Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8— Kesadaran yang Terlambat
Sore hari, Bara kembali ke apartemennya setelah seharian disibukkan dengan berbagai urusan perusahaan. Ia begitu lelah dan pusing memikirkan beberapa masalah yang belakangan ini terus berdatangan. Sejak kejadian di pesta peluncuran perusahaan beberapa hari lalu, hidupnya terasa jauh dari kata tenang. Ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanyalah masalah sementara dan akan segera berlalu.
Begitu masuk ke dalam apartemen, Bara langsung melemparkan tas kerjanya ke atas meja, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Ia menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata, berharap bisa beristirahat sejenak sebelum kembali memikirkan urusan perusahaan.
“Mentari, buatkan aku minuman, dong. Kepalaku benar-benar pusing,” teriaknya tanpa membuka mata.
Bara menunggu beberapa saat. Biasanya, Mentari akan segera datang setelah mendengar suaranya. Perempuan itu bahkan sering kali sudah menyiapkan minuman kesukaannya sebelum ia sempat meminta.
Namun, setelah beberapa menit menunggu dan tidak ada jawaban Bara mengerutkan kening. Masih dengan mata yang terpejam, Ia mengira Mentari mungkin sedang berada di kamar mandi atau sibuk melakukan sesuatu di dalam kamar.
“Mentari!” panggilnya sekali lagi dengan suara lebih keras.
Namun tetap tidak ada jawaban dan hal itu membuatnya membuka mata perlahan. Ia menoleh ke arah dapur yang terlihat kosong, kemudian memandang ke ruang makan. Tidak ada seorang pun di sana. Apartemen itu terasa begitu sunyi. Suara pendingin ruangan yang terdengar samar membuat kesunyian tersebut semakin terasa.
“Ke mana dia?” gumamnya.
Dengan malas pria itu menegakkan tubuh, lalu mengambil ponsel dari saku jasnya. Hatinya mengatakan mungkin perempuan itu sedang keluar membeli sesuatu. Akan tetapi Mentari tak juga muncul hingga hari semakin gelap.
Bara mengernyit, berusaha mengingat kapan terakhir kali melihat perempuan itu. Lalu ia teringat pagi hari itu setelah malam peresmian perusahaan Mentari pergi dengan membawa laptopnya. Jika dihitung mulai hari itu berarti sudah tiga hari Mentari tidak pulang ke apartemen.
Saat itu ia tidak terlalu memikirkan kepergian Mentari, karena ketika tiba di kantor ia justru mendapatkan kejutan dengan banyaknya masalah. Bara mengira perempuan itu hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Lagi pula, selama ini Mentari selalu kembali setelah mereka berselisih. Namun, entah kenapa kali ini ia merasa berbeda.
Bara bangkit dari sofa, lalu melangkah menuju kamar tamu yang biasa digunakan Mentari. Ia mengetuk pintunya sekali sebelum memutar gagang pintu dan membukanya. Tetapi ternyata kamar itu kosong.
Tempat tidur itu masih terlihat rapi. Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang baru saja menggunakannya. Bara melangkah masuk, kemudian memandang ke sekeliling kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kamar yang biasanya terlihat hangat kini tiba-tiba terasa dingin.
“Mentari benar-benar belum pulang?” gumamnya.
Ia berjalan mendekati lemari pakaian dan membukanya. Beberapa gaun yang pernah dibelinya untuk Mentari masih tergantung rapi. Tas-tas mahal pemberiannya juga tersusun di rak, begitu pula sejumlah kotak perhiasan yang selama ini menjadi hadiah darinya.
Bara terdiam kemudian melihat meja rias di sudut kamar. Di sana terdapat berbagai perlengkapan kecantikan Mentari, parfum, serta beberapa aksesori yang biasa digunakan perempuan. Tidak ada sesuatu yang tampak berbeda, hingga matanya menatap satu benda yang membuat Bara bergegas mendekati meja rias tersebut. Kartu kredit tambahan yang pernah diberikannya kepada Mentari tergeletak begitu saja di sana.
Ia mengambil kartu itu dan memandanginya beberapa saat. Tiga bulan lalu ia memberikan kartu itu kepada Mentari agar perempuan itu bisa membeli kebutuhan sehari-hari tanpa harus meminta uang kepadanya. Namun, tiba-tiba Bara teringat bahwa ia tak pernah menerima pemberitahuan bahwa kartu itu digunakan.
Bara membuka aplikasi perbankan di ponselnya, kemudian memeriksa riwayat penggunaan kartu itu dan menelusuri tanggal demi tanggal, tetapi tidak menemukan transaksi dari kartu itu sama sekali.
“Kenapa dia tidak menggunakannya?” gumamnya. “Lalu selama ini ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari pakai apa?"
Bara mengingat gaji Mentari yang kecil di perusahaan, hingga tak mungkin rasanya jika Mentari memenuhi semua kebutuhan menggunakan gajinya sendiri.
Bara mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia kembali memandang kartu di tangannya, lalu teringat bahwa selama ini Mentari tidak pernah meminta apa-apa darinya.
Pria yang sama sekali tidak mengetahui bahwa Mentari adalah seorang CEO perusahaan besar yang memiliki sumber penghasilan sendiri. Yang ia tahu adalah Mentari hanya seorang karyawan biasa selalu berada di sampingnya membantunya dan mendukungnya meraih semua yang dia cita-citakan. Hingga yang awalnya Bara hanya seorang staff biasa di sebuah perusahaan kecil, kemudian menyewa gedung dan mendirikan perusahaan sendiri, lalu akhirnya gedung itu kini menjadi miliknya.
Namun ia tidak sadar, bahwa semua yang diperolehnya adalah pemberian dari Mentari.
“Apa dia benar-benar marah gara-gara kejadian di pesta itu dan sengaja tidak pulang?” ucapnya pelan.
Bara mengambil ponselnya kemudian membuka ruang percakapan dengan Mentari. Dan seketika itu juga keningnya berkerut. Ternyata sudah tiga hari lamanya Mentari sama sekali tidak mengirim pesan padanya. Padahal dulu biasanya ia merasa jengah setiap kali Mentari mengingatkan segala sesuatu yang sepele. Tapi saat mentari tak lagi mengirim pesan, entah kenapa ia merasa hatinya kosong.
Bara menghembuskan napas panjang, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja rias. “Paling-paling dia sedang mencari perhatian,” gumamnya, berusaha menenangkan diri sendiri. “Nanti juga pulang.”
Namun, bahkan setelah mengatakan itu, perasaannya tetap tidak tenang. Ia berjalan keluar dari kamar Mentari, lalu pergi ke ruang makan dan melihat meja makan itu kosong. Tidak ada makan malam yang disiapkan, tidak ada minuman hangat yang biasanya tersedia ketika ia pulang kerja, bahkan tidak ada suara perempuan yang menyambut kedatangannya.
Selama ini, ia terlalu terbiasa dengan kehadiran perempuan tersebut sampai tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi jika suatu hari Mentari tidak lagi berada di sisinya.
Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Mentari. Panggilan pertama tidak dijawab. Ia mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
“Angkat teleponku, Mentari,” gumamnya dengan rahang mengeras.
“Dasar kekanakan. Memangnya salah kalau aku menegurnya? Itu kan demi kebaikan dia sendiri juga? Ini lagi, apa dia tidak tahu perusahaan sedang dalam masalah? Malah merajuk tidak jelas.” Bara merasa kesal karena merasa Mentari seharusnya memahami bahwa dirinya sedang sibuk mengurus perusahaan. Pria itu melemparkan ponselnya ke atas meja lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Mentari, kenapa kamu tidak bisa berpikir dewasa seperti Vanya?” gumamnya.
Ia belum menyadari bahwa kepergian Mentari kali ini bukan sekadar pertengkaran biasa. Perempuan itu tidak lagi sedang menunggu permintaan maafnya. Mentari sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan hidupnya sendiri.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣