"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Kedamaian Yang Kembali Dan Ancaman Dari Bawah Tanah
Sang raja terdiam sejenak, tatapannya berubah menjadi sangat serius " Ingatlah pesan terakhir ku, anak muda. Kejadian yang jauh lebih besar dan mengerikan sedang menantimu di depan, Bersiaplah.... Karena raja bawah tanah kini telah bangkit!"
Begitu kalimat terakhir itu terucap, sebuah keajaiban terjadi. Dalam sekejap mata wujud monster mengerikan itu luruh dan bertransportasi . Energi iblis yang pekat terkikis habis, menyisakan sesosok arwah raja manusia yang gagah dengan pakaian kebesaran yang utuh dan senyuman yang sangat tenang.
Arwah itu mengangguk pelan ke Itsuki sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya ke udara, menyusahkan sebuah kartu segel yang kini telah bersih dari kutukan hitam.
Itsuki menangkap kartu itu lalu menghembuskan napas lega, akhirnya penderitaan sang raja kuno telah berakhir. Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik.
Tiba-tiba, seluruh kaki gunung Ambarawa terguncang dengan kekuatan yang jauh lebih hebat dari sebelumnya . Langit-langit gua mulai runtuh secara masif, menjatuhkan bongkahan batu raksasa yang siap mengubur mereka secara hidup-hidup, gunung itu akan segera meletus.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Itsuki mengerahkan seluruh sisa energi magma core Sovereign miliknya. Tubuhnya terselimuti cahaya merah, bergerak dengan kecepatan cahaya.
Itsuki menyambar tubuh Roy, Hinata, dan Kaguya yang masih belum sadarkan diri sekali gus. Dalam waktu kedipan mata, mereka melesat menembus reruntuhan batu, keluar dari perut gunung yang meledak, dan terbang menjauh meninggalkan kepulan asap vulkanik gunung Ambarawa.
Beberapa waktu kemudian......
Suasana berubah total, sinar matahari yang hangat kembali menembus jendela kamar. Membawa hawa sejuk yang menenangkan, lepas pertarungan hidup dan mati tersebut. Itsuki dan teman-temannya akhirnya berhasil sampai kembali kerumah mereka dengan selamat.
Ketika Itsuki keluar rumah, rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya. Suasana di desa dan di sekolah mereka kini telah berubah menjadi sangat damai. Murid-murid yang awalnya menghilang secara misterius akibat di culik oleh pasukan monster.
Kini telah pulang ke rumah mereka masing-masing dalam keadaan sehat dan selamat. Gelak tawa anak-anak terdengar kembali di jalanan, dan kekuatan yang mencekam wilayah itu secara berhari-hari kini telah sirna sepenuhnya.
Mereka telah berhasil memenangkan pertempuran ini, meski Itsuki tahu, peringatan tentang raja bawah tanah akan menjadi awal petualang baru yang jauh lebih berbahaya.
Kedamaian seolah menjadi barang mewah yang datang dengan tanggal waktu. Bagi Itsuki, ketenangan yang menyelimuti koridor kini terasa semu.
Seperti lapisan es tipis di atas danau yang dalam yang siap retak kapan saja, langkah kaki para murid yang berlarian riang dan gelak tawa yang meriah di area kantin sama sekali tidak dapat mengikis kabut tebal yang menyelimuti pikirannya.
Di pojok kelas, dekat jendela yang menatap langsung ke arah jajaran perbukitan hijau, Itsuki duduk termenung. Tatapannya kosong, tetapi benaknya bekerja keras memproses bait demi bait tentang peringatan terakhir dari sang raja kuno di gunung Ambarawa.
"Raja Bawah Tanah Kini Telah Bangkit....."
Kalimat itu terus teringat, berputar-putar seperti melodi kutukan yang menolak pergi. Di tengah lamunan yang kian larut. Atmosfer di sekitarnya mendadak membeku, kebisingan ruang kelas perlahan memudar, yang di gantikan oleh gema dari ruang memori yang paling gelap dan paling di hindarinya selama ini.
Itsuki terlempar kembali ke masa lalunya, masa kecil yang seharusnya di penuhi kebahagiaan. Tetapi ia terus menerus mengingat sosok yang rupanya tidak jelas di pikiran yang tertanam sangat dalam.
(Bersambung).