Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Semua mata di ruangan VIP itu seketika tertuju pada Aris.
Tuan Baskoro menyipitkan matanya tajam.
"Aris. Jaga mulutmu. Kamu sedang meragukan pria yang menyelamatkan nyawaku?" panggil Tuan Baskoro dengan nada suara datar namun sarat ancaman.
"M-Maaf, Tuan Baskoro. Maksud suami saya... Mahardika ini tidak punya latar belakang pendidikan kedokteran apa pun. Kami hanya khawatir Tuan Baskoro dimanipulasi oleh penipu yang memanfaatkan situasi..." sela Rina dengan suara bergetar.
Amel yang duduk di samping Mahardika menggenggam erat kemeja ayahnya, menatap Rina dengan mata bulatnya yang polos namun penuh jarak. Tidak ada lagi kerinduan seorang anak pada ibunya di mata Amel, yang ada hanyalah rasa asing.
"Penipu?! Tolong perbaiki kata-kata Anda Nyonya Ningsih!" kata pak Baskoro.
Wajah Ningsih seketika merah padam bercampur malu.
Kepala rumah membenarkan letak kacamatanya, menatap Mahardika dari atas ke bawah dengan pandangan penuh selidik.
"Hmm, jika dipikir-pikir kembali... Ucapan Nyonya Ningsih ada benarnya juga. Secara medis, penyembuhan instan tanpa tindakan operasi atau peralatan darurat itu sangat tidak rasional. Tuan Baskoro, bisa saja kemarin kondisi Anda sebenarnya hanya pingsan biasa atau efek shock, lalu kebetulan pulih saat pemuda ini menancapkan jarumnya. Kita tidak boleh percaya begitu saja pada metode tradisional yang tidak teruji secara ilmiah," kata Kepala Rumah Sakit sambil mengelus dagunya.
Ningsih yang mendengar dukungan dari sang dokter ahli langsung menyunggingkan senyum puas.
"Benar kan, Dok! Dulu waktu jadi suami saya, jangankan menyembuhkan orang, dia sendiri saja sakit-sakitan dan cuma bisa bergantung pada uang saya!" kata Ningsih menambahkan.
"Tuh, Tuan Baskoro! Dokter spesialis saja meragukannya! Anda itu cuma kena tipu muslihat cacing tanah ini!" kata Aris tertawa mengejek.
Tuan Baskoro hendak angkat bicara dengan wajah memerah menahan amarah, namun Mahardika mengangkat tangan pelan, memintanya untuk tetap tenang.
Mahardika hanya tersenyum tipis tanpa berniat membela diri.
Brakkk!
Tiba-tiba, pintu ruangan VIP terdorong keras dari luar.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang merupakan salah satu pengusaha kaya rekan Walikota tiba-tiba memegangi dadanya dengan wajah membiru.
Matanya melotot, napasnya tersengal-sengal.
Dan akhirnya tubuhnya tumbang dan ambruk ke atas lantai ruangan tersebut.
"Pak Hendra! Pak Hendra, Anda kenapa?!" jerit Walikota panik sambil melompat dari kursinya.
Kepala Rumah Sakit langsung berlari mendekati tubuh Pak Hendra.
Ia memeriksa denyut nadi di leher dan pupil mata pria tersebut dengan tergesa-gesa.
Wajah sang Kepala Rumah Sakit seketika berubah pucat pasi.
"Gawat! Ini serangan pendarahan otak akut ditambah pembengkakan jantung! Kondisinya sangat kritis! Cepat panggil ambulans dan siapkan ruang operasi di rumah sakit saya sekarang juga! Kalau ditunda sepuluh menit, nyawanya tidak akan tertolong!" seru Kepala Rumah Sakit dengan suara gemetar.
"Ambulans butuh waktu minimal dua puluh menit untuk sampai ke sini karena jalanan kota sedang macet parah, Dok!" sahut pengawal Pak Hendra panik.
"Apa?! Dua puluh menit?!" Kepala Rumah Sakit makin panik, peluh dingin membasahi dahinya.
"Kalau begitu kita tidak bisa melakukan apa-apa di sini! Tanpa alat medis dan ruang operasi, saya tidak bisa menyelamatkannya!" kata kepala rumah sakit tersebut.
Aris melirik ke arah Mahardika yang sedang berdiri tenang sambil mengusap kepala Amel.
Aris muncul niat liciknya untuk mempermalukan Mahardika di depan semua orang.
"Woy, Mahardika! Katanya kamu dokter sakti? Katanya kamu bisa sembuhkan Tuan Baskoro dengan jarum-jarum murahmu itu? Kenapa cuma diam saja?! Ayo dong, tunjukkan kehebatanmu! Atau... kamu memang cuma penipu yang kebetulan beruntung kemarin?" seru Aris dengan nada sindiran dan penuh ejekan.