Menampar si muka dua, menginjak si pria berengsek, cara belas dendam yang berbeda dengan biasanya. Mau liat bagimana sang ratu menyiksa pria berengsek dan si muka dua sampai ketakutan tapi tidak bisa kabur?
Namun kenapa kali ini, dia tidak bersembunyi atau menghindar? Kenapa dia malah terus mengikuti ku?
perhatian!!!
"Ratu" tanda kaya gini artinya itu percakapan bisa
'Ratu' tanda ini tanda nya si tokoh lagi berpikir dalam hati atau bicara di dalam hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelie Valaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 26
Tiga hari adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menghancurkan fondasi karier seseorang yang dibangun di atas kebohongan. Di dalam ruang tamu Vila Cassiopea yang tenang, hanya terdengar ketukan ritmis dari jemari Kaeno yang menari di atas papan ketik. Layar laptopnya merefleksikan barisan kode hijau yang rumit, mengunci sistem Weibo dalam cengkeraman tak kasat mata.
Cassiopea menyesap teh chamomilenya dengan gerakan anggun, namun matanya yang sedingin es tidak pernah lepas dari infografis tren media sosial yang terus melonjak. Nama Silvia kini bertengger di peringkat satu, dua, dan tiga pencarian terpopuler, diikuti oleh tagar pencarian keadilan untuk Elva Kirana.
"Sistem Weibo mencoba melakukan bypass melalui server cadangan di Shenzhen lima menit lalu," Kaeno bergumam tanpa mengalihkan pandangan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan. "Amatir. Aku menanam logic bomb di sana. Begitu mereka menyentuhnya, seluruh riwayat transaksi gelap studio Silvia akan terunduh otomatis ke peladen publik."
"Biarkan mereka berjuang sedikit lagi," sahut Cassiopea, suaranya lembut namun sarat akan ancaman. "Beri mereka harapan palsu sebelum kita menjatuhkan pukulan terakhir. Aku ingin Silvia merasakan bagaimana rasanya menjadi tikus yang terpojok, persis seperti yang dialami Elva saat mereka memfitnahnya."
Kaeno terkekeh, memeluk boneka kelinci besarnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menekan tombol Enter dengan mantap. "Perintah dilaksanakan, Bos. Tiga hari ke depan akan menjadi neraka paling spektakuler bagi Star Entertainment."
Sementara itu, di lantai teratas gedung Star Entertainment CO. LTD, suasananya bagaikan medan perang yang porak-poranda. Ruang kerja Silvia yang biasanya rapi kini berantakan. Pecahan vas bunga, kertas-kertas dokumen yang robek, dan kosmetik mahal berserakan di atas lantai marmer.
Silvia berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu. Rambutnya yang biasa ditata sempurna kini acak-acakan. Di hadapannya, sang manajer utama dan direktur humas menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata sang aktris papan atas yang sedang kesurupan amarah.
"Tiga puluh jam! Ini sudah lewat dari tiga puluh jam dan wajahku masih terpampang di halaman utama Weibo?!" Silvia berteriak, suaranya melengking tinggi hingga membuat para staf di luar ruangan gemetar ketakutan. "Aku sudah membayar kalian miliaran rupiah setiap bulan! Di mana tim IT sialan itu?! Kenapa menghapus satu video kencing bajingan itu saja tidak becus?!"
"Nona Silvia, tolong tenang dulu..." sang manajer mencoba menenangkan dengan suara bergetar. "Pihak teknisi Weibo baru saja mengirimkan pesan. Mereka... mereka menyerah. Mereka bahkan mengembalikan seluruh uang suap yang kita berikan kemarin."
Silvia terbelalak, melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja manajernya. "Apa katamu?! Menyerah?!"
"Mereka bilang peladen mereka dikunci oleh peretas tingkat dewa," potong Direktur Humas dengan wajah pucat pasi. "Bukan hanya video kencan Anda dengan aktor tidak terkenal itu yang tidak bisa dihapus, tetapi sekarang... sekarang muncul utas baru yang melampirkan bukti transfer bank dari studio kita untuk membeli akun-akun pemasaran (marketing accounts) saat memfitnah Elva Kirana tiga bulan lalu."
Mendengar nama Elva Kirana disebut, jantung Silvia seakan berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. "Bukti... transfer?"
"Ya," Direktur Humas menelan ludah dengan susah payah. "Semua mutasi rekening rahasia studio atas nama asisten Anda bocor. Publik sekarang tahu bahwa skandal pencurian gelang giok dan rumor Elva menggoda produser adalah pengalihan isu yang sengaja kita ciptakan. Netizen menuduh Anda sebagai pembunuh karakter seorang pendatang baru."
Silvia mundur beberapa langkah hingga kakinya menabrak tepian meja kaca. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari berbagai merek fesyen mewah yang menjadikannya brand ambassador masuk bertubi-tubi—semuanya berisi surat pemutusan kontrak sepihak. Saham Star Entertainment merosot tajam sebesar 15 persen dalam hitungan jam. Rekan kencannya, sang aktor tidak terkenal, sudah lebih dulu mematikan ponsel dan menghilang dari publik.
"Ini tidak mungkin... Siapa yang melakukan ini?! Elva hanya seorang figuran miskin! Dia tidak punya latar belakang! Siapa di belakangnya?!" Silvia menjerit frustrasi, menjambak rambutnya sendiri saat menyadari karier yang dibangunnya selama sepuluh tahun mulai runtuh seperti istana pasir.
Di belahan kota yang lain, di dalam ruang perawatan sebuah rumah sakit swasta, Elva Kirana duduk di tepi ranjang dengan lengan yang masih diperban. Matanya yang jernih menatap layar televisi yang menayangkan berita terkini tentang kejatuhan Silvia.
Pintu kamar rawatnya terbuka perlahan. Kenzie masuk dengan langkah tegap, wajahnya yang tampan tampak mengeras menahan emosi. Di belakangnya, asisten pribadinya membawa tumpukan dokumen baru.
"Kenzie..." Elva memanggil pelan, ada nada ketidakpercayaan dalam suaranya. "Apakah kau melihat beritanya? Silvia... semua fitnah tentangku di masa lalu ternyata bersumber darinya."
Kenzie berjalan mendekat, lalu duduk di kursi samping ranjang. Dia menggenggam tangan Elva yang tidak terluka dengan erat. Ada kilat dingin di matanya saat mengingat bagaimana Yuni kemarin malam mencoba memengaruhinya untuk menghancurkan Elva lebih jauh. Kenzie adalah pria yang cerdas; meskipun sistem Yuni sempat memengaruhinya, bukti nyata yang disebarkan oleh hacker misterius di Weibo bertindak seperti tamparan keras yang memecahkan ilusi di otaknya.
"Aku sudah melihatnya, Elva," kata Kenzie, suaranya berat dan penuh wibawa. "Star Entertainment sedang berada di ambang kehancuran. Aku telah memerintahkan divisi hukum Grup Media Pratama untuk mencabut semua investasi kita dari proyek drama 'Mahkota yang Hilang' yang melibatkan Silvia. Tidak hanya itu, aku akan menuntut mereka atas pencemaran nama baikmu."
Elva menatap Kenzie dengan mata berkaca-kaca. "Tapi bagaimana dengan Yuni? Dia... dia adalah aktris utama yang dipilih oleh investor. Kemarin di set, dia sangat dekat denganmu."
Kenzie mendengus dingin, kilat kejijikan melintas sesaat di wajahnya saat mengingat aroma parfum Yuni yang aneh—aroma yang sempat membuatnya linglung di ruang VIP. "Yuni hanyalah pion yang melompat di waktu yang salah. Dia menggunakan koneksi busuk untuk merebut peranmu. Mulai hari ini, aku menarik seluruh dukungan finansialku darinya. Tanpa dana dari Media Pratama, drama itu tidak akan pernah tayang, dan reputasi Yuni yang ikut membela Silvia kemarin akan ikut terseret ke dasar jurang."
Kenzie mendekatkan wajahnya, mengecup kening Elva dengan lembut. "Maafkan aku karena sempat terlambat melindungimu. Aku berjanji, siapa pun yang menyentuhmu di industri ini, akan membayar harganya seribu kali lipat."
Kembali ke Vila Cassiopea, malam ketiga telah tiba. Jam dinding menunjukkan tepat pukul dua belas malam ketika Kaeno meregangkan kedua tangannya ke udara, mengeluarkan suara helaan napas lega yang panjang.
"Tiga hari penuh. Sistem mereka benar-benar lumpuh total, dan sekarang Star Entertainment resmi mengumumkan kebangkrutan mereka. Silvia dikabarkan masuk rumah sakit karena syok berat," Kaeno melaporkan dengan nada santai seolah baru saja menyelesaikan permainan video.
Cassiopea, yang sedang membaca buku di sofa, perlahan menutup bukunya. Sebuah senyuman dingin namun penuh kepuasan terukir di wajahnya yang rupawan. Aura kemarahannya yang membara tiga hari lalu kini telah berganti dengan ketenangan seorang pemenang.
"Kerja bagus, L," kata Cassiopea lembut, menggunakan inisial legendaris adiknya.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya untuk adik kecilmu, Kak?" Kaeno bertanya sambil memutar kursinya, menatap Cassiopea dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu. "Kenzie tampaknya sudah mulai membersihkan nama Elva di publik. Tapi jalang kecil bernama Yuni itu... dia masih memiliki sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Analisis dataku menunjukkan ada anomali pencarian dan lonjakan popularitas yang tidak wajar pada dirinya, seolah-olah dia memiliki 'sesuatu' yang membantunya memanipulasi persepsi orang."
Cassiopea berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan malam kota yang gemerlap. Dia menyilangkan dadanya, matanya menyipit tajam menembus kegelapan.
"Sesuatu yang tidak wajar, katamu?" Cassiopea bergumam, mengingat kembali bagaimana Yuni tiba-tiba mendapatkan kulit yang begitu sempurna dan karisma yang berlebihan dalam waktu singkat. Sebagai seorang peretas yang jauh lebih jenius dari Kaeno, Cassiopea tahu bahwa di dunia ini, ada beberapa hal tersembunyi yang tidak bisa dijelaskan oleh teknologi biasa—seperti distorsi energi atau entitas parasit.
"Jika dia menggunakan cara-cara kotor dan bantuan iblis untuk menindas adikku, maka aku akan menjadi iblis yang lebih mengerikan untuk mencabut akarnya," ucap Cassiopea dengan nada mutlak. "Kaeno, siapkan identitas baru untukku. Sudah saatnya aku turun langsung ke industri hiburan sebagai produser utama. Aku ingin melihat sendiri, seberapa kuat 'sesuatu' yang ada di dalam diri Yuni saat berhadapan dengan kekuatan uang dan kecerdasan mutlak."
Kaeno tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat mendengar perintah tersebut. "Siap, Kak! Panggung baru telah disiapkan. Mari kita lihat bagaimana ratu palsu itu akan hancur di tangan pemilik Vila Cassiopea yang sesungguhnya."