Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti sedang jatuh cinta
"Kamu tidak tahu kalau Tiwi, Nisa dan Rangga pernah kecelakaan secara bersamaan?" Ali bertanya dengan raut wajah yang kebingungan. Mustahil Fatma tidak tahu tentang kecelakaan yang pernah menimpa adiknya, Tiwi.
Fatma menggeleng tanda dia tidak tahu dan wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti sedang berbohong. Melihat reaksi yang diberikan oleh calon istrinya, Ali kembali melanjutkan penjelasannya,
"Sebenarnya aku tidak tahu pasti seperti apa kejadiannya. Tapi yang ku dengar dari saksi setempat Rangga berlari menyelamatkan Tiwi yang hampir saja tertabrak truk yang melaju cepat karena dia berdiri di tengah jalan. Sedangkan Nisa berlari dengan perut besarnya untuk menyelamatkan Rangga. Namun terlambat, keduanya terhempas oleh truk tersebut. Dan untunglah Tiwi berhasil di dorong oleh Rangga sebelumnya sehingga dia selamat."
"Tapi, kenapa aku tidak tahu? Tiwi tidak pernah mengatakan apapun padaku. Pernah sekali aku di panggil ke rumah sakit saat di kabarkan Tiwi pingsan. Namun Tiwi hanya mengatakan dia pingsan karena keserempet motor bukan karena kecelakaan hampir tertabrak truk," ujar Fatma yang matanya memandang fokus pada wajah Ali.
Ujaran Fatma membuat Ali tersenyum kecil. Dia mulai mengerti semuanya sekarang
"Kurasa Tiwi juga tidak tahu tentang keadaan Rangga dan Nisa setelah kecelakaan itu, karena dia langsung pingsan setelah Rangga mendorongnya. Oh ya! Bagaimana keadaan Tiwi sekarang?" Ali mencoba mengalihkan topik saat dirasanya semua fakta itu mungkin akan kembali membuat Fatma tertekan. Dia tidak ingin calon istrinya itu kembali pingsan nanti.
"Dia baik dan kurasa dia bahkan terlihat lebih baik sekarang ketimbang saat bersama Rangga. Dan Mas Ali tahu tidak? Tiwi terlihat seperti sedang jatuh cinta?"
Pengalihan topik pembicaraan yang Ali tuturkan sepertinya berhasil. Fatma dengan cepat beralih pada hal lain dan itu cukup membuat Ali merasa begitu bersyukur.
"Benarkah? Bukankah dia sudah putus dengan Rangga?"
"Kurasa bukan Rangga deh pria yang di cintai Tiwi sekarang ini. Sepertinya ada pria lain! Tapi siapa?" Fatma bertanya-tanya bingung. Ali sempat terkekeh kecil melihat ekspresi Fatma yang terlihat berpikir keras.
"Ah sudahlah Fatma! Biarkan itu jadi urusannya Tiwi. Yang penting kamu sekarang tidak marah lagi, kan sama aku?"
Oke... sepertinya pengalihan topik Ali berhasil. Pria itu dapat melihat Fatma yang sama sekali lupa sama rasa kesalnya yang sebelumnya karena dia terlambat.
"Tidak. Aku masih kesal sama Mas Ali." lihatlah wajah itu. Dengan cepat tampilannya berubah. Fatma kembali menampakkan wajah kesalnya seperti semula. Sepertinya Ali akan sulit mendapat maafnya sekarang.
"Sayang, tahu tidak! Wajah kesalmu itu sangat cantik. Aku tidak sabar ingin menikahimu serta memiliki anak darimu." goda Ali tersenyum menatap Fatma, sedangkan gadis yang di goda itu menunduk malu mendengar ucapan Ali. Wajah kesalnya seketika menghilang. Tidak masalah pria itu mengatakan ingin segera menikahinya namun ingin memiliki anak darinya! Apa pikiran pria itu sudah sejauh itu?? Yang benar saja?
🍀🍀🍀
Rangga dan Nisa kini sedang menuju ke tempat tujuan mereka yaitu taman yang pernah di kunjungi oleh mereka dulu. Taman yang menjadi tempat awal dimana Rangga mulai menyadari perasaannya. Hanya saja saat itu Rangga terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Rangga terus menatap Nisa yang duduk di sebelahnya di dalam mobil. Dia tidak lagi melihat bros pemberiannya yang biasanya selalu Nisa sematkan di jilbabnya setiap kali wanita itu pergi keluar seakan bros usang itu adalah barang paling berharganya. Tapi sekarang apa yang terlihat adalah sebuah bros baru berbentuk bunga yang ditaburi manik-manik berkilau yang terpasang indah di hijab Nisa. Rangga merasa dirinya begitu bodoh jika berharap Nisa akan tetap memakai bros usang pemberiannya setelah apa yang telah dia perbuat terhadap Nisa, dan juga setelah mereka resmi bercerai.
"Itu bros baru ya di jilbabmu?" lidah Rangga terlalu gatal ingin menanyakan hal itu, dan itu menjadi pembuka obrolan yang terasa sangat buruk.
Nisa menyentuh bros yang tersemat di jilbabnya. Bros itu terasa asing apalagi dia yang telah memakai bros yang sama bertahun-tahun lamanya.
"Iya, ini pemberian kak Ali minggu lalu." menanggapi Rangga, Nisa menjawab sekenanya.
Rangga tersenyum getir. Sepertinya Nisa sudah memiliki barang kesayangan lain sekarang dan itu bukan lagi pemberiannya.
"Ooh... lalu bros yang sering kamu pakai kemana?" pertanyaan tanpa di saring itu berhasil menyentakkan Nisa. Tumben sekali Rangga bertanya tentang hal receh seperti itu. Biasa juga pria itu akan cuek dan terkesan tidak peduli dengan semua yang di pakainya.
"Aku tidak tahu. Mungkin Kak Ali mengambilnya." jawab Nisa setelah menenangkan diri. Dia harus bisa mengendalikan dirinya agar tidak terluka lagi oleh orang yang sama. Rangga tersenyum kecut sekaligus perih. Nisa sudah bertekad untuk melupakan dirinya ternyata.
"Sepertinya kamu benar-benar ingin melupakanku," ujar Rangga dengan suara lirih.
"Aku tidak bermaksud begitu Mas Rangga. Bagaimana bisa aku melupakan Mas saat Mas Rangga memiliki peran besar dalam hidupku."
Kata-kata Nisa semakin membuat Rangga tertawa miris. Kata-kata itu tepat menghantam di titik penyesalan terbesarnya.
"Iya, kamu benar. Aku memang memiliki peran besar dalam hidupmu. Yaitu peran dalam menghancurkan hidupmu," kata Rangga terdengar sangat lirih. Mata Nisa membulat terkejut. Itu bukan maksud dari ucapannya.
"Bukan seperti itu Mas. Kenapa Mas Rangga berpikiran seperti itu?" tanya Nisa tidak terima.
"Tapi, aku memang pria yang menghancurkanmu, kan?" Rangga kembali bertanya memancing. Namun Nisa tidak lagi menanggapi. Dia memilih mengucapkan tasbih dengan lirih untuk menenangkan hatinya. Nisa tidak ingin masalah sepele seperti itu kembali menjadi masalah tambahan baginya. Rangga yang melihat reaksi Nisa, akhirnya juga memilih untuk diam. Percuma, Nisa terlihat sangat tidak nyaman dengan dirinya. Dia mencoba untuk terus memancing seperti itu hanya akan membuat Nisa semakin membencinya.
.
.
.
oh tidak bisa
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean