Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadaikan sertifikat rumah?
Bu Ismi rasanya mau pingsan kelabakan mengurus rumah seorang diri. Begitu Aira tak ada lagi di rumah, barulah terasa betapa beratnya semua pekerjaan. Sejak matahari belum terbit, Bu Ismi sudah harus pontang-panting sendirian masak, mencuci baju, menggosok piring, sampai menyapu dan mengepel lantai.
"Aduh... pinggangku rasanya mau patah!" keluh Bu Ismi sambil memegangi punggungnya yang encok.
Usianya jelas sudah tak muda lagi. Sementara Karin, yang sengaja ambil cuti dari tempat kerja, malah santai-santai tanpa niat sedikit pun membantu ibunya. Entah apa yang dikerjakan anak itu di kamar.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Bu Ismi masih harus melangkah ke pasar untuk belanja bahan kue, lalu mengaduk adonan dan memanggangnya sendiri. Setelah matang, kue-kue itu harus ia setorkan satu per satu ke toko-toko langganan. Kalau begini terus, badannya jelas tak akan sanggup.
Tapi kalau tidak bikin kue, dari mana ada pemasukan? Kepalanya mendadak pening. Dengan berat langkah, Bu Ismi akhirnya tetap pergi ke pasar membungkus bahan dapur dan adonan kue.
Begitu melangkah masuk ke rumah sambil menenteng belanjaan yang berat, emosinya langsung menyala melihat sang suami.
"Eh, Pak! Bisa nggak sih jangan cuma leha-leha di kamar terus? Bantuin kek! Nggak lihat apa Ibunya setengah mati ngerjain semuanya sendiri?" semprot Bu Ismi tajam.
*Uhuk! Uhuk... uhuk...*
Pak Bambang keluar dari kamar sambil memegangi dadanya. Matanya menyipit menahan rasa sakit yang menusuk.
"Bantuin apa, Bu?" tanya Pak Bambang pelan dengan napas yang memburu kesakitan. Naiknya asam napas membuat dadanya terasa begitu sesak. Sebenarnya ia keluar kamar hanya ingin mengambil segelas air hangat untuk minum obat.
Biasanya, Airalah yang selalu sigap mempersiapkan makanan, minuman, hingga jadwal obatnya langsung ke dalam kamar.
"Dada Bapak sesak banget, Bu... sakit." cicit Pak Bambang, napasnya makin berat.
Pak Bambang memang punya riwayat penyakit jantung dan asma yang sewaktu-waktu bisa kambuh. Dokter bahkan sudah mewanti-wanti agar ia tak boleh terlalu lelah atau kepikiran hal berat.
Bukannya prihatin, mulut Bu Ismi malah makin pedas. "Dasar orang penyakitan! Bisanya cuma nyusahin aja!"
Kalimat itu menancap telak. Dada Pak Bambang yang tadinya mulai mereda mendadak makin nyeri tak tertahan. Padahal kemarin kondisinya sudah membaik dan sempat jalan-jalan kecil di sekitar rumah. Tapi sejak Aira pergi, pikirannya kalut memikirkan nasib putri baktinya di luar sana. Hanya saja, Pak Bambang memilih diam. Ia tak ingin membebani anak dan istrinya dengan kondisinya yang serba terbatas.
"Sekarang Ibu sendiri kan yang kelabakan?" sahut Pak Bambang sambil menahan napasnya yang engap-engapan setelah menelan obat. "Gaya-gayaan ngusir Aira, padahal sebenarnya Ibu yang paling butuh dia. Tanpa Ibu sadari, kehadiran Aira di rumah ini tuh vital! Jangan cuma bangga-banggain anak yang kerjanya keren, anak yang berbakti kayak Aira itu juga layak dibanggain!"
Begitu obatnya bereaksi, rasa sesak di dada Pak Bambang perlahan mulai mereda.
Bu Ismi mendengkus geli. "Halah! Palingan itu anak nggak bakal bertahan lama di luar sana. Sekarang paling juga lagi tidur terlantar di kolong jembatan. Mana ada duit dia buat bayar sewa tempat tinggal?"
Pak Bambang menggeleng heran mendengar kepicikan istrinya. "Itu kan cuma tebakan Ibu! Gimana kalau mereka emang nggak bakal balik lagi ke sini? Bapak lihat Devan itu bukan cowok sembarangan. Mana ada kuli bangunan dengan gampangnya gelontorin uang lima juta tunai ke Bapak? Dia juga tanpa mikir panjang nyumbang lima juta buat acara nikahannya Karin! Anak sama menantu kebanggaan Ibu aja nggak pernah tuh ngasih uang segitu banyak!"
*DEGG!*
Kata-kata suaminya menghantam benak Bu Ismi. Ia langsung bungkam.
Pak Bambang sendiri memang sudah curiga pada Devan sejak cowok itu memberikan uang dalam jumlah yang tidak sedikit tanpa kedipan mata.
Ingatan Bu Ismi mendadak berputar. Dulu, Devan pernah menyerahkan uang satu juta hasil setoran kue. Cowok itu juga tak ragu membelikan bermacam makanan mahal untuk rumah ini. Beberapa hari kemudian, Aira menambah lagi uang belanja sebesar satu juta. Dan terakhir, mereka menyodorkan lima juta utuh saat ia minta.
Namun, gengsi Bu Ismi terlalu tinggi untuk mengakui kekeliruannya.
"Halah, nggak mungkin!" tangkis Bu Ismi keras kepala. "Bukan orang sembarangan dari mananya? Paling uang simpanannya terpaksa dikuras habis gara-gara pengen dipuji sama Ibu! Nyatanya motor yang dipakai Devan aja cuma motor butut!"
Pak Bambang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedegilan istrinya. "Bapak cuma ngingetin sekali lagi ya, Bu... jangan sampai Ibu menyesal belakangan!" pungkasnya dingin lalu melangkah kembali ke kamar.
Begitu Pak Bambang menghilang di balik pintu, mata Bu Ismi mendadak membelalak. Ia baru teringat satu hal penting: besok ada acara hajatan!
Seketika badannya terasa lemas, lututnya seolah tak bertulang.
"Ya ampun... besok kan hajatan nikahannya Karin! Masa iya aku harus masak makanan sebanyak itu sendirian?" gumamnya panik.
Tanpa berpikir panjang lagi, Bu Ismi memutuskan untuk meliburkan jualan kuenya hari ini. Ada begitu banyak persiapan jelang pernikahan Karin yang belum tersentuh.
Tepat saat itu, Karin keluar dari kamar dengan wajah tanpa dosa.
"Karin! Besok siapa yang mau bantuin Ibu masak buat acara hajatan kamu?" cercar Bu Ismi langsung.
Karin menepuk jidatnya santai. "Eh, iya juga ya, Bu. Lagian Mbak Aira ngapain sih pakai sok-sokan kabur segala dari rumah? Harusnya kan dia yang megang urusan dapur! Udah tahu adiknya mau nikah, malah keluyuran," gerutu Karin tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Ibu jujur udah nggak kuat kalau harus ngerjain semuanya sendiri," keluh Bu Ismi pasrah.
Karin mengibaskan tangannya ringan. "Yaudah sih, Bu, bikin simpel aja. Makanan catering pesan aja biar nggak repot," sarannya tanpa beban.
Bu Ismi menatap anak kesayangannya itu dengan pandangan tak percaya. "Sebenarnya Ibu juga mau gitu, Karin! Tapi pengeluaran kita bakal membengkak parah! Ibu mana ada uang sebanyak itu!"
"Ya pinjam ke siapa dulu kek, Bu! Nanti kan diganti sama Mas Bagas. Buat skala Mas Bagas, uang segitu mah kecil!" cerocos Karin gampang.
"Pinjam ke siapa? Pinjam bank?" timpal Bu Ismi cepat. "Kalau mau cepat dapet pinjaman gede, jalan satu-satunya ya kita gadaiin sertifikat rumah ini! Nanti kalau kalian udah sah nikah, baru kalian tebus lagi itu sertifikat," usul Bu Ismi.
"Nggak usah pakai acara utang-utangan ke bank!"
Suara Pak Bambang mendadak memotong percakapan dari arah pintu kamar.
"Kalau mau pesta pernikahan yang mewah, suruh aja tuh Karin minta uang sama calon suaminya! Jangan sampai cuma demi pesta semalam, hidup kita malah berantakan dikejar-kejar utang!" tegas Pak Bambang menohok.
Bu Ismi merembet emosi. "Ck! Bapak tuh kalau nggak bisa bantu mending diam aja deh!"
Karin ikut bersedekap dengan wajah cemberut. "Nggak mungkin lah Karin minta-minta uang ke Mas Bagas, Bu! Malu, dong! Karin kan belum sah jadi istrinya, nggak etis cewek nodong uang ke calon suami... kecuali kalau Mas Bagas-nya sendiri yang berinisiatif ngasih," cerocos Karin membela diri.
Pak Bambang tersenyum sinis. "Kalau gitu kamu harusnya bisa menilai sendiri kualitas calon suami kamu! Kalau dia memang sayang dan peduli sama kamu, nggak mungkin dia sampai lupa ngasih uang seserahan atau dana pesta!"
"Bapak nih malah makin memperkeruh suasana deh! Harusnya bantu mikir jalan keluar, bukan malah menyudutkan!" omel Bu Ismi makin sengit.
Pak Bambang mengibaskan tangan, malas berdebat lagi. "Terserah Ibu ajalah! Dikasih tahu susah. Yang jelas kalau ada apa-apa nanti, tanggung sendiri akibatnya!"
Setelah melemparkan peringatan keras itu, Pak Bambang balik badan dan melangkah pergi begitu saja.
Bu Ismi mengelus dadanya sambil menatap punggung suaminya dengan kesal.
"Sudah, nggak usah dengerin omongan Bapak kamu! Besok pagi kita langsung berangkat ke bank buat gadaikan sertifikat rumah. Habis itu kita tinggal pesan catering. Ibu udah nggak sanggup kalau harus masak sendiri!" pungkas Bu Ismi mantap.
Bu Ismi mengangguk mantap, memantapkan rencananya.
"Oh iya, Bu! Karin minta uang lagi dong buat DP gaun pengantin. Hari ini Karin mau fitting baju nih," todong Karin tanpa canggung.
Bu Ismi mengelus dada, matanya melotot. "Ibu udah nggak ada uang lagi, Karin! Uang sumbangan yang dikasih kakakmu kemarin udah Ibu belanjakan habis buat persiapan nikahan kamu. Sekarang cuma tersisa tiga juta perak!"
Karin malah menyeringai enteng. "Tiga juta buat DP dulu juga cukuplah, Bu! Ibu temenin Karin fitting baju ya? Mas Bagas nggak bisa ikut, katanya lagi sibuk banget. Biasalah, namanya juga manajer, urusannya seabrek," pamer Karin bangga.
"Yaudah, ayo Ibu temani. Untung aja tadi Ibu nggak jadi bikin kue," balas Bu Ismi sambil berbenah. Keduanya langsung bersiap-siap meluncur ke salon pengantin.
Di tengah jalan, Karin mendadak teringat sesuatu. "Tapi Bu... walaupun Mbak Aira udah angkat kaki dari rumah, dia tetap harus datang kan di hari pernikahan Karin? Nanti apa kata tetangga sama tamu kalau Mbak Aira sampai absen?"
Bu Ismi mendengkus. "Ya harus datanglah! Masa adiknya nikah, kakaknya malah absen? Jangan mentang-mentang kamu nikah sama mantan pacarnya, terus dia kekanak-kanakan nggak mau datang! Kamu chat aja dia suruh datang. Mau kirim undangan fisik juga kita nggak tahu dia sekarang terlantar di mana," cerocos Bu Ismi.
Karin tersenyum licik sambil mengutak-atik ponselnya. "Sip, Bu! Lumayan juga kan, kalau dia sama suaminya yang cuma kuli bangunan itu datang, bisa kita suruh-suruh jadi seksi sibuk secara gratis!"
Bu Ismi tertawa mengiyakan, menganggap ide licik anaknya itu sangat cerdas.
***BERSAMBUNG***