Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Di saat terdesak itu, Xiao Yu menyambar satu anak panah di tanah dengan tangan kosong. Lalu menancapkannya sekuat tenaga tepat ke bawah rahang serigala!
JLEB!
Serigala itu meraung kesakitan dan terlempar ke belakang.
Xiao Yu langsung menyambar busur kayu di tanah. Memasang anak panah kedua di sela serigala itu masih kesakitan. Menarik tali busur, lalu melepasnya dalam satu gerakan mulus.
TAK!
Anak panah menancap tepat di antara kedua mata serigala. Binatang raksasa itu kejang sebentar.
Melolong keras, lalu roboh kaku menghantam tanah.
Hutan kembali hening. Hanya napas terengah-engah milik Xiao Yu yang terdengar. Melihat serigala itu tidak lagi bergerak beberapa menit, ia menurunkan busurnya dan menarik napas panjang.
"Selesai," lirih Xiao Yu lega. Kepala Xiao Yu bergerak menoleh pada Selir Lan. "Sudah selesai selir Lan! Serigalanya mati!" teriaknya puas.
Selir Lan tidak menjawab. Dia masih terduduk di tanah. Wajahnya yang pucat bertambah tegang. Penuh dengan campuran rasa syok, kelelahan, dan rasa heran yang teramat sangat.
Baginya yang hanya mengenal kehidupan aula istana, melihat Xiao Yu yang disangkanya lugu dan bodoh bertarung bak prajurit garis depan benar-benar membalikkan seluruh pemahamannya.
Perlahan Xiao Yu berjalan menghampiri selir Lan. "Kau tidak apa-apa, Selir Lan?" tanya Xiao Yu sambil mengulurkan tangannya.
Selir Lan menatap uluran tangan itu dengan napas yang masih tersengal-sengal. Ia menerima uluran tangan Xiao Yu, lalu berdiri perlahan. Kemudian memeluk Xiao yu erat membuat gadis ini terkejut sebentar.
Dia pasti ketakutan. "Sudah. Serigalanya sudah mati," bisik Xiao Yu pelan.
Setelah memeluk erat selama beberapa menit, Selir Lan perlahan melepaskan pelukannya seraya mengusap sisa air mata di pipinya. Dengan jemari yang masih bergetar, ia menggenggam tangan Xiao Yu erat-erat.
"Terima kasih, Xiao Yu... Aku benar-benar tidak bisa berpikir tadi. Aku pikir... kita sudah tidak akan selamat," tutur Selir Lan dengan suara terbata-bata.
"Ya, aku tahu. Sebaiknya kita duduk beristirahat dulu di sana," balas Xiao Yu seraya menunjuk ke arah pohon rindang tak jauh dari mereka.
Selir Lan mengangguk setuju. Mereka melangkah pelan menuju pohon tersebut. Begitu sampai, Xiao Yu langsung menyandarkan punggungnya ke batang pohon dan menghela napas panjang untuk mengurai sisa ketegangan otot-ototnya.
*
*
*
Beberapa menit setelah tenang.
"Aku tidak tahu kalau kau pandai bertarung," ujar Selir Lan tiba-tiba, suaranya kini terdengar lebih tenang setelah rasa syoknya perlahan mereda.
Xiao Yu yang baru saja hendak memejamkan mata sejenak seketika kembali tegang.
"Apa ada orang lain yang tahu soal kemampuanmu itu?" selidik Selir Lan.
Insting wanita istana dalam diri Selir Lan rupanya cukup tajam untuk menangkap kejanggalan ini. Namun, Xiao Yu tidak bisa menyalahkannya. Sejak awal kemunculannya di ajang pemilihan selir, sama sekali tidak ada hal yang menonjol dari diri Xiao Yu. Tentu saja kecuali citranya yang tampak bodoh, lugu, dan patuh.
Xiao Yu menoleh menatap Selir Lan, mencoba tetap tenang. "Kemungkinan... tidak ada orang lain yang tahu."
"Jadi ini rahasia?" Selir Lan makin penasaran.
Xiao Yu merasa semakin tersudut. Ia membisu sejenak, bingung harus mencari alasan apa untuk menutupi keahliannya.
"Jadi ini rahasia, ya?" Selir Lan menyimpulkan sendiri jawaban dari keheningan Xiao Yu. Ia menyandarkan punggungnya ke batang pohon di samping Xiao Yu, lalu mengangguk-angguk kecil.
"Baiklah, aku mengerti. Aku harus merahasiakannya, kan?" ucap Selir Lan tulus. Lalu ia memberikan senyum tipis yang menenangkan.
Xiao Yu mengembuskan napas lega yang ditahannya sejak tadi. Beban berat di dadanya perlahan terangkat. Ia menatap Selir Lan dengan tulus.
"Terima kasih, Selir Lan."
Selir Lan mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. "Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Xiao Yu. Menyimpan rahasia ini adalah hal terkecil yang bisa kulakukan. Lalu ... Apa yang kita lakukan?"
"Sebaiknya kita diam disini. Semakin gelap semakin berbahaya. Mungkin aku sanggup melawan satu dua serigala, tapi jika banyak ... Aku pasti tidak sanggup. Apalagi tidak ada senjata yang bisa aku gunakan."
"Jadi kita tetap disini menunggu bantuan datang?" tanya selir Lan memastikan.
"Ya."
"Yah, mau bagaimana lagi." Xiao Yu pasrah.
"Baiklah." Selir Lan setuju.
*
*
*
Tenda utama perkemahan kerajaan malam itu dipenuhi kehangatan dan kemewahan.
Lentera-lentera kain sutra kuning menggantung anggun di setiap tiang kayu, memantulkan cahaya emas ke atas meja-meja bundar yang dipenuhi hidangan daging panggang hasil buruan dan cawan-cawan berisi arak hangat.
Suara alunan petikan kecapi serta tawa riang para bangsawan memenuhi ruangan, menyamarkan dinginnya udara malam Hutan Selatan.
Di jajaran meja para selir, Selir Huo duduk dengan posisi tubuh yang sangat anggun. Punggungnya tegap menempel pada bantalan empuk sutra, sementara jemari lentiknya menimang cawan porselen berisi teh melati.
Di jajaran meja khusus selir Pangeran Zhang Li, Selir Huo duduk dengan posisi tubuh yang sangat anggun. Punggungnya tegap menempel pada bantalan empuk sutra, sementara jemari lentiknya menimang cawan porselen berisi teh melati.
Ia tidak ikut tertawa bersama putri-putri pejabat di meja sebelah yang sibuk memamerkan perhiasan atau memuji hasil buruan. Matanya yang jeli, tenang, dan dingin bergerak perlahan menyapu deretan kursi khusus di area mereka.
Dari empat selir yang dimiliki Pangeran Zhang Li, hanya ada dua orang yang duduk di sana. Hanya dirinya dan Selir Kui.
Sejak awal perjamuan dimulai, indera Selir Huo yang terlatih dalam intrik belakang istana sudah menangkap adanya ketidakseimbangan ganjil ini. Separuh dari selir pangeran menghilang tanpa kabar di malam jamuan besar.
Ia perlahan meletakkan cawan porselennya ke atas meja kayu. Bunyi ketukan halus antara porselen dan kayu teredam sempurna oleh denting musik kecapi.
Selir Huo memiringkan kepalanya sedikit, menutup setengah wajah bagian bawahnya dengan kipas sutra berhias sulaman merak, lalu mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"A-Cai," panggil Selir Huo dengan suara yang amat pelan.
A-Cai yang berdiri siaga di belakang majikannya langsung membungkuk rendah. "Ya, Selir Huo?"
"Coba kau perhatikan," ujar Selir Huo datar, tatapannya tetap lurus memandang ke arah pertunjukan di tengah aula. "Dari empat selir Pangeran, kenapa hanya kita berdua dengan Selir Kui yang ada di sini? Bukankah dua meja di sisi kiri itu kosong?"
A-Cai menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam, matanya dengan patuh menyapu dua tempat duduk yang melompong sebelum berbisik pelan.
"Lapor, Selir Huo... Tempat duduk Selir Lan memang melompong. Dan meja Selir Yu di sebelahnya juga tidak ada penghuninya."
Selir Huo memiringkan kepalanya sedikit, mengibaskan kipas sutranya halus. "Apakah kau tahu ke mana mereka?"