NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : Air Mata di Balik Gauh Sederhana

Pesta perjamuan agung kekaisaran yang diselenggarakan di Aula Utama Istana Roma malam itu tampak sangat memukau, berkilau oleh cahaya ratusan lilin lebah yang tergantung di lampu gantung perunggu raksasa. Para bangsawan, senat, dan jenderal militer tampak anggun mengenakan jubah sutra putih bergaris emas, tertawa dan mengangkat cangkir anggur merah dalam rangka merayakan aliansi politik baru antara keluarga kekaisaran dan bangsawan utara. Di atas panggung kehormatan, Putra Mahkota Marcus duduk berdampingan dengan Lady Claudia—gadis bangsawan berambut pirang ikal dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.

Namun, di balik gemerlap lampu, alunan musik harpa yang merdu, dan kemewahan gaun sutra impor yang membalut tubuh Lady Claudia, suasana hati sang putra mahkota terasa kosong dan hampa. Marcus duduk bagaikan patung marmer hidup. Tatapan mata hazelnya kosong menatap cangkir perak di tangannya, sama sekali tidak menggubris bisikan-bisikan sanjungan atau obrolan politik yang dilontarkan oleh para tamu undangan di sekelilingnya.

Jauh dari kemewahan aula utama, di sebuah bilik sempit dan pengap di dalam kompleks istana yang tidak tersentuh cahaya pesta, seorang gadis bergaun sederhana tengah meratapi nasibnya.

Callista duduk meringkuk di lantai kayu yang berdebu. Meskipun ia dijadwalkan diberangkatkan ke tambang budak selatan, penundaan mendadak akibat persiapan jamuan malam membuat keberadaannya tertahan semalam lagi di ruang isolasi bawah tanah istana. Lampu pelita kecil di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang redup, menemani kesendirian gadis itu yang dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat.

Mengenakan gaun pelayan paling sederhana yang terbuat dari kain kasar tidak berwarna, Callista menunduk dalam-dalam. Di balik kesederhanaan pakaian itu, air matanya tumpah tanpa suara. Ia bukan menangisi dinginnya lantai batu atau ancaman kerja paksa yang akan merenggut tenaganya ke depan. Hatinya hancur berkeping-keping karena membayangkan bahwa di tempat yang sangat megah dan terang benderang di atas sana, Marcus sedang berdiri di samping wanita lain, memenuhi takdir politik yang telah digariskan oleh para senator kejam.

"Apakah ini akhir dari segalanya...?" bisik Callista pelan, suaranya tercekat di tenggorokan yang kering. Tangannya terulur meraba dada kirinya, merasakan keberadaan cincin perunggu kecil yang tersembunyi rapat di balik lipatan kain kasarnya. Benda kecil itu terasa begitu dingin, seolah ikut merasakan kepedihan yang merajam jiwa pemiliknya.

Di dalam ingatannya yang rapuh, bayangan kebersamaan mereka di taman istana dan di bawah temaram lampu minyak berputar silih berganti, mencabik-cabik hatinya secara perlahan. Callista menyadari bahwa jurang pemisah di antara mereka bukan lagi sekadar masalah kasta atau aturan sosial istana, melainkan roda sejarah kekaisaran yang terlampau besar untuk dihentikan oleh dua orang manusia yang saling mencintai.

Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap ke arah langit-langit batu bilik bawah tanah yang kokoh, seolah ia bisa menembus dinding-dinding tebal itu untuk melihat bayangan sang pangeran dari kejauhan. Meskipun air matanya terus menetes membasahi pipi pucatnya, sebuah senyuman getir namun penuh ketulusan terukir di bibirnya.

"Berbahagialah di atas singgasanamu, Marcus," gumam Callista lirih, seolah angin malam membisikkan pesan itu menembus lorong-lorong istana. "Biarlah aku yang menanggung semua luka ini sendirian di kegelapan."

Di saat yang bersamaan di aula utama, Marcus tiba-tiba merasakan debaran nyeri yang aneh menghantam dadanya secara tiba-tiba. Pria itu meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga anggur di dalamnya tumpah membasahi meja. Ia mendongak, menatap ke arah koridor gelap di luar aula dengan perasaan gelisah yang luar biasa, seolah panggilan tertahan dari air mata di balik gaun sederhana itu berhasil menembus dinding tebal istana dan mengguncang jiwanya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!