"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu 2
Frans terdiam dengan tatapan kosongnya setelah mendengar ucapan pedas dari Arka. Memang benar adanya, dia adalah orang asing yang menghancurkan hidup Ariska. Entah kemana sikap angkuh dan arogan yang tadi hendak dia perlihatkan pada Ariska agar perempuan itu takut. Pada faktanya, satu kata keluar dari mulut Arka saja sudah membuatnya tak berkutik seperti ini.
"Omnya jadi patung selamat datang itu? Kok ndak gelak," tanya Azura dengan tatapan penasarannya.
"Bial saja. Ayo kita ke toko. Mama sepeltinya mau diculik olang," ajak Arka tak peduli dengan respons dari Frans. Apa yang diucapkan oleh Arka itu memang benar adanya, jadi Frans tidak boleh marah.
"Kasiannya... Mana tampan begitu. Kok malah jadi patung. Dulhaka itu sama olangtua makanya dikutuk jadi patung," celoteh Azura sambil menggelengkan kepalanya.
"Dulhaka sama anaknya," ceplos Arka tanpa peduli perasaan Frans.
Arka segera menarik tangan Azura agar tak menggubris Frans dan Carlo. Beberapa pengawal Papa Bayu tadinya ingin melarang Arka bertemu dengan Frans. Namun Arka langsung mengangkat tangannya. Memberi kode pada pengawal untuk tidak mendekat. Carlo yang melihat Frans malah mematung di tempatnya pun hanya bisa menghela nafasnya. Dia ingin sekali meledek Frans yang tak berkutik di depan anaknya. Padahal dia sudah memberitahu sebelumnya agar bersiap. Namun Frans tidak percaya dengannya.
"Tuan Frans," panggil Carlo sambil menepuk bahu Frans.
Emm....
"Bagaimana? Mau menyerah atau lanjut? Sudah saya bilang kan? Dua bocah keramat itu susah ditaklukkan, omongannya pedas semua. Daripada saya disuruh menjaga mereka, lebih baik mengerjakan sepuluh dokumen kerjasama dalam sehari." ucap Carlo setelah melihat Frans tersadar dari lamunannya. Bahkan Frans berdehem untuk menghilangkan rasa nyeri pada hatinya.
"Aku tidak akan menyerah, Carlo. Ariska dan Arka harus memaafkanku. Aku tidak mau menanggung rasa bersalah seumur hidup," ucap Frans dengan yakin.
"Masih dengan cara yang sikap..."
"Tidak. Aku akan bicara biasa saja. Sepertinya akan percuma jika aku bersikap arogan dan membuat Ariska tertekan. Yang ada, Arka malah berbuat sesuatu yang nekat. Walaupun belum mengenalnya, tapi terlihat sekali aura dominan dan nekat pada diri Arka." sela Frans dengan tegas.
"Aku kan tadi udah bilang, mereka itu susah. Ngeyel sih," sindir Carlo membuat Frans mendengus sebal.
Daripada terus diledek dan disindir oleh Carlo, Frans memilih pergi ke toko samping rumah Ariska. Carlo pun mengikutinya sambil melihat ke arah sekitarnya. Walaupun ada beberapa warga lewat, tapi Carlo merasa itu bukan masyarakat biasa. Carlo yakin kalau mereka adalah pengawal yang menyamar. Terlihat Ariska berada di sana sedang ngobrol dengan Lina dan Nenek Yuli sambil packing orderan. Sedangkan Arka dan Azura tengah merebahkan badannya di atas karpet.
"Permisi..." seru Frans sambil melongokkan wajahnya dari pintu.
Deg...
"Itu kok wajahnya mirip sama Arka dan badannya seperti laki-laki malam itu? Foto di laptop Arka itu juga mirip sama ini orang," gumam Ariska dengan badan mendadak kaku. Sedangkan Arka, hanya diam saja sambil menikmati susu dalam botol dotnya.
"Arka... Itu..."
"Olang asing yang mengaku Papanya Alka," sela Arka dengan santainya. Padahal Ariska sudah ketar-ketir dan matanya membulat tak percaya.
"Arka, Mama serius. Itu benar orang yang ada di CCTV dan laptop milik kamu kan?" tanya Ariska lagi memastikan.
"Benal, Mama. Usil saja kalau ndak mau temui," ucap Arka dengan santainya.
Ariska pun memilih berdiri setelah menenangkan pikiran dan hatinya. Dia tidak boleh gegabah apalagi ada anak-anak di sini. Dia marah, kecewa, dan benci pada Frans yang membuat hidupnya berantakan. Namun dengan adanya Arka, hidupnya perlahan berubah. Apalagi toko ini juga sukses berkat kegeniusan Arka dalam mengatur strategi bisnis dan membuat aplikasi. Ariska mendekati pintu toko dengan raut wajah datarnya.
"Silahkan masuk, Tuan. Dimohon jangan membuat keributan agar tidak digerebek sama warga sekitar," ucap Ariska setelah melihat beberapa warga tampak penasaran dengan kedatangan Frans dan Carlo. Apalagi Ariska mendengar bisik-bisik tentang miripnya wajah Arka dengan Frans.
"Terimakasih, Ariska." ucap Frans mencoba untuk santai.
"Lina, tolong bantu Nenek ambil minum untuk tamu." Nenek Yuli segera mengajak Lina untuk membuat minum bagi tamu yang datang. Dia juga tak mau mendengar permasalahan yang terjadi.
"Iya, Nek." Lina paham dengan maksud dari Nenek Yuli. Setidaknya biar mereka menyelesaikan masalah tanpa didengar oranglain. Untuk Arka dan Azura, mereka membiarkan saja di sana.
***
"Ada maksud apa kalian ke toko kecil saya ini?" tanya Ariska dengan tatapan menyelidik.
"Saya cuma menemani si Bos," jawab Carlo sambil mengangkat kedua tangannya.
Tidak hanya Arka yang mempunyai aura tegas dan dominan. Ternyata Ariska pun juga begitu. Ariska memilih untuk menemui Frans dan Carlo. Ada anak mereka yang harus dibahas. Ariska tak mau egois dengan memisahkan Arka dan Frans. Namun jika Frans tidak menginginkan Arka, Ariska akan meminta laki-laki itu menjauh. Pasalnya kebahagiaan Arka adalah segalanya untuk dirinya. Ariska tak mau melihat Arka kecewa tidak diterima oleh Papa kandungnya.
"Ariska, aku minta maaf atas kejadian di masa lalu. Malam itu, aku dijebak oleh teman-temanku. Mau ke rumah sakit, jaraknya sangat jauh dan aku malah menarikmu. Entah setan apa yang merasukiku malam itu sampai menarik perempuan tak berdosa dan membuat hidupnya hancur," ucap Frans tiba-tiba.
"Aku tidak akan mengambil Arka dari kamu. Aku hanya ingin Arka tahu kalau ada Papanya di sini. Aku ingin Arka mendapatkan haknya sebagai anakku. Ijinkan aku memberikan kasih sayang dan nafkah pada Arka," lanjutnya dengan yakin. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca walaupun dia berusaha menahan segala rasa sedihnya.
Plakk... Plakk...
"Kamu sudah menghancurkan masa depanku. Bahkan karenamu, aku harus kuliah jarak jauh. Aku harus menanggung hujatan dari orang-orang karena hamil di luar nikah. Anakku diledek tidak punya Papa, anak haram, dan Papanya nggak jelas. Kamu pikir dengan kata maaf bisa mengubah semuanya?" seru Ariska setelah menampar kedua pipi Frans.
Carlo yang ada di samping Frans sangat terkejut melihat keberanian dari Ariska. Sedangkan Frans, hanya diam sambil menatap mata Ariska. Ini memang salahnya, jadi tidak masalah jika Ariska menamparnya. Setidaknya itu bisa membuat Ariska lega dan mau memaafkannya. Rasa sakit pada pipinya tak sebanding dengan perasaan hancur dan kesakitan yang dialami Ariska selama ini.
"Alka, beldalah itu bibilnya Papamu." bisik Azura dengan mata membulat saat melihat Ariska menampar Frans.
"Bukan. Itu tadi bibilnya kena saus," ucap Arka dengan santainya. Bahkan dia cenderung acuh dengan kemarahan Ariska pada Frans.
Stttt...
"Papamu ditampar itu sama Mamamu," ucap Carlo dengan pelan sambil memberi kode pada Arka.
"Bial. Lasakan, jadi CEO kok bodoh. Masa mudah dijebak sama temannya," ucap Arka sambil memejamkan matanya.
Astaga... Anaknya kejam amat,
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣