NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Mia duduk bertiga di ruang tamu, bersama kedua orang tuanya. Cahaya lampu kuning lembut menerangi ruangan yang sederhana namun hangat. Di luar, malam sudah semakin larut, dan Kayla sudah tertidur nyenyak di kamar. Suasana di antara mereka terasa berat, penuh keheningan yang hanya sesekali dipecah oleh bunyi detak jam dinding.

Maya yang duduk di samping putrinya memegang tangan Mia erat. Wajahnya penuh kekhawatiran, tapi juga ada ketegasan seorang ibu yang sudah lama menunggu anaknya mengambil keputusan besar.

“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Maya pelan, matanya menatap Mia dalam-dalam.

Mia mengangguk. Napasnya panjang, seolah melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun dipikul. “Iya, Ma. Aku sudah yakin. Rian selalu membela keluarganya daripada aku. Dia tidak berdaya di hadapan mereka. Setiap kali aku dilukai, setiap kali aku diinjak, dia hanya diam saja. Tapi tidak pernah ada perubahan. Aku sudah lelah dengan semua tingkah laku mereka" jawabnya panjang lebar.

Wahyu yang duduk di kursi seberang mencondongkan badan ke depan. Suaranya rendah dan penuh perhatian. “Bagaimana dengan perasaanmu, Nak? Perceraian itu bukan keputusan kecil. Kamu sudah memikirkan semuanya?” tanyanya.

Mia menatap ayahnya. Ada kelembutan di matanya, tapi juga keteguhan yang tidak bisa digoyahkan. “Aku akan melupakannya seiring berjalannya waktu, Pa. Aku tidak bilang tidak sakit. Tentu saja sakit. Aku pernah mencintainya. Aku pernah percaya bahwa dia akan menjadi suami yang melindungi aku dan Kayla. Tapi cinta saja tidak cukup kalau tidak ada keberanian untuk membela kami. Aku sudah yakin dengan keputusanku.”

Ia terdiam sejenak, memandang ke arah jendela yang gelap. Kenangan berputar di kepalanya—hari pernikahan yang penuh harap, kelahiran Kayla, lalu perlahan-lahan berubah menjadi tekanan, sindiran, dan akhirnya kekerasan. Rumah yang dulu ia beli dengan keringat sendiri kini sudah dalam proses dijual. Uang DP sudah masuk. Barang-barangnya sudah sebagian dipindahkan. Dan pukulan Lukman di wajahnya masih terasa perih, baik secara fisik maupun batin.

“Aku tidak mau Kayla tumbuh dalam suasana seperti itu,” lanjut Mia, suaranya sedikit bergetar. “Aku tidak mau anakku melihat ibunya terus ditindas, atau melihat ayahnya yang selalu memilih diam. Aku ingin Kayla melihat bahwa perempuan bisa berdiri sendiri, bisa mengambil keputusan, bisa melindungi dirinya sendiri.”

Maya mengelus punggung putrinya. “Mama mendukungmu, Nak. Dari dulu Mama bilang, jangan terus mengalah. Kalau Rian tidak bisa melindungi kamu, maka kamu harus melindungi dirimu sendiri. Mama dan Papa di sini. Kamu tidak sendirian.”

Wahyu mengangguk setuju. “Papa juga. Kalau memang sudah tidak ada jalan lain, lebih baik putuskan sekarang sebelum lukamu semakin dalam. Nanti kita bicarakan soal hak asuh Kayla, soal harta, soal semuanya. Tapi yang paling penting, kamu harus kuat.”

Mia menunduk, memegang tangan ibunya lebih erat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes pelan. Bukan karena ragu, melainkan karena lega. Lega akhirnya bisa mengucapkan keputusan itu di hadapan orang tua yang selalu menjadi tempatnya pulang.

“Aku sudah menyiapkan semuanya,” bisiknya. “Rumah sudah dalam proses dijual. Aku sudah mulai bekerja lagi di perusahaan Kimmy. Aku punya tabungan. Aku tidak takut mulai dari nol. Yang aku takutkan hanya, kalau nanti Kayla bertanya kenapa Papa tidak tinggal bersama kami lagi.”

Maya tersenyum sedih. “Nanti kita jelaskan pelan-pelan. Anak kecil lebih kuat dari yang kita kira. Yang penting dia melihat ibunya bahagia dan tenang.”

Mereka duduk dalam diam beberapa saat. Tidak ada yang terburu-buru. Keputusan besar seperti ini membutuhkan ruang untuk dirasakan, bukan hanya diucapkan.

Mia mengusap air matanya, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku akan ajukan gugatan cerai. Aku tidak mau lagi menunggu Rian berubah. Dia sudah diberi banyak kesempatan. Sekarang, aku pilih diriku sendiri dan Kayla.”

Wahyu berdiri, lalu berjalan mendekati putrinya. Ia menepuk bahu Mia dengan lembut. “Papa bangga sama kamu. Bukan karena kamu bercerai, tapi karena kamu berani mengambil keputusan yang sulit demi kebaikanmu sendiri.”

Mia mengangguk. Di dadanya masih ada rasa sakit, masih ada bayangan Rian yang dulu ia cintai. Tapi di atas rasa sakit itu, ada keyakinan yang lebih kuat, bahwa ia pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik, rumah yang aman, dan pasangan yang berani membela, bukan hanya membela keluarga asalnya.

Malam itu, di ruang tamu yang sederhana, tiga orang duduk bersama menyaksikan satu babak baru dimulai. Mia tidak lagi menjadi istri yang terus mengalah. Ia menjadi perempuan yang memilih untuk berdiri.

Dan keputusan itu, meski pahit, adalah keputusan yang paling membebaskan yang pernah ia ambil.

Wahyu menatap putrinya serius. Suasana di ruang tamu masih tenang, tapi ada ketegangan yang terasa setelah Mia menegaskan keputusannya untuk bercerai.

“Bagaimana dengan Lukman?” tanya Wahyu pelan. “Kamu bisa melaporkannya sebagai tindak kekerasan. Dia memukulmu di rumahmu sendiri. Itu bukan perkara kecil.”

Mia terdiam sejenak. Ia mengusap pipinya yang masih sedikit perih, lalu menghela napas. “Aku tahu, Pa. Aku sudah memikirkan itu. Kalau Rian mau menandatangani surat cerai dengan baik, aku biarkan saja. Tapi kalau dia menolak, atau malah membela adiknya terus… maka aku akan memenjarakan Lukman.” jawab Mia tegas.

Maya yang duduk di sampingnya menoleh kaget. “Kamu yakin, Nak?” tanya Maya memastikan.

“Yakin, Ma,” jawab Mia tegas. “Aku sudah terlalu lama diam. Mereka menampar, memukul, menghina, mengusir aku di rumah sendiri. Kalau Rian masih memilih membela mereka, maka aku pakai jalur hukum. Aku punya bukti, ada saksi, ada pekerja yang melihat keributan itu. Aku tidak main-main lagi.”

Wahyu mengangguk pelan, wajahnya campuran antara prihatin dan bangga. “Papa dukung. Tapi pastikan kamu kuat. Proses hukum tidak mudah, apalagi melibatkan keluarga.”

Mia tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca. “Aku sudah siap, Pa. Kalau mereka masih ingin melawan, maka mereka harus siap menanggung akibatnya. Termasuk Lukman.” ucap Mia tak main-main.

Ia menunduk sebentar, lalu menegakkan kepala. “Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin selesai. Dan kalau jalan damai tidak bisa, maka aku tempuh jalan yang membuat mereka jera.” lanjutnya.

Keheningan kembali mengisi ruangan. Di luar, malam semakin larut. Tapi di hati Mia, keputusan itu sudah bulat.

1
sunaryati jarum
Kirain Lukman , Rukmini ,dan Sonya, sadar ,taubat dan bekerja ternyata lebih parah.Untuk Mia akhirnya mendapat kebahagiaan
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk rian dan mia dan keluarga neraka' buat lukman dan sonya orang malas kerja pengen hidup enak dunia mimpi pun ngga ada 🤣
Putri Wulandari
lakol cuman gitu ceritanya
sunaryati jarum
Semoga mertua sadar jadi endingnya bahagia
Agus Tina
Bagus ceritanya
gesya garneta
othor jgn bikin rian berubah lah, jgn bikin cerita kyk di novel2 lain, endingnya pisah gara2 keluarga suami, justru bikin keluarga suami jadi baik sama mia
Agus Tina: Iya, betul ... bikin yg agak beda
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga Rian tidak goyah, apapun yang terjadi pada ibunya dan keluarganya.Kamu walau dihujat tetap berbakti dan mengirimkan uang.Seharusnya Bu Rukmini sadar,selama ini yang menopang hidupnya Rian padahal sudah punya keluarga,dan Mia istrinya tidak melarang ,ee malah dibenci.Sedangkan Lukman dan Sonya juga memiliki keluarga tapi hidupnya bergantung pada dirinya,malah disayang dan dimanjakan, renungkan Bu Rukmini apa perilaku pada kedua putra dan menantumu sudah benar dan adil
🎃
kok dera?
sunaryati jarum
Nah setelah kalian merasakan pahitnya hidup tanpa banyak uang dari Rian dan Mikha,jadi kebingungan sendiri.Itulah akibat memanjakan anak tapi membebani anak yang lain.Sonya terbiasa bergantung ini diminta cari nafkah.Semoga kalian sadar jika Mia dan Rian sangat berjasa pada hidup kalian.Sekarang Sonya harus belajar bisa menghidupi diri dan Janu.
dyah EkaPratiwi
enak dikota tapi numpang heyyy usaha makanya jangan suka ongkang2
Agus Tina
Apa Sonya tidak punya orang tua? Kan bisa sementara dia tinggal sama orang tuanya. Dan untuk Mia dan Rian memang lebih baik tinggal bersama orang tua dari Mia, agar para benalu itu tidak kembali lagi merongrong kehidupan mereka.
Jade Meamoure
bagus lah yg penting jangan ada drama kluarga lagi
Jade Meamoure
tk apa sih kalo rujuk hanya saja jauhkan dari keluarga toxic n harus bisa bertindak tegas sebagai kepala keluarga
gesya garneta
thor, jangan bikin rian berubah ya, biarkan mereka hidup bahagia🙏
Agus Tina
Sekoga Rian tidak berubah ...
sunaryati jarum
Semoga sumpah kamu kamu jalankan dan tidak goyah serta Bu Rukmini sadar akan semua kesalahannya pada Mia.Dan Sonya mau bekerja
falea sezi
🤣 Mia oon bego
falea sezi
perempuan oon 🤣 gbs nyari batangan kayak. punya Riyan kayaknya makanya batal cerai🤣🤣 bloooooooon
falea sezi
banyak omong visum lapor kekerasan bego🤣🤣 MC nya oon sih thor menye menye
falea sezi
istri goblok cerai lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!