NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25 : Terseret Ke Semak

" ARGA!!"

Gilang teriak tanpa sadar.

" Lang...suara.Astaga!!" Bima menatap frustasi kearah Gilang yang tak bisa mengontrol diri.

Suaranya pecah. Kenceng banget. Gema di antara batang-batang pohon. Burung yang gak ada aja kayak kaget.

Teriakan itu memantul di udara hampa yang sepi itu,"Arga... Arga... Arga..."

Bima masih bekap kepala Maira pakai selendang lehernya yang bau keringet campur cacing kering. Selendang itu nutup mata-hidung-telinga Maira biar gak kemasukan lagi. Tangan Bima gemetaran.

Elina langsung jongkok tutup kuping. Maira yang dibekap selendang leher makin nangis.

Bima...

Bima yang masih meluk Maira, dia natap Gilang.

Tatapannya bukan marah doang. Frustasi. Kecewa. Takut. Jadi satu.

Mata Bima bilang,"Gilang...kenapa lu teriak?? Kita udah tahan 20 menit nggak bersuara, kenapa sekarang..." Ucapan Bima ketahan dalam hatinya. Dongkol? Pasti lah.

Bima gak sempet ngomong. Karena tanah di bawah kaki mereka bergetar karena dengar suara Gilang.

DUK...DUK... DUK...

Getar. Pelan tapi berat. Kayak jantung raksasa mulai detak lagi.

Pohon Induk yang mereka tempelin, yang tadinya hangat, dalam 2 detik jadi dingin. Dingin banget kayak es. Kulit kayunya yang hitam, retak.

Srekkk...

Retakan itu dari atas, dari tempat cairan kental netes tadi, turun ke bawah, membelah batang. Dari dalam retakan, keluar uap putih bau kayu busuk.

Dari dalam batang, ada yang maksa keluar.

Tangan dulu. Panjang. Kurus. Kayunya hitam basah, sendinya kebalik. Jarinya bukan jari, tapi kumpulan akar-akar kecil yang gerak-gerak sendiri, nyari suara.

Terus kepala.

Gede. Lonjong. Gak ada hidung, gak ada mulut. Cuma ada satu mata di tengah jidat. Ketutup kelopak kayu tebal yang dijahit akar.

Bhayavedin.

Penjaga Hutan Pohon Bermata. Yang tidur kalau hutan diam, bangun kalau ada yang bersuara.

Kelopak mata di jidatnya kebuka pelan.

Krek...

Di dalamnya, mata putih semua, gak ada pupil. Tapi dia gak bisa liat. Dia hanya dengar.

Leher kayunya yang panjang bunyi krek..krek..nengok. Nengok persis ke arah teriakan Gilang.

Dan detik itu juga...

Semua mata-mata pohon di sekeliling mereka, puluhan mata gede yang tadinya terpejam sekarang melek semua.

SREK..SREK..SREK..SREK!

Pupilnya gerak barengan. Semua muter, semua ngarah ke satu titik.

Ke Gilang.

Gilang yang masih setengah jongkok, tangannya masih ngegapai ke arah Arga yang udah setengah ketutup semak, sekarang jadi pusat perhatian satu hutan.

Lendir putih dari atas netes makin deres ke kepala Gilang, karena mata di atasnya melotot ke dia.

Arga di semak-semak, akar udah masuk setengah badan ke tanah. Cuma sisa tangan dan kepalanya yang keliatan. Dia masih bekap mulutnya sendiri, gak teriak, masih taat aturan sampai akhir. Matanya liat Gilang, kayak bilang,"kabur..."

Bhayavedin angkat tangan akar panjangnya yang sebelah kanan. Ujung akar-akar jarinya netes cairan hitam.

Dia gak jalan. Dia ngesot. Batang tubuhnya keluar lagi dari Pohon Induk.

Targetnya bukan Arga yang diseret.

Tapi yang bersuara paling keras.

Gilang.

Maira yang mukanya masih dibekap selendang leher Bima, cuma bisa liat dari sela jari Bima. Dia liat bayangan Bhayavedin makin gede nutupin cahaya.

Bima bisik ke kuping Maira, suaranya gemetar, hampir gak kedengeran.

"Merem... jangan lihat..."

Rasa trauma Elina kembali muncul lihat Arga yang diseret, persis seperti dirinya dulu. Ia takut namun berusaha meredam rasa takut itu.

" Bima..." Elina berbisik takut, matanya masih fokus lihat Arga dan Gilang barengan.

" Tenang El. Kalian diam saja ya. Jangan bersuara."

Otak Bima berputar cepat. Solusi. Ia butuh solusi sekarang.

Sementara makhluk itu menghampiri Gilang yang kini setengah mati menutup mulutnya. Sedangkan Arga, sebentar lagi benar-benar hilang ditelan akar.

Tubuh Gilang gemetar hebat. Lagi-lagi ia membuat kesalahan.

" Sial, gue gak bisa ngontrol diri."umpatnya dalam hati. Sekarang Gilang hanya bisa diam sembari menutup mulutnya kencang. Berharap makhluk itu berhenti mengincarnya.

Sementara itu,akar-akar yang melilit tubuh Arga kini naik ke dadanya. Ikatannya makin kuat dan kencang, sampai napas Arga sesak. Matanya menatap nanar teman-temannya, seolah bilang tolong tapi ketahan.

Ditengah kondisi itu otak Bima benar-benar buntu. Bingung harus apa. Nolong Gilang dulu atau Arga dulu sedangkan waktu terus berjalan. Akhirnya ia buat 1 keputusan.

" El, tolong jaga Maira."bisik Bima lalu buru-buru mendekati Gilang yang terdiam sambil menutup mulutnya.

Bima membantu Gilang berdiri lalu menariknya pelan menjauh dari sana. Sialnya gerakan itu justru menimbulkan suara kecil namun terdengar cukup keras di ruang hening itu.

Makhluk pohon itu mengendus dengan lubang wajahnya yang banyak, mencari asal suara.

Melihat pergerakan itu Bima dan Gilang diam. Benar-benar diam layaknya patung. Mereka sampai menahan napas agar keberadaan mereka tak terendus makhluk pohon tersebut.

Sementara mata-mata itu masih tetap mengawasi mereka. Cairan lengket itu semakin banyak keluar dari sana. Benar-benar membuat mual.

Maira dan Elina yang melihat teman-temannya dalam kondisi sulit tak bisa diam saja.

Maira menyibak selendang diwajahnya.

" Mai, lo mau apa?"bisik Elina mencegah.

" Kita nggak bisa diam aja El."balas Maira ikut berbisik.

Maira tak sengaja melihat senter Elina yang jatuh tak jauh darinya lalu buru-buru meraihnya.

" Mai..." Elina kaget dengan refleks Maira.

Maira tak bergeming.

" Gue ada ide. Lo bantuin gue."ucap Maira pelan.

Maira membisikkan sesuatu ke telinga Elina.

" Lo serius Mai."

" Nggak ada jalan lagi El. Ayo."

Kedua gadis itu bergerak dalam diam.

Sring...

Elina kembali menyorot senter ke semua arah mata-mata itu meski gemetar takut. Mata-mata itu sontak menutup dan Maira memanfaatkan itu membantu Bima menarik Gilang mundur sebelum makhluk pohon kembali bereaksi.

Bima dan Gilang sontak menoleh kearah para gadis. Ternganga tak percaya dengan apa yang dilakukan keduanya.

***

***

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!