Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerewelan Ranti 2
"Bagaimana, muat tidak?" tanya Braja dari balik pintu.
"Sebentar," teriak Ranti dari dalam kamar mandi.
"Muatnya sihh iya, tapi melorot ini aku pakainya." ujarnya lagi sambil mengeluh.
"Talinya di kencengin."
"Gak mau ... Jadinya kaya kurungan ayam!"
"Astagfirullah, Ranti! Terus saya harus bagaimana?"
Braja sampai menggeram kesal di balik pintu, hampir stengah jam ia menunggu lalu di pusingkan lagi dengan drama cari pembalut sampai celana ganti hingga akhirnya ia harus menunggu di sini bermenit-menit lamanya.
Benar-benar, seumur hidup ia baru kali ini menghadapi gadis serewel Ranti. Jika boleh memilih, ia lebih siap bertugas di medan perang dari pada harus di hadapkan tingkah Ranti yang endingnya bikin orang kepalang.
"Cariin yang lain dong pak, masa iya aku pakai kolornya pak Braja begini," sahutnya parau terdengar terisak menahan tangis.
Memang rada-rada pria tua satu itu, di minta cariin celana buat perempuan, ehh tau-taunya malah di bawain celana pendek training miliknya sendiri. Masih untung kalau ukurannya kecil, lahh ini. Bisa lewat dari lutut kalau Ranti yang memakainya, Asemmm!
Braja yang mendengar suara parau gadis itu lantas kembali panik. Jangan sampai bocah ini kembali menangis meraung seperti tadi. Braja bertaruh demi apapun, ia tidak siap jika harus di hadapkan dengan tantrumnya Ranti.
"Oke, oke akan saya carikan. Sudah kamu jangan nangis lagi yaa, tunggu sebentar," wanti-wantinya sabar. Sejurusnya ia langsung melenggang pergi entah kemana.
Di dalam kamar mandi, Ranti tengah duduk di atas koslet sambil merengut sebal. Bersyukur kamar mandi di ruangan Pak Braja sangatlah bersih dan juga wangi, jadi ia nyaman berlama-lama jika harus menunggu disini. Dan Bisa-bisanya untuk kesekian kali ia terjebak dalam situasi awakrd bersama Pak Braja.
Ingat saja tadi jantungnya sampai berdebar kencang. Jangan di kira mereka melakukan adegan yang iya-iya, Tapi sebaliknya!
Rautnya sampai terlampau pias, menahan malu karena kejadian barusan. Apalagi saat pria itu mendekat sembari merapikan helai surainya yang berantakan sambil berucap begini.
"Berarti saya sudah sah jadi pacar kamu."
Uwowww!
"Bisa saya minta sesuatu dari kamu?"
Uhhh?
"Kalau tidak keberatan, bisa kamu pindah ke kursi yang ada di sana. Sebab saat kamu bergerak tadi, saya sempat melihat bercak merah yang berasal dari rok kamu."
Opoo!
Ohh, yang benar saja. Pria itu tidak tau saja, kalau Ranti mati-matian menahan gejolak menggila.
Kalau saja urat malu nya sudah putus, Ranti tadi pasti sudah memekik protes karena merasa di permainkan. Beruntung, akalnya masih cukup sehat meskipun tak selaras dengan tingkah lakunya.
Menggeram kesal, jemarinya terangkat meninju-ninju udara saking sebalnya. Awas saja, pacarmu yang rewel ini akan membuatmu kapok sampai ogah-ogah pokoknya!
"Aaarrghh!" pekiknya kencang.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, tak lama ia mendengar suara Braja yang menguar samar hingga menenggelamkan luapan amarah yang sempat timbul.
"Ranti,"
"Uhh, Iya."
"Tolong kamu buka sedikit pintunya."
"Oh, iya iya," sejurusnya ia langsung membuka pintu kamar mandi selebar telapak tangan, menerima sesuatu dari tangan Braja selanjutnya ia langsung menutup dan segera memakainya.
Ranti melebarkan lipatan kain yang baru saja ia terima, dan teng tengg ...
"Lahh, kok sarung sihh pak?" protes gadis itu lagi.
"Sudah, kamu pakai saja. Tidak ada lagi yang bisa kamu gunakan."
"Tapi tidak sarung juga, masa iya saya ketemu yang lain pakai sarung begini, hiks."
"Astaga Ranti, jangan coba-coba kamu nangis lagi, atau saya akan berbuat yang tidak-tidak," ancamnya karena sudah terlewat pening menghadapi kerewelannya.
Ranti yang mendengar itu lantas membekap mulutnya pun seketika berhenti terisak.
"Iya-iya," sahutnya lirih merasa takut juga.
Cepat-cepat Ranti segera memakai sarung tersebut meskipun terpaksa. Dengan belitan asal, tubuhnya yang mungil tampak tenggelam. Kain tersebut bahkan hampir ia tekuk setengah bagian saking panjangnya. Begitu selesai, Ranti lekas keluar.
Braja yang mendengar decit suara pintu, lekas berbalik.
Ranti berdiri dengan kepala menunduk sarat tubuh meluruh lesu.
"Hikss," tanpa dapat di cegah ia kembali terisak.
"Jangan nangis."
"Tapi malu, hiks."
"Kenapa harus malu?" ia bertanya sabar.
Membesut ingusnya, Ranti menyeka bulir bening yang terus keluar tanpa dapat di cegah. "Nanti kalau di ketawain yang lain gimana? Kan aku malu. Apalagi sama kak Dio, pasti aku abiss di joroginn sama mereka, huaaa!"
Cepat, Braja lantas menutup mulut gadis itu dengan telapaknya.
"Jangan kencang-kencang, hampir satu jam kamu menangis, masih mau di lanjut lagi?" ketusnya.
"Tapi malu," raungnya tertahan karena mulutnya di tutup, sambil menghentak-hentak.
"Saya heran, badan kamu kecil tapi energi kamu seperti tidak ada habisnya. Suara mu kamu juga terlewat keras, bikin orang sakit kepala,"
"Apa?" Ranti mendelik tak terima.
Braja berdecak lelah. "Ck, sudah kamu tidak perlu malu, lagi pula kamu tidak akan bertemu mereka." pelan, tangan nya ia lepas dari mulut Ranti pun melirik waspada, takut jika gadis ini kembali berteriak kencang.
Mendengar penuturan Braja barusan, seketika Ranti menjeda tangisnya sembari mendongkak menuntut jawab.
"Kamu lupa kalau divisi kamu hari ini jam kosong? Jadi kamu tidak perlu kembali kesana, masalah ijin nanti saya yang urus. Ayo cepat kita pulang sekarang!" pungkasnya sembari melangkah.
Ranti pun mengekor di belakangnya. "Lohh, kok pulang?"
"Terus, kamu ingin menunggu disini? Kalau kamu ingin menunggu ya silahkan, saya ingin kembali sekarang," sahutnya tanpa menoleh.
Ranti lantas menggeleng cepat. "Ehh, tidak-tidak, iya aku ikut."
Setelah berkata barusan, tak menunggu lama mereka langsung bergegas pulang.
Berjalan mengekor di belakang Braja, Ranti melangkah was-was takut ada seseorang yang kenal dan melihat penampilannya kini. Meskipun jalan ke arah parkiran di iringi pagar tanaman rimbun yang tingginya sebatas pinggang, tetap saja tak pelak Ranti masih merasa gelisah.
Tiba saat mereka hampir sampai, terdengar samar segerombolan orang melangkah mendekat ke arahnya pun membuatnya kalang kabut.
Ranti menoleh kesana kemari mencari tempat bersembunyi. Dan tanpa pikir panjang ia meloncat di balik pagar tanaman yang berada tak jauh darinya sambil memeluk erat kaitan sarungnya.
Ranti meringkuk di balik dedaunan dengan penuh waspada. Sementara Braja yang melihat aksi itu menatapnya dengan raut penuh keheranan.
Terlihat beberapa taruna berlalu ke arah yang berlawanan. "Dan," sapa mereka kepada Braja secara bersamaan seraya mengangguk hormat. Braja pun menimpalinya dengan anggukan singkat, setelahnya mereka berlalu pergi begitu saja.
Ranti masih berjongkok di balik dedauan saat Braja mulai buka suara. "Apa yang sedang kamu lakukan?"
Perlahan Ranti menyembulkan kepalanya, wajahnya hanya terlihat sebatas mata dan hidung saja. Ia masih menatap waspada sambil mendesah lega. "Ya sembunyi lahh, kalau ada yang lihat penampilan ku kaya gini gimana?" tukasnya sewot.
"Sembunyi sampai segitunya, kamu tidak berfikir kalau di situ tidak ada semut rang-rang atau hewan melata lainnya?"
Perkataan Braja membuatnya mematung, sampai wajahnya berubah pias sebelum ia menjerit dan meloncati pagar mendekat ke arah Braja.
"Huaa ... Jangan nakut-nakutin dong, gak kasian apa sama aku yang terus kena sial!"
"Dan kamu malah mencari kesialan itu lagi."
"Ya habisnya kalau tidak sembunyi nanti ketahuan."
"Ketahuan apa? Ketahuan kalau kita pacaran?"
"Bisa tidak sihh, tidak usah bahas itu lagi," ketus Ranti sewot. Ia menggaruk-garuk lehernya yang terasa gatal barang kali ada semut rangrang atau sejenisnya menggigit lehernya.
"Aku masih menganggap hubungan kita tidak nyata, barang kali Pak Braja hanya balas dendam karena keusilan ku."
"Apa?"
Pria itu mematut Ranti dengan raut tak paham sarat akan menyanggah.
Di tengah suasana yang seketika terasa menegang, tiba saja sosok asing yang kehadirannya sangat tidak di inginkan, muncul di antara mereka.
Maya dengan senyumnya yang menawan, melambaikan tangan sembari melangkah anggun ke arah mereka.
"Mas," serunya lembut.
Mendekat, ia lantas berdiri tepat di hadapan Braja dan berjinjit mencium pipi lelaki itu tanpa sungkan.
Ohh, astagaa! Kesialan apa lagi ini.
...----------------🍁🍁🍁----------------...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣