Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Tiyas keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di badannya. Rambutnya pun dibungkus dengan handuk. Ia baru saja selesai bersuci dan hendak berganti baju. Dengan santainya ia berkaca di cermin lalu membuka handuk di kepalanya. Ia memakai hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Assalamu'alaikum."
"Wa... wa'alaikum salam."
Tiyas tidak menyangka jika suaminya datang secepat itu. Hairdryer di tangannya sampai terjatuh ke lantai. Ia segera menutupi bahunya yang terbuka dengan handuk kepala. Zain terpana melihat rambut istrinya yang masih setengah basah.
"E e... mas, ka-kamu sudah datang?"
"Hairdryer nya jatuh, kamu nggak pa-pa?"
"Eh iya aku nggak papa kok."
Tiyas ingin mengambil hairdryer tersebut, namun naas karena handuk yang dipakainya hampir saja melorot. Tiyas langsung menahannya dengan tangan kirinya. Zain hampir saja melihat bongkahan yang tersembunyi di balik handuk itu. Tiyas salah tingkah. Ia sangat malu dengan kejadian ini.
"Apa kamu akan terus jongkok di situ?"
"Em... tentu saja tidak, mas."
Tiyas pun berdiri dan meletakkan hairdryer di atas meja rias. Kemudian ia berlari kecil menuju walk in closed. Zain menahan tawa melihat tingkah istrinya.
"Lucu sekali.... huf, hampir saja." Gumamnya.
Di dalam walk in closed, Tiyas merutuk dirinya sendiri.
"Duh mau ditaruh di mana mukaku ini? Malu-malu in saja. Lagian kenapa mas Zain datangnya siang. Aku pikir pulangnya sore. "
Tiyas segera memakai bajunya. Lalu keluar dengan langkah pelan dan kepala menunduk. Zain kembali mengejutkannya.
"Zaujati, bisa minta tolong ambilkan baju koko dan sarungku? Aku mau shalat Dhuhur."
"Ah, iya mas. Tunggu sebentar."
Tiyas mengambil baju koko dan sarung milik suaminya.
"Ini, mas."
"Terima kasih."
"Sama-sama, mas. Kalau begitu aku nunggu mas saja shalatnya. "
"Kamu sudah bisa shalat?"
"I-iya."
Zain pun segera masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu'. Tiyas sudah memakai mukenah dan menunggu Zain selesai. Tidak lama kemudian Zain keluar. Mereka shalat Dhuhur berjama'ah.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh... "
Setelah selesai shalat, mereka berdzikir dan berdo'a. Lalu Tiyas mencium punggung tangan suaminya. Hal tersebut memang biasanya dia lakukan di rumah saat shalat jama'ah dengan Bapaknya. Tiba-tiba saja ia ingat kepada bapak.Matanya pun berkaca-kaca. Zain dapat melihat itu.
"Kamu menangis?"
Tiyas menggelengkan kepala.
"Jangan bohong!"
"Ndak kok, mas. " Tiyas mengusap matanya.
Zain memegang kedua baju istrinya.
"Ada apa, hm?"
"Ndak ada apa-apa."
Namun Tiyas tidak bisa menahan lagi isak tangisnya. Hal itu terjadi begitu cepat.
"Hei hei.... kamu kenapa?"
Tiyas tetap saja menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya. Ia berusaha untuk menghentikan tangisnya namun tidak bisa. Tiba-tiba Zain memeluknya.
"Tenanglah... tenang ya." Zain mengusap punggung Tiyas dengan lembut.
Pelukan Zain terasa hangat dan nyaman. Pelan-pelan Tiyas dapat menghentikan tangisnya. Setelah istrinya tenang, Zain melepaskan pelukannya.
"Maaf, mas."
"Kenapa harus minta maaf? Kamu kenapa?"
"Ndak pa-pa tiba-tiba saja aku ingat bapak."
"Apa kamu ingin pulang dan pergi ke makam?"
"Ndak usah, mas. Nanti saja sesuai rencana."
Zain menganggukkan kepala.
Setelah itu mereka pergi ke bawah untuk makan siang. Zain memang sengaja pulang saat makan siang karena ingin makan siang di rumah. Setelah ini, ia akan kembali lagi ke kantor.
Ummi pamit kepada Zain mau mengajak istrinya belanja. Zain pun mengizinkannya. Zain bahkan menyerahkan kartu ATM nya kepada Tiyas.
"Kalau tidak tahu caranya, nanti bisa tanya ummi ya. Pinnya 654321."
"Tapi uangku masih ada, mas."
"Itu uang mahar. Ini uang belanja. Pakai ini saja!'
"Iya, mas."
Batu pertama kali Tiyas memegang kartu ATM. Ia pun langsung mencari tahu cara mengoperasikan kartu ATM di mesin ATM. Ia sangat sadar akan kecanggihan teknologi. Karena meski tinggal di kampung ia bisa mengoperasikan komputer dan internet berkat belajar di sekolah.
Setelah selesai shalat Ashar, ummi dan Tiyas pergi ke mall diantar sopir.
Seumur hidupnya, Tiyas baru satu kali pergi ke Mall di kotanya. Kali ini jadi ke dua kalinya dalam hidupnya.
"Kita mau belanja apa, ummi?"
"Apa saja yang kita mau."
Tiyas hanya mengulum senyum. Dalam hatinya ia takut dikira menghamburkan uang suaminya jika ia belanja yang tidak dibutuhkan.
Akhirnya mereka sampai di salah satu mall terbesar di Surabaya. Setelah menurunkan ummi dan Tiyas, pak sopir memarkirkan mobil.
Ummi menggandeng tangan Tiyas masuk ke dalam.
"Kamu bisa naik eskalator, kan? "
"Iya, bisa ummi."
Mereka naik eskalator menuju lantai berikutnya. Pertama ummi masuk ke toko kosmetik. Ummi memilihkan skincare untuk Tiyas. Meski Tiyas sudah cantik alami, namun ummi ingin Tiyas merawat kulit wajahnya agar tetap sehat. Karena udara di Surabaya yang panas berbeda dengan di kampung. Ummi juga memilihkan beberapa warna lipstik yang cocok untuk wajah Tiyas.
"Ummi, ini kebanyakan. "
"Nggak pa-oa, buat ganti-ganti. Di kamar kamu juga harus terlihat cantik di hadapan suamimu. Perempuan itu harus pintar berhias biar suaminya betah di kamar."
Tiyas hanya mengulum senyum.
Setelah itu, mereka masuk ke toko pakaian dalam. Di sana juga ada berbagai macam lingerie. Mata Tiyas terbelalak melihat model lingerie yang terpampang di manekin.
"Astaghfirullah.... "
"Kenapa, nak? "
"Ah ndak pa-pa, ummi."
Namun dalam hati Tiyas masih merasa insecure melihat model-model baju tersebut.
"Nak, kamu suka yang mana?"
"Sa-saya ummi?"
"Lho iya, ini buat kamu. Masa' iya buat ummi. Ummi mah sudah banyak koleksinya. Haha.... "
Lagi-lagi Tiyas dibuat terkejut oleh pernyataan sang mertua.
"Ummi yang pilihkan, apa mau pilih sendiri?"
Tiyas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Em... itu, ummi saja."
Jelas Tiyas malu jika harus memilihnya sendiri.
Ummi memilihkan tiga lingerie dengan beda model dan beda warna. Tiyas merasa geli melihatnya.
"Nak, cari pahala itu gampang bagi kita yang punya suami. Jadi jangan sia-siakan itu."
"Iya, ummi."
Tiyas membayangkan saat dirinya memakai baju-baju itu. Bulu kuduknya tiba-tiba saja merinding.
"Astaghfirullah... " Batinnya.
Setelah selesai memilih lingerie dan pakaian dalam, mereka pindah ke butik milik Bunda Salwa. Di sana ummi memilihkan beberapa baju muslim dan setelan yang cocok untuk Tiyas. Ummi juga memilihkan beberapa pashmina dan jilbab instan.Melihat harga-harga baju tersebut, mata Tiyas terbelalak. Karena menurutnya harganya paling murah bisa beli beras satu karung di kampung.
"Ummi, apa ini dapat diskon?"
"Tentu saja, diskon keluarga. Pemilik butik ini adalah saudara abi."
"Oh, iya... "
"Tenang saja, uang suamimu nggak akan habis kalau cuma dipakai sehari ini, haha..."
"Tapi Tiyas takut dikira boros, ummi."
"Eh nggak ada kayak gitu. Anak-anak laki-laki ummi harus meratukan istrinya. Keberkahan seorang suami ada pada istri. Abang nggak akan marah kok. ."
Tiyas kembali mengulum senyum.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...