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelie Valaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Lantai marmer aula Grand Hyatt terasa sedingin es di bawah telapak tangan Yuni. Di sekelilingnya, bisik-bisik dari para selebriti dan jurnalis terdengar seperti dengungan lebah yang siap menyengat. Lampu kilat kamera dari beberapa fotografer nekat berkedip bergantian, mengabadikan momen paling memalukan dalam sejarah karier sang aktris papan atas yang kini terduduk tak berdaya.

Namun, rasa malu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan teror yang sedang mengoyak isi kepala Yuni. Di dalam kesadarannya, suara mekanis sistem yang biasanya tenang dan penuh otoritas kini berubah menjadi distorsi audio yang melengking tinggi, memicu migrain hebat yang membuat pandangannya mengabur.

[Peringatan Kritis! Serangan balik mental terdeteksi. Target 'Vespera Vance' memiliki gelombang otak anti-manipulasi tingkat absolut. Energi sistem terkuras hingga batas aman minimum: 5 persen. Protokol darurat diaktifkan!]

[Misi 'Memikat Vespera Vance' dinyatakan GAGAL. Penalti diterapkan secara bertahap dalam waktu 24 jam: Penuaan dini pada struktur seluler dimulai.]

"Tidak... tidak sekarang... kumohon, tahan dulu!" Yuni merintih lirih, mencengkeram kepalanya sendiri.

Dari sudut matanya, ia bisa melihat pantulan dirinya pada pilar marmer yang mengilap. Sudut-sudut matanya yang semula kencang dan halus tampak memunculkan garis-garis halus yang samar, dan kilau rambut sutranya perlahan meredup menjadi kusam. Panik, Yuni segera bangkit dengan tubuh gemetar, mengabaikan manajernya yang berlari mendekat dengan wajah cemas, dan bergegas menuju pintu keluar darurat. Dia harus bersembunyi sebelum seluruh dunia melihat wujud aslinya yang membusuk.

Sementara itu, di pusat aula, perhatian semua orang telah sepenuhnya teralih dari drama Yuni. Fokus mutlak malam itu kini tertuju pada interaksi antara Vespera Vance dan Elva Kirana.

Kenzie melangkah maju setengah langkah, memposisikan dirinya di sisi Elva dengan gestur protektif yang halus namun tegas. Matanya yang tajam menatap Vespera, mencoba membaca motif di balik kemurahan hati yang tiba-tiba dari sang konglomerat misterius. "Madam Vance," suara Kenzie terdengar berat dan penuh wibawa, "tuan rumah Aethelgard Pictures sangat murah hati. Namun, sebagai perwakilan dari Media Pratama yang saat ini mengelola kontrak eksklusif Elva, saya harus memastikan bahwa proyek 'The Iron Empress' bukan sekadar batu loncatan politik industri."

Cassiopea menatap Kenzie. Di balik lensa kontak analisisnya, ia bisa melihat bahwa indikator stabilitas mental Kenzie berada di angka 98 persen—efek manipulasi Yuni telah sepenuhnya lenyap dari pria ini berkat paparan data mutlak yang dikirimkan Kaeno kemarin malam.

"Tuan Pratama," Cassiopea menjawab, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang membuat lawan bicaranya enggan mendebat. "Bagi Aethelgard, film ini adalah mahakarya, bukan politik. Bakat Nona Elva adalah aset murni. Jika Media Pratama ingin bekerja sama dalam bentuk ko-investasi atau distribusi domestik, pintu saya terbuka. Namun, mengenai hak artistik dan pemilihan peran utama, kendali penuh ada di tangan saya."

Elva memandang ke arah tangan mereka yang masih bertautan. Rasa familier itu semakin kuat. Aroma parfum yang dikenakan Vespera—perpaduan antara sandalwood dan white musk—adalah aroma yang sangat ia kenal sejak kecil. Itu adalah aroma kakaknya, Cassiopea. Namun, rasionalitasnya menolak; kakaknya hanyalah seorang wanita biasa yang mengasingkan diri di sebuah vila terpencil, bukan seorang titan industri hiburan global dari Eropa.

"Madam Vance," Elva berbicara dengan nada lembut namun penuh determinasi yang membuat Kenzie menoleh menatapnya. "Saya menerima tantangan ini. Saya akan membuktikan bahwa pilihan Anda tidak salah, bukan karena belas kasihan atas apa yang terjadi pada saya, tetapi karena kapasitas saya di depan kamera."

Cassiopea melepaskan jabat tangannya, menyunggingkan senyuman formal yang menyembunyikan rasa bangga yang luar biasa di dalam dadanya. "Bagus. Asisten saya, Kaeno, akan mengirimkan draf kontrak dan naskah awal ke agensimu besok pagi."

Kaeno, yang berdiri di belakang Cassiopea, menepuk tablet digitalnya sekali dengan bunyi klik yang renyah. "Sudah terkirim ke surel resmi Media Pratama, Nona Elva. Draf non-disclosure agreement juga sudah terlampir," ucap remaja itu dengan kedipan mata jenaka yang hampir membuat topeng profesionalnya runtuh.

Setelah memberikan anggukan penghormatan yang formal kepada Kenzie dan Elva, Cassiopea berbalik dan berjalan menuju ruang VIP yang telah disterilkan, diikuti oleh Kaeno. Sepanjang jalur berjalan mereka, para petinggi industri hiburan mundur teratur, memberikan jalan bagi sang penguasa baru dengan rasa hormat yang bercampur ketakutan.

Begitu pintu ruang VIP tertutup rapat dan kedap suara, aura dingin Cassiopea langsung mencair. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sofa kulit yang mewah.

"Kaeno, kunci ruangan ini dari sistem utama hotel. Pastikan tidak ada alat penyadap yang aktif," perintah Cassiopea sambil melepas sepasang lensa kontak khususnya, menampakkan mata hitam alaminya yang kini memancarkan kelelahan sekaligus kepuasan.

"Sudah bersih, Kak. Area ini sekarang menjadi zona buta sinyal radius lima puluh meter," jawab Kaeno sembari melempar tabletnya ke meja dan langsung merebahkan diri di sofa seberang. "Wah, Kakak tadi keren sekali! Jalang berbaju merah itu langsung lumpuh di tempat. Sistem di kepalanya sempat mencoba menyerang gelombang otak Kakak, tapi langsung mental karena enkripsi pelindung syaraf yang kita pasang di lensa tadi."

"Itu belum cukup, Kaeno," Cassiopea menatap langit-langit ruangan dengan tatapan menerawang. "Sistem itu menggunakan poin popularitas sebagai bahan bakar energi. Dengan hancurnya Star Entertainment dan batalnya proyek film Yuni sebelumnya, energinya sudah kritis. Gertakan kita malam ini memaksa sistem itu melakukan penalti penuaan dini pada Yuni. Wanita itu akan menjadi sangat putus asa."

"Orang yang putus asa biasanya melakukan hal bodoh," Kaeno menyahut, jemarinya kembali menari di atas papan ketik virtual yang diproyeksikan dari jam tangannya. "Apa rencana kita selanjutnya?"

"Kita biarkan dia mencari mangsa baru. Tapi kita persempit ruang geraknya," Cassiopea menegakkan duduknya, kilat dingin kembali menghiasi matanya. "Kaeno, rilis data investigasi sekunder tentang penggelapan pajak dan manipulasi kontrak kerja yang dilakukan Yuni selama tiga tahun terakhir ke publik secara bertahap mulai pukul dua pagi nanti. Hancurkan reputasi publiknya hingga ke akar-akarnya. Kita lihat, apakah sistem 'cheat' miliknya bisa bertahan jika seluruh dunia tahu dia adalah seorang penipu."

Sementara Cassiopea menyusun strategi eksekusi akhir, di sebuah kamar hotel mewah beberapa lantai di atas aula, Yuni sedang menjerit histeris.

Cermin besar di hadapannya menampilkan pemandangan yang mengerikan. Kerutan mendalam tercetak jelas di dahi dan di sekitar mulutnya. Kulit wajahnya yang semula sekencang porselen kini mengendur dan tampak kusam, membuat penampilannya terlihat sepuluh tahun lebih tua dalam hitungan jam.

"Sistem! Kembalikan wajahku! Gunakan sisa poin yang ada!" teriak Yuni dengan suara yang mulai serak.

[Perintah ditolak. Sisa energi: 3 persen. Poin Popularitas tidak mencukupi untuk restorasi biologis. Pengguna disarankan untuk segera melakukan kontak fisik dengan target berenergi tinggi dalam waktu 6 jam untuk mencegah degenerasi seluler permanen.]

"Target berenergi tinggi... siapa?!" Yuni bertanya dengan napas memburu.

[Mendeteksi target terdekat dengan energi keberuntungan stabil: Kenzie Pratama.]

Yuni menatap pantulan dirinya dengan mata merah penuh kegilaan. Kenzie. Pria yang telah lepas dari pengaruhnya itu adalah satu-satunya pelampung keselamatannya sekarang. Yuni meraih syal sutra besar untuk menutupi sebagian wajah dan lehernya, lalu mengambil botol kecil berisi cairan sisa 'Aroma Keberuntungan' terkonsentrasi yang ia simpan di dalam brankas tersembunyi—kartu as terakhirnya.

"Elva, Kenzie, Vespera Vance... kalian semua yang memaksaku melakukan ini," desis Yuni dengan senyum distorsi yang mengerikan di wajahnya yang mulai menua. "Jika aku harus jatuh ke neraka, aku akan menyeret kalian semua bersamaku."

Malam semakin larut, namun di bawah langit kota yang berkilauan, bidak-bidak catur telah bergerak ke posisi bertempur. Cassiopea telah menyalakan api unggun eksekusi, dan sang parasit kini sedang berjalan mendekat, siap untuk hangus terbakar.

1
Kamu Nanya?
tutorin dong sepuh biar punya karakter sadis, gimana tuh caranya
Kamu Nanya?
buset dah kayak pedang jirr
Kamu Nanya?
woa sadis
Kamu Nanya?
ntahlah
Kamu Nanya?
seremnya
Kamu Nanya?
lembut dalam artian? tapi soal tempat dia depanmu kan?
Nisa Nisa
hm gila sih si Yuni main nya mah boleh 🤭
Shankari Nagini
HM si Yuni ternyata tipe aktris yang licik dan cuma bisa gunain kekuatan laki-laki saja
Nisa Nisa
hm cas emang cocok di sebut jadi dewa Kematian sangat kejam tak kenal ampun 🤭
Nisa Nisa
memang harus kejam gitu cas jangan biarin orang yang menindas adik mu bebas 😡
Nisa Nisa
gila Yuni dah kaya rubah Weh licik banget 😡
Shankari Nagini
jir lah ku kira Yuni itu emang malaikat yang lembut di dunia hiburan tahu nya dia licik banget
Shankari Nagini
waahah mampus jadi pengangguran dong Sayang banget cassiopea tidak akan melepaskan nya dengan mudah
Nisa Nisa
wow gila ada sistem juga di cerita nya😱
Nisa Nisa
enak aja iklan sfl kan di siapin cassiopea buat Elva mana mungkin mau di serahkan ke orang lain😡
Shankari Nagini
bagus wartawan terus foto sampe kamera nya berasap itu berita bagus jangan sampai mau terlewat kan🤣
Shankari Nagini
aduh Mona, Adnan ck ck parah ih penampilan nya itu loh tak senonoh banget 🤭🤣
Shankari Nagini
jika cassiopea dah bertindak tidak ada satu orang pun yang akan lolos berdoa aja deh🤭
Nisa Nisa
cih masih aja enggak tahu malu mampus di gerebek wartawan juga🤭
Nisa Nisa
wahahah mampus di gerebek kan🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!