NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Dua pasang mata milik La Bonna memutar malas ketika menyadari sosok Brayen melangkah mantap menghampiri posisinya.

Bonna menghela napas panjang yang sarat akan rasa jengah. Rasanya, tidak ada satu pun patah kata yang perlu ia bicarakan lagi dengan pria itu. Tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka.

Hubungan asmara dan ikatan emosional di antara mereka berdua telah lama mati dan terkubur sejak malam kelam itu.

Persetan dengan semua kenangan dan racun di masa lalu. Bagi Bonna, Brayen tak lebih dari sekadar bayangan kelam yang seharusnya tak pernah muncul kembali dalam hidupnya.

"Bonna..." panggil Brayen pelan, suaranya terdengar begitu berat dan serak saat langkah kakinya makin mendekat.

Ekspresi di wajah pria itu tampak teramat murung dan terpukul. Bonna tak tahu—dan tak ingin peduli—apakah Brayen memang sengaja memasang raut wajah menyedihkan seperti itu demi memancing simpatinya, atau apakah pria itu benar-benar merasa menyesal atas segala pengkhianatan dan kebohongan kotornya di masa lalu.

Sebelum langkah kaki Brayen berhasil mendekati jangkauan Bonna, sosok Alena dengan cepat pasang badan dan menghadangnya secara langsung.

Brayen menghentikan langkahnya, menatap sinis ke arah gadis bertubuh mungil yang kini berdiri tegap di hadapannya dengan kedua tangan terentang.

"Aku kemari bukan untuk menambah masalah," desis Brayen dingin, menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. "Aku hanya ingin bicara. Aku perlu bicara sebentar dengan kekasihku."

Bonna langsung menyambar kalimat itu dengan tatapan tajam. "Kita sudah putus, brengsek!"

Mendengar penolakan mentah-mentah itu, Brayen mengatupkan giginya rapat-rapat sebelum akhirnya membetulkan susunan kalimatnya seraya mengalihkan tatapan tajam pada Alena. "Kami perlu bicara!"

Sejujurnya, jika saja Brayen tidak mengingat fakta bahwa gadis berwajah menyebalkan yang sedang menghadangnya ini adalah adik kandung Tuan Nolan, Brayen pasti sudah mencengkeram leher Alena dan membenturkan kepalanya ke meja hingga pingsan. Namun, menyentuh sehelai rambut Alena sama saja dengan mengundang murka Nolan dan Lucifer sekaligus.

Dengan cepat dan berani, Alena membalas tatapan galak itu. "Masalah utamanya adalah Bonna tidak ingin bicara denganmu! Dia tidak nyaman dan benci berada di sekitarmu!"

Alena yang bertubuh pendek itu bahkan sampai harus melakukan beberapa lompatan kecil di tempat, berusaha keras menggunakan tubuh kecilnya untuk menutupi sosok La Bonna yang bertubuh jauh lebih tinggi dari jangkauan pandangan mata Brayen.

"Bonna, kumohon... kita perlu bicara sebentar," panggil Brayen lagi, mengabaikan Alena dan mencoba mengintip di balik bahu gadis itu. "Aku berjanji, kali ini tujuanku datang bukan untuk menyakitimu lagi. Sekali saja... beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku tidak meminta hal yang lebih, Bonna. Aku hanya ingin kita bicara!"

La Bonna memilih untuk tetap bungkam. Bibirnya terkunci rapat, dan matanya enggan untuk sekadar melirik ke arah wajah pria yang pernah mengukir luka terdalam di hatinya tersebut.

Melihat Brayen yang masih kukuh tidak mau bergeming, Alena meletakkan kedua telapak tangannya di perut bidang Brayen, lalu mendorong tubuh kekar itu dengan sekuat tenaga, berharap pria itu akan mundur beberapa langkah.

Namun alih-alih bergeser, tubuh tinggi besar Brayen justru berdiri tegap tak tergoyahkan sedikit pun seperti batu karang, membuat dorongan penuh Alena terasa seperti kibasan angin sepoi-sepoi.

Karena kesal dan gemas push-nya tidak mempan, Alena akhirnya mengepalkan tangan kecilnya dan memukul dada bidang Brayen dengan kencang.

BUK!

"Aww!" Alena meringis pelan, justru buku-buku jari tangannya sendiri yang terasa kesakitan karena menghantam dada Brayen yang keras.

Alena mengusap tangannya yang kedinginan, lalu mendongak dan berbisik pelan dengan nada teramat serius, seolah-olah ia cemas dan takut kalau orang-orang lain di sekitar ruangan yang sedang memperhatikan mereka akan mendengar perkataannya.

"Kau hanya akan menambah masalah untuk Bonna di tempat ini, tahu!" bisik Alena penuh penekanan. "Dia sudah cukup dirundung oleh wanita-wanita lain di sini, dan dia baru saja dijatuhi hukuman berat oleh kakakku! Jangan membuat posisi La Bonna menjadi semakin dibenci dan terancam di Velvet Noir!"

Perkataan bisikan Alena itu seketika menarik perhatian Brayen. Pria itu menghentikan desakannya, lalu melemparkan pandangannya melintasi ruangan utama.

Pandangan mata Brayen terhenti pada sosok seorang wanita bergaun merah glamor yang tampak dikerumuni oleh banyak wanita dan pekerja klub di sudut ruangan tersebut. Wanita itu tidak lain adalah Seraphina.

Brayen tahu betul siapa wanita itu.

Brian dan dirinya sudah terhitung sering tidur dan menghabiskan malam bersama Seraphina, mengingat wanita binal itu adalah primadona utama sekaligus mainan kesayangan Tuan Nolan di Velvet Noir. Bahkan, Brayen pernah menjalankan beberapa misi berdarah di luar klub bersama Seraphina.

Brayen bukanlah pria bodoh. Dalam sekali tatap, ia langsung mengerti ke arah mana jalan pikiran dan peringatan dari Alena tersebut.

Seraphina pasti sedang menaruh dendam dan kebencian yang mendalam pada Bonna. Pasalnya, wanita baru seperti Bonna justru berhasil ditiduri oleh Tuan Nolan sebanyak tiga kali dalam waktu yang teramat dekat—sebuah pencapaian yang menghancurkan posisi dan harga diri Seraphina sebagai primadona utama.

Brayen mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan mengambil langkah mundur menuruni ketegangan.

Mungkin... ini memang bukan waktu yang tepat. Nanti, jika situasi sudah melandai, ia pasti akan mencari cara untuk bicara lagi pada kekasihnya. Ya, kekasihnya. Bagi Brayen, sampai kapan pun dan dalam keadaan sehancur apa pun, La Bonna adalah tetap kekasihnya.

Sepeninggalan langkah kaki Brayen yang berbalik pergi meninggalkan area tersebut, Alena mengembuskan napas lega. Ia berbalik, dan duduk menyilangkan kaki di samping Bonna.

Alena mendekatkan wajahnya, berbisik pelan dengan nada penasaran, "Di mana kau bisa kenal dengan pria gila seperti Brayen?"

Bonna mengalihkan pandangannya dari selimut, menatap Alena datar. "Di sebuah klub malam."

Alena mengangguk-angguk paham. Bonna kemudian berganti bertanya dengan suara parau, "Sejak kapan dia... dan kembarannya bekerja pada kakakmu?"

"Hampir empat tahun," jawab Alena tanpa ragu. "Dulu... Brayen adalah seorang kurir berdarah dingin yang bekerja di bawah naungan Duke. Kau ingat siapa Duke, kan?"

Bonna menganggukkan kepalanya pelan. Nama Duke bukan nama asing baginya.

"Duke dan kakakku dulu menjalin kerja sama bisnis yang sangat besar. Duke yang memproduksi berbagai jenis obat-obatan haram—"

"Ya, aku sudah tahu soal itu," potong Bonna cepat, mengingat kembali bagaimana Brayen dulu pernah mengenalkannya pada berbagai jenis barang haram tersebut.

Alena melanjutkan penjelasannya dengan nada bicara yang lebih serius, "Brayen dan Brian itu... mereka berdua adalah ahli senjata dan penembak jitu yang teramat berbahaya. Kakakku merekrut mereka karena kemampuan membunuh mereka."

Bonna terdiam mendengarnya. Matanya menatap kosong ke arah lantai.

Alena menepuk pelan paha Bonna, memberi peringatan tegas. "Kau harus benar-benar menjauhi Brayen dan Brian, Bonna. Karena jika kau terus terlihat dekat atau berurusan dengan mereka... Seraphina akan menjadi sepuluh kali lipat semakin membencimu."

Bonna mengerutkan alisnya tipis, merasa bingung dengan korelasi nama wanita itu. "Kenapa begitu?"

Alena mendekatkan bibirnya ke telinga Bonna, berbisik jujur, "Karena Seraphina... sangat mencintai mantan kekasihmu itu, Brayen. Semua orang di Velvet Noir tahu betul kenyataan itu. Seraphina mengincar Brayen sejak lama. Kau harus sebisa mungkin menghindari kemarahan dan kegilaan Seraphina."

Bonna menyunggingkan senyum tipis yang getir. "Aku tidak takut padanya."

Alena menghela napas panjang, menatap Bonna dengan pandangan kasihan sekaligus cemas. "Kau memang tidak akan pernah takut pada sosok fisiknya, Bonna... tapi hal-hal kotor dan kejam yang bisa ia perbuat di belakangmu di tempat ini... hal itulah yang bisa membuatmu takut."

La Bonna memejamkan matanya sejenak. Rasa lelah yang teramat sangat menyerang seluruh persendian dan kepalanya.

"Aku ingin kembali ke kamar..." gumam La Bonna parau seraya membetulkan selimutnya. "Tatapan dan bisikan dari semua orang di tempat ini benar-benar membuat kepalaku pusing."

......................

Lanjut Nggak nih ? 🤭🤣

1
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
Mia Camelia
kok jadi kasian sama nolan yaa🤭🤭🤭,di kelilingin pengkhianat semua.
semoga la bonna gk jadi kabur🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!