NovelToon NovelToon
Mantan Tuan Muda

Mantan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

angan angan

Jam istirahat makan siang di kantor PT Golden selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh para karyawan baru untuk melepas penat. Di sudut area kubikel lantai tiga, suasana tampak sedikit lebih santai.

Beberapa staf mulai berkumpul di meja kerja masing-masing sambil menikmati bekal atau sekadar mengobrol ringan untuk mengakrabkan diri.

Rico menggeser kursi berrodanya sedikit mendekat ke arah meja rekan kerjanya, Budi. Pikirannya sejak kemarin masih saja tertuju pada sosok wanita cantik yg berkuasa yang memimpin perusahaan raksasa ini.

"Eh, Bud..." bisik Rico dengan nada suara yang sengaja direncanakan agar tidak terdengar oleh karyawan senior di sekitar mereka. "Direktur kita cantik banget, ya."

Budi yang sedang sibuk merapikan tumpukan kertas dokumen di atas mejanya langsung menoleh sekilas, lalu mengangguk setuju.

"Iya juga, ya... Karismanya itu luar biasa. Sekalinya lewat, langsung bikin satu ruangan senyap," sahut Budi jujur.

Rico menopang dagunya dengan tangan, matanya menatap kosong ke arah lorong lift VIP yang biasa dilewati oleh jajaran direksi.

"Dengar-dengar... beliau itu masih jomblo, lho."

"Ah, masa?" tanya Budi dengan dahi berkerut, meragukan informasi yang dibawa oleh sahabat barunya itu.

"Wanita sesukses dan secantik Ibu Mita mana mungkin belum punya pasangan."

"Ya iyalah, logis aja," kata Rico mencoba meyakinkan dengan argumennya sendiri.

"Orang besar, konglomerat kelas atas seperti beliau, kalau menikah pasti beritanya bakal rame dan heboh di mana-mana kan?

Nah, selama ini apa kamu pernah dengar atau melihat ada berita di media cetak maupun televisi tentang pernikahan beliau?" tanya Rico bertubi-tubi.

Budi terdiam sejenak, memproses pertanyaan Rico dalam otaknya. Dia mengingat-ingat seluruh artikel bisnis yang pernah dibacanya tentang PT Golden.

"Hm... benar juga sih. Enggak pernah ada info soal pacar atau pernikahan beliau di media."

Melihat binar mata Rico yang tampak berbeda, Budi seketika menyipitkan matanya penuh selidik.

"Jangan bilang... kamu mau cari kesempatan buat mendekati beliau, ya?" tebak Budi, sedikit menahan tawa karena menganggap angan-angan kawannya itu terlalu tinggi seperti tingginya langit.

Rico justru menyunggingkan senyuman tipis yang penuh percaya diri, membusungkan sedikit dadanya di balik kemeja kerja barunya.

"Kalau dia mau, kenapa harus menolak?" kata Rico dengan nada bergurau namun terselip harapan yang murni.

Dia merasa sebagai lulusan sarjana yang kini bekerja di kantor pusat, rico merasa dia memiliki modal yang cukup untuk setidaknya menarik perhatian wanita.

Budi hanya geleng-geleng kepala mendengar ide gila dan nekat dari kawannya itu.

"Halu kamu ketinggian, Ric. Sadar diri, kita ini cuma remahan rengginang di kubikel, sedangkan beliau itu pemilik gedung ini," canda Budi sambil memukul bahu Rico pelan dengan gulungan kertas berkas.

Tawa kecil Rico pecah mendengar ledekan Budi.

Namun... jauh di lubuk hatinya, rasa penasaran itu tidak berkurang sedikit pun. Rico sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa angan-angannya untuk mendekati sang Direktur Utama akan menjadi awal dari sebuah kejutan terbesar dalam hidupnya, di mana rahasia pernikahan tertutup Mita di kantor catatan sipil beberapa waktu lalu akan segera meruntuhkan seluruh dunia khayalan kubikelnya.

Suasana obrolan di kubikel itu mendadak semakin ramai. Candaan Rico tentang mendekati sang direktur utama rupanya terdengar oleh rekan kerja baru mereka yang lain.

"Misimu terlalu sulit," kata Intan yang menyahut dari belakang dengan nada mengejek yang renyah.

Intan dan Mega pun duduk di dekat mereka, bergabung membawa wadah bekal masing-masing demi menikmati jam istirahat bersama. Kehadiran dua karyawati baru itu langsung menambah seru atmosfer meja kerja Budi.

"Bener kata Budi..." kata Mega ikut menyambar pembicaraan, menyetujui opini bahwa mendekati Ibu Mita adalah hal yang mustahil bagi karyawan tingkat bawah seperti mereka.

Rico hanya terkekeh, mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Yah, kalau jodoh gimana?" tanya Rico membela diri, menolak untuk menyerah pada angan-angannya.

"Hm... pembelaan klasik," kata Intan sambil memutar kedua bolanya matanya, merasa jawaban Rico terlalu klise.

Melihat perdebatan yang mulai melebar ke urusan takdir, Budi segera menengahi. Perutnya sudah terlalu lapar untuk ikut bergosip lebih jauh.

"Udah, udah, kita makan aja," kata Budi mencoba mengalihkan perhatian. "Yang di depan adalah yang pasti."

Namun, perkataan spontan Budi itu langsung membuat Mega sedikit tersenyum penuh arti. Matanya menatap Budi yang duduk tepat berhadapan dengannya.

"Bud, apa maksudmu?" tanya Mega dengan nada menggoda, sengaja memancing reaksi dari Budi.

"Iya, yang di depan," kata Budi menegaskan dengan polos, bermaksud mengatakan bahwa makanan yang sudah tersaji di depan mata adalah hal paling pasti untuk diurus saat ini ketimbang memikirkan jodoh yang belum jelas.

"Hey, Bud... dasar laki-laki," kata Intan menyenggol lengan Budi dengan raut wajah gemas.

"Apa kamu enggak nyadar siapa yang ada di depanmu sekarang?"

Budi masih fokus dengan piring nasinya, sama sekali belum menyadari arah pembicaraan kedua teman wanitanya. Dia hanya mengangguk santai dan menunjuk ke bawah, ke arah lauk pauk di piringnya. "Iya, ini lauknya..."

Namun, sorot mata para temannya

Rico dan Intan,

menunjukkan hal berbeda. Mereka bertiga menatap Budi dengan pandangan tertuju lurus pada sosok Mega yang duduk manis tepat di seberang meja Budi. Atmosfer di sekitar kubikel itu mendadak berubah menjadi canggung namun penuh siasat perjodohan kecil.

Merasakan ada yang aneh dengan keheningan mendadak itu, Budi pun sedikit mendongak, mengalihkan pandangannya dari piring nasi. Dia pun akhirnya sadar sepenuhnya. Di depannya bukan hanya sekadar makanan, melainkan ada Mega yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis yang manis. Kata-katanya tadi tanpa sengaja terdengar seolah-olah dia sedang menggombal dan menunjuk Mega sebagai masa depan yang pasti.

Wajah Budi seketika memerah karena salah tingkah. Merasa hawa di sekitarnya mendadak menjadi sangat panas, Budi langsung mengambil tisu dan mengelap keringat di dahinya yang keluar karena gugup. Keriuhan kecil penuh tawa di kubikel lantai tiga itu menjadi potret kebahagiaan sederhana mereka sebagai pekerja baru, tanpa ada yang tahu bahwa di lantai teratas gedung ini, takdir yang jauh lebih besar dan mengejutkan sedang bersiap untuk mempertemukan mereka dengan kebenaran yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!