NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

 Pedagang bakso yang menunggu mangkoknya tiba tiba di datangi 3 orang pemuda.

  "bukanya sudah di bilang, tempat ini bukan tempatmu. Apa kau memang bosan hidup...?" ungkap salah satunya.

 Pedagang yang sudah paruh baya itu hanya menunduk, apa lagi saat melihat salah satunya memegang Sajam.

 "ngapa diem, apa kau bisu" bentak mereka.

 Brak....

 salah satu sosok menendang gerobak bakso itu terguling....

 bahkan pedagang itu yang reflek ingin menahan gerobaknya, malah ikut di tendang hingga jatuh.

  "ly.... Tunggu di sini"

 "kak mau ke mana..."

 "duduk dulu..."

  setelah itu arus tak berbalik lagi, ia langsung menghampiri sekelompok pemuda itu.

 "siapa kau... Jangan ikut campur urusan kami" ucap salah satunya sambil menodongkan senjata.

 Arus tak menjawab, ia langsung bergerak menjatuhkan senjata pemuda itu.

 Dengan tekniknya, bahkan pemuda itu tak dapat mempertahankan senjata di tangan.

 Ting.....

 bunyi nyaring besi berbenturan seakan tanda pertarungan di mulai.

 Salah satunya mengayunkan pukulan langsung ke arah arus.

 Dengan sigap arus menundukkan kepala, hingga pukulan itu hanya memukul angin.

 Hal ini membuat pemuda itu terhuyung huyung, dengan cepat arus menendang pemuda itu.

 Pertarungan terus berlanjut, beberapa kali mereka terjatuh.

 "awas saja kau.... Kami akan mengingat wajahmu" tunjuk salah satu orang sebelum berlari.

Setelah kepergian mereka, Alya langsung mendekat.

 Ia menyentuh pipi arus yang sedikit memar, hal ini membuat arus sedikit meringis kesakitan.

 "maaf kak..." ungkap alaya

 "gak papa, dari pada aku lebih baik kita bantu bapak ini dulu" ajak arus.

 Mereka membantu bapak itu berdiri, dan mengajaknya duduk.

 "gak papa pak..." tanya Alya.

 "bapak gak papa, cuma kaget aja." jawab bapak itu.

 Namun walau menjawab seperti itu, tapi arus bisa melihat raut kesedihan di mata bapak itu saat melihat gerobaknya.

 arus berjalan ke tempat duduknya tadi, ia mengambil jaket yang terlampir di kursi.

 tangannya meraba beberapa saku jaket hingga menemukan dompet, tanpa keraguan dia mengambil lembaran di sana.

 Bahkan hanya menyisakan 2 lembar saja.

 "ini pak, anggap saja sebagai hasil dagangan bapak.."

 "gak usah nak.... Ini bukan kesalahanmu." tolak bapak itu.

 Namun arus tetap memaksa dengan memasukkan langsung uang ke saku bapak itu.

 "ini terlalu banyak nak, bahkan jika semua bakso laku saja gak sampai sebanyak ini"

 "udah bapak terima saja, gak baik menolak pemberian orang lain pak"

 "ya sudah, bapak terima. Tapi bapak bener bener makasih loh, udah di bantu sampai kayak gini.."

 bapak itu mengungkapkan ini bahkan sambil meneteskan air matanya.

 Saat itu dia sampai akan bersujud, beruntung arus buru buru menahannya.

 "gak usah pak, aku gak enak Nerima ini. tapi kalok boleh tau mereka siapa ya pak, dari cara mereka ngomong tadi, kayaknya ini bukan yang pertama."

 pedagang bakso itu menunduk....

 "sebenarnya memang gak yang pertama, waktu itu mereka pernah Dateng. Tapi cuma memperingati kalau gak boleh dagang di wilayah mereka kalok gak mau setor. tapi mau bagaimana lagi, kalok gak dagang dari mana bapak bisa cari uang. mau setor pun hasilnya gak banyak mana masih ada 2 anak yang harus sekolah, sama kebutuhan sehari hari juga harus di penuhi"

arus menggeleng, ia mengambil satu lembar kertas dan pena.

"bapak catet alamat bapak di sini, insyaallah nanti aku yang akan urus anak bapak biar bisa sekolah lagi."

mata bapak itu berbinar menatap arus.

"beneran nak...."

arus mengangguk...

"kebetulan aku ada yayasan yang ngurus anak anak dan lansia. tapi maaf untuk bapak, sepertinya tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri."

"gak papa, nak..." senang bapak itu.

Ia menuliskan alamatnya di dalam kertas lalu mengembalikan ke arah arus.

Setelah itu mereka kembali, Alya kini tengah mengompres lebam di pipi arus.

"kamu marah... Karena aku berantem." tanya arus.

Alya menggeleng....

"enggak sampai marah, tapi sedikit kesel. kenapa kakak berani ngelawan mereka langsung, padahalkan mereka ada yang makek senjata tajam. Kalok tadi gak berhasil jatuhin senjata mereka gimana"

"aw...."

arus meringis karena Alya tiba tiba menekan luka lebam arus cukup kencang.

"maaf... Tapi tadi aku gak bisa berfikir panjang lagi."

"aku gak masalah kakak nolong orang, malahan aku seneng tapi lain kali mikir dulu. Kalok sampai wajah ini Sampek lebam gara gara ceroboh lagi, liat aja pasti Alya tambahin"

melihat Alya yang cemberut dengan bibir yang manyun.

Arus malah tersenyum, bahkan perlahan wajahnya mendekat dan.

Cup....

Kedua bibir bersentuhan beberapa detik.

Alya yang menyadari ini langsung terdiam sambil melotot.

Sebelum tangannya mengayun langsung ke lengan atas arus.

"kakak....!" ungkap Alya sedikit berteriak.

Lalu ia memegang bibirnya sambil merengek.

"ciuman pertamaku..."rengeknya.

Melihat ini arus kembali tersenyum, walau ia merasa sedikit nyeri saat melengkungkan bibirnya.

"maaf, tapi itu kan memang milik ku. Gak papa dong sebagai suami menyicip sedikit apa yang menjadi miliknya."

"ya tapikan ngasih aba aba gitu.... Kalok kayak gini buat orang kaget tau gak, untung aku gak punya riwayat penyakit jantung. Kalok punya gimana cobak"

"ia ia... Lain kali aku minta izin dulu.".

Alya masih cemberut, bahkan ia sekarang sedang mode malas berbicara dengan arus.

karena bingung mau apa, akhirnya arus memilih pergi mandi.

15 menit kemudian, akhirnya arus sudah keluar.

wajah Alya pun tak cemberut lagi. dia berfikir dia yang aneh, kenapa harus marah karena di cium oleh suaminya. Bahkan seharunya lebih pun tak apa.

Lagi pula sekarang ada yang mengganggu di pikirannya, dan hal itu harus di tanganyakan langsung ke sang suami.

"kak, apa kakak serius mau ngebantu anak bapak itu"

arus yang sedang mengancingkan baju, sedikit mengangguk.

"tentu, lagi pula kasihan bapak itu. Dia harus berjualan jauh menempuh 5 kilo meter tapi masih harus di palak, padahal hasilnya gak seberapa"

setelah melihat alamat bapak itu, arus langsung tau di mana tempat bapak itu berasal.

Tenyata bapak itu berasal dari kota bawah gunung, dia pun tak heran bapak itu sampai berjualan ke atas gunung.

selain karena cuaca di sini dingin dan tempat yang cocok berjualan bakso, di kota pun persaingannya sangat ketat.

"ia si, tapi kakak mau bawa ke mana anak bapak itu. kalok ke yayasan di desa kan gak Nerima murid terlantar, walau terbilang biaya pendidikan di sana lebih murah, tapi itu tetap tak sedikit. Apa lagi jarak sama tempat ini kan jauh"

"kamu tenang, aku mau naruh anak bapak itu ke panti. Di sana ada anak anak dan lansia, semua biaya di sana gratis. Apa lagi kalok anaknya mau dia bisa ngebantu bantu produksi ringan untuk pabrik, dengan begitu dia bisa dapet penghasilan juga"

mendengar panti untuk anak anak dan lansia, ingatan alaya langsung berputar. Ia mengingat pernah melihat ini di laptop suaminya.

"apa itu yang di gambar leptop kakak...?"

arus mengangguk...

"lain kali aku ajak kamu ke sana...."

Alya berdiri....

"beneran kak..."

arus mengangguk....

"tapi enggak sekarang... Sekarang kamu harus tetap di sini, apa lagi nanti malem ada acara kan"

setelah itu arus berpamitan pergi....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!