Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Mia duduk bertiga di ruang tamu, bersama kedua orang tuanya. Cahaya lampu kuning lembut menerangi ruangan yang sederhana namun hangat. Di luar, malam sudah semakin larut, dan Kayla sudah tertidur nyenyak di kamar. Suasana di antara mereka terasa berat, penuh keheningan yang hanya sesekali dipecah oleh bunyi detak jam dinding.
Maya yang duduk di samping putrinya memegang tangan Mia erat. Wajahnya penuh kekhawatiran, tapi juga ada ketegasan seorang ibu yang sudah lama menunggu anaknya mengambil keputusan besar.
“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Maya pelan, matanya menatap Mia dalam-dalam.
Mia mengangguk. Napasnya panjang, seolah melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun dipikul. “Iya, Ma. Aku sudah yakin. Rian selalu membela keluarganya daripada aku. Dia tidak berdaya di hadapan mereka. Setiap kali aku dilukai, setiap kali aku diinjak, dia hanya diam saja. Tapi tidak pernah ada perubahan. Aku sudah lelah dengan semua tingkah laku mereka" jawabnya panjang lebar.
Wahyu yang duduk di kursi seberang mencondongkan badan ke depan. Suaranya rendah dan penuh perhatian. “Bagaimana dengan perasaanmu, Nak? Perceraian itu bukan keputusan kecil. Kamu sudah memikirkan semuanya?” tanyanya.
Mia menatap ayahnya. Ada kelembutan di matanya, tapi juga keteguhan yang tidak bisa digoyahkan. “Aku akan melupakannya seiring berjalannya waktu, Pa. Aku tidak bilang tidak sakit. Tentu saja sakit. Aku pernah mencintainya. Aku pernah percaya bahwa dia akan menjadi suami yang melindungi aku dan Kayla. Tapi cinta saja tidak cukup kalau tidak ada keberanian untuk membela kami. Aku sudah yakin dengan keputusanku.”
Ia terdiam sejenak, memandang ke arah jendela yang gelap. Kenangan berputar di kepalanya—hari pernikahan yang penuh harap, kelahiran Kayla, lalu perlahan-lahan berubah menjadi tekanan, sindiran, dan akhirnya kekerasan. Rumah yang dulu ia beli dengan keringat sendiri kini sudah dalam proses dijual. Uang DP sudah masuk. Barang-barangnya sudah sebagian dipindahkan. Dan pukulan Lukman di wajahnya masih terasa perih, baik secara fisik maupun batin.
“Aku tidak mau Kayla tumbuh dalam suasana seperti itu,” lanjut Mia, suaranya sedikit bergetar. “Aku tidak mau anakku melihat ibunya terus ditindas, atau melihat ayahnya yang selalu memilih diam. Aku ingin Kayla melihat bahwa perempuan bisa berdiri sendiri, bisa mengambil keputusan, bisa melindungi dirinya sendiri.”
Maya mengelus punggung putrinya. “Mama mendukungmu, Nak. Dari dulu Mama bilang, jangan terus mengalah. Kalau Rian tidak bisa melindungi kamu, maka kamu harus melindungi dirimu sendiri. Mama dan Papa di sini. Kamu tidak sendirian.”
Wahyu mengangguk setuju. “Papa juga. Kalau memang sudah tidak ada jalan lain, lebih baik putuskan sekarang sebelum lukamu semakin dalam. Nanti kita bicarakan soal hak asuh Kayla, soal harta, soal semuanya. Tapi yang paling penting, kamu harus kuat.”
Mia menunduk, memegang tangan ibunya lebih erat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes pelan. Bukan karena ragu, melainkan karena lega. Lega akhirnya bisa mengucapkan keputusan itu di hadapan orang tua yang selalu menjadi tempatnya pulang.
“Aku sudah menyiapkan semuanya,” bisiknya. “Rumah sudah dalam proses dijual. Aku sudah mulai bekerja lagi di perusahaan Kimmy. Aku punya tabungan. Aku tidak takut mulai dari nol. Yang aku takutkan hanya, kalau nanti Kayla bertanya kenapa Papa tidak tinggal bersama kami lagi.”
Maya tersenyum sedih. “Nanti kita jelaskan pelan-pelan. Anak kecil lebih kuat dari yang kita kira. Yang penting dia melihat ibunya bahagia dan tenang.”
Mereka duduk dalam diam beberapa saat. Tidak ada yang terburu-buru. Keputusan besar seperti ini membutuhkan ruang untuk dirasakan, bukan hanya diucapkan.
Mia mengusap air matanya, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku akan ajukan gugatan cerai. Aku tidak mau lagi menunggu Rian berubah. Dia sudah diberi banyak kesempatan. Sekarang, aku pilih diriku sendiri dan Kayla.”
Wahyu berdiri, lalu berjalan mendekati putrinya. Ia menepuk bahu Mia dengan lembut. “Papa bangga sama kamu. Bukan karena kamu bercerai, tapi karena kamu berani mengambil keputusan yang sulit demi kebaikanmu sendiri.”
Mia mengangguk. Di dadanya masih ada rasa sakit, masih ada bayangan Rian yang dulu ia cintai. Tapi di atas rasa sakit itu, ada keyakinan yang lebih kuat, bahwa ia pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik, rumah yang aman, dan pasangan yang berani membela, bukan hanya membela keluarga asalnya.
Malam itu, di ruang tamu yang sederhana, tiga orang duduk bersama menyaksikan satu babak baru dimulai. Mia tidak lagi menjadi istri yang terus mengalah. Ia menjadi perempuan yang memilih untuk berdiri.
Dan keputusan itu, meski pahit, adalah keputusan yang paling membebaskan yang pernah ia ambil.
Wahyu menatap putrinya serius. Suasana di ruang tamu masih tenang, tapi ada ketegangan yang terasa setelah Mia menegaskan keputusannya untuk bercerai.
“Bagaimana dengan Lukman?” tanya Wahyu pelan. “Kamu bisa melaporkannya sebagai tindak kekerasan. Dia memukulmu di rumahmu sendiri. Itu bukan perkara kecil.”
Mia terdiam sejenak. Ia mengusap pipinya yang masih sedikit perih, lalu menghela napas. “Aku tahu, Pa. Aku sudah memikirkan itu. Kalau Rian mau menandatangani surat cerai dengan baik, aku biarkan saja. Tapi kalau dia menolak, atau malah membela adiknya terus… maka aku akan memenjarakan Lukman.” jawab Mia tegas.
Maya yang duduk di sampingnya menoleh kaget. “Kamu yakin, Nak?” tanya Maya memastikan.
“Yakin, Ma,” jawab Mia tegas. “Aku sudah terlalu lama diam. Mereka menampar, memukul, menghina, mengusir aku di rumah sendiri. Kalau Rian masih memilih membela mereka, maka aku pakai jalur hukum. Aku punya bukti, ada saksi, ada pekerja yang melihat keributan itu. Aku tidak main-main lagi.”
Wahyu mengangguk pelan, wajahnya campuran antara prihatin dan bangga. “Papa dukung. Tapi pastikan kamu kuat. Proses hukum tidak mudah, apalagi melibatkan keluarga.”
Mia tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca. “Aku sudah siap, Pa. Kalau mereka masih ingin melawan, maka mereka harus siap menanggung akibatnya. Termasuk Lukman.” ucap Mia tak main-main.
Ia menunduk sebentar, lalu menegakkan kepala. “Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin selesai. Dan kalau jalan damai tidak bisa, maka aku tempuh jalan yang membuat mereka jera.” lanjutnya.
Keheningan kembali mengisi ruangan. Di luar, malam semakin larut. Tapi di hati Mia, keputusan itu sudah bulat.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.