"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Melahirkan
Musim terus berganti.Tanpa terasa, sembilan bulan telah berlalu sejak Kaia meninggalkan Indonesia.
Slovenia kini memasuki musim semi. Udara terasa sejuk dengan semilir angin yang membawa harum bunga liar.
Pepohonan yang sempat meranggas kini kembali dipenuhi daun-daun muda berwarna hijau dan terang.
Bunga-bunga berwarna merah muda, putih, dan ungu bermekaran di sepanjang tepian jalan, seolah menyambut kehidupan baru yang akan segera lahir.
Di tepi Danau Bled, permukaan air tampak tenang memantulkan langit biru yang cerah. Sesekali angsa putih melintas perlahan, memecah bayangan pegunungan Alpen yang berdiri megah di kejauhan.
Di bawah rindangnya sebuah pohon, Kaia duduk di bangku kayu sambil memangku laptop di atas kedua pahanya.
Perutnya kini membuncit sempurna. Kehamilannya telah memasuki usia tiga puluh tujuh minggu.
Dokter kandungannya bahkan sudah menjadwalkan operasi sesar beberapa hari lagi karena ia mengandung bayi kembar.
Tanpa sadar, telapak tangannya mengusap lembut perut besarnya. Gerakan kecil dari dalam rahim membuat sudut bibirnya terangkat.
"Kalian udah nggak sabar ya..." gumamnya lirih sambil tersenyum.
Senyum yang dulu begitu sulit hadir di wajahnya. Kini hidupnya jauh lebih tenang.
Tidak ada lagi bentakan. Tidak ada lagi tatapan dingin.
Tidak ada lagi seseorang yang terus menyalahkannya atas kematian Kiara. Tidak ada lagi kalimat yang membuatnya merasa kehadirannya adalah sebuah kesalahan.
Meski sesekali rasa rindu kepada Hardja, Farida, bahkan Fadlan masih datang, luka di hatinya perlahan mulai sembuh.
Hubungannya dengan Fadlan pun berubah. Meski mereka dipisahkan ribuan kilometer, sang ayah diam-diam selalu memastikan keadaannya melalui perempuan yang setia menemani putrinya di Slovenia.
Mbak Rini. Asisten rumah tangga yang sengaja dikirim Farida agar Kaia tidak menjalani kehamilan seorang diri di negeri asing.
Bahkan beberapa kali Fadlan meminta foto perkembangan perut putrinya. Tak pernah ada kata rindu. Tak pernah ada kalimat sayang.
Namun Kaia tahu... itu adalah cara ayahnya menebus dua puluh tiga tahun penyesalannya.
Ia kembali mengalihkan perhatian ke layar laptop. Di balik nama samaran "Asha Calina", ia kini dikenal sebagai seorang freelance software engineer yang menangani berbagai proyek internasional.
Beberapa perusahaan teknologi Eropa bahkan menjadi klien tetapnya. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Baris demi baris kode memenuhi layar.
Di samping laptop, secangkir cokelat hangat masih mengepulkan uap tipis. Sesekali Kaia menyeruputnya pelan.
Tak jauh dari bangku tempatnya duduk, Mbak Rini sedang mengobrol dengan beberapa warga lokal sambil sesekali melirik ke arah Kaia.
"Waktunya istirahat, Non," teriak Mbak Rini.
"Nanti, bentar lagi, Mbak. Tinggal sedikit." Namun baru beberapa menit kembali bekerja, Kaia mendesis pelan.
"Ssst..." Ia memegang bagian bawah perutnya. Bayi-bayi di dalam kandungannya kembali menekan kandung kemihnya.
"Ya ampun..." Kaia tertawa kecil. "Kalian ini ya... baru setengah jam Mama duduk."
Ia menutup laptop perlahan.Dengan satu tangan menopang pinggang, sementara tangan lainnya menyangga perutnya yang besar, Kaia berdiri pelan dari bangku.
Langkahnya kini jauh lebih lambat dibanding beberapa bulan lalu. Ia berjalan menuju bangunan toilet umum yang berada tak jauh dari taman.
Saat melewati jalur pejalan kaki, seseorang dari arah berlawanan tampak sedang menatap layar ponselnya.Mereka sama-sama tidak menyadari keberadaan satu sama lain.
Brugh!
"Ah..." Tubuh Kaia oleng ke belakang. Refleks kedua tangannya memeluk perutnya.
Namun sebelum tubuhnya jatuh, sepasang tangan yang kokoh lebih dulu menangkap pinggangnya.
"Astaga..." Wajah Kaia langsung memucat. Napasnya memburu.
Jantungnya berdetak begitu keras membayangkan apa yang bisa saja terjadi pada kedua bayinya.
"So... Sory" Kalimat pria itu terhenti. Matanya membesar.
"...Kaia?"
Deg.
Dunia Kaia seolah berhenti berputar. Nama itu... Sudah sangat lama tidak ada yang memanggilnya dengan nama tersebut.
Perlahan ia mendongakkan kepala. Matanya membelalak. "Ne..." Bibirnya bergetar. "Neo?"
Neo sama terkejutnya. Ia menatap wajah perempuan di hadapannya bergantian dengan perut besarnya.
Sulit dipercaya. Orang yang selama berbulan-bulan dicari banyak orang... ternyata berada di Slovenia.
Kaia buru-buru melepaskan pegangan Neo. Beberapa langkah kakinya mundur. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Please..." Suara itu bergetar hebat. "Jangan bilang siapa pun kalau kamu bertemu aku." Ia menggeleng berulang kali. "Tolong... Terutama... Jangan sampai Kak Elio tahu."
Neo membeku. Ribuan pertanyaan memenuhi kepalanya.Mengapa Kaia berada di Slovenia?
Mengapa ia menggunakan nama baru? Hingga sulit dicari.Dan... Siapa ayah dari bayi yang sedang dikandungnya?
Belum sempat satu pun pertanyaan itu keluar, wajah Kaia mendadak berubah.
Tangannya mencengkeram kuat bagian bawah perut.
"Awh..." Napasnya tercekat.
"Sakit..." Rasa nyeri itu datang begitu tiba-tiba. Jauh lebih kuat dibanding kontraksi-kontraksi palsu yang biasa ia rasakan. Kaia membungkuk, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Neo langsung sigap menopang tubuhnya. "Kaia!"
"Aku..." Kaia memejamkan mata. "Sakit..."
Neo langsung mengambil sigap. "Ayo. Kita ke rumah sakit sekarang."
Sebagai putra seorang dokter kandungan, ia mengenali tanda-tanda itu. Bisa jadi... persalinannya sudah dimulai.
Tanpa menunggu jawaban, Neo mengangkat tas dan laptop Kaia, lalu membantu perempuan itu berjalan menuju mobilnya.
Kaia memejamkan mata sambil menggenggam perutnya erat. Dalam hati ia hanya mampu berdoa.
"Ya Allah... jangan biarkan Elio menemukanku... sebelum anak-anakku lahir."
Di kejauhan, Mbak Rini yang baru menyadari keadaan Kaia langsung berlari panik mengejar mereka. "Non!" Wajahnya pucat. "Kenapa, Non?"
"Sepertinya kontraksi," jawab Neo cepat tanpa mengalihkan pandangan dari Kaia yang masih meringis kesakitan. "Kemungkinan mau melahirkan."
Kaia memejamkan mata. Jemarinya mencengkeram lengan Neo begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Awh..." Napasnya memburu. Rasa nyeri itu datang bergelombang, lebih kuat daripada sebelumnya.
"Sabar Kai... tahan." Neo segera membuka pintu belakang mobil. "Pelan... hati-hati."
Ia membantu Kaia masuk ke dalam mobil. Mbak Rini ikut naik dan langsung duduk di samping Kaia.
Neo berlari menuju kursi pengemudi. Mesin mobil langsung menyala. Ban berdecit pelan saat meninggalkan area Danau Bled menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan, Neo beberapa kali melirik kaca spion tengah. Kaia bersandar lemah di jok belakang. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Mbak Rini menggenggam tangan Kaia sambil terus mengusap punggungnya.
"Tarik napas pelan, Non....Sebentar lagi sampai."
Neo menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Liburan yang seharusnya ia habiskan menikmati musim semi di Slovenia berubah menjadi situasi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Ia baru saja menemukan Kaia. Perempuan yang selama hampir sembilan bulan terakhir dicari banyak orang. Perempuan yang membuat sepupunya berubah seperti orang kehilangan arah.
Namun yang lebih mengejutkan... Kaia sedang mengandung. Bahkan sebentar lagi akan melahirkan.
Kurang dari lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan Emergency Department sebuah rumah sakit di Ljubljana.Pintu otomatis terbuka. Dua perawat bersama seorang bidan segera mendorong brankar keluar.
"Good afternoon! What happened?" tanya salah satu perawat dengan sigap.
Neo turun lebih dulu. "She's thirty seven weeks pregnant with twins. Sudden severe abdominal pain and regular contractions. She almost collapsed."
Ia teringat obrolan singkatnya bersama mbak Rini tadi selama diperjalanan. Kaia sedang mengandung bayi kembar dengan usia kehamilan tiga puluh tujuh Minggu.
Perawat langsung mengangguk. "Let's move her inside."
Brankar didorong mendekati mobil. Neo bersama petugas membantu Kaia berpindah perlahan. "Easy... Easy..."
Kaia meringis. "Awh..."
"You're okay. We've got you," ucap perawat itu lembut.
Brankar segera meluncur cepat melewati lorong Instalasi Gawat Darurat. Lampu-lampu putih memenuhi langit-langit.Beberapa dokter dan perawat sudah menunggu di ruang obstetri.
"Blood pressure."
"Fetal monitoring."
"Prepare ultrasound."
Instruksi terdengar bergantian, tetapi semuanya berlangsung tenang tanpa kepanikan. Seorang dokter perempuan berambut pirang mendekati Kaia sambil tersenyum menenangkan.
"Hello, Mrs. Asha." Ia melihat gelang identitas pasien. "We're going to examine you first."
Kaia hanya mampu mengangguk pelan. Dokter segera melakukan pemeriksaan. Monitor CTG dipasang. Suara detak jantung kedua bayi memenuhi ruangan.
Dup... dup... dup...
Air mata Kaia langsung menggenang. Syukurlah Kedua bayinya masih baik-baik saja.
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan dalam. Tak lama, wajahnya berubah sedikit serius.
"Cervix is only two centimeters." Ia menoleh kepada tim medis. "One of the babies shows signs of fetal distress."
Dokter kembali menatap Kaia. "We need to perform an emergency cesarean section."
Kaia menelan ludah. "S... surgery?"
"Yes." Dokter menggenggam tangan Kaia dengan lembut. "It's safer for both babies."
Kaia memejamkan mata beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. "Okay...."
Perawat mulai mendorong brankar menuju ruang operasi.Neo mengikuti dari belakang hingga pintu bertuliskan Operating Theatre.
Seorang perawat menghentikannya. "I'm sorry.You have to wait here."
Neo mengangguk pelan.Pintu ruang operasi perlahan tertutup. Lorong mendadak sunyi. Neo mengembuskan napas panjang.
Baru sekarang ia benar-benar menyadari apa yang baru saja terjadi. Kaia hamil besar dan akan melahirkan bayi kembar.
Tangannya meraih ponsel dari saku celana. Jarinya berhenti tepat di nama Elio. Hanya sekali tekan... sepupunya itu akan mengetahui bahwa perempuan yang selama ini dicari berada di Slovenia.
Namun bayangan wajah Kaia kembali terlintas.Tatapan penuh ketakutan. Permohonan lirih yang hampir seperti tangisan.
"Please... jangan bilang siapa pun. Terutama Kak Elio."
Jari Neo perlahan menjauh dari layar. Ia mengembuskan napas berat. "Aku harus bagaimana, Kai..."
Tak jauh darinya, Mbak Rini duduk sambil terus menggenggam tas Kaia erat di pangkuannya. Perempuan
itu menutup mata. Bibirnya tak berhenti melantunkan doa agar persalinan Kaia berjalan lancar.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁