Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
_BERMAIN API DENGAN CINTA_ BAB 15_SANGKAR YANG MENGENCANG
_BERMAIN API DENGAN CINTA_
BAB 15_SANGKAR YANG MENGENCANG
Keesokan paginya, suasana di kantor Kencana Property Group terasa berkali-kali lipat lebih mencekam dari hari-hari sebelumnya. Ketika Cinta melangkah keluar dari lift eksekutif, dia bisa merasakan ketegangan yang pekat menyelimuti seluruh lantai teratas. Para staf administrasi di lantai bawah bahkan bekerja dengan kepala tertunduk, seolah-olah salah bernapas sedikit saja bisa memicu amarah sang penguasa gedung ini.
Cinta mendudukkan diri di kursi kerjanya dengan perasaan tenang. Dia mengira atmosfer buruk ini masih merupakan sisa dari kekesalan Maxim tentang insiden Rudi kemarin siang. Dengan senyum tipis yang penuh percaya diri, Cinta merapikan draf laporan audit yang sudah dia selesaikan dengan sempurna semalam. Baginya, ciuman nekat di koridor kemarin adalah bukti bahwa dia sudah berhasil memegang kendali atas gairah bosnya. Urusannya dengan Ethan juga sudah dia potong bersih, membuat fokusnya hari ini murni untuk menaklukkan Tuan Maxim.
Namun, semua khayalan kemenangan Cinta hancur lebur begitu interkom di mejanya berbunyi dengan nada dering yang pendek dan tajam.
“Nona Cinta, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa seluruh barang-barangmu.”
Suara bariton Maxim terdengar sangat datar, dingin, dan tidak memiliki riak emosi sedikit pun. Namun, frasa 'bawa seluruh barang-barangmu' sukses membuat kening Cinta berkerut dalam. Jantungnya mendadak berdesir aneh. Membawa seluruh barang-barangku? Apa dia mau memecatku karena ciuman kemarin? Tidak, itu tidak mungkin, batin Cinta mencoba menepis kepanikannya.
Cinta bangkit berdiri, mengambil kotak kecil berisi barang-barang pribadinya beserta draf audit, lalu mengetuk pintu ruangan CEO sebelum melangkah masuk.
Tuan Maxim sedang duduk tenang di balik meja eksekutifnya. Penampilannya hari ini luar biasa rapi, kemeja abu-abu gelap premiumnya terkancing sempurna hingga ke leher, berpadu dengan jas hitam yang memancarkan kemewahan mutlak. Wajah tampannya sekaku pualam, dan sepasang mata hitamnya nampak begitu kosong, pekat, dan dingin. Tidak ada lagi kilat amarah yang meledak-ledak seperti kemarin; yang tersisa hanyalah kegelapan yang tenang namun mematikan.
Luka batin karena dicampakkan dan ditampar sebagai Ethan semalam telah membekukan seluruh sisa kelembutan di hati Maxim. Jika Cinta menolak disentuh oleh Ethan dan menganggap pria bertopeng itu hanya mainan sewaan yang murah, maka Maxim akan memastikan bahwa wanita ini harus tunduk di bawah kuasanya sebagai bos tertinggi yang memegang penuh kendali hidupnya.
"Ini berkas audit yang Anda minta kemarin, Tuan Maxim. Semuanya sudah selesai tanpa ada satu pun angka yang melesat," ucap Cinta, meletakkan dokumen tebal itu di atas meja marmer dengan sikap profesional yang anggun. Dia kemudian melirik kotak barang di tangannya. "Dan... apa maksud Anda menyuruh saya membawa seluruh barang-barang saya?"
Maxim tidak menyentuh berkas audit tersebut. Dia perlahan menegakkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangan di atas meja, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Cinta.
"Mulai hari ini, meja kerjamu di luar ditiadakan, Nona Cinta," ucap Maxim dengan suara beratnya yang sangat tenang namun bertenaga mutlak. "Kamu tidak akan lagi bekerja di kubikel luar."
Cinta tertegun, matanya melebar samar. "Maksud Anda?"
Maxim mengarahkan pandangannya ke sudut kanan ruangannya sendiri. Di sana, sebuah meja kerja baru berbahan kayu oak mewah dengan fasilitas komputer lengkap telah ditata dengan rapi. Meja itu terletak tepat di dalam ruangan CEO, hanya berjarak beberapa meter dari meja kebesaran Maxim.
"Kamu adalah sekretaris pribadiku. Dan tugasmu adalah melayaniku selama dua puluh empat jam penuh," ucap Maxim dengan seringai tipis yang sangat dingin dan kejam di sudut bibirnya. "Mulai detik ini, ruang kerjamu adalah di dalam ruanganku. Kamu tidak diizinkan keluar dari ruangan ini tanpa izin tertulis dariku. Seluruh ponsel dan akses komunikasimu dengan dunia luar akan diawasi langsung oleh sistem keamanan pribadiku."
Mendengar keputusan sepihak yang luar biasa ekstrem itu, darah Cinta rasanya mendidih seketika. Sifat pembangkangnya bergejolak hebat. Ini bukan lagi sekadar penataan posisi kerja; ini adalah sebuah pengurungan secara terang-terangan di bawah kedok profesionalisme.
"Tuan Maxim, ini keterlaluan!" protes Cinta dengan berani, melangkah maju mendekati meja bosnya dengan napas memburu. "Saya memiliki hak privasi sebagai karyawan! Mengurung saya di dalam ruangan Anda dan menyadap komunikasi saya adalah pelanggaran hukum! Saya bisa mengundurkan diri sekarang juga jika Anda memperlakukan saya seperti tawanan!"
Mendengar ancaman pengunduran diri dari mulut Cinta, kilat kegilaan kendali yang pekat mendadak melintas di balik sepasang mata hitam Maxim. Kalimat itu mengingatkannya pada kata-kata kejam Cinta di lorong klub semalam saat mencampakkannya sebagai Ethan.
Maxim bangkit berdiri dari kursi eksekutifnya, memutari meja marmer besar itu dengan langkah lambat yang mengintimidasi hingga dia berdiri tepat di hadapan Cinta. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Cinta terpaksa mendongak. Maxim membungkuk sedikit, menatap langsung pada bibir merah menyala milik Cinta yang semalam telah menamparnya.
"Mengundurkan diri?" desis Maxim, wajah tampannya berjarak sangat dekat. "Kamu pikir kamu punya hak untuk pergi sesukamu dari tempat ini, Cinta? Di duniaku, tidak ada aturan yang memperbolehkanmu pergi sebelum aku sendiri yang merasa bosan. Letakkan barang-barangmu di meja baru itu, atau aku akan menggunakan seluruh kekuasaanku untuk memastikan bisnis keluargamu dan hidupmu hancur dalam waktu satu jam dari sekarang."
Ancaman kejam yang nyata itu menghantam pertahanan mental Cinta. Namun, bukannya mundur ketakutan atau menciut pasrah setelah mendengar intimidasi tersebut, detak jantung Cinta justru berpacu karena adrenalin yang membakar dadanya. Dia sama sekali tidak merasa takut. Sebaliknya, dia justru merasa luar biasa tertantang. Sifat aslinya yang keras kepala dan lihai membaca situasi langsung mengambil alih kendali.
Cinta tersenyum tipis, sebuah senyuman miring yang penuh pesona dan keberanian mutlak. Dia mengikis sisa jarak di antara mereka, mendongak menatap langsung ke dalam kegelapan sepasang mata hitam Maxim tanpa gentar sedikit pun.
"Tuan Max, Anda tidak perlu mengancam saya menggunakan keluarga saya, karena saya tidak memilikinya," bisik Cinta dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi manja, rendah, sekaligus menggoda yang mematikan. Dia menatap lekat pada bibir tipis Maxim. "Dan Anda juga tidak perlu mengancam saya jika Anda memang menginginkan saya. Karena jujur... saya juga menginginkan Anda."
Mendengar balasan yang sangat berani dan tak terduga itu, tubuh tegap Maxim sempat menegang selama satu detik. Rahang tegasnya mengeras kencang. Pengakuan blak-blakan dari Cinta yang menyatakan bahwa dia juga menginginkannya, murni menyulut kembali seluruh sisa gairah posesif dan obsesi gelap yang sejak subuh tadi Maxim coba tekan mati-matian di dalam dadanya.