Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit
Pesawat sudah terbang selama beberapa jam.
Adrian duduk santai di kursinya sambil memandang keluar jendela.
Sejak meninggalkan Indonesia, dia sudah beberapa kali membuka panel sistem untuk memastikan semua kemampuan yang diberikan kepadanya benar-benar berfungsi.
Mastery Senjata Api.
Survival Combat.
Keduanya sudah terintegrasi sepenuhnya.
Adrian tidak perlu mempelajarinya dari awal. Pengetahuan dan naluri yang berkaitan dengan kedua kemampuan tersebut sudah menjadi bagian dari dirinya.
Dia hanya perlu membiasakan diri dengan perubahan itu.
Adrian melirik pakaiannya.
Celana pendek.
Sandal jepit.
Jaket tipis.
Tas besar yang penuh makanan.
Dia tersenyum kecil.
“Kalau dipikir-pikir, penampilanku memang nggak cocok buat pekerjaan seperti ini.”
Namun dia tidak berniat mengganti semuanya.
Selama nyaman, itu sudah cukup.
Adrian kembali memandang ke luar jendela.
Beberapa jam lagi, dia akan tiba di Darsen.
Di sanalah kontrak pertamanya benar-benar dimulai.
Pesawat akhirnya mendarat.
Begitu Adrian keluar dari terminal bandara, udara panas langsung menyambutnya.
Udara di Darsen kering dan penuh debu.
Di kejauhan, terdengar suara ledakan.
BOOM!....
Adrian berhenti sebentar.
Beberapa penumpang lain hanya melirik sekilas sebelum kembali berjalan.
Sepertinya suara seperti itu bukan sesuatu yang mengejutkan bagi penduduk kota ini.
Adrian memandang sekeliling.
Bangunan-bangunan tua berdiri di sepanjang jalan.
Sebagian terlihat rusak.
Kendaraan melintas tanpa aturan yang jelas.
Beberapa orang bersenjata berdiri di sudut jalan.
Tidak ada suasana seperti kota yang baru dikunjungi wisatawan.
Adrian menarik napas.
“Tempat ini benar-benar kacau.”
Dia mengikuti petunjuk sistem menuju titik penjemputan.
Begitu keluar dari area bandara, Adrian melihat sekelompok orang berkumpul di sebuah lapangan.
Jumlahnya sekitar belasan.
Sebagian besar merupakan pria bertubuh besar dengan pakaian lapangan dan perlengkapan keamanan.
Mereka tampak seperti calon anggota baru.
Kemudian salah seorang dari mereka memperhatikan Adrian.
Tatapannya berhenti pada celana pendek dan sandal jepit yang dikenakan Adrian.
“Lihat itu.”
Pria di sebelahnya ikut menoleh.
“Dia serius datang ke sini seperti itu?”
Tawa kecil terdengar.
Beberapa orang mulai memperhatikan Adrian.
Namun Adrian tidak peduli.
Dia justru mengamati lingkungan sekitar.
Bangunan.
Kendaraan.
Jalan keluar.
Posisi orang-orang.
Semuanya secara otomatis menarik perhatiannya.
Kemampuan Survival Combat membuatnya jauh lebih peka terhadap lingkungan.
Adrian bahkan tanpa sadar sudah mengetahui beberapa tempat yang paling aman jika terjadi keadaan darurat.
“Lumayan.”
Dia baru saja selesai mengamati sekitar ketika suara mesin kendaraan terdengar.
Screeech!
Sebuah pikap tua berhenti mendadak di depan kelompok tersebut.
Bodinya penuh bekas benturan dan lubang peluru.
Tiga orang turun dari kendaraan.
Mereka mengenakan perlengkapan tempur.
Pria yang berjalan paling depan memiliki bekas luka panjang di wajahnya dan satu mata yang tertutup.
Dia memandang semua orang dengan tatapan dingin.
“Kalian peserta baru?”
Tidak ada yang menjawab.
Dia melanjutkan.
“Nama saya Raka. Saya pemimpin regu dari unit keamanan Black Fox.”
Raka menunjuk bagian belakang kendaraan.
“Naik. Kita berangkat sekarang.”
Dia memandang satu per satu peserta.
Sampai akhirnya matanya berhenti pada Adrian.
Raka mengernyit.
Tatapannya turun ke celana pendek.
Kemudian ke sandal jepit.
Lalu kembali ke wajah Adrian.
“Kau.”
Adrian menunjuk dirinya sendiri.
“Saya?”
“Ini bukan tempat liburan.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa berpakaian seperti itu?”
Adrian melihat pakaiannya sendiri.
“Nyaman.”
Beberapa orang langsung tertawa.
Raka menghela napas panjang.
Entah tidak ingin berdebat atau memang tidak peduli, dia akhirnya mengibaskan tangan.
“Naik.”
“Siap.”
Adrian mengangkat tas besarnya.
Dia menaiki bagian belakang pikap.
Di sana sudah ada beberapa peserta lain.
Begitu Adrian duduk, seorang pria berkulit gelap dengan tato di lengannya memperhatikannya.
Tatapannya berpindah dari wajah Adrian ke sandal jepitnya.
“Kau datang dari mana?”
“Indonesia.”
Pria itu tertawa kecil.
“Pertama kali ke daerah seperti ini?”
“Iya.”
“Dan kau cuma membawa tas itu?”
Adrian menepuk tas besar di sampingnya.
“Ada makanan.”
“Makanan?”
“Iya.”
Beberapa orang tertawa.
Salah seorang pria menggeleng.
“Tempat seperti ini bisa saja jadi tempat terakhir dalam hidupmu, tapi kau malah memikirkan makanan.”
Adrian tersenyum santai.
“Kalau lapar, tetap saja lapar.”
Jawaban itu membuat beberapa orang kembali tertawa.
Mereka jelas menganggap Adrian hanya pemuda biasa yang tidak tahu apa-apa.
Adrian tidak berusaha menjelaskan.
Dia hanya duduk sambil memegang tasnya.
Raka menutup pintu belakang.
“Pegangan!”
Mesin kendaraan meraung.
Pikap itu langsung melaju meninggalkan bandara.
Adrian bersandar sambil memperhatikan pemandangan Kota Darsen.
Semakin jauh mereka pergi, semakin jelas kondisi kota tersebut.
Bangunan yang rusak.
Jalanan penuh debu.
Pos pemeriksaan bersenjata.
Dan sesekali suara tembakan dari kejauhan.
Adrian menyipitkan mata.
Kontrak pertamanya baru saja dimulai.
Namun melihat keadaan di sekelilingnya, dia merasa tiga hari ke depan mungkin tidak akan sesederhana yang tertulis di kontrak.