Seorang wanita yang bernama Winda sudah lama menikah mencoba bermain api dengan teman sekantornya yang bernama Hendra. Rasa cinta & nyaman yang sebelumnya tidak dirasakan olehnya ditemukan dalam diri Hendra. Setelah sepakat meninggalkan pasangan masing-masing.
Hendra justru memilih kembali kedalam pelukan istrinya. Winda yang sudah terlanjur menggugat cerai suaminya merasa kecewa & marah kepada Hendra.
Apa yang dilakukan Winda setelah Hendra & Suaminya tidak didapati ?
BURUAN KEPOIN ??? JANGAN LUPA BACA YAA KISAH KELANJUTANNYAAA !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nukhbatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Kepergok Lagi
Makin semakin larut, badan Winda pun remuk redam setelah pelan-pelan merapikan pakaiannya kedalam dus yang sudah tersedia. Ia harus mengucapkan apalagi untuk membalas Budi kebaikan Pak Rio yang sudah ringan tangan mau membantu saya merapikan sebagian besar barang-barang saya kedalam dus besar. "Tangan dan kaki pun sangat capek dan pegal sekali ingin rasanya ada yang mau memijat seluruh tubuh ini" Batin Winda enteng.
"TOK...TOK ...TOK....
Pak Rio pun segera membuka pintu rumah kontrakan Winda tanpa dipersilahkan masuk olehnya. Dengan wajah penuh kebapakan dengan memberikan perhatian kepada Winda. Tentunya kebaikan Pak Rio ada udang dibalik rempeyekan.
"Nak Winda ini saya bawakan sebungkus bakso ingin menghilangkan sedikit kepenatan dan lelahnya tubuh, Nak Winda". Ucap Pak Rio dengan menyodorkan sebungkus bakso kepada Winda, ia pun tidak lupa membawakan segelas plastik es jeruk lemon yang rasanya seger poll.
"Terimakasih Pak Rio, Bapak baik sekali mau membantuku serta memberikanku dengan membawakan sebungkus bakso dan es, aku tidak tau membalasnya dengan apa". Jawab Winda dengan wajah memelas kepada Pak Rio.
Setelah selesai makan bakso, betapa kagetnya Winda ketika Pak Rio ingin mencoba mencium pipi halusnya yang sedang merona itu karena abis makan bakso berkuah pedas. Pak Rio pun tak kuasa menahan dirinya. Keinginannya untuk mencium pipinya itu karena berwarna merah merona disertai dengan cucuran keringat karena kepedasan.
"Hayo...Pak Rio, mau apa toh". Ucapku dengan senyuman lebarku melihat tingkah lucu Pak Rio yang ingin mencuri mencium pipiku namun sudah ketauan denganku ini.
"Tidak apa Nak Winda, abis pipi nak Winda lucu jadinya Bapak mau cium deh". Jawabnya jujur dengan wajah polos dan malu-malu.
"Kalau Pak Rio cium aku nanti istri Bapak marah lho kalau ketauan". Ledek Winda lagi kepada Pak Rio dengan cengar cengir.
"Istriku kan sedang jualan sayuran dipasar mana ada yang tau nak Winda". Ucapnya lagi dengan mencari alasan agar diijinkan Winda untuk mencium pipinya.
"Saya gak mau ah takut istrinya Pak Rio labrak saya lagi kesini". Ucap Winda yang belum selesai bicara namun Pak Rio langsung nyosor bibirnya menciumi pipi Winda yang sedang merah-merah meronanya.
Pak Rio pun langsung mendekap Winda dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Ia pun berkata jujur kepada Winda. Langsung jatuh hati pertama kali melihat Winda yang cantik dan seksi.
Hubungan mereka bukan hanya sekedar hubungan antara anak dan Bapak angkat lagi. Usia mereka berdua pun terpaut sangat jauh yaitu 25 tahun. Genggaman tangan Pak Rio pun memberikan kehangatan dan perlindungan bagi Winda yang selama ini kesepian dan sangat membutuhkan pertolongan lelaki.
Jiwa lelaki Pak Rio pun mulai bergelora melihat wanita cantik yang semok yang sedang berbadan dua, ingin rasanya diri ini menjauh dari Winda namun setan sering berbisik ditelinga Pak Rio dengan mengatakan "Hayo, Pak Rio sikat Pak... Kapan lagi punya simpanan secantik Winda ini.
Mereka berdua pun terhanyut dengan suasana yang tiba-tiba gerimis hujan yang mengguyur menambah keintiman emosional mereka berdua. Dengan ucapan Pak Rio yang penuh dusta dan mesra ini seakan menjadi rayuan receh buat Winda yang sudah terbuai oleh kebaikan Pak Rio ini.
Dengan sergapnya Pak Rio dapat menaklukan hati Winda dengan gampangnya merelakan tubuhnya untuk Pak Rio semalaman yang ditemani oleh suara gerimis dan kilatan petir yang menyala.
Kini tiada lagi kisah hubungan mereka antara Bapak dan anak melainkan yang ada kini hubungan mereka bagaikan sepasang sejoli dengan terpaut usia yang sangat jauh.
Sebelum matahari terbit dengan gagahnya menyinari pemukiman kontrakan rumah Winda, Pak Rio pun keluar dengan berjalan tergesa-gesa dari rumah kontrakan Winda jam 4 subuh. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya keluar dari sini. Bisa-bisa perang dunia 3 didalam rumah tangga nya.
Lagi...lagi...dan lagi... Bu Sri yang terbangun dinihari ingin mencari sarapan pagi untuk anaknya yang ingin berangkat kerja pagi-pagi, tak sengaja berpapasan dengan Pak Rio yang baru keluar dari kontrakan rumah Winda.
"Nah lho... Pak Rio abis ngapain didalam kontrakan rumah Bu Winda, kok jam segini baru keluar dari rumahnya". Ledek Bu Sri kepada Pak Rio yang mendadak jadi tegang dan kaku. Ia pun langsung membuka dompetnya.
"Bu Sri, ini untuk Ibu. Tolong tutup mulutnya ya Bu... Saya abis bantuin Bu Winda yang besok akan pindahan kontrakannya ko, Bu". Ucap Pak Rio berbohong dengan mencari banyak alasan.
"Jadi Bapak nyogok saya nie, Terima kasih ya Pak. Saya ambil ini yang pemberian dari Bapak ya". Sahutnya dengan muka sumringah karena menerima uang 300 ribu dari tangan Pak Rio.
Lumayan pagi-pagi dapat rejeki, sering-sering saja saya papasan dengan Pak Rio abis keluar dari kontrakan rumah Bu Winda". Batin Bu Sri dengan muka bahagianya.
Winda pun tak menyangka dirinya abis bermalam dengan Pak Rio, seorang lelaki yang sudah tua namun masih perkasa dan masih bergelora nafsunya.
Istri Pak Rio hanya sibuk sendiri menyibukkan berjualan sayur dipasar tanpa memperdulikan Pak Rio yang setiap malam kedinginan tanpa ditemani oleh sang istri. Pak Rio pun terpaksa mencari kehangatan wanita lain yang mau memberikan selimut kenikmatan.
Winda tak sungkan lagi meminta tolong dengan Pak Rio, dengan keberadaan Pak Rio sekarang ini sedikit demi sedikit membantunya untuk pindah dari kontrakan rumah ini yang lumayan lama ia tempati.
Namanya Bu Sri walau sudah disogok oleh uang berapapun tetap saja, ia janji dengan Pan Rio tidak mau menceritakan namun pagi ini ketika berkumpul dengan emak-emak diwarung mang Darman mulutnya gatal kalau tidak bergosip. Ia pun keceplosan kalau jam 4 subuh berpapasan dengan Pak Rio yang abis keluar dari kontrakan rumah Winda.
"Tau gak ibu-ibu, jam 4 subuh saya mergokin Pak Rio abis keluar dari kontrakan rumah Ibu Winda". Ucap Bu Sri kepada emak-emak yang sedang membeli sayuran sembari bergosip ria.
"Yang benar... Ibu gak bohong toh". Ucap Bu Sekar bertanya dengan muka kepo nya.
Buat apa saya bohong, ini uang sogokan dari Pak Rio buat aku supaya tidak ngadu ke Bu Dewi, istrinya Pak Rio". Sahut Bu Sri dengan muka senangnya membuka aib Pak Rio dan Winda.
"Wajar saja Pak Rio selingkuh wong tengah malam kalau tidur tidak ada yang nemenin toh. Dia cari selimut yang lain lah untuk mencari kehangatan. Bu Dewi kan sibuk jualan sayur dipasar". Ucap Bu Sekar lagi kepada Bu Sri.
Belum sampai seharian berita itu pun menyebar Dan akhirnya sampai juga ketelinga Bu Dewi, Istrinya Pak Rio. Ini yang paling ditakutin oleh Pak Rio.