NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertipu Mobil Tetangga

Keesokan paginya, Silva turun ke ruang makan dengan langkah gontai untuk sarapan. Saat hendak menarik kursi, tanpa sengaja Baskara menangkap siluet ponsel di genggaman putrinya.

Layarnya tampak retak parah, menjalar seperti sarang laba-laba.

"Ini ponsel baru kamu?" tanya Baskara, menaikkan sebelah alisnya.

Silva meringis tipis lalu mengangguk pelan. Airin yang sedang menuangkan air ikut melirik. Begitu melihat kondisi ponsel yang hancur sebelum genap satu hari dibeli, mata Airin langsung membola sesaat, bersiap melayangkan omelan badai.

Namun, Baskara dengan cepat memegang lengan istrinya, mencoba menenangkan. "Sudah... kita makan aja dulu. Nanti Silva bisa terlambat."

Dengan sangat terpaksa, Airin menelan kembali deretan omelan yang sudah di ujung lidah. Ia hanya bisa mengembuskan napas panjang dan melirik Silva dengan tatapan lelah.

Mencoba mengalihkan atmosfer yang mendadak tegang, Silva menatap ayahnya penuh harap. "Oh iya, Yah... pagi ini Ayah yang anter aku sekolah, ya?"

"Memang Baffin kenapa? Nggak bisa?" tanya Baskara heran.

Silva mengaduk nasi gorengnya pelan. "Anak-anak di sekolah pada gak suka liat aku dekat-dekat sama Baffin. Makanya, Ayah aja yang anter aku sekolah ya hari ini."

Baskara mendengus pelan. "Ngapain kamu peduli sama omongan mereka?"

"Bukan peduli, Yah... cuma—"

"Kamu takut?" potong Baskara mutlak. "Kalau kamu takut diganggu, kamu nempel aja terus sama dia. Baffin nggak bakal biarin orang lain macam-macam sama kamu."

TAK!

Silva meletakkan sendoknya dengan kasar ke atas piring hingga menimbulkan bunyi berdenting yang nyaring.

Selera makannya mendadak menguap ke udara. Tanpa menyentuh makanannya lagi, ia menyambar ponselnya lalu beranjak berdiri.

"Kamu mau ke mana, Silva? Sarapanmu belum habis," tegur Baskara.

"Sebentar, Yah... Silva mau ngambil barang yang ketinggalan," bohongnya kilat.

Begitu kakinya berhasil melewati pintu depan, Silva langsung melangkah lebar-lebar menuju gerbang perumahan. Ia terus berjalan cepat sembari sesekali menengok waspada ke belakang.

Jantungnya berdegup kencang, takut kalau-kalau ayahnya menyusul, atau lebih buruk lagi: Baffin tiba-tiba datang menghadang dengan motornya.

Sembari berjalan, Silva buru-buru menyalakan ponselnya dan mencari kontak Kenya.

Silva: Kenya... aku mau berangkat bareng kamu ya pagi ini.

Pesan itu terkirim, namun logo di pojok bawah hanya menampilkan centang satu abu-abu. Silva mendecak gemas.

Ia baru ingat kalau Kenya punya kebiasaan unik: selalu mematikan daya ponsel total sebelum tidur agar tidak terganggu.

Sebab bagi Kenya, meski ponsel sudah di-silent, pendar layarnya yang mendadak menyala di malam hari tetap bisa merusak kualitas tidurnya.

Dan jam berapa Kenya akan menyalakan ponselnya di pagi hari? Sama sekali tidak ada yang tahu. Itu tergantung di jam berapa ia memiliki kebutuhan dengan benda pipih itu.

Silva mempercepat langkah kakinya, berniat langsung mendatangi rumah Kenya yang berada di perumahan sebelah sebelum sahabatnya itu berangkat. Namun, di tengah jalan, langkahnya mendadak terhenti total.

Kenapa tadi aku gak kepikiran pakai sepeda listrik aja, sih? Ah, bodoh banget! rutuk Silva dalam hati, menepuk jidatnya sendiri.

Silva langsung berbalik arah, berniat pulang untuk mengambil sepedanya. Namun baru berjalan beberapa langkah, ia berhenti lagi.

Jarak rumahnya sudah terlanjur cukup jauh. Akhirnya ia memutar langkah lagi untuk melanjutkan jalan kaki menuju perumahan Kenya.

Tak lama kemudian, ia dilanda keraguan lagi. Rasanya akan lebih cepat kalau dia pakai sepeda. Silva memutar tubuhnya lagi ke arah rumah, namun sedetik kemudian ia menggeleng heboh.

Kalau dia pulang sekarang, waktunya makin molor dan risiko kepergok ayahnya atau tunangan posesifnya—Baffin—akan semakin besar.

Silva bolak-balik memutar tubuhnya di atas trotoar seperti orang yang kehilangan arah dan linglung, hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk terus berjalan kaki ke depan.

Sialnya, dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Tepat saat Silva baru saja keluar dari gerbang kompleksnya, dari arah gerbang perumahan sebelah, mobil Kenya meluncur keluar.

Tanpa pikir panjang, Silva nekat berlari kecil mengejar mobil itu sembari melambaikan tangan heboh. "Kenya! Kenya, tungguin aku!" teriaknya sekuat tenaga.

Namun, jarak mereka terlalu jauh. Mobil Kenya terlanjur berbelok dan menyatu dengan ramainya jalan raya, meninggalkan Silva yang kini menghentikan langkah dengan napas tersengal-sengal.

Ia bertumpu pada kedua lututnya, menunduk kelelahan sembari merutuki nasib sialnya pagi ini.Setelah napasnya mulai teratur, Silva menegakkan tubuh dan melirik ke sebelah kanan.

Matanya menangkap sebuah tenda biru dengan kepulan asap tipis. Ada tukang bubur ayam yang sedang mangkal.

Perutnya yang kosong akibat aksi mogok makan tadi langsung berbunyi nyaring. Boleh kali ya... mampir dulu. Tadi kan belum sempat sarapan, pikirnya menghibur diri.

Silva berjalan mendekat untuk melihat kondisi tenda yang agak ramai. Namun, baru saja ia hendak melangkah masuk, sebuah tepukan mendarat pelan di bahunya.

Silva tersentak kaget dan langsung menoleh. "Eh? Gavi?"

Gavi yang masih mengenakan jaket tampak tak kalah bingung melihat gadis itu berkeliaran di tepi jalan raya sepagi ini.

"Sendirian lo, Sil?"

Silva mengangguk pasrah. Matanya kemudian melirik ke arah belakang punggung Gavi.

Di sana, berdiri seorang cowok dengan ekspresi wajah yang sedingin es. Rey. Mantan crush Kenya.

"Hai, Rey?" sapa Silva agak ragu. Sudah lama sekali ia tidak berinteraksi atau melihat cowok datar yang satu ini.

Rey hanya memberikan respons berupa anggukan singkat tanpa ekspresi, khas dirinya.

"Lo mau makan bubur juga?" tanya Gavi, mencairkan kecanggungan.

Silva mengangguk cepat tanpa jengah. "Iya, aku belum sarapan tadi di rumah."

"Ya udah, pas banget. Yuk, bareng sekalian!" ajak Gavi ramah.

Akhirnya ketiganya berjalan masuk dan menduduki salah satu meja panjang di dalam tenda bubur tersebut.

Sembari menunggu pesanan mereka datang, Gavi yang dasarnya hobi mengobrol mulai membuka suara, penasaran kenapa anak rumahan seperti Silva bisa telantar di pinggir jalan.

Tanpa beban, Silva akhirnya menceritakan seluruh kekacauan di sekolah kemarin—tentang bagaimana dia dikeroyok cewek-cewek karena dekat dengan Baffin, yang berujung membuat HP barunya retak dan membuatnya dihukum oleh pihak sekolah.

Itulah alasan kenapa hari ini dia nekat kabur dan memilih jaga jarak dari Baffin.

Mendengar cerita panjang lebar itu, Rey yang sejak tadi menyimak dalam diam mendadak menyeletuk dengan suara beratnya, "Baffin siapa?"

"Itu loh, Rey... Baffin anak Highscape yang temennya Kaisan," terang Gavi membantu menjelaskan.

Detik itu juga, sorot mata Rey tampak shock selama beberapa detik, meski ekspresi wajahnya buru-buru ia netralkan kembali menjadi sedatar papan tulis.

Ia menatap Silva lekat-lekat. "Lo... tunangannya Baffin?"

Silva mengangguk pelan. "Iya."

"Kok bisa?" cecar Rey lagi, dahinya berkerut dalam.

"Dijodohin sama orang tua," balas Silva singkat, enggan memperpanjang rumitnya alasan di balik itu.

Gavi manggut-manggut, lalu kembali melempar pertanyaan, "Terus lo ngapain jalan kaki sampai ke depan jalan raya sini?"

"Tadi aku niatnya mau berangkat sekolah bareng Kenya, makanya mau nyamperin ke rumahnya. Tapi dia malah pergi duluan. Aku cuma sempat liat mobilnya keluar dari gerbang tadi," tutur Silva lemas.

Gavi mengangguk paham. Sudut matanya sempat melirik ke arah Rey saat nama 'Kenya' disebut oleh Silva.

Namun, cowok dingin di sebelahnya itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah nama itu tidak pernah ada di hidupnya.

Silva yang menyadari perubahan aura Rey saat membahas Baffin tadi pun gantian bertanya, "Kamu... kenal sama Baffin, Rey?" Rasa penasaran Silva terusik karena cara Rey menanyakan nama Baffin tadi seolah-olah mereka memiliki urusan personal.

Rey mengangguk sekali. "Kenal."

"Dari mana?" tanya Silva kepo.

"Dari bola," jawab Rey pendek sembari menatap lurus ke depan.

•••

Setelah semangkuk bubur ayam di hadapannya tandas tak bersisa, Gavi meletakkan sendoknya lalu menatap Silva. "Jadinya lo berangkat sekolah bareng siapa sekarang? Mau bareng gue aja?"

Mendengar tawaran itu, Silva seolah mendapatkan angin segar di gurun pasir.

"Boleh?" tanyanya dengan mata berbinar antusias.

Gavi mengangguk santai sembari berdiri dari kursinya. "Boleh aja, santai."

"Ya udah, aku bareng kamu ya hari ini!" seru Silva lega.

Mereka bertiga kemudian melangkah keluar dari tenda bubur menuju area parkir. Gavi langsung berjalan ke arah motor sport-nya yang bertubuh jangkung dan besar, lalu menyodorkan sebuah helm cadangan kepada Silva.

Sementara itu, Rey yang sudah rapi mengenakan jaketnya berpamitan singkat. Karena mereka berbeda sekolah, cowok dingin itu langsung melajukan motornya lebih dulu, membelah jalanan pagi yang mulai padat.

Setelah mengancingkan helm dengan benar, Silva bersiap naik. Karena model motor Gavi yang tinggi dan besar, Silva terpaksa memajukan tubuhnya dan refleks memeluk pinggang Gavi agar tidak terjungkal ke belakang saat motor mulai melaju.

Tak butuh waktu lama bagi motor besar Gavi untuk membelah jalanan hingga akhirnya tiba di pelataran parkir sekolah.

Namun, begitu mesin motor dimatikan dan Silva turun, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah tegang.

Bisikan-bisikan miring langsung berdengung di antara siswa-siswi yang berlalu-lalang di parkiran. Tatapan mereka penuh penghakiman, menilai Silva terlalu murahan karena bisa dengan mudahnya berpindah pelukan dari Baffin ke cowok lain dalam waktu semalam.

Silva mencoba mengabaikan tatapan sinis itu. Saat matanya melirik ke arah gerbang utama, ia menangkap siluet yang sangat familier.

Kenya baru saja melangkah keluar dari pintu sebuah mobil mewah.

Namun, itu bukan mobil hitam yang Silva lihat keluar dari gerbang perumahan sebelah tadi pagi.

"Kenya!" panggil Silva nyaring sembari melambaikan tangan heboh.

Kenya menoleh. Begitu melihat sahabatnya, ia langsung berlari kecil mendekati Silva. "Eh, kamu baru sampai Kenya?"

"Iyalah!"

"Tadi aku padahal lihat mobil yang biasa kamu pakai sekolah sudah pergi duluan dari kompleks," omel Silva dengan bibir mengerucut.

Kenya menaikkan sebelah alisnya, heran. "Oh... itu? Itu mah bukan gue yang pakai."

Wajah Silva seketika berubah melongo, merasa seperti baru saja terkena prank oleh alam semesta. "Astaga... aku pikir itu kamu. Biasanya kan kamu selalu pakai mobil itu."

Kenya terkekeh pelan melihat ekspresi dongkol sahabatnya. "Bokap gue emang hobi gonta-ganti mobil, Sil. Dipakai sesuai kebutuhan dia aja. Dan kebetulan pagi ini bokap lagi harus pakai mobil yang biasa gue tumpang itu."

Silva merengut cemberut, merutuki nasib sialnya yang terlanjur lelah bolak-balik di trotoar gara-gara salah paham.

Tanpa menutupi apa pun, Silva akhirnya menceritakan seluruh drama pagi harinya—mulai dari aksi mogok sarapan karena ayahnya, HP-nya yang retak, hingga nekat jalan kaki demi mengejar mobil Kenya.

Mendengar perjuangan tragis sahabatnya, raut wajah Kenya langsung berubah penuh penyesalan. "Astaga... sorry banget ya, Sil! Kalau tahu bakal kayak gini, mulai besok pagi-pagi banget gue bakal langsung nyalain HP deh. Kalau nggak, sekalian gue yang langsung chat lo duluan buat nanya mau bareng apa enggak."

Kalimat perhatian dari Kenya langsung sukses menyembuhkan rasa sedih Silva seketika. Senyum gadis itu kembali merekah.

Kenya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar parkiran. "Terus, lo tadi akhirnya berangkat sama siapa ke sini?"

Silva bergeser sedikit, lalu menunjuk laki-laki tegap yang berdiri di belakangnya. "Sama Gavi."

Gavi yang sejak tadi hanya diam sembari menyimak percakapan kedua gadis itu hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai sapaan formal.

"Loh? Gimana cerita bisa ketemu dia?" tanya Kenya heran, melirik Gavi sekilas.

Silva kembali bercerita dengan semangat, menjelaskan momen saat dirinya telantar kelaparan di depan jalan raya lalu diajak makan bubur bareng.

"Terus di sana... aku juga ketemu sama Rey!" tambah Silva tanpa saringan.

"Apa?! Lo ketemu Rey?!" Kenya spontan berteriak shock, matanya membelalak sempurna. Ada guratan tidak terima di wajah cantiknya. Kenapa malah Silva yang ketemu sih? Kenapa bukan gue?! batin Kenya merana.

Melihat reaksi heboh Kenya yang gagal menyembunyikan keterkejutannya, Gavi yang berdiri di dekat motornya langsung tertawa renyah. "Katanya kemarin lo bilang sudah nggak suka sama dia?" ledek Gavi, mengungkit pengakuan Kenya sebelumnya.

Kenya seketika menegakkan tubuhnya, memasang wajah seangkuh mungkin untuk menutupi gengsinya yang hampir runtuh. "Bener! Emang gue udah nggak suka!" ketus Kenya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Bisa aja, kan, sekarang penampilannya udah berubah? Mana tahu sekarang dia udah botak atau perutnya buncit?" lanjut Kenya ngawur, mencoba menghibur diri sendiri.

Silva langsung menepuk lengan Kenya gemas sembari tertawa geli. "Sembarangan kamu kalau ngomong! Dia itu seumuran sama kita, Ken, masih belasan tahun! Bukannya om-om yang udah umur lima puluh tahunan!"

Mendengar teguran logis Silva, Gadis itu hanya bisa menyengir tanpa dosa, menyembunyikan rasa salah tingkahnya di tengah riuhnya koridor sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!